Rabu, 25 Februari 2009

Membaca atau Tidak

Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Ditjen Pendidikan Tinggi menyelenggarakan Program Kreativitas Mahasiswa atau PKM. Dibedakan atas dua macam yaitu Program Kreativitas Mahasiswa Artikel Ilmiah yang disingkat PKM-AI. Yang kedua Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis atau PKM-GT. Ini merupakan ajang kompetisi penulisan ilmiah bagi mahasiswa Program Sarjana dan Diploma. Hasilnya adalah artikel dari hasil karya mahasiswa atau kelompok.

Rabu, 18 Februari 2008 saya dan beberapa mahasiswa dikumpulkan oleh pihak dekanat di ruang sidang 1 lantai 2 fakultas Filsafat. Najib Yuliantoro, Muhammmad Rifqi, Suluh P.W, Ahmad Baiqunni dan lainnya. Ada sekitar 23 mahasiswa dalam daftar hadir.

Wakil Dekan III, Dra. Sartini, M.Hum memprakarsai pertemuan ini. Hadir juga Syamsul Ma’arif S.Fil, dosen Metode Penelitian Sosial Humaniora dan Kosmologi. Beliau akan menjadi salah satu viewer atau dosen pembimbing. Dalam ketentuan surat yang dikirimkan oleh Direktur Kemahasiswaan, Universitas Gadjah Mada bernomor 154/Dir.MAWA/APK/2009 berisi undangan yang ditujukan kepada tiga pihak. Wakil Dekan yang membidangi Kemahasiswaan, Ketua GAMA Cendekia dan Ketua Unit Penalaran Indisipliner UGM.

Dilampirkan juga penjelasan tentang format dan struktur usulan PKM-karya tulis. Artikel Ilmiah ataupun Gagasan Tertulis. Banyak lingkup persyaratan, persyaratan administratif, penulisan, pengetikan. Di samping itu juga telah ditentukan format kulit muka, halaman pengesahan, stuktur tulisan beserta komponennya seperti judul, nama, abstrak dan sebagainya. Bagaimana menuliskan daftar pustaka juga ditentukan. Ternyata ada dua system, memakai sistem Harvard atau sistem Vancouver. Batas pengetikan juga telah ditetapkan aturannya, 4 cm samping kiri, 4 cm batas atas dan seterusnya. Jarak spasi antar Bab dab sub-bab, kalimat di bawahnya, kutipan, spasi antar alinea, penomoran halaman tak luput dari aturan.

Dalam lampiran sebanyak 18 halaman ini, dosen pembimbing mesti harus disertakan. Selain pak Arif di atas, kampus meminta kesediaan Drs. Achmad Charris Zubair. Di filsafat mengajar Etika, Teori Etika dan Bahasa Inggris Filsafat.

Selama lebih kurang satu setengah jam, wakil dekan III dan dua dosen pembimbing memberikan pengarahan. Kampus telat diberi tahu oleh pihak Universitas tentang surat ini. Jadi waktunya sangat mepet. Tanggal 18 Februari pihak dekanat mensosialisasikan dengan harapan mahasiswa mengerjakan semaksimal mungkin. Dan ditetapkan juga rencana 5 hari setelah itu, tepatnya Senin tanggal 23 Februari, telah dikumpulkan. Akan dikembalikan lagi setelah dibaca oleh dua dosen viewer, keesokan harinya. Mahasiswa mendapat cacatan dan memperbaiki menambah atau mengurangi hal yang dirasa perlu.

Setelah itu akan diberikan lagi kepada dosen viewer, dibaca dan dievaluasi dan dikembalikan lagi kepada mahasiswa. Jadi ada 2 kali proses pengeditan, sebelum hasil final diserahkan tanggal 2 Maret 2009. Pihak fakultas akan mengirimkan ke universitas hasil seleksi final. Semuanya harus terkumpul di universitas sebelum tanggal 10 Maret 2009.

Lima hari saya habiskan dengan mengumpulkan referensi. Saya menggunakan buku Imagined Community karangan Benedict Anderson sebagai litelatur utama. Dasar-dasar Ilmu Politik, Miriam Budihardjo juga saya pelajari. Tema besar penulisan saya untuk PKM-GT adalah tentang nasionalisme. Penjabarannya saya akan berfokus kepada konflik etnik dan kekerasan di berbagai tempat di Indonesia. Aceh, Papua, Maluku dan sebagainya. Nasionalisme seperti apa yang dipakai Indonesia? Saya akan mencoba menarik garis merahnya.

Sampai malam sebelum tanggal 23 Februari, saya hanya mampu menyelesaikan bagian perumusan masalah di bab pendahuluan. 5 halaman! Terlalu lama di buku saya jadi keteteran di penulisan. Saya mengeluh dengan sempitnya waktu. Tapi ini bukan alasan yang bias diterima, pikir saya.

Tak apa, selesaikan seberapa bisa, lalu dikumpulkan guna dievaluasi.

Akhirnya senin, tanggal 23 itu saya kumpulkan ke ruangan dosen. Saya bertemu langsung dengan bapak Syamsul Ma’arif. Beliau menyuruh saya mengkopi 1 lagi untuk bapak Achmad Charris Zubair.

Dua jilid pendahuluan itu saya serahkan ke resepsionis di ruang dosen.

Tanggal 24 Februari, saya mendapat sms dari ibu Sartini. Beliau mengucapkan terima kasih atas keikutsertaan saya, dan mempersilahkan mengambil berkas yang telah dievaluasi dosen pembimbing ke kantor dekanat.

Siang itu sehabis kuliah jam 14.40 saya langsung ke dekanat. Dan diserahkan oleh personalia di sana.

Saya tak habis pikir, saat saya melihat kertas 5 halaman ditambah selembar permohonan maaf atas belum lengkapnya tulisan saya. Saya tak menemukan bagian mana yang dievaluasi. Bagian yang diterima bapak Syamsul Ma’arif jelas ada catatan di bagian belakang. Beberapa kalimat tentang masukan dan permintaan untuk segera diselesaikan. Serta pembetulan tanda baca dan penambahan kalimat di dalam tulisan. Saya harus objektif tentang hal ini. Bapak Arif membacanya, benar-benar mengevaluasi dan memberikan masukan.

Tapi berkas yang saya rasa untuk bapak Achmad Charris Zubair, hanya ada catatan di bagian depan “belum lengkap jadi belum bisa dievaluasi”. Saya kira beliau belum membacanya. Saya jadi subjektif melihatnya. Mungkin karena kesibukan beliau, ditambah bukan hanya berkas saya tapi juga yang lainnya menumpuk. Beliau belum sempat benar-benar “membacanya”.

Kalaupun pernyataan dan anggapan saya ini tidak benar, saya mohon maaf. Tapi subjektifitas tidak bisa saya hilangkan. Saya terlalu skeptis terhadap hal yang saya rasa mungkin benar-benar tidak beres. Saya mencermati lagi kalimat Pram yang sering diucapkan Fahri Salam kepada saya “adil sejak dalam pikiran”.
Read More......

Jumat, 06 Februari 2009

Nonton Bareng Madagascar 2


Dua motor keluar dari sebuah rumah di blok C nomor 2, perumahan Muslim Darussalam Condong Catur, Sleman. Saya mengendarai motor lama Astrea Grand hitam keluaran tahun 1994. Membonceng perempuan kelas 3 SMP, namanya Adelia. Adik kembarnya, Aldo dan Aldi duduk di jok belakang Mio. Di depan yang memegang kendali Arleta. Dia anak pertama dari pasangan Suradji dan Katini.


Jumat pagi, tanggal 2 Januari 2009. Dari malam sebelumnya saya dan Arleta smsan membahas akan diajak main kemana adik-adiknya. Adelia, Aldo dan Aldi.

Mereka sempat bete ketika malam pergantian tahun baru. Kali ini mereka diajak bapak ibunya liburan ke rumah di Jogja, tidak seperti perayaan tahun baru sebelumnya. Biasanya mereka sekeluarga berkumpul di rumah Sukoharjo. Mereka berharap akan keluar pas pergantian tahun baru. Tapi seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak di Sukoharjo tidak di Jogja sama saja. Mereka tetap di rumah. Play Station yang dibawa dari Sukaharjo menemani Aldo dan Aldi. Adelia sibuk dengan HP-nya, lalu menonton TV bersama bapak dan ibu, atau ngobrol dengan mbak Yati, pembantu rumah tangga mereka yang juga diboyong ke Jogja.

Arleta terhindar dari kemuraman dalam rumah. Ia senang saat diizinkan orang tuanya untuk merayakan tahun baru di luar. Pukul 9 malam 31 Desember saya menjemput Eta ke rumah. Dia menggunakan kemeja bergaya Korea, yang tempo hari dibeli di Miami Beach. Rambutnya di keriting, cantik sekali. Kita keliling jalanan Jogja, beli terompet dan akhirnya terjebak di Alun-alun Utara Keraton.

Dari arah malioboro, orang-orang tumpah ruah menumpuk ke arah Monumen Serangan Umum 1 Maret. Kawasan ini menjadi titik keramaian, dari Rumah Sakit PKU Muhammadiyah di timur dan Bank Indonesia di barat, semakin malam semakin mendesak ke arah alun-alun. Hingga sampai akhirnya kuota penuh, tak ada lagi tempat untuk bergerak ke luar. Di Alun-alun dimeriahkan oleh penampilan band, sedangkan di Monumen Serangan Umum 1 Maret menampilkan wayang dengan musik kontemporer. Posisi Arleta dan saya di jalan samping Bank BNI 46. Tak bisa menuju alun-alun, tak bisa mendekat ke monumen. Sampai teng pukul 12, kami duduk di atas motor, meniup terompet bergabung dengan ratusan manusia lainnya. Kembang api berterbangan di udara dari dua arah.

Arleta mendokumentasikan suasana di sana dengan handycam. Butuh sejam untuk jalan keluar. Jam 2 kurang baru sampai di rumah. Ibu Arleta membukakan pintu dengan mengantuk-ngantuk.

Keesokan harinya, Adelia, Aldo, Aldi minus Arleta dibawa bapak dan ibu mengisi waktu liburan. Ke candi Borobudur dan taman wisata di daerah Magelang. Mbak Yati ikut. Xenia putih meninggalkan rumah sekitar jam 9 pagi.

Sore hari mereka sekeluarga kembali. Bapak dan Ibu malamnya balik ke Sukoharjo. Arleta dititipi adik-adiknya, ditemani mbak Yati.

Karena menimbang kebosanan adik-adik, Arleta dan saya sepakat membawa mereka jalan-jalan besoknya.

“Mereka terserah mau kemana, ngikut aja” kata Arleta.

Lampu merah di pertigaan gejayan dan Universitas Negeri Yogyakarta memberi kesempatan saya bertanya tujuan ke Arleta.

Malioboro sudah ramai walaupun hari masih pagi. Kami parkir di depan mal Malioboro. Masuk ke dalam menuju arena bermain anak-anak. Aldi dan Aldo ke tempat penukaran koin. Sekitar sejam di sana, membawa pulang 2 buah pensil hadiah dari tiket-tiket yang keluar dari mesin-mesin game.

“Kemana lagi ta?” tanya saya mendekat ke arahnya saat menuruni eskalator.

“Ga tau, kamu ada ide ga?”

“Tanya adek-adek?”

“Mereka ga tau, mereka ikut aja kemana”.

“Taman Pintar mau ga?”

“Ya, bolehlah”.

Arleta menggandeng Aldi, mengekor di belakang Aldo dengan Lia. Saya paling belakang. Menuju Ice Cream McD di selatan mal. Untuk adik-adiknya es krim yang menggunakan mangkok, biar tidak tumpah.

Aldo dan Aldi dibujuk Arleta untuk boncengan dengan saya. Gantian dengan Lia yang dari rumah dengan saya. Sebelum berangkat dari rumah, sudah ada perjanjian gantian boncengan. Waktu berangkat tadi Aldo Aldi langsung naik motor Eta, sekarang gilirannya dengan saya.

Aldo Aldi asyik-asyik saja, ketika sudah di jalan menuju Taman Pintar. Mereka nangkring di belakang, saya sesekali menanyakan keadaan mereka. Apakah mereka baik-baik saja, mau main kemana dan semacamnya. Mereka hanya menjawab seperlunya. Masih belum cair komunikasi antara saya dengan mereka.

Taman Pintar ramai sekali. Kita masuk ke dalam, suasananya hiruk pikuk. Tak nyaman di situ, kita langsung pergi tak jadi main-main di sana. Memang suasananya tidak terlalu cocok dengan Aldo Aldi, apalagi Lia. Aldo Aldi sekarang sudah kelas 4 SD. Dan kebanyakan anak-anak di taman pintar lebih kecil dari mereka. Mungkin lebih pas untuk anak SD kelas 1 atau 2 dan TK ke bawahnya.

Kembali ke parkiran motor setelah hanya mengitari bagian depan taman pintar.

Ambarukmo Plaza megah berdiri di jalan solo. Gedungnya bercat kuning. Sepanjang 2004 pembangunan mal ini menjadi perbincangan publik karena merusak situs bangunan bersejarah keraton Pesanggrahan Ambarukmo.

Para aktivis menentang dengan alasan merusak bangunan bersejarah. Tata ruang kota, budaya dan ekonomi yang mengacu kepada rakyat kecil juga menjadi persoalan. Fahri Salam, seorang wartawan lepas memaparkan secara panjang tentang hal ini dalam tulisannya “Jagad Mal Jogja”.

Kami berlima di Studio bioskop 21 Amplas. Satu-satunya di Jogja. Senin sampai jumat tiket seharga dua puluh ribu. Weekend atau hari libur dua puluh lima ribu. Ukurannya mahal jika dibandingkan dengan kota-kota besar lain. Ada 2 pilihan film yang cocok untuk ditonton di masa liburan ini, dengan adik-adik Arleta tentunya. Madagascar 2 dan Felix & Obelix. Saya dan Arleta memutuskan membeli 5 tiket untuk film Madagascar 2. Studio … pukul …

Tumpangan saya berganti lagi. Sekarang saya bersama Lia lagi. Hujan rintik-rintik turun saat kita kembali ke rumah. Sebentar lagi shalat Jumat. Saya menawarkan Aldo dan Aldi jumatan bersama. Arleta menanyakan mereka mau jumatan dengan saya, tapi mereka tidak mau. Walaupun ditakuti akan dimarahi ibu kalau tidak shalat mereka berdua tetap tidak tergoyahkan. Saya pulang dulu ke kos, nanti sore ke sana lagi. Jemput untuk nonton film.

Dari siang sampai sore hujan terus turun. Sempat berhenti tapi tak lama langsung deras lagi. Sayang sudah beli tiket. Mengenakan mantel saya ke rumah Arleta lagi, hujan semakin deras. Walaupun sudah pakai mantel jaket saya basah. Untung saya telah antisipasi dengan membawa jaket satu lagi.

Mereka sudah menunggu, sepertinya sudah siap berangkat. Tapi tak mungkin berangkat jika hujan masih sangat deras. Mantel tak akan membantu. Lain cerita kalau hanya saya dan Arleta berangkat berdua, kita akan lanjut saja. Tapi dengan membawa adik-adiknya, saya khawatir mereka terkena flu. Apalagi jika ketahuan ibu bapak. Tentu Arleta yang dimarahi jika mereka sampai sakit.

Saya menyuruh Arleta telfon taksi. Tapi si sopir taksi bilang sedang tidak kerja. Akhirnya saya mencari taksi ke luar. Sampai ke pasar Condong Catur, jaraknya dari rumah Arleta hampir satu kilometer.

Tak menunggu lama, langsung dapat. Saya diiringi taksi di belakang kembali ke rumah. Motor saya parkir di garasi. Semua langsung bergerak saat taksi menunggu di depan pagar. Satu-persatu masuk ke dalam taksi setelah pamit ke mbak Yati.

“Amplas pak”, kata saya.

Lia di depan. Arleta, Aldo, Aldi dan saya di belakang. Taksi jalan pelan, saat melewati jalan di STIE YKPN malah terjebak macet. Jalannya sempit dan banyak dilalui kendaraan saban waktu. Sebentar lagi filmnya akan diputar. Sepertinya kami akan terlambat.

Kami tergesa-gesa ketika sampai di pintu samping Amplas, lantai 1. Studio 21 di lantai 3.

Pintu studio 4 telah dibuka. Kenyataannya memang terlambat sekitar beberapa menit. Filmnya diputar 17:50 . Saya bertanya kepada orang di samping, dia jawab belum terlalu lama. Arleta di pojok bangku F.1, lalu Aldo, Aldi, Lia dan saya di F.5.

Filmya lucu, banyak adegan yang bikin ketawa. Sesekali saya curi pandang ke Aldo dan Aldi. Mereka tampak menikmati. Bercakap dengan Lia dan Eta terkadang. Bahkan Aldo beberapa kali saya lihat melirik ke kanan kiri, mengamati keadaan sekeliling agaknya.

Madagascar 2 durasinya tak terlalu lama. Overall kami semua senang. Sampai filmnya selesai kami masih tertawa-tawa sendiri. Sepertinya ingin menonton lagi. Arleta senang dengan si “moto-moto”, kuda nil yang menggoda, hingga “gloria” jatuh hati.

Saat jalan ke Carrefour saya tanya ke Aldo Aldi bagaimana menurut mereka filmya. Mereka menjawab lucu. Dan tak banyak bicara. Antara saya dan Aldo Aldi suasananya belum cair. Baru sekali ini kami jalan bersama.

Lia antri di kasir carrefour. Sambil membawa sekantong belanjaan, isinya minuman dan beberapa cemilan.

Sampai balik ke rumah lagi, saya belum juga bisa mendekatkan diri dengan Lia, Aldo dan Aldi. Arlete bilang mereka memang pemalu. Wajar di peristiwa jalang bareng pertama ini kata Arleta.

Kami semua masih sempat makan sate ketika sudah di rumah. Jam setengah sembilan saya pamit pulang.

Arleta cerita. Besoknya ibu bapak ke Jogja lagi. Aldo Aldi cerita tentang nonton film. Mereka kelihatan semangat dan banyak detail yang mereka ingat. Kapan ya kita bisa nonton film bareng lagi? Pikir saya.

Read More......

Minggu, 25 Januari 2009

Dua Jam Yang Tak Terasa

Kursus berlangsung dari tanggal 7-16 Januari 2009 di kantor Pantau, Jl. Raya Kebayoran Lama No 18 CD Jakarta Selatan. Ada 6 hari pertemuan di kelas, yang masing-masing terdiri dari 2 sesi, jam 10 pagi sampai jam 12. Jeda satu jam, lalu dilanjutkan sesi ke dua jam 1 hingga jam 3 sore. Di setiap akhir pertemuan diberikan tugas yang akan didiskusikan pada pertemuan berikutnya.

Janet Stelle, adalah instruktur yang akan memberikan materi tentang Jurnalisme Sastrawi (Litterary Journalism) di minggu pertama. Profesor dari George Washington University, spesialisasi sejarah media ini dijadwalkan Rabu hingga Jumat (7-9 Januari 2009). Untuk minggu kedua, diampu oleh Andreas Harsono. Dia wartawan Pantau, anggota International Consortium of Investigative Journalist dan mendapatkan Nieman Fellowship di Universitas Harvard. Bukunya From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism tak lama lagi akan terbit. Pertemuan dengan Andreas berlangsung pada hari senin (12 januari), Rabu (14) dan berakhir Jumat ( 16).

Ada libur satu hari setiap pertemuan, tak sepadat Janet, yang tidak bisa terlalu lama di Indonesia. Karena harus segera balik ke Washington, Amerika. Saat kelas terakhir Janet hari jumat dia bergegas. Dengan menggunakan taksi, Janet ke bandara Soekarno-Hatta untuk terbang ke Singapore. Menginap semalam di sana dan besoknya terbang selama 24 jam ke Amerika. Hari senin dia akan mengajar di kampus. Mobilitas yang tinggi!

Beberapa orang berkumpul di dalam sebuah ruangan. Kursi-kursi tersusun, membentuk huruf U. Ada satu meja dengan mawar merah di atasnya. Plakat yang bertuliskan Pantau, kajian media dan jurnalisme serta jam dinding segi empat tergantung di dinding. Nyaman sekali, suasana santai tercipta di antara percakapan.


Ini hari pertama, Andreas membuka perkenalan. Lalu Janet dan dilanjutkan masing-masing peserta. Nama lengkap dan panggilan serta motivasi mengikuti kursus. Peserta kursus Jurnalis Sastrawi angkatan ke 16 ini sebanyak 14 orang. Satu peserta dari Papua, Hans Gebze, lebih sering tidak hadir dalam rangkaian kursus. Adriani Salam Jaques Kusni (Studio Arsitektur A&A), jauh-jauh datang dari Makasar. Angga Haksoro Ardhi dari Voice of Human Rights News Centre. Ada beberapa orang yang berprofesi sebagai pengajar di universitas, Badrus Sholeh dosen Hubungan Internasional di UIN Syarif Hidayatullah, Putri Suryandari dari Universitas Budi Luhur, berencana menulis buku tentang arsitektur, sesuai dengan latar belakang keilmuannya. Yang ketiga Riris W.Widati dari UAI Jakarta, pernah bekerja sebagai wartawan antara lain di Sarina dan Jurnal Perempuan.

Lalu, ada yang bekerja di lembaga, komunitas atau institusi. Seperti Supriatna dari Arus Pelangi. Arus Pelangi adalah organisasi yang memberi perhatian kepada masalah LGBTI (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Interseksual). Selanjutnya Titi Moektijasih (UN OCHA), Irma Dana (Klub Indonesia Hijau, Bogor), Ken Ken (Yayasan CDT 31), Syarifah Amelia ( Government Institution/Technical Cooperation) dan Fauzi Aunul (ICRAF, sebuah lembaga Agroforesty). Dua orang terakhir adalah Mukhti, wartawan majalah Otonomi dan saya, Alfian Syafril, mahasiswa.

Setelah perkenalan Andreas undur diri. Janet memulai kelas dengan penjelasan dan gambaran tentang jurnalisme sastrawi. Inti yang ingin disampaikan oleh apa yang disebut dengan jurnalisme adalah fakta. Tanpa fakta tidak bisa disebut jurnalisme. Secara umum jurnalisme sastrawi adalah fakta yang ditekankan dengan gaya bercerita yang berbeda. Ada hal yang lebih mendalam dan memikat yang ingin disampaikan oleh jurnalisme sastrawi ini. Perkawinan antara jurnalisme (fakta) dan sastra (fiksi). Ini menjadi kontradiktif, tapi pada dasarnya tetap fakta. Banyak hal yang disampaikan dan dibagi oleh Janet dalam 3 kali pertemuan. Mengenai sejarah narrative journalism, unsur-unsur jurnalisme, struktur dalam sebuah tulisan narasi hingga pemakaian kata “saya” dalam sebuah tulisan. Bahan-bahan berupa bacaan dari berbagai macam tulisan yang disiapkan panitia dalam sebuah paket juga memperkaya materi-materi di kelas.

Penugasan juga menjadi hal yang menarik. Tugas dibacakan oleh masing-masing peserta untuk kemudian dikomentari dan didiskusikan bersama. Dua tugas dengan Janet adalah “menulis tentang sebuah peristiwa yang disaksikan. Mulai dengan adegan tanpa penjelasan dengan topik apa saja yang bisa memikat pembaca untuk membaca narasi” dan “menulis narasi dengan gaya orang pertama (saya, aku, gua dan lainnya) untuk menggambarkan sebuah adegan”. Saya baru menyadari kalau dua tugas yang saya kerjakan belum memuaskan, terkadang tidak nyambung dengan perintah yang diminta. Begitu juga dengan tugas bersama Andreas minggu berikutnya.

Beberapa hal yang saya catat dari koreksi tugas ini adalah tentang detail, penambahan detail dan pengaturan yang lebih baik lagi, kalimat atau alineanya. Lalu menghilangkan dialog-dialog yang tidak perlu, pemakaian kata-kata yang berlebihan dan terkadang klise. Pemilihan kata yang akan digunakan dalam tulisan juga perlu diperhatikan, jika tidak akan ada bayak pemborosan kata. Tentang masalah fokus, menentukan struktur yang jelas dan benar sehingga tidak meloncat-loncat (cerita/alur). Tema yang menarik sehingga cerita tidak datar dan makna (meaning) yang ingin disampaikan dapat dimengerti oleh pembaca. Lalu untuk memperkuat makna, menurut Janet setiap penulis memerlukan sebuah engine (mesin).

Persoalan pemakaian kata “saya” atau menggunakan sudut pandang orang pertama dalam tulisan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Jika penulis (wartawan) tidak punya peran penting dalam liputan, tidak penting memasukkan kata “saya”. Lebih baik menggunakan sudut pandang orang ketiga. Bahwa diperlukan karakter yang kuat dalam sebuah tulisan. Ada tokoh utama yang menjadi karakter cerita, dan kalau bisa si tokoh adalah seorang yang aktraktif, terbuka dan komunikatif. Ungkapkan konflik dan di bagian akhir selesaikan dengan berbagai macam pilihan. Narrative Journalism seperti sebuah film, video yang bergerak, bukan picture yang hanya diam.

Hari terakhir Janet benar-benar telah kehabisan kata-kata bahasa Indonesianya. “Uff, bahasa Indonesia saya sudah habis”, ucapan Janet saat mengakhiri kelas.

Mengenai hal ini, saya pernah baca sebuah blog yang menceritakan kebiasaan Janet ini. Ini cara Janet menyelesaikan kelas kesimpulannya. Hari Jumat itu berbeda, di saat kelas akan berakhir mbak Fiqoh staf Pantau masuk membawa kue tar sambil menyanyikan lagu Happy Birhday. Sontak peserta kelas ikut bernyanyi, riuh!

Janet surprise dan terkaget-kaget, ”Is it June?”

Hohoho, terjadi kesalahan informasi tanggal kelahiran Janet. Juni bukan Januari. Nyanyian mulai melemah, perlahan hilang. Salah satu yang paling semangat adalah mas Fauzi (Aunul Fauzi). Dia menyanyikan lagu selamat ulang tahun lantang sekali. But party must go on, jika tidak ulang tahun, mumpung awal tahun sekalian pesta tahun baru. Atau pesta kecil perpisahan dengan Janet. Janet begitu terburu-buru, setelah foto bersama di lantai atas gedung Pantau dia langsung mengundurkan diri. Semua orang bersalaman dengan Janet.

Tiga hari pertama kursus telah lewat. Sabtu masih ada kelas tambahan dengan Endi M.Bayuni Chief Editor, The Jakarta Post. Sayang saya terlambat, sampai di kantor Pantau saat-saat akhir. Tidak banyak yang saya tangkap dari kelas ini.

Andreas menggunakan batik biru senin tanggal 12 Januari 2009. Kelas dimulai jam 10 tepat. Power point melalui proyektor telah siap. Dimulai dengan slide dengan pertanyaan “apa jawabannya?”, dari 7 pernyataan. Salah satunya adalah “benarkah di Indonesia makin Islamis dan suara-suara minoritas makin diabaikan”. Pagi itu kita membahas tentang “bias” dan dilanjutkan dengan pembahasan secara padat dan jelas tentang sembilan elemen jurnalisme. Materi ini disarikan dari buku Sembilan Elemen Jurnalisme karangan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.

“Sekarang jadi 10 elemen, karena ada komentar dan masukan melalui internet dan lainnya”, kata Andreas

Elemen tambahan itu adalah Warga Punya Hak dan Kewajiban terhadap Berita. Satu hal yang selalu saya ingat dan jadi kata yang sangat penting bagi saya, Andreas bilang “Jika ingin menulis harus masuk ke hal yang paling fundamental, jangan terlena oleh perspektif.

Tidak cukup sekali Andreas mengingatkan tentang ini. Bahkan tugas yang saya buat, setelah koreksi masih banyak perspektif. Andreas lagi-lagi rewel tentang ini.

Dua jam pertama terasa cepat oleh Andreas. Saya pribadi menampung banyak informasi dan banyak kata-kata yang menginspirasi.

“Aan saja terkesima dengan Andreas”, kata Fahri kepada seorang teman ketika saya sudah di Jogja lagi.

Selesai makan siang dan istirahat kelas dilanjutkan dengan materi tentang tujuh pertimbangan narasi dan diskusi soal jurnalisme sastrawi. Lagi-lagi terasa cepat. Hingga diakhiri dengan tugas untuk pertemuan selanjutnya. Ada jeda sehari sebelum bertemu Andreas lagi.

Hari ke lima kursus atau pertemuan ke dua dengan Andreas Harsono di isi dengan membacakan tugas masing-masing. Beda-beda tema yang coba diungkapkan. Tugasnya membuat deskripsi. Jam ke dua Andreas membahas panjang lebar tentang “Hiroshima” karya John Hersey.

Kita berlatih wawancara secara langsung untuk menutup rangkaian Kursus Jurnalisme Sastrawi angkatan XVI ini. Membahas tentang sumber anonim dan mendiskusikan teknik interview. Sebelumnya diskusi tentang tulisan yang bertema sama tapi dengan gaya dan strktur berbeda. Temanya tentang Aceh, yang diambil dari tulisannya Chik Rini “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft”, Andreas Harsono “Republik Indonesia Kilometer Nol” dan “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” karya Alfian Hamzah.

Suara Andreas berat, pelan bahkan tanpa tekanan. Mengalir lancar dan saya yakin ini akhir dari kursus kali ini. Andreas mengakhiri dengan indah. Saya dan yang lain bersemangat, Andreas begitu menginspirasi.
Read More......

Senin, 19 Januari 2009

Sore, Potongan Sudut Jakarta

Tembok panjang yang tak ter-plester dengan selesai membatasi sepanjang aliran kali kecil, penuh sampah. Plastik-plastik bekas belanja di swalayan atau layangan yang hanya tinggal kerangkanya saja menjadi penghias aliran air kehitaman. Di balik tembok ada beberapa rumah yang berbatasan langsung, bahkan air terjun mini dari pipa banyak muncul ke dalam kali. Air pembuangan rumah tangga. Campur baur bau yang dihembus-hembuskan angin.
Di sisi kali yang lain ada ruas jalan masih bebas, terkadang diapit oleh bangunan yang kebanyakan rumah penduduk, atau kalau tidak warung kebutuhan sehari-hari yang dipaksakan berdiri. Sore hari, seorang bapak menggendong anaknya yang baru beberapa tahun, sesaat meninggalkan lelahnya pekerjaan yang menghinggapi dari pagi. Beberapa pemuda duduk-duduk di bale-bale dan kursi yang disediakan seadanya oleh pemilik warung. Salah seorang membaca tabloid Top Skor sekedar mengetahui jadwal pertandingan bola liga eropa minggu ini, dan sedikit berharap dengan analisis pertandingan di tabloid agar bisa menang taruhan nanti. Dua lainnya dengan pakaian yang masih rapi dan sepatu terpasang bercakap-cakap ngalor-ngidul tentang sesuatu. Bapak tua dengan topi koboi menemani dan nimbrung sekali-sekali. Abu rokok berjatuhan melalui pegangan sela-sela jari ke kali yang masih mengalir pelan.
“Mmmamam….mmmm”si bayi dalam gendongan bapaknya berteriak ingin mengungkapkan sesuatu.
Si bapak menimang-nimang ke kiri dan ke kanan sambil bolak balik di depan dua pemuda dan orang tua tadi.
“Ada apa e si kecil, kecil…?”ujar orang tua, bermaksud menggoda si bayi sambil meminta bapaknya mengalihkan gendongan kepadanya.
Tapi tak jadi, karena ibu si bayi keburu datang sambil membawa bubur dalam kotak kecil. Pelan-pelan bayi itu dipindahkan bapaknya ke dalam kereta. Sambil mendorong-dorong kereta si ibu menyisipkan sendok kecil ke mulut mungil anaknya.
Si kecil menangis dan membuat si ibu membawa bayinya ke dalam rumah. Kusen jendela yang dicat hijau pekat serasi dengan permukaan rumah yang warna hijaunya lebih terlihat lembut. Dari luar jendela dilapisi terali besi hitam. Tak ada halaman di sini, hanya beranda yang ditemani sepasang kursi beserta mejanya. Di sebelah kiri ada bangunan dua lantai memanjang ke samping, kira-kira 8 meter. Ada bagian menjorok ke belakang jika dilihat dari depan. Lantai bawah ada tiga kamar yang berfungsi dan selebihnya sedang direnovasi. Di ujung bangunan ada tangga untuk naik ke lantai dua. Di atas ini, hanya dua pintu yang terbuka, selebihnya dikunci dengan gembok, keseluruhan ada enam kamar yang disediakan untuk kost-kosan.
Si ibu dengan bayi kecil tadi yang menjadi pengelola rumah kos-kosan yang sebagian besar di isi oleh mahasiswa Teknik Elektomedik dan Radiografi, Universitas Politeknik Kesehatan Jakarta.
Bedak tipis di pipi, sambil masih sempat sesaat menyemprotkan pewangi ke t-shirt yang dikenakan. Sementara seorang lagi sibuk mengikatkan tali sepatu sportnya. Dari salah satu kamar sayup-sayup terdengar perintah ke arah kamar mandi agar yang di dalam lebih cepat. Kawasan Senayan menjadi tujuan mereka sore ini, hari rabu adalah jadwal untuk joging. Handuk kecil dan tas tersandang di lengan gadis yang tadi mengikat tali sepatu dan sekarang telah berdiri, menunggu 3 orang temannya.
“Kaus kakiku, dimana?” yang baru keluar kamar mandi mengajukan pertanyaan entah kepada siapa sambil terus berlalu ke dalam kamar. Semuanya serba cepat setelah itu, ketika salah seorang menyuruh yang lain segera, karena teman yang lain telah menunggu. Read More......

Termehek-Mehek Mewujudkan Keinginan?

Juwita duduk di depan meja lipat yang dipenuhi tumpukan kertas, isinya angka-angka dan coretan-coretan kecil. Tugas rangkaian listrik dari kuliahnya di Politeknik Kesehatan Jakarta II. Sesekali tangannya menari-nari dengan pulpen di atas kertas. Badan dicondongkan ke depan dengan mata yang terkadang dipejamkan. Dia bergerak dengan mengangkat meja lipat bergambar barbie, lalu meraih kertas kosong yang digunakan untuk menghitung bilangan jawaban soal tugasnya.

Baru beberapa bulan di Jakarta, belum genap setahun. Sebentar lagi ujian semester pertamanya di bangku kuliah. Dulu, sekolah di daerah, berkilo-kilometer dari Jakarta. Lulus SMAN 1 Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Hijrah ke Jakarta meninggalkan nenek dan kakeknya. Dari kecil dibesarkan oleh mereka membuat dia sedih dan berat untuk pergi. Tapi tawaran dari kakak Ibunya yang bekerja di Pusdiklat Depkes Jakarta, membuat dia berangkat.

Lahir di Banjarmasin delapan belas tahun yang lalu, tapi tak mengerti kenapa di akta kelahiran-nya ditulis Wonogiri, 4 Juni 1990.

“Saya anak tunggal, kira-kira umur 1 tahun bapak ibu saya cerai mas, saya juga ga tau gimananya, taunya dari cerita saudara atau tetangga aja,” ucapnya kepada saya. Ia tampaknya mulai malas melayani soal-soal di hadapannya. Sambil berdiri ia masih menyambung “itupun saya udah gede baru ngerti bapak-ibu cerai, terus umur 2 atau 3 tahun mungkin, ibu saya ke Jakarta”. Semenjak itu dia dibesarkan dan disekolahkan atas usaha kakek dan nenek, sesekali kiriman datang dari ibunya.

Terakhir ketemu ibunya lebaran kemaren, disusul ke kampus. Sekitar setengah jam di dekat warung pedagang kaki lima, ngobrol kabar satu sama lain dan berbagi cerita tentang apa saja yang menjadi pengobat kerinduan ibu dan anak. Dia bercerita lepas saja. Langsung saya tanya, “kapan terakhir kali ketemu bapak?”.

Air mukanya tidak berubah ketika jawabannya cukup mengejutkan saya. Selama hidupnya dia belum pernah ketemu sekalipun dengan bapaknya. Hanya foto-foto pernikahan orang tuanya ketika di Kalimantan yang mengenalkan dia dengan wajah bapaknya.

“Ada sih mas, keinginan untuk ketemu ayah saya. Ga tau kapan,” senyum mengembang dari bibir merahnya.
“Pernah ungkapin ke siapa tentang keinginan itu?”saya memandangnya dalam-dalam.
“Just only one Allah, mas. Saat shalat ya, adalah minta buat bisa diketemuin sama bapak..”, ujarnya dengan penuh pengharapan.

Saya terdiam dan mencoba merasakan kerinduan yang hadir dalam suasana ini. Tiba-tiba”Kenapa ga ikut Termehek-mehek aja kamu?, saya mengusulkan.
“Ga penting, acara ga penting. Acara yang isinya nangis-nangis doang. Membuka aib orang aja, ga mendidik. Ga baik, ya kadang baik kalo ga bikin ribut, tapi tetap aja ribut ujung-ujungnya,” rentetan kata emosi dari dirinya membuat saya permisi sesaat.


Read More......

Sekelumit Kisah STAN

Pertengahan Januari ini, seorang teman menempuh waktu 30 menit dari Bintaro ke Kebayoran Baru. Acara pertemuan, mumpung saya lagi di Jakarta. Dia teman sekelas waktu SMA. Sekarang kuliah di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) jurusan Administrasi Perpajakan. Selain itu, ada juga jurusan Akuntansi Pemerintahan, Bea dan Cukai, Piutang Lelang Negara, Pajak Bumi Bangunan Penilaian dan Pembendaharaan Negara. Saya menunggunya di depan Rumah Sakit Pertamina Pusat.

Dari sana kami ke kantor Pantau di Kebayoran Lama. Ada janji wawancara dengan Siti Nurrofiqoh, staf Pantau. Saya masih harus menunggu mbak Fiqoh datang. Sambil menunggu, saya dan teman duduk di atas gedung kantor Pantau sembari menikmati secangkir kopi. Di sela-sela obrolan, saya tanya bagaimana rasanya kuliah di STAN. Untuk masuk kampus ini standar tesnya tinggi sekali, kemampuan matematika harus kuat. Matematika bagi sebagian anak sekolah adalah momok.

Tapi jawaban yang saya dapatkan lain. “Biasa saja,” katanya, “Malah saya iri sama anak UI, ITB. UI mungkin lebih bagus dibanding STAN, analoginya jika output UI 200, STAN 110. Itu dengan input yang sama.”
Yang dimaksud output disini adalah dunia kerja, yang mengacu kepada kemampuan analisis. Di UI dan Trisakti juga ada jurusan pajak. Mereka lebih ke teori, STAN lebih unggul untuk pemahaman aplikasi keilmuan. Komposisi mahasiswa laki-laki dan perempuan berbanding 1:3. Memang ada prioritas untuk kaum “adam”.
“Kenapa begitu?”tanya saya.
“Mutasi pekerjaan. Laki-laki lebih gampang untuk berpindah-pindah dibanding perempuan.”

Secara garis besar ada dua macam pelajaran di sana, hitungan dan hafalan. Akuntasi dan Pajak, termasuk jurusan yang paling susah dalam pelajaran hitungan. Sama seperti mahasiswa fakultas hukum yang menghafal begitu panjang barisan undang-undang, mahasiswa STAN tak kalah banyak menghafal tentang pajak. Berkutat dengan angka-angka menjadi makanan sehari-hari. Sangat jarang membahas “dunia luar”, kalaupun ada biasanya mereka berdiskusi tentang dinamika Departemen Keuangan. Mengenai kebijakan yang dikeluarkan terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Karena muaranya setelah mereka lulus akan ditempatkan di Departemen Keuangan, misalnya di Departemen Pajak, Bea Cukai, KPPN atau BKF. Tapi bisa juga di instansi non-Depkeu, seperti BPKP, BPK atau Bapeppam. Sistem kuliahnya bisa dibilang santai tapi ujiannya sangat sulit.
“Pernah awak kuliah hitungannya 3 SKS, seharusnya 4 kali pertemuan, tapi cuma dijadikan 2 jam. Pas ujian, beuhh …,” Renrefli tak menyelesaikan kalimatnya. Dia hanya mengangkat kedua tangannya ke atas tanda menyerah.
“Ya karena tuntutan IPK harus di atas 2.75 bia indak di DO, terpaksa belajar keras setiap sebelum ujian”, sambungnya.

Kebanyakan mahasiswanya adalah orang jawa, hampir sebagian besar. STAN itu untuk orang jawa. Ini isu yang kebanyakan berkembang di kalangan mahasiswa non-jawa. Karena stereotipe sudah terlalu lama dikuasai orang jawa. Renrefli pernah bertanya kepada salah seorang temannya yang baru lulus saat test ketiga kalinya. Orang tuanya lebih senang dia jadi birokrat dengan kuliah yang setelah lulus langsung dapat kerja. Dia menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah budaya jawa, yang menganggap kerja di kantor pemerintahan itu lebih baik.
Kalau benar begitu saya berfiir mungkin ada hubungannya dengan sejarah kolonial Belanda. Penetrasi terhadap budaya jawa. Saya teringat cerita Pram, khususnya beberapa bagian di Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.


Read More......

Persepsi Mas Raka

Pagi minggu, dekat kawasan Graha Saba Pramana konsentrasi kerumunan massa dan kendaraan tumpah ruah. Orang-orang joging diantara berbagai macam kuliner dijajakan. 500 meter ke arah utara, ada perempatan lampu merah. Orang-orang lebih mengenal dengan nama perempatan MM UGM. Utara perempatan menuju Kaliurang atas. Timur ke arah kehutanan UGM. Di sebelah barat ke jalan Sardjito, Rumah Sakit Umum Dr.Sardjito dan kampus Fakultas Teknik UGM melalui jalan ini. Di sisi timur kanan perempatan ada pos polisi, di depan pos sebuah plang terpancang “Polisi Sektor Bulaksumur”.

Rambutnya panjang hingga ke bahu, keseluruhannya hitam walau beberapa helai telah berubah menjadi putih. Pandangan matanya tajam, sesekali lidahnya membasahi bibir. Kumis tebal dan janggut yang dibiarkan panjang menambah kesan sangar. Tubuhnya tidak terlalu besar, malah cenderung kurus tapi kekar dan hitam legam terbakar matahari. Hem biru yang kancingnya dibiarkan terbuka melapisi badannya. Ditambah rompi hijau hitam bersaku di bagian bawah, dipungung rompi tertulis Harjo.

“Maaf mas agak telat dari janji kita kemaren, biasalah hari minggu jadi agak nyantai”, katanya ketika saya langsung mendekatinya. Perempuan di sampingnya menyunggingkan senyum. Tak berbeda jauh penampilannya. Kaos putih hitam dilapisi rompi yang sama bertulis Harjo di punggungnya. Tak ketinggalan manset hitam terpasang dari lengan hingga pergelangan tangannya.

“Jadi gimana mas, mau langsung coba jualan? Udah agak siang sebaiknya langsung aja”, ujarnya sambil menyerahkan beberapa eksemplar koran hari itu. “Koran Tempo 1000 rupiah, Harjo 2000, Kompas dan KR masing-masing 3500 dan 2500 rupiah”,sambungnya.
“Nanti kita pisah, saya dan istri saya di sini mas di utara, sekarang udah setengah sembilan jam sebelas kita kumpul lagi sekalian istirahat”, tangannya sibuk memisahkan koran-koran sambil memberi instruksi dengan cepat.

Tak punya pilihan saya langsung memisahkan diri dari mereka, menuju ke utara perempatan. Dua setengah jam ke depan saya akan mencoba menjadi seorang penjaja koran di jalanan. Sekitar 60 detik saya menawarkan dagangan ke orang-orang yang berhenti, sebelum berjalan lagi. Dan menunggu tiga sisi lainnya sebelum traffic light di posisi saya lampu merahnya menyala kembali. Sesekali saya melempar pandang kepada mas Raka, begitu namanya ketika mengenalkan diri kemaren. Tubuhnya timbul tenggelam diantara mobil dan sepeda motor. Istrinya lebih banyak mengambil tempat di sisi trotoar.

Matahari sebentar lagi akan di atas kepala, saya semakin sering menoleh ke arah seberang. Hingga koran di tangan seorang di seberang bergerak-gerak ke kiri dan kanan. Saya berdiri tegak dan lambaian tangan mas Raka menyuruh saya menuju ke tempatnya. Setengah berlari dengan koran yang masih tersisa di tangan dalam hitungan 10 detik saya sudah berada di dekatnya.

“Gimana mas?capek ya?”,tanyanya sambil mengambil posisi duduk di pagar trotoar.
“Lumayan, maaf ga kejual semua mas”, dengan menyerahkan sisa koran dan lembaran duit dari koran yang terjual saya menjawab.
“Yo ra opo-opo to mas, lagian kan mas hanya ingin merasakan gimana jualan koran to? Ga enak to mas?”, ujarnya sambil melirik istrinya. Si istri tersenyum-senyum saja.
“Ga apa-apa kok mas, sekalian bisa langsung masuk ke inti tentang tujuan saya”, saya menjelaskan panjang sekali lagi kepada mas Raka, bahwa saya ingin mewancarainya. Karena ingin menulis cerita tentang kehidupan penjual koran, suka duka di jalanan, keluarga dan sebagainya. “Owalah mas, saya kira mas ingin ikutan jual koran dari pagi sampai pulang, ra ngerti kalo cuma mau wawancara wae”, dia bicara dengan mimik menyesal.
Read More......