Pertengahan Januari ini, seorang teman menempuh waktu 30 menit dari Bintaro ke Kebayoran Baru. Acara pertemuan, mumpung saya lagi di Jakarta. Dia teman sekelas waktu SMA. Sekarang kuliah di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) jurusan Administrasi Perpajakan. Selain itu, ada juga jurusan Akuntansi Pemerintahan, Bea dan Cukai, Piutang Lelang Negara, Pajak Bumi Bangunan Penilaian dan Pembendaharaan Negara. Saya menunggunya di depan Rumah Sakit Pertamina Pusat.
Dari sana kami ke kantor Pantau di Kebayoran Lama. Ada janji wawancara dengan Siti Nurrofiqoh, staf Pantau. Saya masih harus menunggu mbak Fiqoh datang. Sambil menunggu, saya dan teman duduk di atas gedung kantor Pantau sembari menikmati secangkir kopi. Di sela-sela obrolan, saya tanya bagaimana rasanya kuliah di STAN. Untuk masuk kampus ini standar tesnya tinggi sekali, kemampuan matematika harus kuat. Matematika bagi sebagian anak sekolah adalah momok.
Tapi jawaban yang saya dapatkan lain. “Biasa saja,” katanya, “Malah saya iri sama anak UI, ITB. UI mungkin lebih bagus dibanding STAN, analoginya jika output UI 200, STAN 110. Itu dengan input yang sama.”
Yang dimaksud output disini adalah dunia kerja, yang mengacu kepada kemampuan analisis. Di UI dan Trisakti juga ada jurusan pajak. Mereka lebih ke teori, STAN lebih unggul untuk pemahaman aplikasi keilmuan. Komposisi mahasiswa laki-laki dan perempuan berbanding 1:3. Memang ada prioritas untuk kaum “adam”.
“Kenapa begitu?”tanya saya.
“Mutasi pekerjaan. Laki-laki lebih gampang untuk berpindah-pindah dibanding perempuan.”
Secara garis besar ada dua macam pelajaran di sana, hitungan dan hafalan. Akuntasi dan Pajak, termasuk jurusan yang paling susah dalam pelajaran hitungan. Sama seperti mahasiswa fakultas hukum yang menghafal begitu panjang barisan undang-undang, mahasiswa STAN tak kalah banyak menghafal tentang pajak. Berkutat dengan angka-angka menjadi makanan sehari-hari. Sangat jarang membahas “dunia luar”, kalaupun ada biasanya mereka berdiskusi tentang dinamika Departemen Keuangan. Mengenai kebijakan yang dikeluarkan terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Karena muaranya setelah mereka lulus akan ditempatkan di Departemen Keuangan, misalnya di Departemen Pajak, Bea Cukai, KPPN atau BKF. Tapi bisa juga di instansi non-Depkeu, seperti BPKP, BPK atau Bapeppam. Sistem kuliahnya bisa dibilang santai tapi ujiannya sangat sulit.
“Pernah awak kuliah hitungannya 3 SKS, seharusnya 4 kali pertemuan, tapi cuma dijadikan 2 jam. Pas ujian, beuhh …,” Renrefli tak menyelesaikan kalimatnya. Dia hanya mengangkat kedua tangannya ke atas tanda menyerah.
“Ya karena tuntutan IPK harus di atas 2.75 bia indak di DO, terpaksa belajar keras setiap sebelum ujian”, sambungnya.
Kebanyakan mahasiswanya adalah orang jawa, hampir sebagian besar. STAN itu untuk orang jawa. Ini isu yang kebanyakan berkembang di kalangan mahasiswa non-jawa. Karena stereotipe sudah terlalu lama dikuasai orang jawa. Renrefli pernah bertanya kepada salah seorang temannya yang baru lulus saat test ketiga kalinya. Orang tuanya lebih senang dia jadi birokrat dengan kuliah yang setelah lulus langsung dapat kerja. Dia menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah budaya jawa, yang menganggap kerja di kantor pemerintahan itu lebih baik.
Kalau benar begitu saya berfiir mungkin ada hubungannya dengan sejarah kolonial Belanda. Penetrasi terhadap budaya jawa. Saya teringat cerita Pram, khususnya beberapa bagian di Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.
Read More......
Senin, 19 Januari 2009
Persepsi Mas Raka
Pagi minggu, dekat kawasan Graha Saba Pramana konsentrasi kerumunan massa dan kendaraan tumpah ruah. Orang-orang joging diantara berbagai macam kuliner dijajakan. 500 meter ke arah utara, ada perempatan lampu merah. Orang-orang lebih mengenal dengan nama perempatan MM UGM. Utara perempatan menuju Kaliurang atas. Timur ke arah kehutanan UGM. Di sebelah barat ke jalan Sardjito, Rumah Sakit Umum Dr.Sardjito dan kampus Fakultas Teknik UGM melalui jalan ini. Di sisi timur kanan perempatan ada pos polisi, di depan pos sebuah plang terpancang “Polisi Sektor Bulaksumur”.
Rambutnya panjang hingga ke bahu, keseluruhannya hitam walau beberapa helai telah berubah menjadi putih. Pandangan matanya tajam, sesekali lidahnya membasahi bibir. Kumis tebal dan janggut yang dibiarkan panjang menambah kesan sangar. Tubuhnya tidak terlalu besar, malah cenderung kurus tapi kekar dan hitam legam terbakar matahari. Hem biru yang kancingnya dibiarkan terbuka melapisi badannya. Ditambah rompi hijau hitam bersaku di bagian bawah, dipungung rompi tertulis Harjo.
“Maaf mas agak telat dari janji kita kemaren, biasalah hari minggu jadi agak nyantai”, katanya ketika saya langsung mendekatinya. Perempuan di sampingnya menyunggingkan senyum. Tak berbeda jauh penampilannya. Kaos putih hitam dilapisi rompi yang sama bertulis Harjo di punggungnya. Tak ketinggalan manset hitam terpasang dari lengan hingga pergelangan tangannya.
“Jadi gimana mas, mau langsung coba jualan? Udah agak siang sebaiknya langsung aja”, ujarnya sambil menyerahkan beberapa eksemplar koran hari itu. “Koran Tempo 1000 rupiah, Harjo 2000, Kompas dan KR masing-masing 3500 dan 2500 rupiah”,sambungnya.
“Nanti kita pisah, saya dan istri saya di sini mas di utara, sekarang udah setengah sembilan jam sebelas kita kumpul lagi sekalian istirahat”, tangannya sibuk memisahkan koran-koran sambil memberi instruksi dengan cepat.
Tak punya pilihan saya langsung memisahkan diri dari mereka, menuju ke utara perempatan. Dua setengah jam ke depan saya akan mencoba menjadi seorang penjaja koran di jalanan. Sekitar 60 detik saya menawarkan dagangan ke orang-orang yang berhenti, sebelum berjalan lagi. Dan menunggu tiga sisi lainnya sebelum traffic light di posisi saya lampu merahnya menyala kembali. Sesekali saya melempar pandang kepada mas Raka, begitu namanya ketika mengenalkan diri kemaren. Tubuhnya timbul tenggelam diantara mobil dan sepeda motor. Istrinya lebih banyak mengambil tempat di sisi trotoar.
Matahari sebentar lagi akan di atas kepala, saya semakin sering menoleh ke arah seberang. Hingga koran di tangan seorang di seberang bergerak-gerak ke kiri dan kanan. Saya berdiri tegak dan lambaian tangan mas Raka menyuruh saya menuju ke tempatnya. Setengah berlari dengan koran yang masih tersisa di tangan dalam hitungan 10 detik saya sudah berada di dekatnya.
“Gimana mas?capek ya?”,tanyanya sambil mengambil posisi duduk di pagar trotoar.
“Lumayan, maaf ga kejual semua mas”, dengan menyerahkan sisa koran dan lembaran duit dari koran yang terjual saya menjawab.
“Yo ra opo-opo to mas, lagian kan mas hanya ingin merasakan gimana jualan koran to? Ga enak to mas?”, ujarnya sambil melirik istrinya. Si istri tersenyum-senyum saja.
“Ga apa-apa kok mas, sekalian bisa langsung masuk ke inti tentang tujuan saya”, saya menjelaskan panjang sekali lagi kepada mas Raka, bahwa saya ingin mewancarainya. Karena ingin menulis cerita tentang kehidupan penjual koran, suka duka di jalanan, keluarga dan sebagainya. “Owalah mas, saya kira mas ingin ikutan jual koran dari pagi sampai pulang, ra ngerti kalo cuma mau wawancara wae”, dia bicara dengan mimik menyesal.
Read More......
Rambutnya panjang hingga ke bahu, keseluruhannya hitam walau beberapa helai telah berubah menjadi putih. Pandangan matanya tajam, sesekali lidahnya membasahi bibir. Kumis tebal dan janggut yang dibiarkan panjang menambah kesan sangar. Tubuhnya tidak terlalu besar, malah cenderung kurus tapi kekar dan hitam legam terbakar matahari. Hem biru yang kancingnya dibiarkan terbuka melapisi badannya. Ditambah rompi hijau hitam bersaku di bagian bawah, dipungung rompi tertulis Harjo.
“Maaf mas agak telat dari janji kita kemaren, biasalah hari minggu jadi agak nyantai”, katanya ketika saya langsung mendekatinya. Perempuan di sampingnya menyunggingkan senyum. Tak berbeda jauh penampilannya. Kaos putih hitam dilapisi rompi yang sama bertulis Harjo di punggungnya. Tak ketinggalan manset hitam terpasang dari lengan hingga pergelangan tangannya.
“Jadi gimana mas, mau langsung coba jualan? Udah agak siang sebaiknya langsung aja”, ujarnya sambil menyerahkan beberapa eksemplar koran hari itu. “Koran Tempo 1000 rupiah, Harjo 2000, Kompas dan KR masing-masing 3500 dan 2500 rupiah”,sambungnya.
“Nanti kita pisah, saya dan istri saya di sini mas di utara, sekarang udah setengah sembilan jam sebelas kita kumpul lagi sekalian istirahat”, tangannya sibuk memisahkan koran-koran sambil memberi instruksi dengan cepat.
Tak punya pilihan saya langsung memisahkan diri dari mereka, menuju ke utara perempatan. Dua setengah jam ke depan saya akan mencoba menjadi seorang penjaja koran di jalanan. Sekitar 60 detik saya menawarkan dagangan ke orang-orang yang berhenti, sebelum berjalan lagi. Dan menunggu tiga sisi lainnya sebelum traffic light di posisi saya lampu merahnya menyala kembali. Sesekali saya melempar pandang kepada mas Raka, begitu namanya ketika mengenalkan diri kemaren. Tubuhnya timbul tenggelam diantara mobil dan sepeda motor. Istrinya lebih banyak mengambil tempat di sisi trotoar.
Matahari sebentar lagi akan di atas kepala, saya semakin sering menoleh ke arah seberang. Hingga koran di tangan seorang di seberang bergerak-gerak ke kiri dan kanan. Saya berdiri tegak dan lambaian tangan mas Raka menyuruh saya menuju ke tempatnya. Setengah berlari dengan koran yang masih tersisa di tangan dalam hitungan 10 detik saya sudah berada di dekatnya.
“Gimana mas?capek ya?”,tanyanya sambil mengambil posisi duduk di pagar trotoar.
“Lumayan, maaf ga kejual semua mas”, dengan menyerahkan sisa koran dan lembaran duit dari koran yang terjual saya menjawab.
“Yo ra opo-opo to mas, lagian kan mas hanya ingin merasakan gimana jualan koran to? Ga enak to mas?”, ujarnya sambil melirik istrinya. Si istri tersenyum-senyum saja.
“Ga apa-apa kok mas, sekalian bisa langsung masuk ke inti tentang tujuan saya”, saya menjelaskan panjang sekali lagi kepada mas Raka, bahwa saya ingin mewancarainya. Karena ingin menulis cerita tentang kehidupan penjual koran, suka duka di jalanan, keluarga dan sebagainya. “Owalah mas, saya kira mas ingin ikutan jual koran dari pagi sampai pulang, ra ngerti kalo cuma mau wawancara wae”, dia bicara dengan mimik menyesal.
Read More......
Senin, 05 Januari 2009
Kepercayaan Lokal Menjawab Persoalan Global Warming
Sejauh mana filsafat dalam aspek-aspek kosmologi memaknai global warming
Filsafat pada umumnya membahas dan mengkaji hal-hal yang mendasar. Dalam menyikapinya terkadang perlu ada sinkronisasi dalam memaknai antara yang umum dan khusus. Dalam pemahaman filsafat juga mengacu kepada being and non-being. Lalu tercabang kepada permasalahan yang melingkupi objek-objek filosofis. Kosmologi yang secara paling umum disebut sebagai ilmu pengetahuan tentang alam atau dunia. Kosmologi tidak kerap membicarakan tentang benda material yang mati saja seperti batu, udara dan sebagainya. Tetapi kemudian juga melangkah jauh kepada makhluk-makhluk yang hidup di atasnya, manusia dan sebagainya. Kosmologi berangkat dari keseluruhan aktivitas duniawi, yang membahas segala macam tentang dunia dan materi-materinya. Seperti permasalahan ruang dan waktu yang mendasari perbedaan antara kuantitas dan kualitas. Maka dapat dikatakan bahwa sifat kosmologi adalah lebih luas dan mendasar tentang segala keuniversalan alam (nature). Kosmologi dalam diskursus filsafat mempelajari manusia dan kosmos sebagai “objek”, yaitu suatu kenyataan objektif dengan struktur dan arahnya sendiri. Setiap topik yang berkembang dalam pembicaraan kosmologi dapat dan sepertinya harus disertai dengan analisis konsekuensi-konsekuensi bagi pengetahuan.
Substansi dalam kosmos secara khusus dapat diambil kesimpulan bahwa manusia memiliki keunggulan di dalam kosmos. Jadi peran penting manusia sebagai sasaran dan puncak seluruh evolusi kosmis terlihat disini. Dalam tulisan ini saya menjadikan manusia sebagai subjek yang berhadapan dengan aktivitas alam. Gejala-gejala alam tidak pernah lepas dari andil manusia dalam mencapai tempat tertinggi kepadatan dan kekayaan yang menentukan kosmos. Manusia adalah pengkosmos. Dengan begitu muncul keinginan dan kemutlakan bagi manusia, dengan sendirinya manusia dibebani tanggung jawab dan kebebasan yang mutlak, dalam hal ini terhadap alam.
Filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche dengan radikal mengatakan bahwa kehendak berkuasa adalah “dunia”. Gagasan Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa ini merupakan saripati dari seluruh petualangan pemikiran Nietzsce, kesimpulan ini merupakan hasil-hasil percobaan (Versuch) lewat kontemplasi yang panjang, bukan ditarik begitu saja dari premis-premis silogisme yang dituangkan dalam suatu tulisan yang sistematis.
Melalui metode filsafatnya yang menghasilkan tulisan-tulisan yang tidak terikat pada suatu sistem, Nietzsche menemukan bahwa kehendak untuk berkuasa merupakan prinsip dari seluruh kehidupan manusia dan alam (St. Sunardi, 1996).
Kelanjutan dalam berbagai aspek dari gagasan Nietzsche tersebut, politik, negara moralitas dan sebagainya. Tentang kedudukan manusia dalam dunia (die Sonder Stellung des Menschen im Cosmos). Nietzsche menolak gagasan bahwa manusia hanyalah merupakan anugerah yang diberikan alam sebagaimana yang dikemukan Charles Darwin. Nietzsche juga tidak menyetujui pandangan religius yang mengakui bahwa manusia adalah rahmat ilahi. Menurut Nietzsche kedudukan manusia terletak diantara binatang dan apa yang disebut Ubermansch. Yang membedakannya adalah bahwa manusia mempunyai tujuan yang hanya dapat dicapai oleh manusia itu sendiri dengan menggunakan kemampuan (potensia) dan kemungkinan untuk mengatasi dirinya. Manusia yang tidak merealisasikan kemungkinan dan potensi-potensinya akan tetap sebagai status binatang. Ubermansch adalah semacam manusia “ideal” yang dapat merealisasikan semua kemungkinannya “aussereste Moglichkeit des Menschen” (Curt Freidlein,1984).
Sejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuwan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di bumi selalu berubah. Pada abad 19, studi mengenai iklim mulai mengetahui tentang kandungan gas yang berada di atmosfer, disebut “gas rumah kaca”, yang bisa mempengaruhi iklim di bumi. Gas rumah kaca adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, jika tidak, tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka bumi. Secara umum karbondioksida adalah penyumbang utama gas kaca. Sumber utama peningkatan konsentrasi karbondioksida adalah penggunaan bahan bakar fosil, ditambah pengaruh perubahan permukaan tanah (pembukaan lahan, penebangan hutan, pembakaran hutan, mencairnya es). Dalam arti lain aktivitas manusia dari agrikultural.
Salah satu perspektif yang berkembang mengatakan bahwa manusia-lah yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2007, menunjukkan bahwa secara rata-rata global aktivitas manusia semenjak 1750 menyebabkan adanya pemanasan. Perubahan kelimpahan gas rumah kaca dan aerosol akibat radiasi matahari dan keseluruhan permukaan bumi mempengaruhi keseimbangan energi sistem iklim.
Manusia adalah makhluk yang bereksistensi terus menerus, memerlukan alam sebagai wadah untuk kegiatan survivalnya tersebut. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mempengaruhi kemampuan manusia melaksanakan “kehendak untuk berkuasa”. Lalu, apa yang menyebabkan alam menjadi salah satu ancaman terbesar manusia dan lingkungannya pada semester? Yang berkembang sekarang adalah pemanasan global, yang membuat ilmuawan ataupun yang berkepentingan terhadap hal ini menekankan pada masyarakat (manusia-manusia) bahwa ini ancaman terhadap kelangsungan manusia yang berangkat dari “kehendak untuk berkuasa” tadi.
Dalam kepercayaan masyarakat tradisional bahkan modern sekalipun, takhayul menjadi satu bagian penting dalam berhubungan dengan alam. Ada yang merasa salah dengan takhayul karena kesadaran modern membebaskan manusia dari takhayul, dari batas dan ketakutan yang disebabkan oleh hal-hal yang tidak dapat dibuktikan atau diterangkan dengan akal sehat. Takhayul mewarnai kepercayaan lokal. Salah satu kontribusi yang dapat diterapkan terhadap permasalahan pemanasan global ini adalah menghidupkan kepercayaan lokal yang di dalamnya terkandung cerita dan ajaran-ajaran yang filosofis. Pada masa silam manusia takut bukan kepada Tuhan (sebelum agama monoteisme ada), melainkan kepada alam. Alam dipercaya keramat, dengan demikian tak boleh disewenangi. Pemanfaatannya harus dengan permisi dan dalam batas-batas yang tahu diri. Pada hari-hari tertentu pepohonan tua diberi sesajen. Kepada gunung dan kawah purba diupacarakan persembahan. Pada musim-musim tertentu (terutama musim birahi binatang) manusia pamali berburu. Manusia tidak punya mesin pendingin untuk menyimpan daging sehingga membunuh secukupnya yang bisa dimakan. Seperti singa, mereka tidak membunuh rusa beberapa ekor sekaligus lalu menyimpannya dalam “kulkas”. Maka tak ada hewan atau pepohonan yang dibantai (dibantai dalam arti dihabiskan dalam jumlah berlebihan). Semua makhluk hidup dalam keadaan seimbang. Seperti Yin Yang, dalam filsafat Cina.
Keseimbangan dan rasa takut sekaligus menghormati alam membuat struktur alam seimbang. Setidaknya dari segi ini dapat mengerem produktivitas dan keinginan manusia untuk berkuasa termasuk alam dan dunia seperti yang dikatakan Nietzsche. Bahwa ada nilai-nilai tradisional yang harus diperhatikan.
Read More......
Filsafat pada umumnya membahas dan mengkaji hal-hal yang mendasar. Dalam menyikapinya terkadang perlu ada sinkronisasi dalam memaknai antara yang umum dan khusus. Dalam pemahaman filsafat juga mengacu kepada being and non-being. Lalu tercabang kepada permasalahan yang melingkupi objek-objek filosofis. Kosmologi yang secara paling umum disebut sebagai ilmu pengetahuan tentang alam atau dunia. Kosmologi tidak kerap membicarakan tentang benda material yang mati saja seperti batu, udara dan sebagainya. Tetapi kemudian juga melangkah jauh kepada makhluk-makhluk yang hidup di atasnya, manusia dan sebagainya. Kosmologi berangkat dari keseluruhan aktivitas duniawi, yang membahas segala macam tentang dunia dan materi-materinya. Seperti permasalahan ruang dan waktu yang mendasari perbedaan antara kuantitas dan kualitas. Maka dapat dikatakan bahwa sifat kosmologi adalah lebih luas dan mendasar tentang segala keuniversalan alam (nature). Kosmologi dalam diskursus filsafat mempelajari manusia dan kosmos sebagai “objek”, yaitu suatu kenyataan objektif dengan struktur dan arahnya sendiri. Setiap topik yang berkembang dalam pembicaraan kosmologi dapat dan sepertinya harus disertai dengan analisis konsekuensi-konsekuensi bagi pengetahuan.
Substansi dalam kosmos secara khusus dapat diambil kesimpulan bahwa manusia memiliki keunggulan di dalam kosmos. Jadi peran penting manusia sebagai sasaran dan puncak seluruh evolusi kosmis terlihat disini. Dalam tulisan ini saya menjadikan manusia sebagai subjek yang berhadapan dengan aktivitas alam. Gejala-gejala alam tidak pernah lepas dari andil manusia dalam mencapai tempat tertinggi kepadatan dan kekayaan yang menentukan kosmos. Manusia adalah pengkosmos. Dengan begitu muncul keinginan dan kemutlakan bagi manusia, dengan sendirinya manusia dibebani tanggung jawab dan kebebasan yang mutlak, dalam hal ini terhadap alam.
Filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche dengan radikal mengatakan bahwa kehendak berkuasa adalah “dunia”. Gagasan Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa ini merupakan saripati dari seluruh petualangan pemikiran Nietzsce, kesimpulan ini merupakan hasil-hasil percobaan (Versuch) lewat kontemplasi yang panjang, bukan ditarik begitu saja dari premis-premis silogisme yang dituangkan dalam suatu tulisan yang sistematis.
Melalui metode filsafatnya yang menghasilkan tulisan-tulisan yang tidak terikat pada suatu sistem, Nietzsche menemukan bahwa kehendak untuk berkuasa merupakan prinsip dari seluruh kehidupan manusia dan alam (St. Sunardi, 1996).
Kelanjutan dalam berbagai aspek dari gagasan Nietzsche tersebut, politik, negara moralitas dan sebagainya. Tentang kedudukan manusia dalam dunia (die Sonder Stellung des Menschen im Cosmos). Nietzsche menolak gagasan bahwa manusia hanyalah merupakan anugerah yang diberikan alam sebagaimana yang dikemukan Charles Darwin. Nietzsche juga tidak menyetujui pandangan religius yang mengakui bahwa manusia adalah rahmat ilahi. Menurut Nietzsche kedudukan manusia terletak diantara binatang dan apa yang disebut Ubermansch. Yang membedakannya adalah bahwa manusia mempunyai tujuan yang hanya dapat dicapai oleh manusia itu sendiri dengan menggunakan kemampuan (potensia) dan kemungkinan untuk mengatasi dirinya. Manusia yang tidak merealisasikan kemungkinan dan potensi-potensinya akan tetap sebagai status binatang. Ubermansch adalah semacam manusia “ideal” yang dapat merealisasikan semua kemungkinannya “aussereste Moglichkeit des Menschen” (Curt Freidlein,1984).
Sejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuwan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di bumi selalu berubah. Pada abad 19, studi mengenai iklim mulai mengetahui tentang kandungan gas yang berada di atmosfer, disebut “gas rumah kaca”, yang bisa mempengaruhi iklim di bumi. Gas rumah kaca adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, jika tidak, tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka bumi. Secara umum karbondioksida adalah penyumbang utama gas kaca. Sumber utama peningkatan konsentrasi karbondioksida adalah penggunaan bahan bakar fosil, ditambah pengaruh perubahan permukaan tanah (pembukaan lahan, penebangan hutan, pembakaran hutan, mencairnya es). Dalam arti lain aktivitas manusia dari agrikultural.
Salah satu perspektif yang berkembang mengatakan bahwa manusia-lah yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2007, menunjukkan bahwa secara rata-rata global aktivitas manusia semenjak 1750 menyebabkan adanya pemanasan. Perubahan kelimpahan gas rumah kaca dan aerosol akibat radiasi matahari dan keseluruhan permukaan bumi mempengaruhi keseimbangan energi sistem iklim.
Manusia adalah makhluk yang bereksistensi terus menerus, memerlukan alam sebagai wadah untuk kegiatan survivalnya tersebut. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mempengaruhi kemampuan manusia melaksanakan “kehendak untuk berkuasa”. Lalu, apa yang menyebabkan alam menjadi salah satu ancaman terbesar manusia dan lingkungannya pada semester? Yang berkembang sekarang adalah pemanasan global, yang membuat ilmuawan ataupun yang berkepentingan terhadap hal ini menekankan pada masyarakat (manusia-manusia) bahwa ini ancaman terhadap kelangsungan manusia yang berangkat dari “kehendak untuk berkuasa” tadi.
Dalam kepercayaan masyarakat tradisional bahkan modern sekalipun, takhayul menjadi satu bagian penting dalam berhubungan dengan alam. Ada yang merasa salah dengan takhayul karena kesadaran modern membebaskan manusia dari takhayul, dari batas dan ketakutan yang disebabkan oleh hal-hal yang tidak dapat dibuktikan atau diterangkan dengan akal sehat. Takhayul mewarnai kepercayaan lokal. Salah satu kontribusi yang dapat diterapkan terhadap permasalahan pemanasan global ini adalah menghidupkan kepercayaan lokal yang di dalamnya terkandung cerita dan ajaran-ajaran yang filosofis. Pada masa silam manusia takut bukan kepada Tuhan (sebelum agama monoteisme ada), melainkan kepada alam. Alam dipercaya keramat, dengan demikian tak boleh disewenangi. Pemanfaatannya harus dengan permisi dan dalam batas-batas yang tahu diri. Pada hari-hari tertentu pepohonan tua diberi sesajen. Kepada gunung dan kawah purba diupacarakan persembahan. Pada musim-musim tertentu (terutama musim birahi binatang) manusia pamali berburu. Manusia tidak punya mesin pendingin untuk menyimpan daging sehingga membunuh secukupnya yang bisa dimakan. Seperti singa, mereka tidak membunuh rusa beberapa ekor sekaligus lalu menyimpannya dalam “kulkas”. Maka tak ada hewan atau pepohonan yang dibantai (dibantai dalam arti dihabiskan dalam jumlah berlebihan). Semua makhluk hidup dalam keadaan seimbang. Seperti Yin Yang, dalam filsafat Cina.
Keseimbangan dan rasa takut sekaligus menghormati alam membuat struktur alam seimbang. Setidaknya dari segi ini dapat mengerem produktivitas dan keinginan manusia untuk berkuasa termasuk alam dan dunia seperti yang dikatakan Nietzsche. Bahwa ada nilai-nilai tradisional yang harus diperhatikan.
Read More......
Menyuruh = Membunuh
Aku tak suka disuruh-suruh…
Kenapa orang masih suka menyuruh-nyuruh
Bahkan Tuhan pun menyuruh
Banyak pilihan untuk menjadi islam statistik
Begitu agama aku
Tak sembahyang, tak puasa dan seterusnya
Jadi hanya untuk memenuhin statistik saja
Kenapa ada kebenaran yang fungsional dan yang
Filosofis, tidak dapat diukur Read More......
Kenapa orang masih suka menyuruh-nyuruh
Bahkan Tuhan pun menyuruh
Banyak pilihan untuk menjadi islam statistik
Begitu agama aku
Tak sembahyang, tak puasa dan seterusnya
Jadi hanya untuk memenuhin statistik saja
Kenapa ada kebenaran yang fungsional dan yang
Filosofis, tidak dapat diukur Read More......
Sahabat Adalah Bumi
Pernahkah kita menemukan seorang sahabat?
Lalu kita berfikir apa sahabat, seperti apa sahabat itu. Kemudian kita memunculkan banyak pendapat tentang apa yang kita fikirkan.
Sahabat menjadi kehidupan kita, menelusuri setiap jalan yang pernah dan akan kita lalui. Sosok seperti apa saja yang telah kita kenal?
Sahabat yang mengkhianati kita, pernahkah kita bagi hidup kita ke dia, baik materi ataupun immateri. Kita percayakan semua kepadanya. Kirimkan cerita detail hari-hari kita, masalah rumah tangga hingga hal-hal remeh temeh. Terkadang masaih menyimpan semua yang patut dirahasiakan atau seperti yang dibilang di awal tadi, sahabat itu berubah menjadi monster, sebelumnya menjelma menjadi parasit lalu menghisap darah kita sampai habis. Bisa dibilang itu pengkhianatan. Seperti dunia mafia “dibalik pengkhianatan ada pengkhianatan”. Megerikan memang!! Sebaiknya kita mengenal dan belajar dunia mafia dari sekarang.
Sahabat yang merasakan hidup susah dari kecil dengan kita, dikemurnian desa yang terkadang munafik atau di kesumpekan kota yang terkadang berlebihan. Kita dan sahabat sama-sama mati rasa. Tak kenal hujan, panas semuanya pernah terlewati melalui jalanan kota dan pematang sawah. Dingin malam hadir dalam memori menusuk. Kejamnya segala hal yang kejam telah terlewatkan. Perpisahan mengakhiri segalanya, lalu berbilang waktu dalam tahun kita bertemu lagi. Mencolok perbedaan yang nasib tentukan, berbeda wajah baik dan buruk, entah siapa yang akan memiliki. Disindir dan ditamparlah kita yang kalau beruntung bisa membuat kita bangkit. Lubang-lubang kehidupan yang membuat terjerumus, terbujuk bayangan mimpi yang indah. Lalu terpisah dendam. Sendiri-sendiri menepi, tanpa seseorang yang sanggup mengerti (dari sebuah lagu yang akan menjadi tinjauan dalam rencana skripsi). Seorang sahabat yang telah berjanji akan membantu prosesnya nanti. Semoga tidak hanya membatu. Sahabat membuat kita punya tanggung jawab.
Sahabat yang hanya ada dalam khayalan, besar kecil kemungkinan bisa bertemu. Tapi memberi arti besar, seakan di dalam darah mengalir darahnya, dalam detak jantung berdenyut dia. Hanya bisa melihat dari jauh dan membersitkan rasa kebanggaan lebih dari kebangsaan. Karena dengan tangannya lewat kreativitasnya semua seragam dalam kebersamaan yang fanatik, tak habis-habis.
Sahabat yang mati dalam pelukan dia. Cerita ketika menumpang kereta batu bara. Tergencet antara gerbong dan gerbong. Panas beruap, peluh meluap sepanjang jalan. Sahabat sama-sama melompat dan sayangnya lompatan sahabat disambut batu pada kepalanya. Mati berdarah mengenai tangan kita. Masih bergerak dan meringis ketika ia meregang nyawa. Mati, hingga ke kuburannya. Sekarang kita memiliki putra dan putri seumuran sahabat yang dulu mati, masa sekolah. Masih terkenang darah yang masih tergenang di tangan.
Sahabat yang kita jejakkan setiap hari, yang kita buangkan kotoran-kekotoran padanya. Madu dan airnya kita manfaatkan. Semuanya kita ambil. Tapi dia tidak bisa menolak, suatu saat dia akan menolak dengan bencana. Karena sahabat itu adalah bumi.
Read More......
Lalu kita berfikir apa sahabat, seperti apa sahabat itu. Kemudian kita memunculkan banyak pendapat tentang apa yang kita fikirkan.
Sahabat menjadi kehidupan kita, menelusuri setiap jalan yang pernah dan akan kita lalui. Sosok seperti apa saja yang telah kita kenal?
Sahabat yang mengkhianati kita, pernahkah kita bagi hidup kita ke dia, baik materi ataupun immateri. Kita percayakan semua kepadanya. Kirimkan cerita detail hari-hari kita, masalah rumah tangga hingga hal-hal remeh temeh. Terkadang masaih menyimpan semua yang patut dirahasiakan atau seperti yang dibilang di awal tadi, sahabat itu berubah menjadi monster, sebelumnya menjelma menjadi parasit lalu menghisap darah kita sampai habis. Bisa dibilang itu pengkhianatan. Seperti dunia mafia “dibalik pengkhianatan ada pengkhianatan”. Megerikan memang!! Sebaiknya kita mengenal dan belajar dunia mafia dari sekarang.
Sahabat yang merasakan hidup susah dari kecil dengan kita, dikemurnian desa yang terkadang munafik atau di kesumpekan kota yang terkadang berlebihan. Kita dan sahabat sama-sama mati rasa. Tak kenal hujan, panas semuanya pernah terlewati melalui jalanan kota dan pematang sawah. Dingin malam hadir dalam memori menusuk. Kejamnya segala hal yang kejam telah terlewatkan. Perpisahan mengakhiri segalanya, lalu berbilang waktu dalam tahun kita bertemu lagi. Mencolok perbedaan yang nasib tentukan, berbeda wajah baik dan buruk, entah siapa yang akan memiliki. Disindir dan ditamparlah kita yang kalau beruntung bisa membuat kita bangkit. Lubang-lubang kehidupan yang membuat terjerumus, terbujuk bayangan mimpi yang indah. Lalu terpisah dendam. Sendiri-sendiri menepi, tanpa seseorang yang sanggup mengerti (dari sebuah lagu yang akan menjadi tinjauan dalam rencana skripsi). Seorang sahabat yang telah berjanji akan membantu prosesnya nanti. Semoga tidak hanya membatu. Sahabat membuat kita punya tanggung jawab.
Sahabat yang hanya ada dalam khayalan, besar kecil kemungkinan bisa bertemu. Tapi memberi arti besar, seakan di dalam darah mengalir darahnya, dalam detak jantung berdenyut dia. Hanya bisa melihat dari jauh dan membersitkan rasa kebanggaan lebih dari kebangsaan. Karena dengan tangannya lewat kreativitasnya semua seragam dalam kebersamaan yang fanatik, tak habis-habis.
Sahabat yang mati dalam pelukan dia. Cerita ketika menumpang kereta batu bara. Tergencet antara gerbong dan gerbong. Panas beruap, peluh meluap sepanjang jalan. Sahabat sama-sama melompat dan sayangnya lompatan sahabat disambut batu pada kepalanya. Mati berdarah mengenai tangan kita. Masih bergerak dan meringis ketika ia meregang nyawa. Mati, hingga ke kuburannya. Sekarang kita memiliki putra dan putri seumuran sahabat yang dulu mati, masa sekolah. Masih terkenang darah yang masih tergenang di tangan.
Sahabat yang kita jejakkan setiap hari, yang kita buangkan kotoran-kekotoran padanya. Madu dan airnya kita manfaatkan. Semuanya kita ambil. Tapi dia tidak bisa menolak, suatu saat dia akan menolak dengan bencana. Karena sahabat itu adalah bumi.
Read More......
Sabtu, 08 November 2008
Indonesia, MUAK!!!!
Di negeri seberang orang berjuang untuk bangsanya,
di sini orang berjuang untuk kroni dan diri sendiri
Read More......
di sini orang berjuang untuk kroni dan diri sendiri
Read More......
Kamis, 06 November 2008
RASIALISME TELAH USANG
Terserah Barack Obama akan merealisasikan agenda dan program kerja yang dia rancang dan koar-koarkan selama masa kampanya yang panjang. Dari Hillary Clinton sampai John McCain sekarang. McCain menambah aroma perperangan dengan seorang rupawan, Sarah Palin. Namanya enak diucapkan, tak terlalu ribet seperti nama Eropa dan Amerika lainnya. Saya juga tak mengerti bagaimana mengucapkan nama dan kata, tapi tetap saja enak SARAH PALIN.
Apalagi seorang teman yang jika telah membicarakan pemilihan presiden di Amerika, yang paling pertama dia lontarkan adalah boot-nya Sarah Palin. “Keren banget, seorang calon wakil presiden perempuan, alamak boot-nya itu, sudah seperti artis saja”, dia mencerocos. Akibatnya saya searching di google dengan memasukkan kata Sarah Palin dan ternyata memang cantik. Panjang pula informasi media tentangnya, menghabiskan dana kampanye untuk berdandan dia dan keluarga, ya termasuk anak-anaknya itu. Lalu kebijaksanaannya yang memecat seorang pegawai pemerintahan, semacam polisi ya? Saya lupa dan malas membalik-balik koran lagi. Tapi Sarah Palin tak akan jadi wakil presiden, mungkin tetap saja jadi Gubernur di salah satu negara bagian seperti sebelumnya, atau dia telah meletakkan jabatannya?
Obama mengukir sejarah, akhirnya tercapai juga cita-cita Martin Luther King untuk memperjuangkan persamaan hak bagi warga kulit hitam di Amerika 45 tahun silam. Kita pun warga Indonesia dibuat sibuk dengan pemilihan presiden Amerika ini, kita bermil-mil jauhnya dari mereka. Ada dari kita yang merasakan kebanggaan dan kesenangan atas kemenangan Obama, ada juga yang tak terlalu peduli, apalagi mereka yang selama ini menentang dan sangat membenci Amerika. Padahal tak tahu apa yang terjadi, apa yang mereka benci, entah ajaran dari siapa yang mereka dapat. Ini lepas dari kepentingan politik dan ekonomi. Kepentingan agama tak dapat disangkut-pautkan.
Yang jelas Amerika menunjukkan pada kita semua. Semua manusia punya harkat, martabat, dan hak yang sama termasuk menjadi seorang presiden.
Dalam editorial koran Tempo, 6 November 2008, di negara ini, Indonesia, diskriminasi dan rasialisme masih terjadi kendati undang-undang, bahkan konstitusi, telah diperbaiki. Dalam Undang Undang Dasar 1945 yang diamandemen, misalnya syarat seorang presiden dan wakil presiden tak lagi mengharuskan orang Indonesia “asli” tapi cukup terlahir sebagai warga negara Indonesia.
Persoalannya, dikotomi kesukuan, Jawa dan luar Jawa, masih terasa. Bangsa ini seolah belum bisa menerima kenyataan seorang presiden bisa terlahir dari suku non-Jawa. Dikotomi agama pun kerap jadi masalah. Padahal Amerika telah menyelesaikan soal ini hampir setengah abad silam, ketika John F.Kennedy tampil menjadi presiden pertama dari kaum katolik yang mayoritas.
Ya begitulah bangsa ini, penuh kekerasan, primordialis, dan bermental miskin. Tak semua memang, tapi sebagian cukup menggambarkan itu kan?
Sudahlah
Read More......
Apalagi seorang teman yang jika telah membicarakan pemilihan presiden di Amerika, yang paling pertama dia lontarkan adalah boot-nya Sarah Palin. “Keren banget, seorang calon wakil presiden perempuan, alamak boot-nya itu, sudah seperti artis saja”, dia mencerocos. Akibatnya saya searching di google dengan memasukkan kata Sarah Palin dan ternyata memang cantik. Panjang pula informasi media tentangnya, menghabiskan dana kampanye untuk berdandan dia dan keluarga, ya termasuk anak-anaknya itu. Lalu kebijaksanaannya yang memecat seorang pegawai pemerintahan, semacam polisi ya? Saya lupa dan malas membalik-balik koran lagi. Tapi Sarah Palin tak akan jadi wakil presiden, mungkin tetap saja jadi Gubernur di salah satu negara bagian seperti sebelumnya, atau dia telah meletakkan jabatannya?
Obama mengukir sejarah, akhirnya tercapai juga cita-cita Martin Luther King untuk memperjuangkan persamaan hak bagi warga kulit hitam di Amerika 45 tahun silam. Kita pun warga Indonesia dibuat sibuk dengan pemilihan presiden Amerika ini, kita bermil-mil jauhnya dari mereka. Ada dari kita yang merasakan kebanggaan dan kesenangan atas kemenangan Obama, ada juga yang tak terlalu peduli, apalagi mereka yang selama ini menentang dan sangat membenci Amerika. Padahal tak tahu apa yang terjadi, apa yang mereka benci, entah ajaran dari siapa yang mereka dapat. Ini lepas dari kepentingan politik dan ekonomi. Kepentingan agama tak dapat disangkut-pautkan.
Yang jelas Amerika menunjukkan pada kita semua. Semua manusia punya harkat, martabat, dan hak yang sama termasuk menjadi seorang presiden.
Dalam editorial koran Tempo, 6 November 2008, di negara ini, Indonesia, diskriminasi dan rasialisme masih terjadi kendati undang-undang, bahkan konstitusi, telah diperbaiki. Dalam Undang Undang Dasar 1945 yang diamandemen, misalnya syarat seorang presiden dan wakil presiden tak lagi mengharuskan orang Indonesia “asli” tapi cukup terlahir sebagai warga negara Indonesia.
Persoalannya, dikotomi kesukuan, Jawa dan luar Jawa, masih terasa. Bangsa ini seolah belum bisa menerima kenyataan seorang presiden bisa terlahir dari suku non-Jawa. Dikotomi agama pun kerap jadi masalah. Padahal Amerika telah menyelesaikan soal ini hampir setengah abad silam, ketika John F.Kennedy tampil menjadi presiden pertama dari kaum katolik yang mayoritas.
Ya begitulah bangsa ini, penuh kekerasan, primordialis, dan bermental miskin. Tak semua memang, tapi sebagian cukup menggambarkan itu kan?
Sudahlah
Read More......
Langganan:
Postingan (Atom)
