Jumat, 06 Juni 2008
Pulang
Setelah rapat, dan aku akan berada di posisi pendamping pada Ospek nanti. Ada beberapa persiapan yang harus disiapkan, sebenarnya tak banyak. Aku harus menguasai tentang materi tentang State of War, di dalamnya terdapat unsur-unsur kebersamaan, berani berpikir, tanggung jawab dan kebebasan bersekspresi. Diharuskan juga untuk menyertakan tulisan sebanyak 2 atau 3 halaman. Tanggal 28 Juli, kita akan rapat persiapan lagi, jadi sebelum tanggal bagi mereka yang pulang diharuskan sudah berada di Jogja lagi.
Jumat malam ini tiba-tiba hp ku berdering orang tua ku menelfon. Menanyakan tentang ujian dan tetek bengeknya. Percakapan kali ini aku sarat dengan kesan emosional yang terjalin antara anak dan orang tuanya. Pokok pembahasan yang pasti disinggung adalah apakah aku akan pulang atau tidak. Aku tak sanggup menjawab pertanyaan itu, walaupun mereka tak menanyakan secara langsung. Tapi aku menangkap mereka menelfon ku malam ini, secara tersirat menanyakan kapan waktunya untukku akan pulang.
Aku mengemukakan beberapa pernyataan. Aku memang punya keinginan pulang, siapa yang tak ingin pulang setelah tak bertemu dengan orang tua, tak merasakan suasana rumah kampung halaman, tak menikmati kebersamaan dan canda tawa dengan teman-teman yang sudah lama ditinggalkan, tak melihat perkembangan-perkembangan yang terjadi di kampung tempat aku beranjak meningalkannya merantau demi ilmu pengetahuan dan pengalaman. Tapi aku tak pulang ke Banjarnegara, Cilacap, Semarang, Tegal, Ngawi, Blora atau daerah-daerah di kawasan Jawa. Aku pulang ke Sumatera, melintas pulau, negeri pesisir barat sumatera yang tandus dan subur. Tak terhitung banyak pengeluaran yang harus dikeluarkan orang tuaku untuk kepulangan yang tak mungkin akan lama ini. Bagaimana aku pulang kalau hanya 1-2 minggu, atau paling lama 3 minggu. Hanya akan sia-sia karena aku tak banyak juga di rumah kalau pulang, aku sibuk ke luar menjumpai teman-teman, melihat-lihat perubahan pemandangan alam. Ya mungkin saja jangan-jangan danau Singkarak airnya surut sekitar 5 kilometer, atau menyaksikan gunung Talang meletus.
Kenapa bakal tak lama padahal ada waktu sekitar 1 atau 2 bulan dialokasikan untuk masa liburan kuliah. Yang pertama selain akan harus kembali lagi ke Jogja sebelum tanggal 28 Juli, selanjutnya ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Yang paling dekat adalah mencoba membikin tulisan untuk Jurnal Filsafat yang baru. Sekalian pengumuman siapa tahu teman-teman di Padang, Aceh, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Papua seluruh pelosok Nusantara yang membaca blog ini berminat untuk:
UNDANGAN MENULIS DI JURNAL MAHASISWA FAKULTAS FILSAFAT UGM
Dalam diskursus filsafat kematian mengandung jamak pemaknaan. Karenannya ia tak bisa ditempatkan pada kapling kategoris interpretasi. Pada kesempatan ini, Jurnal Mahasiswa KACAMATA Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada mengundang Anda untuk menguntai gagasan dari sengkarut kematian melalui karya tulis.
TEMA: KEMATIAN
Tema Pilihan*:
1. Harakiri: antara Mempertahankan dan Mengakhiri Eksistensi
2. Ambivalensi Kematian: Akhir atau Perpindahan Konteks Kehidupan
3. Menuju Kematian Ideal
4. Meraih Solusi dengan Bunuh Diri: Sebuah Telaah Filosofis
5. Akhir Kehadiran Subjek
6. Upaya Mengakhiri Kedigdyaan Teks
7. Kematian Tuhan
8. Hak Menghadirkan Kematian: Silang Kuasa antara Tuhan dan Manusia
*Dibebaskan memakai perspektif filosof tertentu yang terkait
Syarat dan Prosedur Penulisan:
1. Penulis adalah Mahasiswa D3 atau S1 segala disiplin ilmu
2. Gagasan tulisan hasil telaah pribadi dan belum pernah dipublikasikan
3. Memakai gaya bahasa renyah, tanpa lepas dari EYD
4. Menggunakan penulisan ilmiah, acuan dan keterangan tambahan memakai endnote (lengkap)
5. Panjang tulisan 14-17 halaman kertas A4 spasi 1.5, semua marin 3 cm. dan front Times New Roman (12)
6. Menyertakan identitas lengkap meliputi: nama, jurusan asal PT, alamat, nomor telp/hp dan email, foto close up, dan data diri yang ditulis secara naratif
7. Dikrim melalui email ke: kacamata@filsafat.ugm.ac.id
8. Batas waktu pengiriman naskah tanggal 13 Juli 2008
9. Tim Editor Jurnal Kacamata berhak menyunting tanpa mengubah gagasan
10. Segala plagiarisme menyebabkan diskualifikasi
Alamat Redaksi:
Fakultas Filsafat Jalan Olah Raga Bulaksumur Yogyakarta 55281
Contacs: 08562924786-08564007416 Iklan/distribusi: 081326647850 (Haqi)
Home: www.jurnalmahasiswa.filsaat.ugm.ac.id
Email: kacamata@filsafat.ugm.ac.id
INFO SELENGKAPNYA Klik: www.mcnadjib.wordpress.com
Butuh waktu yang panjang untuk menyelesaikannya, referensi yang benar-benar relevan, atau mungkin sedikit penelitian kualitatif. Bagiku ini ujian besar dalam proses belajar menulis. Mudah-mudahan saja berjalan lancar dan hasilnya jadi dan memuaskan. Cukup sudah beretorika, saatnya berkata melalui karya.
Lalu alasan berpikir tentang rencana kepulangan ini adalah seperti pengalaman yang sudah-sudah saat berkesempatan pulang pada masa liburan, aku juga pulang saat lebaran, Jarak waktunya kadang-kadang dekat sekali. Saatnya untuk berani memilih pulang dengan waktu yang tepat, jangan terjebak terlalu dalam pada kemelankonisan. Ya begitulah akhirnya tak pulang pada liburan semester ini.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, terheran-heran kenapa buat pulang saja susah. Pulang ya tinggal pulang tak usah banyak pertimbangan. Bagiku tidak tentang itu, aku hanya sedikit menampilkan sisi yang berbeda dengan dimensi yang jauh dari sudut pandang biasa ku.
Pulang tak hanya membawa badan dan barang, pulang juga membawa jiwa. Jiwa yang siap untuk pulang, siap dan tidak kaget melihat perubahan. Tidak canggung, bahkan tidak terkejut seperti yang pernah dibayangkan sebelumnya.
Pulang membawa beban, meninggalkan banyak cerita.
Read More......
Surat
Bagaimana ananda akan memulai mengatakan sesuatau yang sebenarnya tak dapat ananda ungkapkan. Tapi ananda tak akan menjadi berani jika tak mengatakannya kepada ayahnda dan ibunda. Ananda belajar menjadi orang yang berani hingga jauh diri ini dari ayahnda dan ibunda. Tak lagi bisa ayahnda dan ibunda amati setiap saat, tak dalam pengawasan mata, tak juga dalam nasihat ayahnda dan ibunda langsung.
Sejauh waktu ananda berjauhan dari ayahnda dan ibunda, tak sedikit yang ananda temui dalam hidup ini. Berbagai macam ilmu pngetahuan menyerang ananda bertubi-tubi. Hingga tak terelakkan olehnya, bukannya ananda mengelak bukannya anda kenyang dengan semua yang ananda dapat rasai itu, malah ananda semakin lapar dan haus dengan ilmu pengetahuan itu sendiri. Ananda sekarang tentu sama seperti ayahnda dan ibunda dulu, banyak bertemu macam manusia. Bertanya dan tak henti-hentinya ananda berbincang dengan sekian ragam manusia itu ayah bunda. Banyak yang ananda ketahui jika sebelumnya tak ananda ketahui, banyak hal yang ananda terima dan ananda anggap semua itu ilmu pengetahuan ayah bunda. Sekolah formal ananda masih seperti yang ananda niatkan dulu sebelum ananda menjejakkan kaki di tanah jawa ini. Tak ada yang kurang tak ada yang tak berkembang dalam diri ananda ini, jiwa dan raga. Tak perlu ayahnda dan ibunda cemaskan. Dalam hal ini ananda masih berada di jalan yang sama ketika ayahnda dan ibunda melepaskan ananda dulu.
Tak terbersit sedikitpun dalam hati ini untuk memperlama dan mempersulit masa selesai sekolah ananda. Malah begitu keras keinginan untuk segera menyandang gelar sarjana, dan lepas dari kesusahan ayahnda dan ibunda dalam membiayai sekolah ananda. Sesegera mungkin ada pikiran untuk secepat mungkin berjalanlah waktu sekencang mungkin. Hingga ananda sudah berpenghasilan sendiri. Berniat ananda untuk menyekolahkan adinda, bungsu ayahnda dan ibunda. Setidaknya meringankan beban ayah dan bunda. Ananda kadang merasa malu juga pada diri ini, di usia yang tak bisa dibilang kanak-kanak ini, ananda masih begantung pada ayahnda dan ibunda seutuhnya. Tak mengurangi beban, malah ananda merasakan beban ayah bunda semakin berat. Tapi ayahnda dan ibunda selalu menjawab 'itu sudah kewajiban kami, tak perlu dipikirkan'. Begitu mulianya ayahnda dan ibunda. Ananda langsung nelangsa mendengarnya dan yang tersisa hanya keinginan untuk membalas dan tak menyiakan kasih sayang ayah bunda.
Sekarang ayah bunda. Belum sempat ananda mengurangi beban ayah bunda, belum sedikitpun menghadirkan kebanggaan dalam diri ayah bunda. Ananda yang hina ini, malah melawan kepercayaan ayah bunda. Ananda menghadirkan sesuatu yang tak pantas ayah dan bunda terima. Ananda hina ayah bunda.
Ananda menyakiti hati, harga diri ayah bunda.
Kabar yang telah datang pada ayah bunda ini tentu sangat tak dapat ananda bayangkan bagaimana perasaan ayah dan bunda.
Dalam kesempatan ini, ananda mohon izin secara tulisan ini pada ayah bunda untuk menikah. Ananda tak dapat lagi bertahan untuk selalu terus begini. Sudah saat yang tepat ananda rasa jika ananda punya keinginan ini. Mungkin bagi ayah bunda serasa tergesa-gesa, tapi tidak bagi ananda, ayah bunda. Mungkin yang ayah bunda bayangkan bagaimana kehidupan ananda ke depan. Ayah bunda tak perlu khawatir, karena ananda siap menjalaninya apapun hambatan dan halangannya. Ananda siap karena yakin dengan apa yang ananda pilih, apa yang ananda kehendaki.
Apakah ananda anak yang tak berbakti pada orang tua, ayah bunda? Ananda menghancurkan harapan ayah bunda? Tapi apa yang ananda hancurkan harapan ayah bunda, ananda tetap menjalani sekolah, dan terus akan menyelesaikannya, walaupun seandainya ini terwujud, sekolah bukan satu-satunya yang ananda pikirkan. Ananda juga harus punya penghasilan untuk menghidupi keluarga ananda. Ananda siap untuk itu ayah bunda.
Sekiranya sekarang ananda mohon kerelaan dan pikiran yang matang dari ayah bunda, dan mudah-mudahan memberikan keputusan yang sebaik-baiknya.
Tulisan ini hanya menjadi penghantar kepada ayah bunda, secepatnya ananda akan pulang. Agar ananda, ayah dan bunda dapat membicarakan ini secara lisan. Karena dengan tatap muka, ada kejelasan yang bisa diselesaikan.
Sedikit ananda perkenalkan gadis yang akan menjadi teman hidup ananda. Namanya A, seorang gadis jawa ayah bunda. Orang tuanya tinggal di S. Bersekolah juga di Y. Umurnya dua tahun di bawah ananda. Mudah-mudahan dengan ridho dari ayah bunda bisa menjadi menantu yang baik. Dari kita berdua tak ada lagi yang tertinggal, semuanya telah kami pertibangkan baik buruknya. Ke orangtuanya pun ananda telah mengungkapkan ini.
Sembah hormat ananda
Read More......
Kamis, 29 Mei 2008
Harga Sebuah Eksistensi
1. Konsolidasi yang coba digalang beberapa senior, pengurus 2007/2008, dan individu yang peduli pada institusi ini. Aku rasa semua orang peduli terhadap Forkommi, tingkat kepeduliannya saja yang membedakan. Aku tak habis pikir ketika Pak Wo memaksa dan sangat mengharapkan kehadiran ku dalam pertemuan yang direncanakan tersebut. Untuk kali ini akan diadakan di kosanku. Kebetulan aku dan Pak Wo satu kos. Pak Wo menunjukkan tingkat kepedulian yang sangat akhir-akhir ini dari tindakan-tindakannya. Sejauh apa yang dia lakukan aku tak tahu. Hanya aku merasa Pak Wo bekerja keras agar semuanya lancar. Yang lain pun aku rasa begitu.
Dihadiri beberapa orang, pokok pertemuan diarahkan pada angkatan 2006 yang akan melanjutkan tongkat kepemimpinan Forkommi selanjutnya. Ada aku, Heru, Rian, Hendro dan satu perempuan yang aku lupa namanya. Lalu Arief, ketua yang masih menjabat sampai pembubaran saat Mubes. Da Ipam dan Da Tommi, dua ketua sebelum Arief. Ilham, Nia, Yogi dan Pak Wo. Dari penjelasan mereka, ini pertemuan yang terakhir setelah hari-hari sebelumnya diadakan di beberapa tempat dengan orang-orang yang berbeda. Pendahuluan sesaat yang mengingatkan semua akan fitrah Forkommi. Lalu permintaan mengemukakan pendapat, berupa apa yang dirasakan selama menjadi anggota forkommi lalu rekomendasi langkah selanjutnya; inti dari pertemuan ini. Semua di sini bicara sebatas sharing, bukan mencari benar salah, menilai suka atau tidaksuka. Hal penting lainnya adalah pernyataan kesediaan angkatan 2006 untuk memegang, melanjutkan dan mengembangkan perjalanan Forkommi selanjutnya. Lama kita bicara, ngobrol dan bertukar pikiran. Walaupun begitu dari pertemuan yang sangat kekeuargaan ini, aspek-aspek yang ingin dicapai telah terangkum semua.
2. Suksesi kepemimpinan. Aku tak tahu kalau hanya ada aku sendiri dalam pertemuan kali ini. Aku berhadapan dengan Da Roni, Arief, Nia, Lola dan Pak Wo. Lagi-lagi pak Wo sangat mengharapkan kesediaan waktuku untuk menghadiri pertemuan ini. Kerja keras dan keinginan Pak Wo sangat jelas tergambar dari mukanya. Dedikasi yang patut diancungi jempol, yang lain juga. Terjawab keheranana-keherananku tentang tingkah Pak Wo. Setelah menikmati waktu kekosongan dari aktivitas organisasi di kampus, benar-benar hanya fokus kuliah. Pak Wo mulai menapaki jalan demi membawa Forkommi bangkit dari 'keterpurukan' ini. Pak Wo tak ingin menyesal untuk kedua kali, setelah penyesalan pertama kali dulu. Setahun yang lewat ketika Mubes Forkommi Pak Wo tak mengambil peran dalam kepengurusan. Pak Wo punya kapasitas yang lebih dari cukup untuk memimpin Forkommi, tapi karena kekhawatiran fokusnya terbagi dengan organisasi lain. Pak Wo menampik jalan itu. Mungkin aku agak salah menggunakan kata menyesal, tapi mau pakai kata apa lagi? Sekarang Pak Wo tak mau membuang kesempatan ini, dan aku lihat keseriusan Pak Wo dan yang lainnya untuk mengayomi dan bersama-sama melangkah dengan yang merasa Forkommi sesuatu yang harus diperjuangkan demi pencapaian yang lebih baik. Membuat eksistensi yang lebih vulgar, yang lebih menderapkan langkah.
Setelah pendahuluan, lalu masuk ke pokok persoalan. Terjadilah lemparan-lemparan pernyataan, saran dan dialektika pembicaraan antara aku dan steering committe. Semuanya masih dalam batasan Sharing. Tak ada unsur-unsur otoritas, perdebatan yang tajam. Pada khirnya di waktu lebih dari sejam aku menolak untuk masuk dalam bursa calon ketua Forkommi.
3. Musyawarah Besar XII Forkommi UGM, Minggu 18 Mei 2008, di Asrama Putri Bundo Kanduang JL. Bintaran Tengah No. 7 Yogyakarta.
Pagi itu acara yang rencana akan di selenggarakan jam 8, malah molor hingga jam 10. Peserta Mubes pun tak bisa dibilang banyak. Hingga saat Maghrib aku di sana peserta sudah lumayan banyak. Sidang Pendahuluan oleh badan pekerja Mubes, membahas berupa rancangan Tata Tertib Mubes XII. Dilanjutkan dengan pemilihan pimpinan sidang tetap.
Pimpinan sidang tetap terpilih melaksanakan sidang pleno. Di dalamnya bertujuan untuk memberikan penilaian terhadap laporan pertanggung jawaban pengurus.Selesai dan sore waktu itu meninjau penyempurnaan AD/ART/GBHK. Sama seperti tahun lalu aku masuk komisi A yang membahas AD/ART. Komposisi tahun sekarang beda. Tahun lalu aku masih banyak mengikuti, sekarang sudah banyak berkata. Dari kontribusiku yang sedikit ini aku setidaknya bisa mengungkapkan sesuatu dalam forum kecil ini. Hanya sampai Maghrib aku di sana, itupun pembahasan AD/ART kepada forum sidang belum selesai.
Menurut cerita Pak Wo, pembahasan AD/ART berjalan lebih lama dar yang lainnya. Andi terpilih menjadi ketua Forkommi tahun 2008/2009. Lalu pembahasan yang sama dengan tahun lalu juga kembali diungkapkan tahun ini lagi. Tentang perlu tidaknya diadakan posisi Sekjen dalam struktur kepengurusan Forkommi. Perdebatan yang panjang, akhirnya memutuskan untuk melegalkan posisi Sekjen. Begitulah.
Banyak atau tidak yang dapat dilaksanakan oleh kepengurusan Forkommi tahun lalu dan tahun ini, semua tergantung pada kontribusi bersama. Tak dapat diindahkan juga kalau organisasi ini menempatkan dua macam dalam perjalanannya. Menjadikannya sebagai organisasi sebagai konseptor dan eksekutor atau menjadikannya sebagai keluarga yang berdasar pada aspek kekeluargaan.
Entah seperti apa ke depan, aku belum dapat memutuskan aku akan bagaimana di dalamnya. Aku akan berbuat sebisa apa yang akan aku lakukan. Mulai dari bagaimana memahami posisi dan tindakan aplikasi nyata.
Semua tentu berpengharapan akan melakukan yang terbaik. Ini akan menjadi baik, ini akan menjadi kebanggaan, ini akan menjadi keluarga.
Read More......
Sabtu, 24 Mei 2008
TINJAUAN HERMENEUTIKA MARTIN HEIDEGGER TERHADAP TEKS ANTI-KRIST FRIEDRICH NIETZSCHE
Hal pertama yang awal-awal dipahami adalah mengerti dengan baik tentang fenomenologi Heidegger. Hal ini penting karena menjadi penuntun untuk memahami bagaimana ‘Ada’ menyingkapkan diri. Heidegger sendiri memberikan kritik atas Rene Decartes yang menemukan cogito dan mempostulatkan cogito ergo sum tapi tak pernah mempertanyakan sum (ada) itu sendiri. Hal ini melatarbelakangi Heidegger menyatakan bahwa bukan kesadaran yang menentukan Ada melainkan Ada yang menetukan kesadaran.
Fenomenologi Heidegger itu sendiri adalah; kesadaran bukan hanya sadar akan sesuatu, yaitu memiliki isi tematis tertentu, melainkan terlebih sadar sebagai sesuatu (fokus pada subjek bukan objek). Ada yang lebih utama daripada kesadaran. Fenomenologi Heidegger lebih bersifat ontologis karena menyangkut kenyataan itu sendiri. Lalu prinsip fenomenologi selanjutnya adalah fakta keberadaan merupakan persoalan yang lebih fundamental ketimbang kesadaran dan pengetahuan manusia.
Dalam penjabaran tentang pembedaan ontologis (ontologishe differenz), ada 2 hal yaitu antara Sein dan Seinde, Ada dan Mengada. Untuk memahami Ada kita harus memulai dari Mengada yang bisa mempertanyakan Ada. Coba kita lihat dalam teks Anti-Krist nya Nietzsche.
Apakah baik itu?- Semua yang meninggikan kekuatan, kehendak berkuasa, kekuasaan itu sendiri dalam manusia.
Apakah buruk itu?- Semua yang berasal dari kelemahan.
Apakah kebahagiaan itu?-Perasaan bahwa kekuasaan meningkat- bahwa sebuah perlawanan telah diatasi.
Bukan kepuasan diri, melainkan lebih banyak kekuasaan; bukan perdamaian sama sekali, melainkan perang; bukan kebajikan, melainkan keterampilan (kebajikan dalam gaya Renaisans, virtu, kebajikan tanpa asam moralik).
Yang lemah dan penyakitan akan musnah: asas pertama filantropi kita. Dan orang harus membatu mereka menjadi musnah.
Apakah yang lebih merugikan ketimbang suatu kejahatan?- Simpati aktif untuk yang lemah dan penyakitan-Kristen.
Pembedaan ontologis yang membawa kepada pemisahan antara Ada dan Mengada coba ditelusuri dengan kesadaran akan sesuatu yang membuat kefokusan sendiri pada subjek bukan pada objek. Nietzsche telah memaparkan kenyataan berupa konteks-konteks Ada. Ini mengacu pada paparan berupa pertanyaan-pertanyaan seperti apakah baik itu, buruk, kebahagiaan. Nietzsche langsung mengkaitkan dengan jawaban yang berupa konteks Mengada. Konkritnya baik (sebagai ada) lalu semua yang meninggikan kekuatan, kehendak berkuasa, kekuasaan itu sendiri dalam manusia (sebagai mengada). Untuk memahami Ada, kita harus memulai dari Mengapa yang bisa mempertanyakan Ada langsung bisa terjawab dari contoh konkrit di atas.
Hal ini juga menggambarkan dan menjelaskan tentang ‘tidak semua Mengada bisa bertanya tentang Ada, yang bisa melakukan itu hanyalah Dasein (Ada-di-sana)’. Ada-di-sana untuk menujukkan ciri khas kemewaktuan dan keterlemparan manusia atau faksilitas. Perasaan bahwa kekuatan meningkat-bahwa sebuah perlawanan telah diatasi. Bukan kepuasan diri, melainkan lebih banyak kekuasaan; bukan perdamaian sama sekali, melainkan perang; bukan kebajikan, melainkan keterampilan (kebajikan dalam gaya Renaisans, virtu, kebajikan tanpa asam moralik) merupakan Dasein yang bisa menanyakan tentang Ada yaitu suatu kebahagiaan, apa kebahagiaan itu? Dasein di atas mampu melakukannya karena memenuhi faktor memiliki hubungan dengan Adanya, yakni terbuka tehadap penyingkapan Ada.
Tak salah juga kalau manusia adalah satu-satunya wadah bagi penyingkapan Sang Ada. Yang menyebabkan manusia memiliki potensi untuk mempertanyakan (interpretasi) keberadaannya, sehingga membuka diri terhadap realitas. Manusia adalah seorang pembawa pesan, pengungkap keberadaan, yang menjadi media penghubung jurang antara Ada yang tersembunyi dan yang terungkap; antara ketidakberadaan dan keberadaan.
Nietzsche yang dengan vitalismenya ini tempatnya jauh daripada agam kristen dan komunisme. Ia berkembang dalam suatu pergumulan yang berat dengan dirinya sendiri dan dunia ini. Baginya agama kristen adalah lambang pemutarbalikkan nilai-nilai. Sebab yang dipandang sebagai jiwa Kristiani ialah menolak segala yang alamiah sebagai hal yang tak layak, yang memusuhi segala yang nafsani. Pengertian “Allah” agama kristen adalah pengertian yang paling rusak dari segala pengertian tentang Allah, sebab Allah dipandang sebagai Allah anak-anak piatu dan janda-janda, Allah orang-orang sakit. Allah dipandang sebagai roh yang bertentangan sekali dengan hdup ini. Jiwa kristiani adalah jiwa yang tidak memberi penguasaan dan kebangsawanan.
Suatu penelahaan kritis atas konsep Kristen mengenai Tuhan mengundang simpulan yang sama. –Suatu bangsa yang masih mempercayai dirinya jiga masih memiliki Tuhannya sendiri. Dalam diri Tuhan ini bangsa itu menghargai kondisi-kondisi yang telah membuat sejahtera, kebajikan-kebajikannya-bangsa itu memproyeksikan kegembiraan atas keadaan dirinya, perasaan berkuasanya kepada suatu pendirian yang bisa disebut terima kasih. Prastruktur verstehen yang pertama yaitu Vorhabe; sesuatu yang sudah dipunya sebelumnya tercakup di atas.
Lalu Vorsicht; sesuatu yang sudah dilihat sebelumnya. Kristen berdiri bertentangan dengan semua kesehatan intelektual. Maksudnya apa? Ia (mengacu pada intelektual) hanya bisa menggunakan pikiran busuk sebagai pikiran Kristen, ia memihak kepada segala yang bodoh, ia menyatakan kutukan terhadap “roh”, terhadap keunggulan jiwa yang sehat. Karena sakit masuk dalam esensi Kristen, maka kondisi Kristen tipikal, yaitu “iman”, harus merupakan suatu bentuk kesakitan, setiap jalan yang langsung, jujur, saintifik menuju pengetahuan harus ditolak oleh gereja, sebagai jalan yang terlarang.
Nietzsche melanjutkan lebih jauh pada perbandingan antara Kristen dan Buddha. Ia mulai menapaki dan dapat ditangkap ada unsur Vorgriff; sesuatu yang sudah ditangkap sebelumnya. Bagi Nietzsche Kristen dan Buddha sama-sama agama nihilistik, sama-sama agama dekadensi tetapi berbeda dengan sangat menarik. Nietzsche mampu menghadirkan dan mengkomparasikannya. Hingga membawa kepada pemahaman yang dapat dipahami sebagai berikut. Buddha seratus kali lebih realistik ketimbang Kristen. Buddha memiliki komposisi yang terdiri dari warisan suatu penelahaan yang dingin atas berbagai masalah. Agama ini datang setelah suatu gerakan filosofis. Yang berlangsung ratusan tahun.
Ini kemudian menjadi sangat menarik. Pendapat Nietzsche: Buddhisme adalah satu-satunya agama yang benar-benar positivistik dalam sejarah bahkan dalam epistemologinya (suatu fenomenalisme kaku). Agama ini tidak lagi bicara mengenai “perjuangan melawan dosa” melainkan, dan ini sesuai dengan aktualitas, “perjuangan melawan penderitaan”. Yang membedakannya dengan Kristen adalah meninggalkan konsep-konsep moral yang menipu diri itu. Agama ini berada, dalam bahasa Nietzsche, di seberang baik dan jahat. Dua fakta psikologis yang mendasari dan yang menjadi tujuan adalah:
Pertama, suatu keterangsangan sensibilitas yang berlebihan yang mengekspresikan diri sebagai kemampuan tinggi untuk merasakan sakit, Kemudian suatu kelebihan intelektualitas, suatu kesibukan yang terlalu besar dengan konsep-konsep dan prosedur-prosedur logis di bawah mana instink personal telah dikalahkan oleh demi kemenangan yang “impersonal”.
Prakondisi untuk Buddhisme adalah iklim yang lunak, adat sangat halus dan liberal, tanpa militerisme; dan dalam klas-klas tinggi dan terpelajarlah gerakan ini memiliki lahannya. Tujuan tertingginya adalah keceriaan, kesunyian, tidak adanya nafsu dan tujuan ini tercapai. Buddhisme bukanlah agama tempat orang mencita-citakan kesempuan semata.
Sedangkan dalam Kristen instink-instink dari mereka yang dikalahkan dan ditindas maju ke muka: adalah klas-klas terendah yang mencari penyelamatan mereka dalam agama ini. Di sini bisnis kasuistik dosa, kritik diri, pengadilan-nurani dipraktekkan sebagai suatu spesifik melawan kebosanan; disini suatu sikap emosional terhadap satu kekuasaan, disebut ‘Tuhan’, selalu dihidup-hidupkan (melalui sembahyangan); disini hal-hal tertinggi dianggap tidak bisa dicapai, pahala, “berkat”. Disini juga tidak terdapat keterbukaan; ceruk di sudut, kamar gelap itulah Kristen. Disini tubuh itu dihina kesehatan ditolak sebagai sensualitas.
Artikulasi eksistensial pemahaman menjadikan bahasa sebagai alat pengungkapan Ada kepada pengertian Kristen yang lainnya. Kristen: kebencian terhadap mereka yang berifikir beda, kehendak untuk menindas. Kristen: permusuhan maut terhadap majikan-majikan di dunia, terhadap “ningrat” dan pada waktu yang sama kompetisi rahasia yang tertutup (orang membiarkan mereka memiliki “tubuh”, sedangkan dia hanya menginginkan “jiwa”. Kebencian terhadap pikiran, kebanggaan, keberanian, kebebasan, kemerdekaan pikiran, itu juga Kristen. Kebencian terhadap kesenangan indera-indera, terhadap kesenangan pada umumnya, itulah Kristen.
Proses Denken (berfikir) dan mencoba menelaah dialektika Nietzsche yang pada akhirnya mengutuk Kristianitas. Kristen adalah bentuk kerusakan yang paling ekstrim yang bisa dibayangkan, ia memiliki kehendak untuk melakukan kerusakan yang paling tinggi yang bisa dibayangkan. Gereja Kristen tidak meninggalkan sedikit pun yang tidak disentuh oleh kekejiannya. Ia telah membuat setiap nilai menjadi non nilai, setiap kebenaran dusta, setiap jenis integritas kejahatan jiwa.
Pemahaman-pemahaman Nietzsche membuat proses interpretasi tidak lepas dari relasi Denken dan sein-nya Heidegger. Nietzsche dengan kekayaan wawasan psikologisnya memberikan suatu paduan dengan menunjukkan makna dari konsep-konsep kuncinya “kehendak berkuasa” dan “sublimasi”. Pemusnahan sensualitas yang oleh Nietzsche dikatakan merupakan praktek gereja Kristen itu bertentangan dengan “Vergeistigung”nya, menjadikannya “spiritual”.
Read More......
Rabu, 21 Mei 2008
Wanna be
Kemaren Jumat, sore ke pantai. Panas tapi masih dinaungi mendung. Siklus paling panas sepertinya saat tengah hari. Jam 11 lewat sudah mulai. Jam 12 puncak sekali kepanasan itu. Jam 1 masih belum-belum hilang, panas sekali.
Kita masih baik-baik saja, setidaknya menurutku. Kita semakin kuat merasakan semuanya. Semakin maju, naik tingkat.
Beberapa hal yang akan aku lakukan adalah:
- Benar-benar kuliah, selama ini sudah kuliah yang benar. Tak ada masalah. Aku hanya ingin lebih memahami lagi. Di kampus tepatnya di perpustakaan.
Cara-cara yang harus di coba, mencari referensi sebanyak-banyaknya. Banyak tapi ngambang percuma saja. Setidaknya lebih fokus pada pokok pembahasan. Sedikit radikal tidak masalah. Referensi biasanya mengacu pada buku. Satu tantangan jika berhadapan dengan teks Inggris. Itu agak susah, tapi bakal terus mencoba.
Lalu banyak-banyak bertanya, muaranya terjadi diskusi. Ini tidak lebih dari upaya pencapaian distraksi.
Pengertiannya di dalam keinginan ini adalah benar-benar memahami apa itu liberalisme, kapitalisme, atau mungkin komunisme. Selama ini mungkin hanya pembicaraan, pemikiran-pemikiran, pernyataan yang dangkal. Hanya berputar-putar di permukaan. Untuk selanjutnya niat suci ini benar-benar bisa dilaksanakan. Mulai memahami hingga hakikat, bicara tentang esensi dan substansi. Buku banyak di perpustakaan, koneksi internet sebegitu lancarnya. Tinggal kemauan yang lebih keras. Struktualisme, Posmodernisme. Pemahaman tentang ideologi dan pancasila juga sangat penting untuk dimasukkan. Malu saja kalau kuliah di filsafat tak mengerti, tak tahu apa-apa. Ya...filsafat itu ya tahu apa-apa.
- Benar-benar ada aplikasi menulis. Sudah saatnya tulisan dimuat di koran, di jurnal atau di manapun yang bisa dijadikan sumber informasi orang-orang. Selama ini yang mungkin kurang adalah keberanian. Untuk apa takut? Kalau salah, kalau belum bermakna ya ini yang namanya belajar. Belajar tak mengenal takut untuk mencoba. Mulai dengan tanggapan peristiwa aktual, lalu persepi mendalam terhadap peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Lahan politik praktis juga patut untuk di coba. Dasar-dasar politik dan hukum normatif sudah pernah belajar. Filsafat Politik dan Filsafat Hukum banyak dibahas pemikiran-pemukiran yang bisa dipakai. Kenapa tak coba diaplikasikan apa yang didapat? Pemilu 2009 banyak yang bisa disoroti. Cobalah! Koran penting untuk dibaca. Selalulah baca koran. Hindari nonton sinetron dan tayangan yang tak berguna di TV. Pokoknya harus menulis! Masalah eksis itu nanti, yang penting berkarya dulu. Sudah cukup menulis untuk diri sendiri. Saatnya menulis untuk orang lain.
Dua hal yang di atas merupakan bagian penting dalam perjalanan hidup. Untuk melakukan perubahan. Bergerak dari yang ada sekarang. Ya tunggu saja aplikasinya.
13 Manifesto Slankisme:
kita harus
1. Berjiwa kritis
2. Berjiwa sosial
3. Penuh solidaritas
4. Saling setia
5. Selalu merdeka
6. Hidup sederhana
7. Mencintai alam
8. Manusiawi
9. Berani untuk beda
10. Menjunjung persahabatan
11. Punya angan yang tinggi
12. Menjadi diri sendiri
13. Membuka otak dan hati kita karena kesempurnaan hanya punyanya tuhan
Read More......
Sabtu, 17 Mei 2008
Semarang Jauh
Jumat, 8 Mei. Mandi berkali-kali memberi inspirasi. Kadang terpikir hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Ada-ada saja ide-ide baru yang muncul, terkadang menemukan realitas. Bukan karena hal-hal di atas, aku mengajak Eta ke Semarang menjelang sore itu. Aku harus mengikuti kuliah tambahan dulu jam 3, kenapa harus ada kuliah tambahan? Kurang kerjaan!
Aku sudah gelisah duluan memikirkan jalan ke Semarang. Rencananya setelah Eta menyetujui kepergian ini, kita akan pakai motornya (jelas motorku tak dapat diandalkan). Belum semudah itu, kesulitannya kita harus ke Solo dulu ngambil STNK motor Eta. Kesepakatan terakhir sebelum aku meninggalkannya sejenak demi kuliah yang membosankan dan tak kuperhatikan sama sekali.
Pertanyaan-pertanyaan:
- Dari Solo bisa langsung ke Semarang, tak harus balik lagi ke Jogja?
- Kalau bisa, lebih jauh mana langsung dari Solo atau balik lagi ke Jogja?
Aku tanyakan ke salah seorang teman, jawabannya: dari Solo bisa langsung ke Semarang tanpa harus balik lagi ke Jogja. Mengenai jauhnya jarak, atau lamanya waktu tak ada jawaban pasti. Jelasnya dia tak tahu. Dia malah bilang belum lama dia ke Malang, ada sekitar 10 jam.
Aku mengakhiri sendiri perkuliahan sore itu, waktu menunjukkan pukul setengah lima ketika aku mohon diri untuk diperbolehkan keluar duluan. Eta sudah siap ketika aku berada di rumahnya lagi. Memulai perjalanan Jogja-Solo (Sukaharjo) jam 6. Setelah beres-beres di kostku, mengambil pakaian secukupnya dan perlengkapan. Setelah beli obat Flu Eta.Setelah beli jajanan pasar karena aku sangat lapar, setelah mengisi bensin. Jam 7 lewat sedikit sampai di rumah Eta. Perbincangan dirinya dengan orang tuanya yang menemani penungguanku. Satu jam lewat untuk interaksi antara orang tua dan anaknya yang kuliah di kota berbeda cukup sudah. Meninggalkan rumah Eta, kita sudah mengantongi STNK, dan sobekan peta dari atlas. Peta Jawa Tengah. Petunujuk peta, untuk mencapai Semarang dari Solo, harus melewati Boyolali, Salatiga.
Makan di kawasan Solo baru sekalian mencari informasi-informasi. Penting: ke Semarang kira-kira 2 jam dari Solo. Tak begitu lama. Dalam bayanganku, sekitar 3 jam lebih, melihat jarak di peta yang begitu jauh. Tak hanya sekali bertanya, tapi berkali-kali dan jawabannya sama. Informasi teman Eta, smsnya ke Eta ketika sedang jalan dari Jogja ke Solo. Mas-mas penjual rokok, bapak-bapak jualan apa gitu, mas-mas tempat kita makan. Dan tak lupa untuk mbak dan mas yang tak dikenal yang selalu kutanya ketika berhenti di persimpangan berhias lampu merah, kuning hijau.Sedikit jalan terang menuju Semarang.
Dingin makin lama makin menyergap kita berdua hingga menggigil. Merokok sebentar untuk menghilangkan kedinginan. Memasuki kota Salatiga kita berhenti sejenak. Perjalanan masih jauh, hingga akhirnya petunjuk jalan ke Semarang semakin dekat. Di depan hotel Plaza kita menginjakkkan kaki pertama kali di Semarang. Ink yang telah sedari tadi ku hubungi datang menjemput. Jadilah kita nginap di kos Ink malam itu.
Selama di Semarang tak banyak tempat-tempat wiasata yang kita kunjungi. Mutarin jalanan Semarang. Tahu universitas Dipenogoro. Kesimpulan sejauh yang aku rasakan, aku tak melihat atmosfer perkuliahan yang bagus. Mungkin karena hanya melihat di permukaan. Udaranya yang panas, khusus di tembalang makanannya kurang sangat memuaskan. Dan aku benar-benar merasa beda dengan Jogja, memang pantas Jogja dibilang kota pendidikan. Aku merasakannya saat itu. Akhirnya aku berkesempatan juga bertemu Katik, teman dari kecil hingga sekarang. Dia sedikit bercerita tentang problem-problemnya, ketidaknyamanannya kuliah di sini. Terus rencana mengulang SPMB lagi tahun ini. Targetnya UI. Butuh adaptasi panjang aku rasa untuk benar-benar cocok dan menikmati kehidupan di tempat yang berbeda. Masalah teman menjadi penting di sini, wajarlah dia baru setahun di Semarang. Awal-awal aku di Jogja aku juga merasa agak stres menjalani adaptasi itu. Terbayang kampung halaman yang jauh sekali. Tapi perjalanan waktu membuat diriku bisa menyatu dengan kehidupanku lagi. Aku kembali menjadi pemilik jiwa dan ragaku. Katik hanya butuh waktu sedikit lagi dan selalu belajar. Cari kegiatan yang positif dan jangan terlalu sok-sokan. Kalau niat hidup untuk terus belajar semuanya akan terasa ringan.
Lalu Suhan Jagara. Aku dan dia satu SMP, satu SMA. Kenal tapi tak begitu dekat. Banyak perkembangan dari dirinya. Bukan sekali ini saja aku dengar tentang dirinya. Dulu Ink dan Katik telah pernah cerita. Tapi sekarang aku melihatnya langsung. Dia kuliah di Fakultas Hukum Universitas Dipenogoro. Aktif di KAMMI atau HMI ya, vokal dan terkenal di kalangan kampus sebagai aktivis muda. Proyek, seminar dan pertemuan dengan orang-orang penting. Selain itu masih banyak yang bisa dibanggakan darinya. Berbeda saja jika mengingat masa SMA dulu, berkembang jauh. Ink dan Katik waktu awal cerita tentang Suhan dulu ya sama tidak menyangkanya.
Begitulah kehidupan kawan, seperti yang Eta bilang, perjalanan waktu bisa mengubah seseorang.
Malam minggu itu, aku dan Eta dibawa Ink menemui Suhan. Bertemu ketika dia sedang mengkoordinir rapat. Dia menyambutku, aku jadi terharu. Seperti biasa jika ada teman bertamu ke tempat kita, apalagi itu untuk pertama kalinya, ada hasrat untuk mengajak kota-kota. Dengan otoritasnya Suhan mengakhiri rapat, demi aku. Aku dan Eta diajak putar-putar, dan ditraktir karaoke-an. Suhan baru dapat proyek survey dari CSIS, lembaga kepunyaan Indra J. Piliang. Duitnya tak tanggung-tanggung. Ink yang diajak Suhan pun ketiban pulung. Ink berubah juga sekarang, dia ingin aktif di lembaga kemasyarakatan. Seharusnya Katik bisa meniru, kalau tidak akan stres selamanya.
Kita baru punya kesempatan banyak bicara saat makan di burjo. I love Jogja...kau masih menghadirkan tempat yang eksotis yang tak kutemui di kota lain, Semarang ini salah satunya. Burjo yang berbeda dengan burjo di Jogja, Suhan bilang burjo yang kita singgahi ini tempatnya kawula muda mangkal. Setelah dugem di lantai enam (Hugos maksudnya), para clubber menghabiskan malam panjangnya di sini. Apa? di tempat ini! Eta bilang saat dia burjo tiba-tiba dia kangen suasana kali Code. Walaupun tak sedikitpun suka tempat itu, tapi ke-eksotisannya yang membuat Jogja begitu indah. Yah begitulah..bisa dibayangkan.
Aku banyak bertanya pada Suhan. Mengenai pertemuannya dengan orang dan tokoh-tokoh yang dapat disebut punya nama di Indonesia, setidaknya para pengamat politik, ekonomi dan sebagainya atau aktivis yang sering masuk koran. Titik balik saat dia bisa memaknai dunianya sekarang, beranjak dari perbandingan jika dia masih di kampung, dia tak dapat membayangkan. Masih seperti dulu, tempat dan zaman serta rekonstruksi pemikiran yang masih feodal. Dia bicara menggebu-gebu, dia menguasai apa yang dia bicaraka. Dia tahu kapasitas dirinya. Menyadari dia akan lebih banyak berkembang ke depan. Jika tak hari sudah terlarut malam, percakapan ini tak akan habis. Aku melihat rona-rona kelelahan dari mata yang mengantuk itu. Aku tak akan memaksanya menemani ku dan Eta jalan-jalan melihat Semarang di malam minggu ini lagi. Dia masih beraktivitas besok. Salaman hangat untuk perpisahan sesaat ini. Aku mengundang dia ke Jogja membalas kunjunganku suatu waktu. Mudah-mudahan saja dia 'orang minang' berikutnya.
DP mall, Ciputra Mall, Lawang Sewu, kampus Undip. Beberapa tempat yang aku dan Eta kunjungi di Semarang. Banyak tempat yang belum sempat kita elaborasi lebih jauh. Karena ini bukan terakhir kali kita ke Semarang, suatu saat akan kembali lagi menyusuri jalanan berbukit-bukit ini. Jalan pulang lebih panjang dan memakan banyak waktu dibanding jalan pergi. Semarang-Ambarawa- Temangung (hanya lewat) -Magelang. Kita sempat menikmati srabi di daerah apalah, opak juga.
Magelang, menjadi tempat pemberhentian berikut. Tak tanggung-tanggung kita sembahyang di klenteng yang berposisi di kilometer 0. Akulturasi budaya, aku rasa. Pulang ke Jogja, sampai pas maghrib.
Untuk melakukan perjalanan yang jauh harus dilakukan persiapan yang jelas, pakaian atau perlengkapan lainnya. Uang jelas menjadi sesuatu yang harus ada. Jangan pas-pasan. Pelajari jalan dan tempat-tempat wisata.
Secara keseluruhan walaupun agak kacau, tapi perjalanan ke Semarang aku dan Eta ini cukup bagus. Setidaknya kita bisa belajar dari Semarang. Bandung, Jakarta, Malang, Surabaya, dan Bali masih menunggu kita Ta!
Read More......
Kamis, 15 Mei 2008
Kali Gendol
Lepas tengah malam setelah menunggu jam pemberangkatan itu sendiri, di kantor Himmah, sebuah media jurnalistik mahasiswa UII. Bersama Rie Salam mulai bergerak dari kos sebelum jam 11 tanggal 3Maret itu. Rencanannya kita akan bergerak mencari fokus bahasan pada penambang pasir. Lebih jelasnya, Rie diberi mandat untuk melakukan tugasnya sebagai jurnalis, dengan mencari berita tentang kaum perempuan (khusus kalangan orang tua/mbok-mbok). Kapasitasku disini hanya menemani, dan sekaligus mencoba belajar serta mencuri ilmu. Masuk ke perkancahan dunia jurnalistik riil. Format pencarian berita dan aktualisasinya tak begitu jelas. Dengan dasar aku tak mau mencampuri terlalu banyak. Disebabkan ketakutan aku akan merepotkan.
Daerah Muntilan menjadi tujuan perjalanan ini, pada perkembangan situasi tujuan berubah ke lereng gunung Merapi, kawasan Kaliadem. Pagi-pagi sekali, saat waktu belum menunjukkan pukul 3 kita sudah membelah jalan. Mereka-reka jarak hingga menyentuh tujuan. Kita terdampar di jalanan Kali Kuning yang dinginnya begitu menusuk, dengan rimbunnya pohon di kiri kanan. Di depan kabut menghadang dengan jelas, saat aku menoleh ke belakang, hanya kepekatan malam yang begitu gelap memancar dari mataku. Proses penyelamatan diri kita lakukan dengan mencari tempat persinggahan, hingga arah penunjuk jalan memberi tahu sesaat kita akan sampai di kawasan juru kunci gunung Merapi.
Ketika di sana kopi panas menjadi suatu kebutuhan yang sangat demi mengatasi kedinginan hati dan kebekuan pikiran ini. Sesekali Rie mencoba mengorek informasi sesuai kebutuhannya. Sebagai gambaran lokasi jelas yang akan dituju belum ada. Jadilah pagi itu kegiatan bertanya-tanya.
Sekonyong-konyongnya lewat di depan mataku, Mbah Maridjan. Bersebelahan dengan warung tempat kita duduk ternyata rumahnya Mbah Maridjan. Tak terpikirkan sebelumnya olehku kalau aku akan bertemu dengannya. Sebagai seorang pemuda nun jauh di sumatera yang bersekolah di Jogja, hal ini adalah suatu ketakjuban luar biasa. Faktor pertama aku tak pernah tertarik akan semua ini, maksudnya Maridjan. Kapasitas ataupun kepopulerannya. Lalu, aku merasakan ini adalah mozaik kehidupan yang akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup ini. Kedua faktor itu yang akhirnya menghadirkan unsur kejutan.
Di kaki gunung, aku tiba-tiba merasa kecil dan hina. Dekat sekali suara adzan menggema di telinga. Menyerukan waktu sesaat untuk hadir kehadirat kuasaNya. Spirit beribadah langsung menyergap sanubariku. Mengesampingkan, kekotoran dan kesucianku selama ini. Aku sudah cukup suci untuk menyembahNya? Itu menjadi pertanyaan yang akan selalu mengikuti jejak langkah ini. Tersadar akan rasa hina, jika aku tak shalat Subuh. Aku melangkahkan kaki ke masjid yang tak jauh dari rumah Maridjan dan warung itu. Kubiarkan Rie menunggu. Selesai prosesi ibadah ini, aku menyalami mbah Maridjan. Sesaat aku keluar masjid, memakai alas kaki lagi, mbah Maridjan mengeluarkan kata-kata padaku. Itu sudah cukup sudah.
Atas petunjuk seorang bapak ketika giliran Rie shalat, kita sampai di lokasi penambangan pasir. Banyak orang di sana, banyak truk. Lembah bebatuan, curam, jalan yang terjal. Tak lama aku memposisikan diri sebagai asisten Rie. Membawakan tas kamera, buku catatannya, mengikuti wawancara. Hingga akhirnya ku biarkan dia sendiri. Kehadiranku mungkin agak mengganggu. Aku tiduran di susunan batu-batu. Aku tertidur sesaat. Sehari semalam tanpa tidur. Bergelimang di lokasi ini, cukup lama, kantuk tak tertahankan lagi.
Setelah data-data dan foto-foto yang dikira Rie cukup, kita keluar dari kancah dunia pertambangan ini. Kondisi di sana memprihatinkan jika tak bisa dibilang menyedihkan. Roda perekonomian yang menjurus pada kebutuhan hidup terus berputar. Hidup harus terus berjalan. Pendidikan anak-anak tentu menjadi hal paling prioritas. Boleh mengenyampingkan perasaan sesaat. Orang tua pada dasarnya akan melakukan apapun demi anaknya.
Sesekali kita harus menempatkan diri sebagai orang tua. Punya keluarga, anak-anak sebagai tanggungan hidup. Perjalanan pulang ke kota, dipenuhi pikiran ini.
Pagi-pagi jam 9 itu aku dan Rie beristirahat sejenak di rumah Eta.
Read More......
