Di negeri seberang orang berjuang untuk bangsanya,
di sini orang berjuang untuk kroni dan diri sendiri
Read More......
Sabtu, 08 November 2008
Kamis, 06 November 2008
RASIALISME TELAH USANG
Terserah Barack Obama akan merealisasikan agenda dan program kerja yang dia rancang dan koar-koarkan selama masa kampanya yang panjang. Dari Hillary Clinton sampai John McCain sekarang. McCain menambah aroma perperangan dengan seorang rupawan, Sarah Palin. Namanya enak diucapkan, tak terlalu ribet seperti nama Eropa dan Amerika lainnya. Saya juga tak mengerti bagaimana mengucapkan nama dan kata, tapi tetap saja enak SARAH PALIN.
Apalagi seorang teman yang jika telah membicarakan pemilihan presiden di Amerika, yang paling pertama dia lontarkan adalah boot-nya Sarah Palin. “Keren banget, seorang calon wakil presiden perempuan, alamak boot-nya itu, sudah seperti artis saja”, dia mencerocos. Akibatnya saya searching di google dengan memasukkan kata Sarah Palin dan ternyata memang cantik. Panjang pula informasi media tentangnya, menghabiskan dana kampanye untuk berdandan dia dan keluarga, ya termasuk anak-anaknya itu. Lalu kebijaksanaannya yang memecat seorang pegawai pemerintahan, semacam polisi ya? Saya lupa dan malas membalik-balik koran lagi. Tapi Sarah Palin tak akan jadi wakil presiden, mungkin tetap saja jadi Gubernur di salah satu negara bagian seperti sebelumnya, atau dia telah meletakkan jabatannya?
Obama mengukir sejarah, akhirnya tercapai juga cita-cita Martin Luther King untuk memperjuangkan persamaan hak bagi warga kulit hitam di Amerika 45 tahun silam. Kita pun warga Indonesia dibuat sibuk dengan pemilihan presiden Amerika ini, kita bermil-mil jauhnya dari mereka. Ada dari kita yang merasakan kebanggaan dan kesenangan atas kemenangan Obama, ada juga yang tak terlalu peduli, apalagi mereka yang selama ini menentang dan sangat membenci Amerika. Padahal tak tahu apa yang terjadi, apa yang mereka benci, entah ajaran dari siapa yang mereka dapat. Ini lepas dari kepentingan politik dan ekonomi. Kepentingan agama tak dapat disangkut-pautkan.
Yang jelas Amerika menunjukkan pada kita semua. Semua manusia punya harkat, martabat, dan hak yang sama termasuk menjadi seorang presiden.
Dalam editorial koran Tempo, 6 November 2008, di negara ini, Indonesia, diskriminasi dan rasialisme masih terjadi kendati undang-undang, bahkan konstitusi, telah diperbaiki. Dalam Undang Undang Dasar 1945 yang diamandemen, misalnya syarat seorang presiden dan wakil presiden tak lagi mengharuskan orang Indonesia “asli” tapi cukup terlahir sebagai warga negara Indonesia.
Persoalannya, dikotomi kesukuan, Jawa dan luar Jawa, masih terasa. Bangsa ini seolah belum bisa menerima kenyataan seorang presiden bisa terlahir dari suku non-Jawa. Dikotomi agama pun kerap jadi masalah. Padahal Amerika telah menyelesaikan soal ini hampir setengah abad silam, ketika John F.Kennedy tampil menjadi presiden pertama dari kaum katolik yang mayoritas.
Ya begitulah bangsa ini, penuh kekerasan, primordialis, dan bermental miskin. Tak semua memang, tapi sebagian cukup menggambarkan itu kan?
Sudahlah
Read More......
Apalagi seorang teman yang jika telah membicarakan pemilihan presiden di Amerika, yang paling pertama dia lontarkan adalah boot-nya Sarah Palin. “Keren banget, seorang calon wakil presiden perempuan, alamak boot-nya itu, sudah seperti artis saja”, dia mencerocos. Akibatnya saya searching di google dengan memasukkan kata Sarah Palin dan ternyata memang cantik. Panjang pula informasi media tentangnya, menghabiskan dana kampanye untuk berdandan dia dan keluarga, ya termasuk anak-anaknya itu. Lalu kebijaksanaannya yang memecat seorang pegawai pemerintahan, semacam polisi ya? Saya lupa dan malas membalik-balik koran lagi. Tapi Sarah Palin tak akan jadi wakil presiden, mungkin tetap saja jadi Gubernur di salah satu negara bagian seperti sebelumnya, atau dia telah meletakkan jabatannya?
Obama mengukir sejarah, akhirnya tercapai juga cita-cita Martin Luther King untuk memperjuangkan persamaan hak bagi warga kulit hitam di Amerika 45 tahun silam. Kita pun warga Indonesia dibuat sibuk dengan pemilihan presiden Amerika ini, kita bermil-mil jauhnya dari mereka. Ada dari kita yang merasakan kebanggaan dan kesenangan atas kemenangan Obama, ada juga yang tak terlalu peduli, apalagi mereka yang selama ini menentang dan sangat membenci Amerika. Padahal tak tahu apa yang terjadi, apa yang mereka benci, entah ajaran dari siapa yang mereka dapat. Ini lepas dari kepentingan politik dan ekonomi. Kepentingan agama tak dapat disangkut-pautkan.
Yang jelas Amerika menunjukkan pada kita semua. Semua manusia punya harkat, martabat, dan hak yang sama termasuk menjadi seorang presiden.
Dalam editorial koran Tempo, 6 November 2008, di negara ini, Indonesia, diskriminasi dan rasialisme masih terjadi kendati undang-undang, bahkan konstitusi, telah diperbaiki. Dalam Undang Undang Dasar 1945 yang diamandemen, misalnya syarat seorang presiden dan wakil presiden tak lagi mengharuskan orang Indonesia “asli” tapi cukup terlahir sebagai warga negara Indonesia.
Persoalannya, dikotomi kesukuan, Jawa dan luar Jawa, masih terasa. Bangsa ini seolah belum bisa menerima kenyataan seorang presiden bisa terlahir dari suku non-Jawa. Dikotomi agama pun kerap jadi masalah. Padahal Amerika telah menyelesaikan soal ini hampir setengah abad silam, ketika John F.Kennedy tampil menjadi presiden pertama dari kaum katolik yang mayoritas.
Ya begitulah bangsa ini, penuh kekerasan, primordialis, dan bermental miskin. Tak semua memang, tapi sebagian cukup menggambarkan itu kan?
Sudahlah
Read More......
Jumat, 31 Oktober 2008
Ramadhan Akan Berakhir
Pesawat Lion Air masih di udara, padahal malam telah lama naik. Goncangan-goncangan di pesawat cukup membuat ciut nyali, ibu-ibu di samping saya komat-kamit mengucap nama Tuhan. Cuaca buruk, itu informasi yang didapat dari awak penerbangan rute Jakarta menuju Padang. Hingga mendarat di Bandara Internasional Minangkabau pun, langit terlihat gelap, sesekali rintik hujan mengenai bahu saya.
Satu tahun belum lagi saya pulang ke Solok, kampung halaman. Momen seperti bulan puasa dan lebaran adalah waktu yang biasa dipergunakan oleh kebanyakan orang perantauan untuk kembali ke kampung halaman. Menemui orang tua, berlebaran bersama keluarga, mengunjungi sanak famili dan teman-teman lama.
Senin, 29 September 2008 sekitar pukul 17.30 di depan kantor DPRD kota Solok, ada konsentrasi keramaian. Sebelum masuk lokasi ada spanduk betuliskan Pasar Pabukoan Kota Solok. Macam-macam lauk, panganan untuk berbuka khas Minangkabau dapat ditemui dengan mudah. Pedagang dan pembeli berseliweran di sini. Tak terlalu luas, hanya ruas jalan di samping kantor Telkom Solok yang dipergunakan. Susunan meja dan lapak seadanya. Saya di sana waktu itu.
Orangnya berkumis, perawakannya besar. Tangannya cekatan ketika memindahkan lauk dari wadah ke plastik. Ini tahun ke 2 baginya berjualan masakan di pasa pabukoan. Nama warung makan ini lumayan santer terdengar bagi siapa saja yang menginginkan masakan enak yang sedikit berbeda. Andalannya gulai tunjang. Jika pada hari biasa, Ampera Etek dapat kita temui di kawasan teminal angkot Solok. Khusus setiap bulan puasa di pasar pabukoan ini Ampera Etek hanya menjual samba (lauk).
Dari informasi yang diberikan bapak Irmi Rahnadasyan, atau yang biasa dipanggil Pak Guru ini, pasar pabukoan ini baru 2 tahun berjalan di lokasi yang baru ini. Sebelumnya sudah pernah ada, lokasinya berada di tengah pasar. Pemerintah melalui instansi yang terkait yaitu Dinas Pasar Raya meminta pedagang khusus pasa pabukoan ini pindah ke lokasi yang baru. Mengambil tempat di ruas jalan antara kantor Telkom kota Solok dan bekas rumah dinas Bupati lama. Di situlah lapak dan meja-meja pedagang tersusun dengan rapi. Perhitungannya setiap pedagang membayar Rp. 7500,- untuk 1 meja.
Walaupun suasana di sini cukup memadai untuk berjualan, dengan banyaknya urang Solok yang masih berkunjung ke sini saban sore. Pak Guru menilai tempat ini masih mempunyai kekurangan seperti ketidakadaan MCK yang memadai. Bahkan untuk menunaikan shalat magrib pun harus ke masjid yang tak bisa dibilang dekat. Ke masjid setidaknya harus menempuh jarak 300-400 meter. Di lokasi pun tak mungkin menunaikan shalat karena kurang bersih untuk melaksanakan ibadah. Biasanya sebelum Isya orang-orang di sana mulai berkemas-kemas dan biasanya sebagian besar telah meninggalkan lokasi. Meja-meja disingkirkan dan jalanan yang beralih fungsi ini mulai dipergunakan kembali seperti biasanya.
Seminggu kemudian saya ditemani seorang teman berencana melakukan perjalanan ke daerah Suliki. Senin, 6 Oktober 2008 pagi sekitar jam 10 kami memulai perjalanan dari kota Solok. Perkiraannya kami akan menempuh waktu sekitar 2,5-3 jam hingga ke tempat tujuan. Matahari tak begitu terik memancarkan sinarnya, bahkan di beberapa belahan langit terlihat mendung. Bensin motor telah terisi penuh, ini pun kami harus antri. Dari Solok kami bertolak melewati Sumani, biasanya daerah ini adalah titik macet, apalagi masih dalam suasana lebaran yang selalu dihiasi bermacam kendaraan bermotor. Yang paling ramai tentu truk atau mobil dengan bak terbuka di belakangnya. Diisi sebanyak-banyak orang, angkatan tua dan muda menuju tempat wisata. Di jalan pun jika bertemu kolega dengan transportasi yang sama biasa menjadi lawan. Anak-anak kecil hingga remaja dan dewasa yang tak mau ketinggalan mempersenjatai dirinya dengan pistol mainan, berbagai ukuran. Amunisinya peluru bulat warna-warni. Terjadilah pertempuran singkat. Kadang masyarakat di daerah yang dilewati juga sering ikutan. Mereka bergerombol, biasanya di kedai tepi jalan, pos siskamling atau tempat yang strategis. Mobil lewat dan menampakkan tanda-tanda penyerangan mereka telah siap. Menambah suasana ramai lebaran tapi riskan juga mengenai pengguna jalan yang tak berdosa. Jika sudah begitu bisa-bisa semua pengguna jalan baik pengendara roda empat atau roda dua akan bersiaga juga dengan menyiapkan pistol mainan yang marak di pasar menjelang setiap lebaran.
Menurut informasi dari teman seorang polisi yang dinas di daerah Paninggahan jalan Sumani-Singkarak padat lancar. Kita belum akan menemukan kemacetan pikir saya. Dan ternyata pasar Sumani yang biasanya kendaraan tumplek di sana lengang. Bahkan di dermaga danau Singkarak yang dijadikan semacam tempat bermain di hari lebaran, ada komedi putar dan rekan sejawatnya yang lain, juga belum menampakkan keramaian. Mungkin masih belum siang. Daerah terdekat yang akan kami tuju adalah kota Batusangkar. Sepanjang danau Singkarak kami melaju. Di pasar Ombilin kami mengambil jalan ke kanan setelah jembatan. Mendaki sedikit dan terpampanglah pemandangan indah. Kami melewati lereng bukit di samping kiri, dan jurang di samping kanan. Di lembah-lembah itu daerah pedesaan masih terlihat asri, sawah berjenjang-jenjang, pohon padat merayap, dan kincir air di sungai. Alangkah indahnya!
Perjalanan masih berlanjut hingga dari Batusangkar kami melewati daerah Baso. Jalannya panjang dan lurus, sesekali di jalan yang mulus ini ada turunan dan pendakian. Tak terasa kami sampai di Payakumbuh, tak masuk kota memang karena ke Suliki ini bisa dilewati tanpa melalui kawasan kota Payakumbuh. Kepenatan perjalanan belum juga habis, masih jauh lebih 30 km lagi baru akan sampai di Suliki. Kami sempat menangkap petunjuk jalan, lurus terus ke daerah Mungka, jika hendak ke Koto Tinggi dan Suliki mengambil jalan ke kiri.
Melewati daerah Danguang-danguang yang terkenal dengan satenya, lalu nagari-nagari kecil lainnya. Mulai dari situ, jalannya dinamakan jalan Tan Malaka. Panjang hingga ke daerah Pandan Gadang. Di sana rumah tempat Tan Malaka sebelum merantau ke Bukit Tinggi, setelah itu Nusantara dan Asia hingga ke Eropa timur dijamahnya..
Keramaian telah lewat saat sudah dekat sebelum memasuki Pandan Gadang. Yang tersisa hanya barisan bukit-bukit menjulang tinggi, bersatu padu memagari negeri dan lembah di bawahnya. Pemukiman penduduk hanya berjejer di pinggir jalan, sawah dan ladang yang sangat luas memenuhi daerah ini. Belok kanan sembari mendaki sedikit lalu agak lurus akhirnya sampai juga di rumah Tan Malaka. Kami yang pertama kali menelusuri jalan ini tak begitu sulit menemukan lokasi. Jika kebingungan, tinggal bertanya saja ke penduduk, dari awal hingga akhir perjalanan pun tak akan terasa susah.
Lokasi rumah Tan terletak di sisi kiri jalan dari arah Payakumbuh. Bukan berarti tepat langsung berhadapan dengan jalan tapi untuk sampai ke sana harus melewati jalan tanah setapak yang bisa dilalui mobil, lumayan lebar dan tidak rusak. Di sana, di depan sebuah rumah ditancapkan plang petunjuk berjudul Rumah Tan Malaka, Meseum dan Pustaka, bercat putih dengan dasar warna hijau. Bertonggak bambu, arah panah berwarna kuning.
Halamannya cukup luas, di depan rumah banyak tumbuh pohon kelapa dan ada kolam yang sudah tak berisi air. Entah ikan di dalamnya baru saja dipanen. Kami menaiki anak yang berjumlah tujuh buah, menghadapi pintu yang tertutup. Jendalapun tak ada yang buka, sepertinya tak ada penghuni di dalam. Berkali-kali diketok tak ada juga sahutan dari dalam. Dari arah surau yang tak jauh dari rumah baru tampak seorang perempuan berjalan mendekat ke arah rumah. Mudah-mudahan perempuan itu penghuni rumah, ternyata benar.
Pintu dibukakan sambil mengatakan dia akan segera memanggil ayahnya. Saya rasa dia masih sekolah. Kami masuk, dan dipersilahkan duduk di beranda. Sofa lusuh yang tak empuk lagi menjadi sandaran kami yang terbuat lelah karena perjalanannya. Rasa lelah menjadi tak berharga karena sekarang kami sudah berada di dalam rumah “Bapak bangsa yang terlupakan”.
Lalu muncul seorang laki-laki, setengah baya. Saya dan rekan langsung menyalaminya. Kami lalu memperkenalkan diri dan mengutarakan keinginan. Ia memperkenalkan diri sebagai Indra Ibrur Aditama, generasi ke empat dari Dt. Ibrahim Tan Malaka. Ayahnya bernama Johanes, ibunya bisa dibilang cucu Tan Malaka, Ananurnia. Sayang saya tak menanyakan lebih lanjut tentang hubungan keluarga dan silsilah lebih lanjut tentang generasi Tan Malaka. Di tempat yang bisa disebut ruang tamu ini banyak foto-foto Tan, dan keluarga generasi selanjutnya, bapak Indra mengungkapkan kebanyakan foto adalah sumbangan dari para kolektor atau siapa saja ketika rumah Tan ini dijadikan meseum pada tahun 2008 ini, belum terlalu lama. Beliau menerawang ke waktu itu, keadaan rumah itu ramai dan meriah, pemerintah melalui instansi terkait juga hadir bersama keluarga dan penduduk sekitar. Kini hanya sunyi senyap yang hadir. Bahkan pemerintah terkesan melupakan, secara eksplisit dia mengungkapkan setidaknya ada perhatia pemerintah untuk perawatan, karena ini rumah telah menjadi milik publik, meseum!
Kami dipersilahkan masuk ke ruang utama yang lapang, standarnya rumah gadang, tonggak tengah rumah terkesan kokoh. Di sini di isi dengan beberapa lemari berisi buku-buku karya Tan, ataupun buku tentang Tan Malaka karya penulis lain. Buku tamu disediakan di sebuah meja tepat di depan saat hendak masuk. Saya menelusuri nama-nama dan alamat orang-orang yang pernah berkunjung ke sini. Dari daerah Jawa tidaklah sedikit, LSM, kampus dan sebagainya. Di bagian awal tanggal 4-1-2005 ada nama Harry Poeze. Luar biasa peneliti yang satu ini pikir saya, itu bukan pertama kalinya dia ke sini. Bahkan ketika bapak Indra masih kecil dia telah juga pernah ke sini.
Lemari bukunya rendah-rendah, jadi buku disusun mendatar pada bagian bawah lemari, bagian atas dan depan di beri kaca.
Selebihnya di dinding rumah, hampir di semua penjuru di pajang foto-foto Tan dan tepat di bagian tengah kita juga dapat mengetahui daftar ranji Datuk Tan Malaka dari Ninik Mamak yang bertalian darah. Jendela di buka lebar-lebar mengatasi kepengapan. Di sela kami melihat sekililing sebuah buku dikeluarkan oleh bapak Indra, Verguisd en Vergeten, Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. Buku ini dalam satu paket yang berisi tiga buah, deel 1 berwarna coklat muda, deel 2 ungu dan deel 3 biru, ketiga nya tebal-tebal. Karangan Harry Poeze tentunya. Bapak Indra mengungkapkan andai dia mengerti bahasa Belanda tentu banyak hal yang dia ketahui tentang sejarah leluhurnya tersebut. Harry Poeze memang dengan sangat serius meneliti tentang Tan, ini buku terbaru yang dia klaim sangat lengkap. Selama ini bapak Indra hanya mendengar cerita dari kakek dan orang-orang tua yang sedikit banyaknya tahu tentang kisah Tan, seperti cerita turun menurun. Di matanya masih banyak tersimpan keraguan-keraguan, hasrat ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dia juga mengetahui tentang penemuan makam Tan di Kediri, penelusuran yang dilakukan Harry Poeze. Walaupun kelanjutannya dia juga belum tahu. Dia berharap sambil membolak-balik buku itu akan ada terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia.
Read More......
Satu tahun belum lagi saya pulang ke Solok, kampung halaman. Momen seperti bulan puasa dan lebaran adalah waktu yang biasa dipergunakan oleh kebanyakan orang perantauan untuk kembali ke kampung halaman. Menemui orang tua, berlebaran bersama keluarga, mengunjungi sanak famili dan teman-teman lama.
Senin, 29 September 2008 sekitar pukul 17.30 di depan kantor DPRD kota Solok, ada konsentrasi keramaian. Sebelum masuk lokasi ada spanduk betuliskan Pasar Pabukoan Kota Solok. Macam-macam lauk, panganan untuk berbuka khas Minangkabau dapat ditemui dengan mudah. Pedagang dan pembeli berseliweran di sini. Tak terlalu luas, hanya ruas jalan di samping kantor Telkom Solok yang dipergunakan. Susunan meja dan lapak seadanya. Saya di sana waktu itu.
Orangnya berkumis, perawakannya besar. Tangannya cekatan ketika memindahkan lauk dari wadah ke plastik. Ini tahun ke 2 baginya berjualan masakan di pasa pabukoan. Nama warung makan ini lumayan santer terdengar bagi siapa saja yang menginginkan masakan enak yang sedikit berbeda. Andalannya gulai tunjang. Jika pada hari biasa, Ampera Etek dapat kita temui di kawasan teminal angkot Solok. Khusus setiap bulan puasa di pasar pabukoan ini Ampera Etek hanya menjual samba (lauk).
Dari informasi yang diberikan bapak Irmi Rahnadasyan, atau yang biasa dipanggil Pak Guru ini, pasar pabukoan ini baru 2 tahun berjalan di lokasi yang baru ini. Sebelumnya sudah pernah ada, lokasinya berada di tengah pasar. Pemerintah melalui instansi yang terkait yaitu Dinas Pasar Raya meminta pedagang khusus pasa pabukoan ini pindah ke lokasi yang baru. Mengambil tempat di ruas jalan antara kantor Telkom kota Solok dan bekas rumah dinas Bupati lama. Di situlah lapak dan meja-meja pedagang tersusun dengan rapi. Perhitungannya setiap pedagang membayar Rp. 7500,- untuk 1 meja.
Walaupun suasana di sini cukup memadai untuk berjualan, dengan banyaknya urang Solok yang masih berkunjung ke sini saban sore. Pak Guru menilai tempat ini masih mempunyai kekurangan seperti ketidakadaan MCK yang memadai. Bahkan untuk menunaikan shalat magrib pun harus ke masjid yang tak bisa dibilang dekat. Ke masjid setidaknya harus menempuh jarak 300-400 meter. Di lokasi pun tak mungkin menunaikan shalat karena kurang bersih untuk melaksanakan ibadah. Biasanya sebelum Isya orang-orang di sana mulai berkemas-kemas dan biasanya sebagian besar telah meninggalkan lokasi. Meja-meja disingkirkan dan jalanan yang beralih fungsi ini mulai dipergunakan kembali seperti biasanya.
Seminggu kemudian saya ditemani seorang teman berencana melakukan perjalanan ke daerah Suliki. Senin, 6 Oktober 2008 pagi sekitar jam 10 kami memulai perjalanan dari kota Solok. Perkiraannya kami akan menempuh waktu sekitar 2,5-3 jam hingga ke tempat tujuan. Matahari tak begitu terik memancarkan sinarnya, bahkan di beberapa belahan langit terlihat mendung. Bensin motor telah terisi penuh, ini pun kami harus antri. Dari Solok kami bertolak melewati Sumani, biasanya daerah ini adalah titik macet, apalagi masih dalam suasana lebaran yang selalu dihiasi bermacam kendaraan bermotor. Yang paling ramai tentu truk atau mobil dengan bak terbuka di belakangnya. Diisi sebanyak-banyak orang, angkatan tua dan muda menuju tempat wisata. Di jalan pun jika bertemu kolega dengan transportasi yang sama biasa menjadi lawan. Anak-anak kecil hingga remaja dan dewasa yang tak mau ketinggalan mempersenjatai dirinya dengan pistol mainan, berbagai ukuran. Amunisinya peluru bulat warna-warni. Terjadilah pertempuran singkat. Kadang masyarakat di daerah yang dilewati juga sering ikutan. Mereka bergerombol, biasanya di kedai tepi jalan, pos siskamling atau tempat yang strategis. Mobil lewat dan menampakkan tanda-tanda penyerangan mereka telah siap. Menambah suasana ramai lebaran tapi riskan juga mengenai pengguna jalan yang tak berdosa. Jika sudah begitu bisa-bisa semua pengguna jalan baik pengendara roda empat atau roda dua akan bersiaga juga dengan menyiapkan pistol mainan yang marak di pasar menjelang setiap lebaran.
Menurut informasi dari teman seorang polisi yang dinas di daerah Paninggahan jalan Sumani-Singkarak padat lancar. Kita belum akan menemukan kemacetan pikir saya. Dan ternyata pasar Sumani yang biasanya kendaraan tumplek di sana lengang. Bahkan di dermaga danau Singkarak yang dijadikan semacam tempat bermain di hari lebaran, ada komedi putar dan rekan sejawatnya yang lain, juga belum menampakkan keramaian. Mungkin masih belum siang. Daerah terdekat yang akan kami tuju adalah kota Batusangkar. Sepanjang danau Singkarak kami melaju. Di pasar Ombilin kami mengambil jalan ke kanan setelah jembatan. Mendaki sedikit dan terpampanglah pemandangan indah. Kami melewati lereng bukit di samping kiri, dan jurang di samping kanan. Di lembah-lembah itu daerah pedesaan masih terlihat asri, sawah berjenjang-jenjang, pohon padat merayap, dan kincir air di sungai. Alangkah indahnya!
Perjalanan masih berlanjut hingga dari Batusangkar kami melewati daerah Baso. Jalannya panjang dan lurus, sesekali di jalan yang mulus ini ada turunan dan pendakian. Tak terasa kami sampai di Payakumbuh, tak masuk kota memang karena ke Suliki ini bisa dilewati tanpa melalui kawasan kota Payakumbuh. Kepenatan perjalanan belum juga habis, masih jauh lebih 30 km lagi baru akan sampai di Suliki. Kami sempat menangkap petunjuk jalan, lurus terus ke daerah Mungka, jika hendak ke Koto Tinggi dan Suliki mengambil jalan ke kiri.
Melewati daerah Danguang-danguang yang terkenal dengan satenya, lalu nagari-nagari kecil lainnya. Mulai dari situ, jalannya dinamakan jalan Tan Malaka. Panjang hingga ke daerah Pandan Gadang. Di sana rumah tempat Tan Malaka sebelum merantau ke Bukit Tinggi, setelah itu Nusantara dan Asia hingga ke Eropa timur dijamahnya..
Keramaian telah lewat saat sudah dekat sebelum memasuki Pandan Gadang. Yang tersisa hanya barisan bukit-bukit menjulang tinggi, bersatu padu memagari negeri dan lembah di bawahnya. Pemukiman penduduk hanya berjejer di pinggir jalan, sawah dan ladang yang sangat luas memenuhi daerah ini. Belok kanan sembari mendaki sedikit lalu agak lurus akhirnya sampai juga di rumah Tan Malaka. Kami yang pertama kali menelusuri jalan ini tak begitu sulit menemukan lokasi. Jika kebingungan, tinggal bertanya saja ke penduduk, dari awal hingga akhir perjalanan pun tak akan terasa susah.
Lokasi rumah Tan terletak di sisi kiri jalan dari arah Payakumbuh. Bukan berarti tepat langsung berhadapan dengan jalan tapi untuk sampai ke sana harus melewati jalan tanah setapak yang bisa dilalui mobil, lumayan lebar dan tidak rusak. Di sana, di depan sebuah rumah ditancapkan plang petunjuk berjudul Rumah Tan Malaka, Meseum dan Pustaka, bercat putih dengan dasar warna hijau. Bertonggak bambu, arah panah berwarna kuning.
Halamannya cukup luas, di depan rumah banyak tumbuh pohon kelapa dan ada kolam yang sudah tak berisi air. Entah ikan di dalamnya baru saja dipanen. Kami menaiki anak yang berjumlah tujuh buah, menghadapi pintu yang tertutup. Jendalapun tak ada yang buka, sepertinya tak ada penghuni di dalam. Berkali-kali diketok tak ada juga sahutan dari dalam. Dari arah surau yang tak jauh dari rumah baru tampak seorang perempuan berjalan mendekat ke arah rumah. Mudah-mudahan perempuan itu penghuni rumah, ternyata benar.
Pintu dibukakan sambil mengatakan dia akan segera memanggil ayahnya. Saya rasa dia masih sekolah. Kami masuk, dan dipersilahkan duduk di beranda. Sofa lusuh yang tak empuk lagi menjadi sandaran kami yang terbuat lelah karena perjalanannya. Rasa lelah menjadi tak berharga karena sekarang kami sudah berada di dalam rumah “Bapak bangsa yang terlupakan”.
Lalu muncul seorang laki-laki, setengah baya. Saya dan rekan langsung menyalaminya. Kami lalu memperkenalkan diri dan mengutarakan keinginan. Ia memperkenalkan diri sebagai Indra Ibrur Aditama, generasi ke empat dari Dt. Ibrahim Tan Malaka. Ayahnya bernama Johanes, ibunya bisa dibilang cucu Tan Malaka, Ananurnia. Sayang saya tak menanyakan lebih lanjut tentang hubungan keluarga dan silsilah lebih lanjut tentang generasi Tan Malaka. Di tempat yang bisa disebut ruang tamu ini banyak foto-foto Tan, dan keluarga generasi selanjutnya, bapak Indra mengungkapkan kebanyakan foto adalah sumbangan dari para kolektor atau siapa saja ketika rumah Tan ini dijadikan meseum pada tahun 2008 ini, belum terlalu lama. Beliau menerawang ke waktu itu, keadaan rumah itu ramai dan meriah, pemerintah melalui instansi terkait juga hadir bersama keluarga dan penduduk sekitar. Kini hanya sunyi senyap yang hadir. Bahkan pemerintah terkesan melupakan, secara eksplisit dia mengungkapkan setidaknya ada perhatia pemerintah untuk perawatan, karena ini rumah telah menjadi milik publik, meseum!
Kami dipersilahkan masuk ke ruang utama yang lapang, standarnya rumah gadang, tonggak tengah rumah terkesan kokoh. Di sini di isi dengan beberapa lemari berisi buku-buku karya Tan, ataupun buku tentang Tan Malaka karya penulis lain. Buku tamu disediakan di sebuah meja tepat di depan saat hendak masuk. Saya menelusuri nama-nama dan alamat orang-orang yang pernah berkunjung ke sini. Dari daerah Jawa tidaklah sedikit, LSM, kampus dan sebagainya. Di bagian awal tanggal 4-1-2005 ada nama Harry Poeze. Luar biasa peneliti yang satu ini pikir saya, itu bukan pertama kalinya dia ke sini. Bahkan ketika bapak Indra masih kecil dia telah juga pernah ke sini.
Lemari bukunya rendah-rendah, jadi buku disusun mendatar pada bagian bawah lemari, bagian atas dan depan di beri kaca.
Selebihnya di dinding rumah, hampir di semua penjuru di pajang foto-foto Tan dan tepat di bagian tengah kita juga dapat mengetahui daftar ranji Datuk Tan Malaka dari Ninik Mamak yang bertalian darah. Jendela di buka lebar-lebar mengatasi kepengapan. Di sela kami melihat sekililing sebuah buku dikeluarkan oleh bapak Indra, Verguisd en Vergeten, Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. Buku ini dalam satu paket yang berisi tiga buah, deel 1 berwarna coklat muda, deel 2 ungu dan deel 3 biru, ketiga nya tebal-tebal. Karangan Harry Poeze tentunya. Bapak Indra mengungkapkan andai dia mengerti bahasa Belanda tentu banyak hal yang dia ketahui tentang sejarah leluhurnya tersebut. Harry Poeze memang dengan sangat serius meneliti tentang Tan, ini buku terbaru yang dia klaim sangat lengkap. Selama ini bapak Indra hanya mendengar cerita dari kakek dan orang-orang tua yang sedikit banyaknya tahu tentang kisah Tan, seperti cerita turun menurun. Di matanya masih banyak tersimpan keraguan-keraguan, hasrat ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dia juga mengetahui tentang penemuan makam Tan di Kediri, penelusuran yang dilakukan Harry Poeze. Walaupun kelanjutannya dia juga belum tahu. Dia berharap sambil membolak-balik buku itu akan ada terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia.
Read More......
Selasa, 09 September 2008
Rak dan Gerobak (Hidup)
Kamis siang di awal Juli, saya menginjakkan kaki di Toga Mas Galeria, tak seperti bayangan awal saya tentang toko buku. Toga Mas ternyata hadir di mall, pertama kali saya ketahui ini. Tempat ini berbeda.
Dari parkir di basement 2, lift membawa ke lantai 2. Ini benar-benar baru dalam database penglihatan saya. Pintu lift terbuka, saya mengambil langkah ke kiri luar, berjalan beberapa langkah. Pagar-pagar panjang dan etalase toko mengapit. Tak jauh mata saya tertumbuk pada dekorasi toko yang penuh dengan warna merah. Kaca-kaca besar, kira-kira mengisi empat sudut. Hampir keseluruhan bagian luar toko dilapisi kaca. Buku di rak telanjang tampak dari luar.
Kaki saya terhenti di tempat minum, dalam pandangan di depan sebuah gerobak bervernis coklat. Dari yang saya baca di depan, tempat ini bernama Djendelo Cafe. Pelengkap toko buku yang menghadirkan unsur artistik. Djendelo Cafe, dengan nama minuman yang disajikan membuat kita mengumbar senyum setidaknya mampu menggelitik saraf pendengaran, menjadi akses keluar masuk hampir setiap orang di Toga Mas. Aktivas migrasi ini membuat kesan sibuk tergambar disitu. Kadang sangat sering keriuhannya ditambah tumpukan buku dan kardus-kardus. Kemeriahan yang semakin terpancar dengan kesibukan yang sempat jinak oleh kumpulan meja dan kursi, coklat kehitaman.
Di kursi yang berhadapan dengan meja bundar itu, awal dari perkenalan saya terhadap tempat ini. Sedikit menoleh ke belakang beberapa waktu yang lalu. Saat itu saya duduk mengobrol dalam konteks wawancara, konsekuensi lamaran pekerjaan yang saya masukkan ke Toga Mas Gejayan (sekarang Affandi) akhir Juni. Berhadapan dengan seorang wanita yang bernama Shenny, saya kemudian memanggilnya mbak. Cecaran kata-kata, pengalaman waktu lalu, orientasi dan tanggung jawab ke depan menghiasi ‘obrolan’ kami. Lalu mencapai kata sepakat, melalui mbak Shenny saya diterima kerja di toko buku, Toga Mas D’Gale.
Kamis di hari ketiga bulan Juli, permulaan saya terlibat dalam. Sehari sebelumnya, saat saya terkantuk-kantuk lalu disadarkan dengan dering ponsel, secepatnya mengalir informasi saya bisa memulai bekerja besok. Dapat saya tangkap, saya disuruh datang jam 2 dan mencari seseorang, yang untuk selanjutnya saya panggil mas Singgih. Akhirnya dengan keinginan untuk berdedikasi tinggi saya lewati pemandangan yang ada di atas.
Mas Singgih ini ternyata supervisor saya, jadi apa yang harus saya lakukan dan yang lainnya lakukan berada dalam koordinasinya. Dalam perkembangannya setiap akan memulai pekerjaan yang dibagi dalam 2 shift, pukul 9-4 sore dan pukul 2-pukul 9 malam bagi yang full time, serta pukul 9-pukul 2 siang dan pukul 4-pukul 9 malam bagi yang freelance, saya termasuk yang kedua. Selalu dilaksanakan briefing, persiapan, pembagian tugas kerja dan doa bersama. Jika tak ada mas Singgih, seorang wanita berjilbab bernama mbak Ii akan memberikan pengarahan awal. Sepertinya selalu berganti-ganti. Lalu jika tak ada dua-duanya, ataupun ada dua-duanya, terkadang mbak Shenny yang akan mengisi briefing. Tak selalu memang, saya rasa ada proporsinya. Jadi setelah beberapa hari saya sudah mengenal hirearki, posisi, dan tugas masing-masing awak Toga Mas.
Saya dikenalkan dan menghafalkan rak-rak. Dari rak komik, buku anak-anak, sosial politik, novel, religi, majalah tabloid sampai rak tersendiri dari beberapa penerbit yang hadir. “Tak lama nanti juga akan hapal sendiri”, kata mbak Tawuk yang membawa saya ke dunia baru yang membuat saya agak berdebar-debar di hari pertama. Saya sudah mencoba men-display buku yang datang. Lalu meng-input-kan datanya di komputer. Selain mbak Tawuk, saya berkenalan dengan teman yang lain, Aswan yang menjabat erat tangan saya. Andhi yang sedikit mengurangi kebekuan di telapak tangan. Hoho..tak ketinggalan juga wanita cantik di depan komputer kasir, mbak Rindha. Beberapa hari berikutnya saya sudah kenal dan bertatap muka dengan Vika, Hanes waktu itu, Agung, Mas Jaja. Saya merasa agak takut ketika salah seorang yang sebenarnya telah sempat saya berkenalan tapi saya lupa namanya, memanggil saya. Beliau berdiri di dekat tumpukan buku tulis yang menjulang tinggi. Menanyakan asal saya dari mana, lalu mentitahkan kata-kata yang bakal saya ingat seumur hidup, “bekerja itu yang penting jujur!”. Mas Boy, panggilan dari nama Buyung, awalnya saya kira beliau dengan saya sama-sama dari Padang. Tapi tidak, dari Palembang ternyata.
Bersamaan dengan terbitnya matahari yang itu-itu juga di ufuk timur, sejarah manusia di atas bumi mendapat kegiatan baru. Setelah memasuki hari-hari yang beribu-ribu jumlahnya, Idul fitri tak tahu lagi di mana pentingnya embun yang bergantungan di dedaunan atau rerumputan pagi hari. Juga tak tahu lagi ia di mana manisnya awan merah yang melembayang di atas kepala. Dan ia pun tidak mengerti lagi apa kehebatan yang tersimpul dalam taluan beduk-beduk langgar masjid dan kelening gereja-geraja. Itu pun bukan salahnya sendiri. Mungin ia tahu juga keindahan itu, tetapi di masa ini pikiran dan perasaanya sangat giat dengan hal-hal lain sehingga tak sempat ia mempergunakannya untuk hal-hal yang tak mendatangkan keuntungan. (Pramoedya Ananta Toer, dalam Cerita Dari Jakarta)
Penggalan analogi waktu oleh Pram di atas tak bermakna jika tak mampu memberi warna. Begitu juga telah dua bulan lebih saya bergaul, berinteraksi, terlibat intim dengan mbak Shenny, mas Boy, mas Singgih, mbak Ii, mas Jaja, mbak Rinda, mbak Vika, Agung, Tawuk, Aswan, Andhi, lalu Dhani, bahkan juga dengan Vivi, mas Ihsan, Tria, Gala dan Imel para punggawa Djendelo.
Kedatangan kakak sepupu saya beberapa hari yang lewat membuat saya, dalam minggu depan harus telah berada di Jakarta Selasa, 9 September. Dalam rekomendasi dan informasinya saya akan.... Untuk itu saya harus menyiapkan data-data awal dan menghadirkannya dalam tulisan yang runtut. Membuat saya kelimpungan dalam minggu ini, membarengi waktu kuliah, tanggung jawab saya di Toga Mas, dan deadline yang harus saya kejar sebelum hari Minggu besok. Saya sangat berjuang keras dalam menghadirkan tulisan pengantar yang cukup bagus.
Saya sempat berfikir dan ada keinginan untuk meminta izin non-job, intensitas waktu yang saya butuhkan adalah satu minggu. Tapi keinginan itu tersingkap lalu luntur karena dasar apa yang saya inginkan ini dan jika diberi izin akan menggangu ritme kerja secara keseluruhan. Tambah tak sanggup saya mengutarakan karena melihat kuantitas waktu kerja saya yang tak seberapa (baru 2 bulan lebih sedikit) dan kontribusi yang tak terlalu banyak saya hadirkan bagi eksistensi Toga Mas, betapa belum sebandingnya dengan apa yang saya kehendaki.
Membayangkan kemungkinan ke depan, dimana akan ada kesempatan yang sangat besar atau malah sangat kecil sekali, yang mana juga tak dapat saya prediksikan. Tapi sebagai gambaran awal, jika saya mendapatkan beasiswa… (non beasiswa, kontribusi sebesar 3 juta rupiah), saya akan stay di Jakarta atau bolak-balik Yogyakarta-Jakarta selama 2 bulan.
Alasan di atas membuat saya tak mempunyai pilihan lain dan dengan hati berat saya mengajukan permohonan pengunduran diri kerja di Toga Mas Galeria. Seperti saat saya mulai bekerja dulu, semua berlangsung dengan sangat baik-baik, saat ini pun saya ingin mengakhirinya dengan baik-baik juga. Dulu saya mulai dengan berkas kertas dan interaksi verbal, sekarangpun akan demikian sama.
Tak ada yang tersisa selain permohonan maaf karena terjadi begitu cepat dan tiba-tiba. Dengan kerendahan hati, kepongahan pengetahuan dan kekerdilan pemikiran, hanya permohonan maaf yang tersisa dari saya. Terlebih untuk mas Singgih, yang telah dengan susah payah mengatur jadwal kerja, dan tiba-tiba sekarang saya mengacaukannya.
Melalui media ini secara langsung kepada mbak Shenny, mas Boy, mas Singgih, mbak Ii, mas Jaja, mbak Rinda, Agung, Vika, Tawuk, Aswan, Andhi, Dhani, Vivi, mas Ihsan, Tria, Gala dan Imel saya minta maaf jika kata-kata saya pernah tidak berkenan di hati, ataupun tingkah polah saya yang kadang sedikit aneh.
Dua bulan bukan waktu yang bisa lewat begitu saja tanpa pelajaran dan makna yang berhasil kita lewati. Banyak atau sedikit hinggap di kepala, menstimulasi otak dan pikiran kita.
Kebersamaan melalui kenangan yang secara personal pernah saya dan kita semua alami, lembur untuk pameran, olahraga bareng, serta terakhir outbond bersama. Terasa hangat dan masih akan tetap melekat. Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih kepada:
Mbak Shenny, atas kepercayaan yang diberikan. Tanggung jawab yang pernah dilimpahkan menambah satu mozaik kehidupan hidup dalam pengalaman, membuat saya merasakan pembelajaran yang berbeda.
Mas Boy, dengan kedewasaannya, lalu menyimak cerita-cerita saya. Membuat saya berefleksi lagi. Dan menyadarkan bahwa kedewasaan tak didapat jika tak ada kontemplasi sempurna dalam kesalahan. Mungkin saya termasuk orang yang bebal.
Mas Singgih, awalnya saya sangat bersemangat ingin belajar dari mas. Sebegitu kuat saya ingin meniru bagaimana caranya sopan dan ramah tamah terhadap orang lain (costumer). Proses dua bulan ini belum membawa saya sampai ke tatanan itu, masih sangat jauh. Saya ternyata menyadari saya orang yang sombong.
Mbak Ii, mbak Rinda, Vika, Agung, Tawuk, Aswan, Andhi untuk canda tawa setiap hari, di sela-sela beban pekerjaan kita.
Untuk mas Jaja, hidup ternyata memang berat mas! Tapi kita mesti harus tetap menghadapinya kan? Kau menambah rekonstruksi pemikiran ku mas. Thanks ya!
Untuk Dhany, hari yang indah walaupun hanya sesaat.
Pekerjaan mulia karena ikut andil mencerdaskan kehidupan bangsa. Menghadirkan media tulisan dan informasi yang berguna melalui buku. Demikianlah dan saya berharap masih ada terjalin kelanjutan hubungan di antara kita semua. Walaupun tidak akan sedemikian intensif, setidaknya dalam konsep kebudayaan kita telah saling mengenal, nama hingga ke pendalaman karakter.
Yogyakarta, 4 September 2008
Alfian Syafril
Read More......
Dari parkir di basement 2, lift membawa ke lantai 2. Ini benar-benar baru dalam database penglihatan saya. Pintu lift terbuka, saya mengambil langkah ke kiri luar, berjalan beberapa langkah. Pagar-pagar panjang dan etalase toko mengapit. Tak jauh mata saya tertumbuk pada dekorasi toko yang penuh dengan warna merah. Kaca-kaca besar, kira-kira mengisi empat sudut. Hampir keseluruhan bagian luar toko dilapisi kaca. Buku di rak telanjang tampak dari luar.
Kaki saya terhenti di tempat minum, dalam pandangan di depan sebuah gerobak bervernis coklat. Dari yang saya baca di depan, tempat ini bernama Djendelo Cafe. Pelengkap toko buku yang menghadirkan unsur artistik. Djendelo Cafe, dengan nama minuman yang disajikan membuat kita mengumbar senyum setidaknya mampu menggelitik saraf pendengaran, menjadi akses keluar masuk hampir setiap orang di Toga Mas. Aktivas migrasi ini membuat kesan sibuk tergambar disitu. Kadang sangat sering keriuhannya ditambah tumpukan buku dan kardus-kardus. Kemeriahan yang semakin terpancar dengan kesibukan yang sempat jinak oleh kumpulan meja dan kursi, coklat kehitaman.
Di kursi yang berhadapan dengan meja bundar itu, awal dari perkenalan saya terhadap tempat ini. Sedikit menoleh ke belakang beberapa waktu yang lalu. Saat itu saya duduk mengobrol dalam konteks wawancara, konsekuensi lamaran pekerjaan yang saya masukkan ke Toga Mas Gejayan (sekarang Affandi) akhir Juni. Berhadapan dengan seorang wanita yang bernama Shenny, saya kemudian memanggilnya mbak. Cecaran kata-kata, pengalaman waktu lalu, orientasi dan tanggung jawab ke depan menghiasi ‘obrolan’ kami. Lalu mencapai kata sepakat, melalui mbak Shenny saya diterima kerja di toko buku, Toga Mas D’Gale.
Kamis di hari ketiga bulan Juli, permulaan saya terlibat dalam. Sehari sebelumnya, saat saya terkantuk-kantuk lalu disadarkan dengan dering ponsel, secepatnya mengalir informasi saya bisa memulai bekerja besok. Dapat saya tangkap, saya disuruh datang jam 2 dan mencari seseorang, yang untuk selanjutnya saya panggil mas Singgih. Akhirnya dengan keinginan untuk berdedikasi tinggi saya lewati pemandangan yang ada di atas.
Mas Singgih ini ternyata supervisor saya, jadi apa yang harus saya lakukan dan yang lainnya lakukan berada dalam koordinasinya. Dalam perkembangannya setiap akan memulai pekerjaan yang dibagi dalam 2 shift, pukul 9-4 sore dan pukul 2-pukul 9 malam bagi yang full time, serta pukul 9-pukul 2 siang dan pukul 4-pukul 9 malam bagi yang freelance, saya termasuk yang kedua. Selalu dilaksanakan briefing, persiapan, pembagian tugas kerja dan doa bersama. Jika tak ada mas Singgih, seorang wanita berjilbab bernama mbak Ii akan memberikan pengarahan awal. Sepertinya selalu berganti-ganti. Lalu jika tak ada dua-duanya, ataupun ada dua-duanya, terkadang mbak Shenny yang akan mengisi briefing. Tak selalu memang, saya rasa ada proporsinya. Jadi setelah beberapa hari saya sudah mengenal hirearki, posisi, dan tugas masing-masing awak Toga Mas.
Saya dikenalkan dan menghafalkan rak-rak. Dari rak komik, buku anak-anak, sosial politik, novel, religi, majalah tabloid sampai rak tersendiri dari beberapa penerbit yang hadir. “Tak lama nanti juga akan hapal sendiri”, kata mbak Tawuk yang membawa saya ke dunia baru yang membuat saya agak berdebar-debar di hari pertama. Saya sudah mencoba men-display buku yang datang. Lalu meng-input-kan datanya di komputer. Selain mbak Tawuk, saya berkenalan dengan teman yang lain, Aswan yang menjabat erat tangan saya. Andhi yang sedikit mengurangi kebekuan di telapak tangan. Hoho..tak ketinggalan juga wanita cantik di depan komputer kasir, mbak Rindha. Beberapa hari berikutnya saya sudah kenal dan bertatap muka dengan Vika, Hanes waktu itu, Agung, Mas Jaja. Saya merasa agak takut ketika salah seorang yang sebenarnya telah sempat saya berkenalan tapi saya lupa namanya, memanggil saya. Beliau berdiri di dekat tumpukan buku tulis yang menjulang tinggi. Menanyakan asal saya dari mana, lalu mentitahkan kata-kata yang bakal saya ingat seumur hidup, “bekerja itu yang penting jujur!”. Mas Boy, panggilan dari nama Buyung, awalnya saya kira beliau dengan saya sama-sama dari Padang. Tapi tidak, dari Palembang ternyata.
Bersamaan dengan terbitnya matahari yang itu-itu juga di ufuk timur, sejarah manusia di atas bumi mendapat kegiatan baru. Setelah memasuki hari-hari yang beribu-ribu jumlahnya, Idul fitri tak tahu lagi di mana pentingnya embun yang bergantungan di dedaunan atau rerumputan pagi hari. Juga tak tahu lagi ia di mana manisnya awan merah yang melembayang di atas kepala. Dan ia pun tidak mengerti lagi apa kehebatan yang tersimpul dalam taluan beduk-beduk langgar masjid dan kelening gereja-geraja. Itu pun bukan salahnya sendiri. Mungin ia tahu juga keindahan itu, tetapi di masa ini pikiran dan perasaanya sangat giat dengan hal-hal lain sehingga tak sempat ia mempergunakannya untuk hal-hal yang tak mendatangkan keuntungan. (Pramoedya Ananta Toer, dalam Cerita Dari Jakarta)
Penggalan analogi waktu oleh Pram di atas tak bermakna jika tak mampu memberi warna. Begitu juga telah dua bulan lebih saya bergaul, berinteraksi, terlibat intim dengan mbak Shenny, mas Boy, mas Singgih, mbak Ii, mas Jaja, mbak Rinda, mbak Vika, Agung, Tawuk, Aswan, Andhi, lalu Dhani, bahkan juga dengan Vivi, mas Ihsan, Tria, Gala dan Imel para punggawa Djendelo.
Kedatangan kakak sepupu saya beberapa hari yang lewat membuat saya, dalam minggu depan harus telah berada di Jakarta Selasa, 9 September. Dalam rekomendasi dan informasinya saya akan.... Untuk itu saya harus menyiapkan data-data awal dan menghadirkannya dalam tulisan yang runtut. Membuat saya kelimpungan dalam minggu ini, membarengi waktu kuliah, tanggung jawab saya di Toga Mas, dan deadline yang harus saya kejar sebelum hari Minggu besok. Saya sangat berjuang keras dalam menghadirkan tulisan pengantar yang cukup bagus.
Saya sempat berfikir dan ada keinginan untuk meminta izin non-job, intensitas waktu yang saya butuhkan adalah satu minggu. Tapi keinginan itu tersingkap lalu luntur karena dasar apa yang saya inginkan ini dan jika diberi izin akan menggangu ritme kerja secara keseluruhan. Tambah tak sanggup saya mengutarakan karena melihat kuantitas waktu kerja saya yang tak seberapa (baru 2 bulan lebih sedikit) dan kontribusi yang tak terlalu banyak saya hadirkan bagi eksistensi Toga Mas, betapa belum sebandingnya dengan apa yang saya kehendaki.
Membayangkan kemungkinan ke depan, dimana akan ada kesempatan yang sangat besar atau malah sangat kecil sekali, yang mana juga tak dapat saya prediksikan. Tapi sebagai gambaran awal, jika saya mendapatkan beasiswa… (non beasiswa, kontribusi sebesar 3 juta rupiah), saya akan stay di Jakarta atau bolak-balik Yogyakarta-Jakarta selama 2 bulan.
Alasan di atas membuat saya tak mempunyai pilihan lain dan dengan hati berat saya mengajukan permohonan pengunduran diri kerja di Toga Mas Galeria. Seperti saat saya mulai bekerja dulu, semua berlangsung dengan sangat baik-baik, saat ini pun saya ingin mengakhirinya dengan baik-baik juga. Dulu saya mulai dengan berkas kertas dan interaksi verbal, sekarangpun akan demikian sama.
Tak ada yang tersisa selain permohonan maaf karena terjadi begitu cepat dan tiba-tiba. Dengan kerendahan hati, kepongahan pengetahuan dan kekerdilan pemikiran, hanya permohonan maaf yang tersisa dari saya. Terlebih untuk mas Singgih, yang telah dengan susah payah mengatur jadwal kerja, dan tiba-tiba sekarang saya mengacaukannya.
Melalui media ini secara langsung kepada mbak Shenny, mas Boy, mas Singgih, mbak Ii, mas Jaja, mbak Rinda, Agung, Vika, Tawuk, Aswan, Andhi, Dhani, Vivi, mas Ihsan, Tria, Gala dan Imel saya minta maaf jika kata-kata saya pernah tidak berkenan di hati, ataupun tingkah polah saya yang kadang sedikit aneh.
Dua bulan bukan waktu yang bisa lewat begitu saja tanpa pelajaran dan makna yang berhasil kita lewati. Banyak atau sedikit hinggap di kepala, menstimulasi otak dan pikiran kita.
Kebersamaan melalui kenangan yang secara personal pernah saya dan kita semua alami, lembur untuk pameran, olahraga bareng, serta terakhir outbond bersama. Terasa hangat dan masih akan tetap melekat. Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih kepada:
Mbak Shenny, atas kepercayaan yang diberikan. Tanggung jawab yang pernah dilimpahkan menambah satu mozaik kehidupan hidup dalam pengalaman, membuat saya merasakan pembelajaran yang berbeda.
Mas Boy, dengan kedewasaannya, lalu menyimak cerita-cerita saya. Membuat saya berefleksi lagi. Dan menyadarkan bahwa kedewasaan tak didapat jika tak ada kontemplasi sempurna dalam kesalahan. Mungkin saya termasuk orang yang bebal.
Mas Singgih, awalnya saya sangat bersemangat ingin belajar dari mas. Sebegitu kuat saya ingin meniru bagaimana caranya sopan dan ramah tamah terhadap orang lain (costumer). Proses dua bulan ini belum membawa saya sampai ke tatanan itu, masih sangat jauh. Saya ternyata menyadari saya orang yang sombong.
Mbak Ii, mbak Rinda, Vika, Agung, Tawuk, Aswan, Andhi untuk canda tawa setiap hari, di sela-sela beban pekerjaan kita.
Untuk mas Jaja, hidup ternyata memang berat mas! Tapi kita mesti harus tetap menghadapinya kan? Kau menambah rekonstruksi pemikiran ku mas. Thanks ya!
Untuk Dhany, hari yang indah walaupun hanya sesaat.
Pekerjaan mulia karena ikut andil mencerdaskan kehidupan bangsa. Menghadirkan media tulisan dan informasi yang berguna melalui buku. Demikianlah dan saya berharap masih ada terjalin kelanjutan hubungan di antara kita semua. Walaupun tidak akan sedemikian intensif, setidaknya dalam konsep kebudayaan kita telah saling mengenal, nama hingga ke pendalaman karakter.
Yogyakarta, 4 September 2008
Alfian Syafril
Read More......
Rabu, 13 Agustus 2008
Seandainya, Djenar Maesa Ayu, Garin Nugroho, Jajang C Noer di 3rd Jogja-NETPAC Asian Film Festival
Senin 11 Agustus supervisor tempat saya bekerja memberi informasi besok selasa saya kerja masuk pagi. Kekurangan personel penyebabnya, di jadwal saya masuk malam. Ternyata ini memberi berkah yang luar biasa. Setelah saya libur minggu tanggal 10, dan menghabiskan masa pakansi itu dengan menikmati ajang musik A Mild Soundrenaline bersama Eta, akan saya ceritakan belakangan.
Pagi selasa dengan mata yang sangat mengantuk ditambah tak sempat mandi saya paksakan ke tempat kerja, saya masih sempat sms supervisor, pemberitahuan sepertinya saya akan telat, saya memberi alasan saya masih di kampus menyelesaikan beberapa urusan. Sebenarnya tak ada urusan apapun di kampus, hanya ingin menyempatkan diri ke Koperasi Mahasiswa untuk membeli majalah Tempo. Sejak kemarin saya menyambangi Kopma, tapi yang dicari belum kunjung datang, demikian juga pagi ini. Segera ke tempat kerja, untung saya belum telat. Syukurlah tak memperpanjang daftar kedisiplinan saya. Pekerjaan masih seperti itu-itu saja, ada return-an majalah dan tabloid dari penerbit Quint. Sebagian besar telah lengkap, cuma kurang 1 majalah Her World edisi Juli. Tak hanya saya yang mencari tapi telah dikerahkan juga bala bantuan dari yang lainnya. Beberapa orang yang berbeda berusaha mencari masih juga belum bertemu. Seluruh bagian toko sampai gudang, kasir dan kantor telah diperiksa tak juga tampak. Apa mungkin lepas dari pengawasan, sehingga ditilap pengunjung? Sepertinya itu juga tak mungkin. Beberapa hari sebelumnya, saya kebagian tugas me-return majalah, tabloid dan komik terbitan m&c, masih ada yang kurang. Lagi-lagi itu masih kurang 1 kuantiti lagi, komik excel 02. Sepertinya tak beruntung, walaupun yang lain ikut membantu. Sedangkan return-an dari Diva Pres sudang lengkap semua. Tinggal dikirim atau orang dari penerbit bersangkutan yang akan datang mengambil.
Jam 14 lewat 16 menit saya mengisi absen pulang. Dan besok saya dapat kesempatan libur lagi. Rencananya saya dan Eta akan ke Taman Pintar, memuaskan hasrat kita melihat anak-anak kecil. Pulang saya menyambangi Kopma lagi, beruntung majalah Tempo edisi khusus Tan Malaka telah ada. Harganya naik Rp.1500, biasanya edisi mahasiswa ini dilabel dengan harga Rp.15.000. Tak apalah dari pada membeli dengan harga biasa Rp. 25.000, hemat sepuluh ribu rupiah tentunya.
Eta mengingatkan supaya dibelikan makan siang, sehingga ke situlah saya dulu sebelum ke rumahnya. Nasi padang dengan lauk ayam balado dari tempat "uni" siap dibawa pulang. Ketika sampai di rumah Eta, dia kutemui sedang sibuk mengutak-atik komputernya. Belum makan dari pagi. "Gimana ga gampang sakit, makan yang teratur dong On!"
Sore ketika matahari telah berkunjung, malam akan menyingsing kita sudah punya rencana sebelumnya. Tempat-tempat yang akan kita kunjungi malam ini adalah Malioboro Mall dan mencari tempat penjualan akuarium beserta ikannya. Eta katanya akan mencoba memelihara ikan di rumahnya. Katanya juga urusan nguras menguras air diserahkan kepada saya. Loh?? Kita sudah sampai di tempat tujuan pertama, di Malioboro Mall kita akan ke ATM Lippo dan Matahari. Ke Anjungan Tunai Mandiri mengambil uang mingguan Eta dan ke Matahari melihat tas. Tas saya sudah sobek, besar dan tak bisa ditutupi lagi dengan pin. Kalau saya punya uang berlebih nanti, apakah itu uang tabungan atau uang gaji, saya berencana membeli sebuah tas. Riskan juga membawa laptop kemana-mana dengan tas yang sudah sudah sobek itu. Tas Navy Seal yang kata teman saya sedang diskon di Matahari. Ternyata sampai di sana diskonnya telah abis, harganya kembali normal di angka dua ratus tiga puluh sembilan rupiah. Ya suatu saat lah. Eta menyempakan melihat-lihat tas juga, bahkan singgah ke Planet Surf, gila tas Billabong atau Quik Silver dibanderol satu juta ke atas. Buat apa tas 1 juta?? Dengan 1 juta bisa membantu Eta mewujudkan cita-citanya ke Padang. Hmm travelling ke Padang adalah prioritas utama dalam to do list Eta. Ransel juga, demi menunjang perjalanan Eta dalam usahanya menjadi seorang backpaker.
Selepas dari Malioboro Mall kita rencananya akan ke Djendelo Cafe di Toga Mas Galeria. Aku menawarkan kita memutar haluan dulu ke Taman Budaya, sekalian dekat dari malioboro apa salahnya. Lagian sedang ada event juga di sana, 3rd Jogja-NETPAC Asian Film Festival 9-13 Agustus. Tak ada salahnya karena besok hari terakhir, mana tahu ada yang menarik.
Sampai di sana kita masih celangak celinguk acaranya di gedung mana, di halaman TB ada pergelaran gamelan. Banner acara yang di sponsori LA Lights ini baru kelihatan saat kita melangkah menuju utara gedung.
Ini yang luar biasa, tanpa di duga kita sempat melihat Djenar Maesa Ayu dan Jajang C Noer. Hahaha, saya dan Eta tertawa, tak meyangka dua orang hebat itu sedang nongkrong di taman mengobrol dengan beberapa orang. Kita lewatkan saja, cukuplah untuk memandang dua wajah mereka dari dekat, yang biasanya cuma bisa dilihat di televisi atau film. Tapi kami benar-benar terkesima, hahah katro' banget yah?
Di dalam gedung dari informasi sedang diputar sebuah film Iran. Saya minta brosur acaranya saja. Kebetulan jam 8 malam ini, di LIP (Lembaga Indonesia Prancis) Sagan akan diputar film _9808. Saya baca dari koran Tempo dua hari yang lalu, film ini bercerita tentang peristiwa 98 dan diuntai juga sejarah 10 tahun setelah itu sampai 2008 sekarang. Eta dan saya memutuskan akan menonton film itu, waktu belum menunjukkan jam 8 masih cukuplah untuk perjalanan ke LIP di Sagan. Nah, sewaktu keluar dari gedung Taman Budaya 1 Djenar dan Jajang masih ada di tempat kami lihat tadi. Saya dan Eta tak menyia-nyiakan kesempatan itu, kami dekati Djenar dan bilang ingin bersalaman dengannya. Djenar menyambut baik, dan tangan Djenar dingin, saya bilang saya suka film Mereka Bilang Saya Monyet-nya, dengan tertawa dia jawab "kan belum diputar?". Eta bilang di bioskop waktu itu, Djenar balas lagi, "kan cuma diputar di Blitz?" (tahu dia di Jogja ga ada blitz, hehehe). Saya berusaha menyelamatkan "kita nonton di Bandung waktu itu mbak!". Cukup sekianlah percakapan hangat dan singkat antara kami dengan Djenar. Tiba-tiba seorang Jepang meminta saya tolong fotokan dia dan beberapa temannya dengan Djenar, Jajang, dan ada juga Garin Nugroho! Wahhh...beruntung sekali saya dan Eta melihat orang-orang hebat dari dekat. Jadilah saya menjepret Garin, Jajang, Djenar, si orang Jepang yang punya kamera, beberapa bule eropa, ketua festival film dan siapa lagi yang tak saya ketahui. Dengan latar belakang spanduk besar acara foto itu sempat diulang, saya kurang lama menekan tombolnya. Si orang jepang bilang "push it with long time" entah benar dia bilang itu atau tidak yang penting saya mengerti harus menekan lebih lama tombol kameranya. Huhuhu...oon banget saya, tak mengerti English dengan lancar. Mau les Inggris belum ada waktu, dulu SMP tak serius saya les bahasa Inggris, menyesal saya. Beruntung sekali anak SD sekarang sudah belajar bahasa Inggris dan Teknologi Informasi. Pergunakan dan manfaatkanlah sebaik-baiknya adek-adekku, huhuhu...
Sesi foto-foto telah selesai, si orang Jepang dan Djenar mendekat ke arah saya, melihat hasilnya. Sepertinya good job, hehehe..
Garin Nugroho juga mendekat, saya dan Eta mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya, saya dan Eta bersalaman dengan Garin, dia cuma bertanya "dari manakah?" "Dari Jogja Mas", jawab saya. Eta dan Saya masih terperangah dan speechless sehingga tak mampu berkata-kata di hadapan Garin. Saya dan Eta hanya mohon pamit, tak lupa juga dengan Djenar.
Benar-benar malam yang luar biasa, bertemu artis musisi pemain band dan penyanyi di soundrenaline kemarin biasa saja sepertinya. Tapi ini beda sekali. Saya dan Eta mencerocos tak jelas, senang tak kepalang, tak berhenti-hentinya mengeluarkan kekaguman. Dalam diskusi kita dari Taman Budaya hingga LIP, dapatlah saya terangkan sedikit.
Sedikit terbersit keinginan berfoto dengan mereka, padahal entah kapan lagi kesempatan itu datang. "Aku sempat ingin berfoto dengan Djenar An, tapi kenapa ga sanggup bilang ya?", kata Eta. Biasanya Eta cuma bisa membaca tulisan Djenar di blognya, menonton karya filmnya, atau membaca buku Djenar (Kayla, MBS) di Gramedia, sampai-sampai buku itu lecek. Lucu juga kalau diingat. Kita datang ke Gramedia, membuka sampul plastik buku dengan trengginas, membaca, kalau belum selesai dilipat halaman bukunya untuk tanda, lalu di sembunyikan di bagian paling susah diambil orang lain. Beberapa hari lagi kita datang, membaca lagi. Hahaha..tambah biadab jika bagus dan mau beli bukannya beli di Gramedia, tapi di Toga Mas dengan diskonnya yang lumayan. Gramed mahal sih! Hehehe. Nah sekarang orangnya di depan malah tak sempat didokumentasikan.
Setelah saya pikir, saya menemukan jawaban untuk menetralisir permasalahan foto memfoto ini. Menurut saya dan Eta esensinya bukan pada penting atau tidaknya tentang kesempatan berfoto itu, tapi makna dari pertemuan ini. Jabat salam hangat dari Djenar dan Garin terasa sangat akrab Di taman budaya bertemu, mereka tak menunjukkan keangkuhan, tak seperti artis lainnya. Saya coba membayangkan kalau di sana ada Laudya C Bella, Rafi Ahmad, Fedi Nuril atau siapa lagi. Mungkin jelas berbeda. Maaf kalau terasa subjektif. Menurut saya orang-orang yang berkecimpung di dunia film, seperti Garin, Djenar atau Jajang yang lebih mengedepankan idealisme sebuah film, dari pada aspek komersil lebih merakyat, tidak jaga image terhadap sekitar. Di taman budaya mereka berselonjor mengobrol dengan rekannya, ketika kami mendekati mereka pun menyambut sangat hangat, sangat dekat. Tak ada kesan sombong. Begitulah orang idealis menurut saya. Jadi berjabat tangan dalam konsep salam itu dalam islam dan hubungan sosial pun lebih mulia, saling mendoakan keselamatan masing-masing. Sejauh apa foto-foto? Paling untuk menimbulkan kebanggaan saja. Pembaca mungkin berfikir kami bersikap seperti ini karena melewatkan kesempatan itu, dan mencari alibi untuk tidak menyesali. Dari kami sedikitpun tidak ada mencari pembenaran.
Yang saya sayangkan tentu tak memanfaatkan pertemuan ini dengan mengobrol lebih lama. Kami sudah takjub duluan, pertemuannya juga tak terencana, tak terduga akan terjadi. Pertanyaan saya masih tersimpan, untuk mas Garin: "film tentang Slanknya udah selesai atau masih dalam proses pengerjaan? Kapan rencananya diputar?" Ya itu saja, sebagai seorang slankers yang Slank akan difilmkan dan sutradaranya ada di depan saya, tapi tak terjadi karena sudah speechless duluan. Untuk Djenar, apa ya? saya tak terlalu mendalami soal dia, hmm mungkin Eta, dia lumayan dekat dengan tulisan dan karya Djenar. Mungkin akan dijelaskan Eta di blognya www.arletafenty.co.cc
Begitulah kisah yang sangat membanggakan dari saya dan Eta. Kampungan? bisa jadi. Tapi kami tak pernah merasa kampungan. Pemikiran dan kesempatan itu anugerah yang luar biasa. Ketemu artis segitunya, gue aja yang bergelut dengan artis-artis ga gitu-gitu banget. Mungkin ada yang berfkir seperti itu. Tapi bagi kami, Djenar, Garin, Jajang bukan artis, mereka manusia, mereka hidup, berfikir, berkarya tak ada bedanya dengan manusia lain. Tapi mereka lebih istimewa karena mereka berkarya. "Ingatlah bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi." (Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara Jilid II, 1948).
Kalau ada yang masih terfikir lebih jauh tentang ini, akan saya ulas lebih dalam lagi.
Akhirnya kami sampai di LIP (Lembaga Indonesia Prancis) di daerah Sagan. Langsung saja mengisi buku tamu dan menunggu beberapa menit. Panitia mempersilahkan masuk ke ruang audio karena film akan diputar. Tak begitu ramai di dalam. Kami memilih duduk agak di depan, karena Eta tak membawa kaca mata. Satu setengah jam kami menikmati kumpulan film-film pendek. Dengan beberapa tema dan latar belakang yang berbeda. Ada yang lucu, ada yang menyedihkan. Orang tua korban yang tewas waktu peristiwa semanggi masih mencari keadilan dan kebenaran sampai sekarang. Permasalahan nama dan keturunan Cina juga dibahas dalam 2 atau 3 film. Trauma masa lalu saat kerusuhan 1998 sampai pengharapan selama 10 tahun berjalan setelah peristiwa atau yang orang bilang reformasi. Bekas-bekas aktivis dalam kehidupannya sekarang menjadi salah satu pembahasan yang menarik. Lalu diselipkan juga film tentang pemberantasan korupsi seorang kepala sekolah di SMA 3 Surakarta oleh murid-muridnya. Dengan misi satu Solo harus tahu mereka mengundang juga media dan elemen masyarakat dalam aksinya. Sangat menyentuh. Tapi menurut saya mereka belum merasakan jadi orang tua aja, saat idealisme masa muda terkikis realis masa tua. Saat orang punya anak bini, mereka lebih memikirkan anak bini mau dikasih makan apa? Tidak bisa dibilang pragmatis. Maaf kalau lagi-lagi saya subjektif.
Ketika film selesai ternyata di belakang saya duduk mas Kiki, senior saya di Filsafat sekarang sudah lulus dan mencoba jadi pengajar di Filsafat sepertinya. Kami sempat beramah tamah dan saling bersalaman. Dia bersama seorang cewek senior saya di Filsafat juga. Tak lama saya dan Eta pamit duluan keluar. Mas Kiki orang pintar, salah satu dari orang yang saya kagumi, ada Sarfah Fahri Salam dan lainnya.
Hari yang berwarna.
Read More......
Pagi selasa dengan mata yang sangat mengantuk ditambah tak sempat mandi saya paksakan ke tempat kerja, saya masih sempat sms supervisor, pemberitahuan sepertinya saya akan telat, saya memberi alasan saya masih di kampus menyelesaikan beberapa urusan. Sebenarnya tak ada urusan apapun di kampus, hanya ingin menyempatkan diri ke Koperasi Mahasiswa untuk membeli majalah Tempo. Sejak kemarin saya menyambangi Kopma, tapi yang dicari belum kunjung datang, demikian juga pagi ini. Segera ke tempat kerja, untung saya belum telat. Syukurlah tak memperpanjang daftar kedisiplinan saya. Pekerjaan masih seperti itu-itu saja, ada return-an majalah dan tabloid dari penerbit Quint. Sebagian besar telah lengkap, cuma kurang 1 majalah Her World edisi Juli. Tak hanya saya yang mencari tapi telah dikerahkan juga bala bantuan dari yang lainnya. Beberapa orang yang berbeda berusaha mencari masih juga belum bertemu. Seluruh bagian toko sampai gudang, kasir dan kantor telah diperiksa tak juga tampak. Apa mungkin lepas dari pengawasan, sehingga ditilap pengunjung? Sepertinya itu juga tak mungkin. Beberapa hari sebelumnya, saya kebagian tugas me-return majalah, tabloid dan komik terbitan m&c, masih ada yang kurang. Lagi-lagi itu masih kurang 1 kuantiti lagi, komik excel 02. Sepertinya tak beruntung, walaupun yang lain ikut membantu. Sedangkan return-an dari Diva Pres sudang lengkap semua. Tinggal dikirim atau orang dari penerbit bersangkutan yang akan datang mengambil.
Jam 14 lewat 16 menit saya mengisi absen pulang. Dan besok saya dapat kesempatan libur lagi. Rencananya saya dan Eta akan ke Taman Pintar, memuaskan hasrat kita melihat anak-anak kecil. Pulang saya menyambangi Kopma lagi, beruntung majalah Tempo edisi khusus Tan Malaka telah ada. Harganya naik Rp.1500, biasanya edisi mahasiswa ini dilabel dengan harga Rp.15.000. Tak apalah dari pada membeli dengan harga biasa Rp. 25.000, hemat sepuluh ribu rupiah tentunya.
Eta mengingatkan supaya dibelikan makan siang, sehingga ke situlah saya dulu sebelum ke rumahnya. Nasi padang dengan lauk ayam balado dari tempat "uni" siap dibawa pulang. Ketika sampai di rumah Eta, dia kutemui sedang sibuk mengutak-atik komputernya. Belum makan dari pagi. "Gimana ga gampang sakit, makan yang teratur dong On!"
Sore ketika matahari telah berkunjung, malam akan menyingsing kita sudah punya rencana sebelumnya. Tempat-tempat yang akan kita kunjungi malam ini adalah Malioboro Mall dan mencari tempat penjualan akuarium beserta ikannya. Eta katanya akan mencoba memelihara ikan di rumahnya. Katanya juga urusan nguras menguras air diserahkan kepada saya. Loh?? Kita sudah sampai di tempat tujuan pertama, di Malioboro Mall kita akan ke ATM Lippo dan Matahari. Ke Anjungan Tunai Mandiri mengambil uang mingguan Eta dan ke Matahari melihat tas. Tas saya sudah sobek, besar dan tak bisa ditutupi lagi dengan pin. Kalau saya punya uang berlebih nanti, apakah itu uang tabungan atau uang gaji, saya berencana membeli sebuah tas. Riskan juga membawa laptop kemana-mana dengan tas yang sudah sudah sobek itu. Tas Navy Seal yang kata teman saya sedang diskon di Matahari. Ternyata sampai di sana diskonnya telah abis, harganya kembali normal di angka dua ratus tiga puluh sembilan rupiah. Ya suatu saat lah. Eta menyempakan melihat-lihat tas juga, bahkan singgah ke Planet Surf, gila tas Billabong atau Quik Silver dibanderol satu juta ke atas. Buat apa tas 1 juta?? Dengan 1 juta bisa membantu Eta mewujudkan cita-citanya ke Padang. Hmm travelling ke Padang adalah prioritas utama dalam to do list Eta. Ransel juga, demi menunjang perjalanan Eta dalam usahanya menjadi seorang backpaker.
Selepas dari Malioboro Mall kita rencananya akan ke Djendelo Cafe di Toga Mas Galeria. Aku menawarkan kita memutar haluan dulu ke Taman Budaya, sekalian dekat dari malioboro apa salahnya. Lagian sedang ada event juga di sana, 3rd Jogja-NETPAC Asian Film Festival 9-13 Agustus. Tak ada salahnya karena besok hari terakhir, mana tahu ada yang menarik.
Sampai di sana kita masih celangak celinguk acaranya di gedung mana, di halaman TB ada pergelaran gamelan. Banner acara yang di sponsori LA Lights ini baru kelihatan saat kita melangkah menuju utara gedung.
Ini yang luar biasa, tanpa di duga kita sempat melihat Djenar Maesa Ayu dan Jajang C Noer. Hahaha, saya dan Eta tertawa, tak meyangka dua orang hebat itu sedang nongkrong di taman mengobrol dengan beberapa orang. Kita lewatkan saja, cukuplah untuk memandang dua wajah mereka dari dekat, yang biasanya cuma bisa dilihat di televisi atau film. Tapi kami benar-benar terkesima, hahah katro' banget yah?
Di dalam gedung dari informasi sedang diputar sebuah film Iran. Saya minta brosur acaranya saja. Kebetulan jam 8 malam ini, di LIP (Lembaga Indonesia Prancis) Sagan akan diputar film _9808. Saya baca dari koran Tempo dua hari yang lalu, film ini bercerita tentang peristiwa 98 dan diuntai juga sejarah 10 tahun setelah itu sampai 2008 sekarang. Eta dan saya memutuskan akan menonton film itu, waktu belum menunjukkan jam 8 masih cukuplah untuk perjalanan ke LIP di Sagan. Nah, sewaktu keluar dari gedung Taman Budaya 1 Djenar dan Jajang masih ada di tempat kami lihat tadi. Saya dan Eta tak menyia-nyiakan kesempatan itu, kami dekati Djenar dan bilang ingin bersalaman dengannya. Djenar menyambut baik, dan tangan Djenar dingin, saya bilang saya suka film Mereka Bilang Saya Monyet-nya, dengan tertawa dia jawab "kan belum diputar?". Eta bilang di bioskop waktu itu, Djenar balas lagi, "kan cuma diputar di Blitz?" (tahu dia di Jogja ga ada blitz, hehehe). Saya berusaha menyelamatkan "kita nonton di Bandung waktu itu mbak!". Cukup sekianlah percakapan hangat dan singkat antara kami dengan Djenar. Tiba-tiba seorang Jepang meminta saya tolong fotokan dia dan beberapa temannya dengan Djenar, Jajang, dan ada juga Garin Nugroho! Wahhh...beruntung sekali saya dan Eta melihat orang-orang hebat dari dekat. Jadilah saya menjepret Garin, Jajang, Djenar, si orang Jepang yang punya kamera, beberapa bule eropa, ketua festival film dan siapa lagi yang tak saya ketahui. Dengan latar belakang spanduk besar acara foto itu sempat diulang, saya kurang lama menekan tombolnya. Si orang jepang bilang "push it with long time" entah benar dia bilang itu atau tidak yang penting saya mengerti harus menekan lebih lama tombol kameranya. Huhuhu...oon banget saya, tak mengerti English dengan lancar. Mau les Inggris belum ada waktu, dulu SMP tak serius saya les bahasa Inggris, menyesal saya. Beruntung sekali anak SD sekarang sudah belajar bahasa Inggris dan Teknologi Informasi. Pergunakan dan manfaatkanlah sebaik-baiknya adek-adekku, huhuhu...
Sesi foto-foto telah selesai, si orang Jepang dan Djenar mendekat ke arah saya, melihat hasilnya. Sepertinya good job, hehehe..
Garin Nugroho juga mendekat, saya dan Eta mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya, saya dan Eta bersalaman dengan Garin, dia cuma bertanya "dari manakah?" "Dari Jogja Mas", jawab saya. Eta dan Saya masih terperangah dan speechless sehingga tak mampu berkata-kata di hadapan Garin. Saya dan Eta hanya mohon pamit, tak lupa juga dengan Djenar.
Benar-benar malam yang luar biasa, bertemu artis musisi pemain band dan penyanyi di soundrenaline kemarin biasa saja sepertinya. Tapi ini beda sekali. Saya dan Eta mencerocos tak jelas, senang tak kepalang, tak berhenti-hentinya mengeluarkan kekaguman. Dalam diskusi kita dari Taman Budaya hingga LIP, dapatlah saya terangkan sedikit.
Sedikit terbersit keinginan berfoto dengan mereka, padahal entah kapan lagi kesempatan itu datang. "Aku sempat ingin berfoto dengan Djenar An, tapi kenapa ga sanggup bilang ya?", kata Eta. Biasanya Eta cuma bisa membaca tulisan Djenar di blognya, menonton karya filmnya, atau membaca buku Djenar (Kayla, MBS) di Gramedia, sampai-sampai buku itu lecek. Lucu juga kalau diingat. Kita datang ke Gramedia, membuka sampul plastik buku dengan trengginas, membaca, kalau belum selesai dilipat halaman bukunya untuk tanda, lalu di sembunyikan di bagian paling susah diambil orang lain. Beberapa hari lagi kita datang, membaca lagi. Hahaha..tambah biadab jika bagus dan mau beli bukannya beli di Gramedia, tapi di Toga Mas dengan diskonnya yang lumayan. Gramed mahal sih! Hehehe. Nah sekarang orangnya di depan malah tak sempat didokumentasikan.
Setelah saya pikir, saya menemukan jawaban untuk menetralisir permasalahan foto memfoto ini. Menurut saya dan Eta esensinya bukan pada penting atau tidaknya tentang kesempatan berfoto itu, tapi makna dari pertemuan ini. Jabat salam hangat dari Djenar dan Garin terasa sangat akrab Di taman budaya bertemu, mereka tak menunjukkan keangkuhan, tak seperti artis lainnya. Saya coba membayangkan kalau di sana ada Laudya C Bella, Rafi Ahmad, Fedi Nuril atau siapa lagi. Mungkin jelas berbeda. Maaf kalau terasa subjektif. Menurut saya orang-orang yang berkecimpung di dunia film, seperti Garin, Djenar atau Jajang yang lebih mengedepankan idealisme sebuah film, dari pada aspek komersil lebih merakyat, tidak jaga image terhadap sekitar. Di taman budaya mereka berselonjor mengobrol dengan rekannya, ketika kami mendekati mereka pun menyambut sangat hangat, sangat dekat. Tak ada kesan sombong. Begitulah orang idealis menurut saya. Jadi berjabat tangan dalam konsep salam itu dalam islam dan hubungan sosial pun lebih mulia, saling mendoakan keselamatan masing-masing. Sejauh apa foto-foto? Paling untuk menimbulkan kebanggaan saja. Pembaca mungkin berfikir kami bersikap seperti ini karena melewatkan kesempatan itu, dan mencari alibi untuk tidak menyesali. Dari kami sedikitpun tidak ada mencari pembenaran.
Yang saya sayangkan tentu tak memanfaatkan pertemuan ini dengan mengobrol lebih lama. Kami sudah takjub duluan, pertemuannya juga tak terencana, tak terduga akan terjadi. Pertanyaan saya masih tersimpan, untuk mas Garin: "film tentang Slanknya udah selesai atau masih dalam proses pengerjaan? Kapan rencananya diputar?" Ya itu saja, sebagai seorang slankers yang Slank akan difilmkan dan sutradaranya ada di depan saya, tapi tak terjadi karena sudah speechless duluan. Untuk Djenar, apa ya? saya tak terlalu mendalami soal dia, hmm mungkin Eta, dia lumayan dekat dengan tulisan dan karya Djenar. Mungkin akan dijelaskan Eta di blognya www.arletafenty.co.cc
Begitulah kisah yang sangat membanggakan dari saya dan Eta. Kampungan? bisa jadi. Tapi kami tak pernah merasa kampungan. Pemikiran dan kesempatan itu anugerah yang luar biasa. Ketemu artis segitunya, gue aja yang bergelut dengan artis-artis ga gitu-gitu banget. Mungkin ada yang berfkir seperti itu. Tapi bagi kami, Djenar, Garin, Jajang bukan artis, mereka manusia, mereka hidup, berfikir, berkarya tak ada bedanya dengan manusia lain. Tapi mereka lebih istimewa karena mereka berkarya. "Ingatlah bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi." (Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara Jilid II, 1948).
Kalau ada yang masih terfikir lebih jauh tentang ini, akan saya ulas lebih dalam lagi.
Akhirnya kami sampai di LIP (Lembaga Indonesia Prancis) di daerah Sagan. Langsung saja mengisi buku tamu dan menunggu beberapa menit. Panitia mempersilahkan masuk ke ruang audio karena film akan diputar. Tak begitu ramai di dalam. Kami memilih duduk agak di depan, karena Eta tak membawa kaca mata. Satu setengah jam kami menikmati kumpulan film-film pendek. Dengan beberapa tema dan latar belakang yang berbeda. Ada yang lucu, ada yang menyedihkan. Orang tua korban yang tewas waktu peristiwa semanggi masih mencari keadilan dan kebenaran sampai sekarang. Permasalahan nama dan keturunan Cina juga dibahas dalam 2 atau 3 film. Trauma masa lalu saat kerusuhan 1998 sampai pengharapan selama 10 tahun berjalan setelah peristiwa atau yang orang bilang reformasi. Bekas-bekas aktivis dalam kehidupannya sekarang menjadi salah satu pembahasan yang menarik. Lalu diselipkan juga film tentang pemberantasan korupsi seorang kepala sekolah di SMA 3 Surakarta oleh murid-muridnya. Dengan misi satu Solo harus tahu mereka mengundang juga media dan elemen masyarakat dalam aksinya. Sangat menyentuh. Tapi menurut saya mereka belum merasakan jadi orang tua aja, saat idealisme masa muda terkikis realis masa tua. Saat orang punya anak bini, mereka lebih memikirkan anak bini mau dikasih makan apa? Tidak bisa dibilang pragmatis. Maaf kalau lagi-lagi saya subjektif.
Ketika film selesai ternyata di belakang saya duduk mas Kiki, senior saya di Filsafat sekarang sudah lulus dan mencoba jadi pengajar di Filsafat sepertinya. Kami sempat beramah tamah dan saling bersalaman. Dia bersama seorang cewek senior saya di Filsafat juga. Tak lama saya dan Eta pamit duluan keluar. Mas Kiki orang pintar, salah satu dari orang yang saya kagumi, ada Sarfah Fahri Salam dan lainnya.
Hari yang berwarna.
Read More......
Jumat, 08 Agustus 2008
Refleksi Singkat
Satu pertanyaan dalam hidup yang terus menggoda. Terlebih sebagai orang muda. Besok kamu mau jadi apa?
Dua jawaban yang satu sama lain masih saja dipermasalahkan.
Jawaban yang pertama adalah saya ingin punya banyak uang. Reaksi yang hadir adalah saya dianggap sebagai orang yang materialistis, semua yang saya lakukan demi uang, saya adalah budak uang. Bukanlah uang yang mengatur saya, tapi saya yang mengatur uang. Kebahagiaan tak dapat sepenuhnya dinilai dengan uang banyak, tanggapan dari yang mengajukan pertanyaan. Ini menjadi pemikiran tersendiri bagi saya.
Semua orang berkeinginan untuk tercukupi kebutuhan materinya. Semua orang ingin kaya. Kaya dan miskin itu harus ada. Pernyataan moralisnya orang kaya, yang punya banyak uang tak boleh dengan sewenang-wenang memperlakukan orang yang tak punyai seperti orang kaya yang punya. Orang miskin itu harus ada, jika tak ada orang miskin dan semua kaya, maka akan kembali ke titik nol dalam pergerakan materi. Tak ada yang kaya, karena semuanya miskin.
Kecukupan materi menjadi salah satu pencapaian kecukupan kebahagiaan. Orang dengan uang banyak, bisa memilih apa yang mereka senangi apa yang mereka kehendaki. Manusia punya rasa ke(moralis)an dan ke(humanis)an tersendiri, individu lebih tahu tentang dirinya sendiri, jadi dia dapat mempergunakan kebebasan yang mereka punya dengan kehendak sendiri. Individu menginsyafi adanya batasan-batasan dalam berkehendak. Kadar penggunaan logika setiap individu yang membedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Emosional dan nurani menjadi penyeimbang kaidah berfikir logika masing-masing individu.
Uang mempermudah akses pribadi, termasuk di dalamnya proses pengembangan diri. Tanpa uang manusia bukan apa-apa. Uang dan dalam cakupan luas ternyata vital dalam kehidupan manusia.
Jawaban yang kedua adalah saya ingin menjadi intelektual. Teman saya mengingatkan, intelektual tak banyak duit. Dan awas hati-hati terjebak menjadi intelektual karbitan. Di sekeliling kita banyak dapat kita lihat. Menjadi intelektual yang moralis atau intelektual humanis? Susah untuk memilih satu di antara dua hal tersebut. Pilihannya harus jatuh pada salah satunya. Sering diingatkan kita jangan menjadi manusia yang sok suci, sok merasa benar, sok beragama. Tak secuilpun tak mungkin melakukan tindakan yang melanggar hukum dan norma. Lebih baik menggunakan daya pikir itu seoptimal mungkin, agar terhindar dari sifat hipokrit. Kesalahan diri sendiri yang pernah dilakukan sebaiknya dibagi ke orang lain, tapi pada kenyataannya kita takut malu, takut merasa tak suci. Kita dipaksa menjadi manusia tanpa dosa. Dan pada akhirnya menjatuhkan orang lain dalam hukuman sendiri. Memperkosa hak orang lain, merenggut kemerdekaan berpikir orang lain. Dan kita sempurna menjadi manusia bebal.
Banyak kekurangan kita sebagai manusia. Kita kurang mendengar, kurang cakap menganalisa, kuarang mampu berpikir. Karena munafik dan merasa selalu benar, selalu berada di jalan yang lurus, yang tanpa kita sadari tak ada jalan yang lurus tanpa lubang, tanpa belokan tanpa turunan. Seringkali di situ kita terantuk dalam kemaluan mengakui, hingga semakin banyak kemunafikan yang terkumpul. Tak mampu mendengar membuat kita lemah, menjadikan kita buta.
Individu yang tak pernah menyesal melakukan pilihan yang dia yakini tak mengurangi kepunyaan orang lain adalah mereka yang bertanggung jawab. Kebalikan dari itu adalah individu yang menganggap cerita individu lain telah salah bertindak.
Menjadi manusia yang idealis lalu berubah menjadi realistis adalah perubahan yang tak mudah. Banyak cemooh tentunya dari apa yang kita punya dalam keidealisan sebelumnya. Tapi realistis membuat kita tahu jalan hidup itu seperti apa.
Jawaban paln realistis dari gabungan dua jawaban di atas adalah saya akhirnya memilih menjadi penulis. Langsung saja saya diingatkan. Kamu jangan bercita-cita jadi penulis, nulis banyak tak tentu arah, nulis sedikit salah, tidak menulis kena marah. Begitulah nasib penulis. Lalu?
Read More......
Dua jawaban yang satu sama lain masih saja dipermasalahkan.
Jawaban yang pertama adalah saya ingin punya banyak uang. Reaksi yang hadir adalah saya dianggap sebagai orang yang materialistis, semua yang saya lakukan demi uang, saya adalah budak uang. Bukanlah uang yang mengatur saya, tapi saya yang mengatur uang. Kebahagiaan tak dapat sepenuhnya dinilai dengan uang banyak, tanggapan dari yang mengajukan pertanyaan. Ini menjadi pemikiran tersendiri bagi saya.
Semua orang berkeinginan untuk tercukupi kebutuhan materinya. Semua orang ingin kaya. Kaya dan miskin itu harus ada. Pernyataan moralisnya orang kaya, yang punya banyak uang tak boleh dengan sewenang-wenang memperlakukan orang yang tak punyai seperti orang kaya yang punya. Orang miskin itu harus ada, jika tak ada orang miskin dan semua kaya, maka akan kembali ke titik nol dalam pergerakan materi. Tak ada yang kaya, karena semuanya miskin.
Kecukupan materi menjadi salah satu pencapaian kecukupan kebahagiaan. Orang dengan uang banyak, bisa memilih apa yang mereka senangi apa yang mereka kehendaki. Manusia punya rasa ke(moralis)an dan ke(humanis)an tersendiri, individu lebih tahu tentang dirinya sendiri, jadi dia dapat mempergunakan kebebasan yang mereka punya dengan kehendak sendiri. Individu menginsyafi adanya batasan-batasan dalam berkehendak. Kadar penggunaan logika setiap individu yang membedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Emosional dan nurani menjadi penyeimbang kaidah berfikir logika masing-masing individu.
Uang mempermudah akses pribadi, termasuk di dalamnya proses pengembangan diri. Tanpa uang manusia bukan apa-apa. Uang dan dalam cakupan luas ternyata vital dalam kehidupan manusia.
Jawaban yang kedua adalah saya ingin menjadi intelektual. Teman saya mengingatkan, intelektual tak banyak duit. Dan awas hati-hati terjebak menjadi intelektual karbitan. Di sekeliling kita banyak dapat kita lihat. Menjadi intelektual yang moralis atau intelektual humanis? Susah untuk memilih satu di antara dua hal tersebut. Pilihannya harus jatuh pada salah satunya. Sering diingatkan kita jangan menjadi manusia yang sok suci, sok merasa benar, sok beragama. Tak secuilpun tak mungkin melakukan tindakan yang melanggar hukum dan norma. Lebih baik menggunakan daya pikir itu seoptimal mungkin, agar terhindar dari sifat hipokrit. Kesalahan diri sendiri yang pernah dilakukan sebaiknya dibagi ke orang lain, tapi pada kenyataannya kita takut malu, takut merasa tak suci. Kita dipaksa menjadi manusia tanpa dosa. Dan pada akhirnya menjatuhkan orang lain dalam hukuman sendiri. Memperkosa hak orang lain, merenggut kemerdekaan berpikir orang lain. Dan kita sempurna menjadi manusia bebal.
Banyak kekurangan kita sebagai manusia. Kita kurang mendengar, kurang cakap menganalisa, kuarang mampu berpikir. Karena munafik dan merasa selalu benar, selalu berada di jalan yang lurus, yang tanpa kita sadari tak ada jalan yang lurus tanpa lubang, tanpa belokan tanpa turunan. Seringkali di situ kita terantuk dalam kemaluan mengakui, hingga semakin banyak kemunafikan yang terkumpul. Tak mampu mendengar membuat kita lemah, menjadikan kita buta.
Individu yang tak pernah menyesal melakukan pilihan yang dia yakini tak mengurangi kepunyaan orang lain adalah mereka yang bertanggung jawab. Kebalikan dari itu adalah individu yang menganggap cerita individu lain telah salah bertindak.
Menjadi manusia yang idealis lalu berubah menjadi realistis adalah perubahan yang tak mudah. Banyak cemooh tentunya dari apa yang kita punya dalam keidealisan sebelumnya. Tapi realistis membuat kita tahu jalan hidup itu seperti apa.
Jawaban paln realistis dari gabungan dua jawaban di atas adalah saya akhirnya memilih menjadi penulis. Langsung saja saya diingatkan. Kamu jangan bercita-cita jadi penulis, nulis banyak tak tentu arah, nulis sedikit salah, tidak menulis kena marah. Begitulah nasib penulis. Lalu?
Read More......
Sabtu, 02 Agustus 2008
Pemberitahuan
Malam itu hp ku bergetar, tak ayal nama Fahri tertera di layar ponsel, rupanya dia mengirim pesan.
"An dirimu kerjakah? aku ada temen dr jakarta, dia ada keperluan S2 di UGM, bingung mau kuinapkan dimana ya, di tempat Eta bisa ga ya? Nuwun"
Tak lama berselang, hanya tiga menit saat aku akan konfirmasikan hal ini ke Eta, dia sudah duluan mengirim pesan.
"Sayang aku takut di rumah sendiri"
Kebetulan sekali, Eta punya teman di rumahnya malam ini. Itu pun kalau dia bersedia menerima teman Fahri menumpang di rumahnya untuk malam itu. Aku informasikan hal ini ke Eta langsung. Ternyat Eta menyambut dengan tangan terbuka, jadilah pekerjaan ku malam itu ku sambil-sambilkan dengan mengirim pesan ke Fahri dan Eta. Kesepakatannya selesai aku kerja aku langsung menyusul Fahri dan temannya ke kost.
Setelah absen dan briefing singkat seperti biasa ku pacu sepeda motor tua, sesampai di kost tak kutemukan Fahri dan temannya itu. Saat aku hubungi mereka sedang makan di Klebengan. Ku susul dan tak dapati mereka juga, akhirnya melalui pesan singkat aku disuruh tunggu di sana dulu. Memang tak lama tapi berteman dingin malam yang menyesak sungguh tak sedap.
Dari kejauhan lampu motor Fahri menyorot arahku lalu berhenti tepat di sampingku. Dalam keremangan cahaya, aku dikenalkan pada temannya yang bernama, Atun. Dari sana kita bertiga menuju rumah Eta.
Sesampainya di sana Eta menyambut dengan sumringah. Tamu-tamu itu dipersilahkan masuk, sementara aku menyingkirkan binatang yang disebut aneh oleh Eta di kamar mandinya. Binatang yang kutenggarai kepiting atau bisa juga laba-laba ini berhasil ku enyahkan.
Setelah mereka duduk dengan menyesuaikan diri sebaik-baiknya. Berteman vannila late panas kita berempat membuka obrolan. Mbak Atun ini bekerja di LSM yang bergerak di bidang politik bernama Demos. Kesempatan ke Jogja dalam rangka mengikuti seleksi S2 di UGM keesokan hari. Melanjutkan sekolah berkat beasiswa dari kantornya. Menurut berita yang ku dapatkan dari Fahri mbak Atun dulu S1 nya di IAIN Jakarta (sekarang UIN Syarif Hidayatullah) lalu S2 di Universitas Indonesia. Dan sekarang mengambil S2 lagi di UGM. Menurut Fahri lagi kesempatan ini adalah hasil kerja sama UGM dengan kantor mbak Atun. Tujuannya nanti S3 di Oslo, Norwegia. Hebat banget!
Dari perbincangan yang terjadi, mbak Atun ini telah menjelajah nusantara, ke Papua, Kalimantan, Sulawesi, Aceh, Nusa Tenggara, pelosok jawa, bahkan ke Padang! Aku teringat kata-kata "Bangku kuliah tak mengajarkan tentang nasionalisme, jelajahi lah negerimu, untuk menimbulkan kebanggaan pada negerimu". Senada dengan Pram "menulislah untuk peradaban!".
belum selesai.......
Read More......
"An dirimu kerjakah? aku ada temen dr jakarta, dia ada keperluan S2 di UGM, bingung mau kuinapkan dimana ya, di tempat Eta bisa ga ya? Nuwun"
Tak lama berselang, hanya tiga menit saat aku akan konfirmasikan hal ini ke Eta, dia sudah duluan mengirim pesan.
"Sayang aku takut di rumah sendiri"
Kebetulan sekali, Eta punya teman di rumahnya malam ini. Itu pun kalau dia bersedia menerima teman Fahri menumpang di rumahnya untuk malam itu. Aku informasikan hal ini ke Eta langsung. Ternyat Eta menyambut dengan tangan terbuka, jadilah pekerjaan ku malam itu ku sambil-sambilkan dengan mengirim pesan ke Fahri dan Eta. Kesepakatannya selesai aku kerja aku langsung menyusul Fahri dan temannya ke kost.
Setelah absen dan briefing singkat seperti biasa ku pacu sepeda motor tua, sesampai di kost tak kutemukan Fahri dan temannya itu. Saat aku hubungi mereka sedang makan di Klebengan. Ku susul dan tak dapati mereka juga, akhirnya melalui pesan singkat aku disuruh tunggu di sana dulu. Memang tak lama tapi berteman dingin malam yang menyesak sungguh tak sedap.
Dari kejauhan lampu motor Fahri menyorot arahku lalu berhenti tepat di sampingku. Dalam keremangan cahaya, aku dikenalkan pada temannya yang bernama, Atun. Dari sana kita bertiga menuju rumah Eta.
Sesampainya di sana Eta menyambut dengan sumringah. Tamu-tamu itu dipersilahkan masuk, sementara aku menyingkirkan binatang yang disebut aneh oleh Eta di kamar mandinya. Binatang yang kutenggarai kepiting atau bisa juga laba-laba ini berhasil ku enyahkan.
Setelah mereka duduk dengan menyesuaikan diri sebaik-baiknya. Berteman vannila late panas kita berempat membuka obrolan. Mbak Atun ini bekerja di LSM yang bergerak di bidang politik bernama Demos. Kesempatan ke Jogja dalam rangka mengikuti seleksi S2 di UGM keesokan hari. Melanjutkan sekolah berkat beasiswa dari kantornya. Menurut berita yang ku dapatkan dari Fahri mbak Atun dulu S1 nya di IAIN Jakarta (sekarang UIN Syarif Hidayatullah) lalu S2 di Universitas Indonesia. Dan sekarang mengambil S2 lagi di UGM. Menurut Fahri lagi kesempatan ini adalah hasil kerja sama UGM dengan kantor mbak Atun. Tujuannya nanti S3 di Oslo, Norwegia. Hebat banget!
Dari perbincangan yang terjadi, mbak Atun ini telah menjelajah nusantara, ke Papua, Kalimantan, Sulawesi, Aceh, Nusa Tenggara, pelosok jawa, bahkan ke Padang! Aku teringat kata-kata "Bangku kuliah tak mengajarkan tentang nasionalisme, jelajahi lah negerimu, untuk menimbulkan kebanggaan pada negerimu". Senada dengan Pram "menulislah untuk peradaban!".
belum selesai.......
Read More......
Langganan:
Postingan (Atom)
