Pagi minggu, dekat kawasan Graha Saba Pramana konsentrasi kerumunan massa dan kendaraan tumpah ruah. Orang-orang joging diantara berbagai macam kuliner dijajakan. 500 meter ke arah utara, ada perempatan lampu merah. Orang-orang lebih mengenal dengan nama perempatan MM UGM. Utara perempatan menuju Kaliurang atas. Timur ke arah kehutanan UGM. Di sebelah barat ke jalan Sardjito, Rumah Sakit Umum Dr.Sardjito dan kampus Fakultas Teknik UGM melalui jalan ini. Di sisi timur kanan perempatan ada pos polisi, di depan pos sebuah plang terpancang “Polisi Sektor Bulaksumur”.
Rambutnya panjang hingga ke bahu, keseluruhannya hitam walau beberapa helai telah berubah menjadi putih. Pandangan matanya tajam, sesekali lidahnya membasahi bibir. Kumis tebal dan janggut yang dibiarkan panjang menambah kesan sangar. Tubuhnya tidak terlalu besar, malah cenderung kurus tapi kekar dan hitam legam terbakar matahari. Hem biru yang kancingnya dibiarkan terbuka melapisi badannya. Ditambah rompi hijau hitam bersaku di bagian bawah, dipungung rompi tertulis Harjo.
“Maaf mas agak telat dari janji kita kemaren, biasalah hari minggu jadi agak nyantai”, katanya ketika saya langsung mendekatinya. Perempuan di sampingnya menyunggingkan senyum. Tak berbeda jauh penampilannya. Kaos putih hitam dilapisi rompi yang sama bertulis Harjo di punggungnya. Tak ketinggalan manset hitam terpasang dari lengan hingga pergelangan tangannya.
“Jadi gimana mas, mau langsung coba jualan? Udah agak siang sebaiknya langsung aja”, ujarnya sambil menyerahkan beberapa eksemplar koran hari itu. “Koran Tempo 1000 rupiah, Harjo 2000, Kompas dan KR masing-masing 3500 dan 2500 rupiah”,sambungnya.
“Nanti kita pisah, saya dan istri saya di sini mas di utara, sekarang udah setengah sembilan jam sebelas kita kumpul lagi sekalian istirahat”, tangannya sibuk memisahkan koran-koran sambil memberi instruksi dengan cepat.
Tak punya pilihan saya langsung memisahkan diri dari mereka, menuju ke utara perempatan. Dua setengah jam ke depan saya akan mencoba menjadi seorang penjaja koran di jalanan. Sekitar 60 detik saya menawarkan dagangan ke orang-orang yang berhenti, sebelum berjalan lagi. Dan menunggu tiga sisi lainnya sebelum traffic light di posisi saya lampu merahnya menyala kembali. Sesekali saya melempar pandang kepada mas Raka, begitu namanya ketika mengenalkan diri kemaren. Tubuhnya timbul tenggelam diantara mobil dan sepeda motor. Istrinya lebih banyak mengambil tempat di sisi trotoar.
Matahari sebentar lagi akan di atas kepala, saya semakin sering menoleh ke arah seberang. Hingga koran di tangan seorang di seberang bergerak-gerak ke kiri dan kanan. Saya berdiri tegak dan lambaian tangan mas Raka menyuruh saya menuju ke tempatnya. Setengah berlari dengan koran yang masih tersisa di tangan dalam hitungan 10 detik saya sudah berada di dekatnya.
“Gimana mas?capek ya?”,tanyanya sambil mengambil posisi duduk di pagar trotoar.
“Lumayan, maaf ga kejual semua mas”, dengan menyerahkan sisa koran dan lembaran duit dari koran yang terjual saya menjawab.
“Yo ra opo-opo to mas, lagian kan mas hanya ingin merasakan gimana jualan koran to? Ga enak to mas?”, ujarnya sambil melirik istrinya. Si istri tersenyum-senyum saja.
“Ga apa-apa kok mas, sekalian bisa langsung masuk ke inti tentang tujuan saya”, saya menjelaskan panjang sekali lagi kepada mas Raka, bahwa saya ingin mewancarainya. Karena ingin menulis cerita tentang kehidupan penjual koran, suka duka di jalanan, keluarga dan sebagainya. “Owalah mas, saya kira mas ingin ikutan jual koran dari pagi sampai pulang, ra ngerti kalo cuma mau wawancara wae”, dia bicara dengan mimik menyesal.
Read More......
Senin, 19 Januari 2009
Senin, 05 Januari 2009
Kepercayaan Lokal Menjawab Persoalan Global Warming
Sejauh mana filsafat dalam aspek-aspek kosmologi memaknai global warming
Filsafat pada umumnya membahas dan mengkaji hal-hal yang mendasar. Dalam menyikapinya terkadang perlu ada sinkronisasi dalam memaknai antara yang umum dan khusus. Dalam pemahaman filsafat juga mengacu kepada being and non-being. Lalu tercabang kepada permasalahan yang melingkupi objek-objek filosofis. Kosmologi yang secara paling umum disebut sebagai ilmu pengetahuan tentang alam atau dunia. Kosmologi tidak kerap membicarakan tentang benda material yang mati saja seperti batu, udara dan sebagainya. Tetapi kemudian juga melangkah jauh kepada makhluk-makhluk yang hidup di atasnya, manusia dan sebagainya. Kosmologi berangkat dari keseluruhan aktivitas duniawi, yang membahas segala macam tentang dunia dan materi-materinya. Seperti permasalahan ruang dan waktu yang mendasari perbedaan antara kuantitas dan kualitas. Maka dapat dikatakan bahwa sifat kosmologi adalah lebih luas dan mendasar tentang segala keuniversalan alam (nature). Kosmologi dalam diskursus filsafat mempelajari manusia dan kosmos sebagai “objek”, yaitu suatu kenyataan objektif dengan struktur dan arahnya sendiri. Setiap topik yang berkembang dalam pembicaraan kosmologi dapat dan sepertinya harus disertai dengan analisis konsekuensi-konsekuensi bagi pengetahuan.
Substansi dalam kosmos secara khusus dapat diambil kesimpulan bahwa manusia memiliki keunggulan di dalam kosmos. Jadi peran penting manusia sebagai sasaran dan puncak seluruh evolusi kosmis terlihat disini. Dalam tulisan ini saya menjadikan manusia sebagai subjek yang berhadapan dengan aktivitas alam. Gejala-gejala alam tidak pernah lepas dari andil manusia dalam mencapai tempat tertinggi kepadatan dan kekayaan yang menentukan kosmos. Manusia adalah pengkosmos. Dengan begitu muncul keinginan dan kemutlakan bagi manusia, dengan sendirinya manusia dibebani tanggung jawab dan kebebasan yang mutlak, dalam hal ini terhadap alam.
Filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche dengan radikal mengatakan bahwa kehendak berkuasa adalah “dunia”. Gagasan Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa ini merupakan saripati dari seluruh petualangan pemikiran Nietzsce, kesimpulan ini merupakan hasil-hasil percobaan (Versuch) lewat kontemplasi yang panjang, bukan ditarik begitu saja dari premis-premis silogisme yang dituangkan dalam suatu tulisan yang sistematis.
Melalui metode filsafatnya yang menghasilkan tulisan-tulisan yang tidak terikat pada suatu sistem, Nietzsche menemukan bahwa kehendak untuk berkuasa merupakan prinsip dari seluruh kehidupan manusia dan alam (St. Sunardi, 1996).
Kelanjutan dalam berbagai aspek dari gagasan Nietzsche tersebut, politik, negara moralitas dan sebagainya. Tentang kedudukan manusia dalam dunia (die Sonder Stellung des Menschen im Cosmos). Nietzsche menolak gagasan bahwa manusia hanyalah merupakan anugerah yang diberikan alam sebagaimana yang dikemukan Charles Darwin. Nietzsche juga tidak menyetujui pandangan religius yang mengakui bahwa manusia adalah rahmat ilahi. Menurut Nietzsche kedudukan manusia terletak diantara binatang dan apa yang disebut Ubermansch. Yang membedakannya adalah bahwa manusia mempunyai tujuan yang hanya dapat dicapai oleh manusia itu sendiri dengan menggunakan kemampuan (potensia) dan kemungkinan untuk mengatasi dirinya. Manusia yang tidak merealisasikan kemungkinan dan potensi-potensinya akan tetap sebagai status binatang. Ubermansch adalah semacam manusia “ideal” yang dapat merealisasikan semua kemungkinannya “aussereste Moglichkeit des Menschen” (Curt Freidlein,1984).
Sejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuwan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di bumi selalu berubah. Pada abad 19, studi mengenai iklim mulai mengetahui tentang kandungan gas yang berada di atmosfer, disebut “gas rumah kaca”, yang bisa mempengaruhi iklim di bumi. Gas rumah kaca adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, jika tidak, tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka bumi. Secara umum karbondioksida adalah penyumbang utama gas kaca. Sumber utama peningkatan konsentrasi karbondioksida adalah penggunaan bahan bakar fosil, ditambah pengaruh perubahan permukaan tanah (pembukaan lahan, penebangan hutan, pembakaran hutan, mencairnya es). Dalam arti lain aktivitas manusia dari agrikultural.
Salah satu perspektif yang berkembang mengatakan bahwa manusia-lah yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2007, menunjukkan bahwa secara rata-rata global aktivitas manusia semenjak 1750 menyebabkan adanya pemanasan. Perubahan kelimpahan gas rumah kaca dan aerosol akibat radiasi matahari dan keseluruhan permukaan bumi mempengaruhi keseimbangan energi sistem iklim.
Manusia adalah makhluk yang bereksistensi terus menerus, memerlukan alam sebagai wadah untuk kegiatan survivalnya tersebut. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mempengaruhi kemampuan manusia melaksanakan “kehendak untuk berkuasa”. Lalu, apa yang menyebabkan alam menjadi salah satu ancaman terbesar manusia dan lingkungannya pada semester? Yang berkembang sekarang adalah pemanasan global, yang membuat ilmuawan ataupun yang berkepentingan terhadap hal ini menekankan pada masyarakat (manusia-manusia) bahwa ini ancaman terhadap kelangsungan manusia yang berangkat dari “kehendak untuk berkuasa” tadi.
Dalam kepercayaan masyarakat tradisional bahkan modern sekalipun, takhayul menjadi satu bagian penting dalam berhubungan dengan alam. Ada yang merasa salah dengan takhayul karena kesadaran modern membebaskan manusia dari takhayul, dari batas dan ketakutan yang disebabkan oleh hal-hal yang tidak dapat dibuktikan atau diterangkan dengan akal sehat. Takhayul mewarnai kepercayaan lokal. Salah satu kontribusi yang dapat diterapkan terhadap permasalahan pemanasan global ini adalah menghidupkan kepercayaan lokal yang di dalamnya terkandung cerita dan ajaran-ajaran yang filosofis. Pada masa silam manusia takut bukan kepada Tuhan (sebelum agama monoteisme ada), melainkan kepada alam. Alam dipercaya keramat, dengan demikian tak boleh disewenangi. Pemanfaatannya harus dengan permisi dan dalam batas-batas yang tahu diri. Pada hari-hari tertentu pepohonan tua diberi sesajen. Kepada gunung dan kawah purba diupacarakan persembahan. Pada musim-musim tertentu (terutama musim birahi binatang) manusia pamali berburu. Manusia tidak punya mesin pendingin untuk menyimpan daging sehingga membunuh secukupnya yang bisa dimakan. Seperti singa, mereka tidak membunuh rusa beberapa ekor sekaligus lalu menyimpannya dalam “kulkas”. Maka tak ada hewan atau pepohonan yang dibantai (dibantai dalam arti dihabiskan dalam jumlah berlebihan). Semua makhluk hidup dalam keadaan seimbang. Seperti Yin Yang, dalam filsafat Cina.
Keseimbangan dan rasa takut sekaligus menghormati alam membuat struktur alam seimbang. Setidaknya dari segi ini dapat mengerem produktivitas dan keinginan manusia untuk berkuasa termasuk alam dan dunia seperti yang dikatakan Nietzsche. Bahwa ada nilai-nilai tradisional yang harus diperhatikan.
Read More......
Filsafat pada umumnya membahas dan mengkaji hal-hal yang mendasar. Dalam menyikapinya terkadang perlu ada sinkronisasi dalam memaknai antara yang umum dan khusus. Dalam pemahaman filsafat juga mengacu kepada being and non-being. Lalu tercabang kepada permasalahan yang melingkupi objek-objek filosofis. Kosmologi yang secara paling umum disebut sebagai ilmu pengetahuan tentang alam atau dunia. Kosmologi tidak kerap membicarakan tentang benda material yang mati saja seperti batu, udara dan sebagainya. Tetapi kemudian juga melangkah jauh kepada makhluk-makhluk yang hidup di atasnya, manusia dan sebagainya. Kosmologi berangkat dari keseluruhan aktivitas duniawi, yang membahas segala macam tentang dunia dan materi-materinya. Seperti permasalahan ruang dan waktu yang mendasari perbedaan antara kuantitas dan kualitas. Maka dapat dikatakan bahwa sifat kosmologi adalah lebih luas dan mendasar tentang segala keuniversalan alam (nature). Kosmologi dalam diskursus filsafat mempelajari manusia dan kosmos sebagai “objek”, yaitu suatu kenyataan objektif dengan struktur dan arahnya sendiri. Setiap topik yang berkembang dalam pembicaraan kosmologi dapat dan sepertinya harus disertai dengan analisis konsekuensi-konsekuensi bagi pengetahuan.
Substansi dalam kosmos secara khusus dapat diambil kesimpulan bahwa manusia memiliki keunggulan di dalam kosmos. Jadi peran penting manusia sebagai sasaran dan puncak seluruh evolusi kosmis terlihat disini. Dalam tulisan ini saya menjadikan manusia sebagai subjek yang berhadapan dengan aktivitas alam. Gejala-gejala alam tidak pernah lepas dari andil manusia dalam mencapai tempat tertinggi kepadatan dan kekayaan yang menentukan kosmos. Manusia adalah pengkosmos. Dengan begitu muncul keinginan dan kemutlakan bagi manusia, dengan sendirinya manusia dibebani tanggung jawab dan kebebasan yang mutlak, dalam hal ini terhadap alam.
Filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche dengan radikal mengatakan bahwa kehendak berkuasa adalah “dunia”. Gagasan Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa ini merupakan saripati dari seluruh petualangan pemikiran Nietzsce, kesimpulan ini merupakan hasil-hasil percobaan (Versuch) lewat kontemplasi yang panjang, bukan ditarik begitu saja dari premis-premis silogisme yang dituangkan dalam suatu tulisan yang sistematis.
Melalui metode filsafatnya yang menghasilkan tulisan-tulisan yang tidak terikat pada suatu sistem, Nietzsche menemukan bahwa kehendak untuk berkuasa merupakan prinsip dari seluruh kehidupan manusia dan alam (St. Sunardi, 1996).
Kelanjutan dalam berbagai aspek dari gagasan Nietzsche tersebut, politik, negara moralitas dan sebagainya. Tentang kedudukan manusia dalam dunia (die Sonder Stellung des Menschen im Cosmos). Nietzsche menolak gagasan bahwa manusia hanyalah merupakan anugerah yang diberikan alam sebagaimana yang dikemukan Charles Darwin. Nietzsche juga tidak menyetujui pandangan religius yang mengakui bahwa manusia adalah rahmat ilahi. Menurut Nietzsche kedudukan manusia terletak diantara binatang dan apa yang disebut Ubermansch. Yang membedakannya adalah bahwa manusia mempunyai tujuan yang hanya dapat dicapai oleh manusia itu sendiri dengan menggunakan kemampuan (potensia) dan kemungkinan untuk mengatasi dirinya. Manusia yang tidak merealisasikan kemungkinan dan potensi-potensinya akan tetap sebagai status binatang. Ubermansch adalah semacam manusia “ideal” yang dapat merealisasikan semua kemungkinannya “aussereste Moglichkeit des Menschen” (Curt Freidlein,1984).
Sejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuwan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di bumi selalu berubah. Pada abad 19, studi mengenai iklim mulai mengetahui tentang kandungan gas yang berada di atmosfer, disebut “gas rumah kaca”, yang bisa mempengaruhi iklim di bumi. Gas rumah kaca adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, jika tidak, tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka bumi. Secara umum karbondioksida adalah penyumbang utama gas kaca. Sumber utama peningkatan konsentrasi karbondioksida adalah penggunaan bahan bakar fosil, ditambah pengaruh perubahan permukaan tanah (pembukaan lahan, penebangan hutan, pembakaran hutan, mencairnya es). Dalam arti lain aktivitas manusia dari agrikultural.
Salah satu perspektif yang berkembang mengatakan bahwa manusia-lah yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2007, menunjukkan bahwa secara rata-rata global aktivitas manusia semenjak 1750 menyebabkan adanya pemanasan. Perubahan kelimpahan gas rumah kaca dan aerosol akibat radiasi matahari dan keseluruhan permukaan bumi mempengaruhi keseimbangan energi sistem iklim.
Manusia adalah makhluk yang bereksistensi terus menerus, memerlukan alam sebagai wadah untuk kegiatan survivalnya tersebut. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mempengaruhi kemampuan manusia melaksanakan “kehendak untuk berkuasa”. Lalu, apa yang menyebabkan alam menjadi salah satu ancaman terbesar manusia dan lingkungannya pada semester? Yang berkembang sekarang adalah pemanasan global, yang membuat ilmuawan ataupun yang berkepentingan terhadap hal ini menekankan pada masyarakat (manusia-manusia) bahwa ini ancaman terhadap kelangsungan manusia yang berangkat dari “kehendak untuk berkuasa” tadi.
Dalam kepercayaan masyarakat tradisional bahkan modern sekalipun, takhayul menjadi satu bagian penting dalam berhubungan dengan alam. Ada yang merasa salah dengan takhayul karena kesadaran modern membebaskan manusia dari takhayul, dari batas dan ketakutan yang disebabkan oleh hal-hal yang tidak dapat dibuktikan atau diterangkan dengan akal sehat. Takhayul mewarnai kepercayaan lokal. Salah satu kontribusi yang dapat diterapkan terhadap permasalahan pemanasan global ini adalah menghidupkan kepercayaan lokal yang di dalamnya terkandung cerita dan ajaran-ajaran yang filosofis. Pada masa silam manusia takut bukan kepada Tuhan (sebelum agama monoteisme ada), melainkan kepada alam. Alam dipercaya keramat, dengan demikian tak boleh disewenangi. Pemanfaatannya harus dengan permisi dan dalam batas-batas yang tahu diri. Pada hari-hari tertentu pepohonan tua diberi sesajen. Kepada gunung dan kawah purba diupacarakan persembahan. Pada musim-musim tertentu (terutama musim birahi binatang) manusia pamali berburu. Manusia tidak punya mesin pendingin untuk menyimpan daging sehingga membunuh secukupnya yang bisa dimakan. Seperti singa, mereka tidak membunuh rusa beberapa ekor sekaligus lalu menyimpannya dalam “kulkas”. Maka tak ada hewan atau pepohonan yang dibantai (dibantai dalam arti dihabiskan dalam jumlah berlebihan). Semua makhluk hidup dalam keadaan seimbang. Seperti Yin Yang, dalam filsafat Cina.
Keseimbangan dan rasa takut sekaligus menghormati alam membuat struktur alam seimbang. Setidaknya dari segi ini dapat mengerem produktivitas dan keinginan manusia untuk berkuasa termasuk alam dan dunia seperti yang dikatakan Nietzsche. Bahwa ada nilai-nilai tradisional yang harus diperhatikan.
Read More......
Menyuruh = Membunuh
Aku tak suka disuruh-suruh…
Kenapa orang masih suka menyuruh-nyuruh
Bahkan Tuhan pun menyuruh
Banyak pilihan untuk menjadi islam statistik
Begitu agama aku
Tak sembahyang, tak puasa dan seterusnya
Jadi hanya untuk memenuhin statistik saja
Kenapa ada kebenaran yang fungsional dan yang
Filosofis, tidak dapat diukur Read More......
Kenapa orang masih suka menyuruh-nyuruh
Bahkan Tuhan pun menyuruh
Banyak pilihan untuk menjadi islam statistik
Begitu agama aku
Tak sembahyang, tak puasa dan seterusnya
Jadi hanya untuk memenuhin statistik saja
Kenapa ada kebenaran yang fungsional dan yang
Filosofis, tidak dapat diukur Read More......
Sahabat Adalah Bumi
Pernahkah kita menemukan seorang sahabat?
Lalu kita berfikir apa sahabat, seperti apa sahabat itu. Kemudian kita memunculkan banyak pendapat tentang apa yang kita fikirkan.
Sahabat menjadi kehidupan kita, menelusuri setiap jalan yang pernah dan akan kita lalui. Sosok seperti apa saja yang telah kita kenal?
Sahabat yang mengkhianati kita, pernahkah kita bagi hidup kita ke dia, baik materi ataupun immateri. Kita percayakan semua kepadanya. Kirimkan cerita detail hari-hari kita, masalah rumah tangga hingga hal-hal remeh temeh. Terkadang masaih menyimpan semua yang patut dirahasiakan atau seperti yang dibilang di awal tadi, sahabat itu berubah menjadi monster, sebelumnya menjelma menjadi parasit lalu menghisap darah kita sampai habis. Bisa dibilang itu pengkhianatan. Seperti dunia mafia “dibalik pengkhianatan ada pengkhianatan”. Megerikan memang!! Sebaiknya kita mengenal dan belajar dunia mafia dari sekarang.
Sahabat yang merasakan hidup susah dari kecil dengan kita, dikemurnian desa yang terkadang munafik atau di kesumpekan kota yang terkadang berlebihan. Kita dan sahabat sama-sama mati rasa. Tak kenal hujan, panas semuanya pernah terlewati melalui jalanan kota dan pematang sawah. Dingin malam hadir dalam memori menusuk. Kejamnya segala hal yang kejam telah terlewatkan. Perpisahan mengakhiri segalanya, lalu berbilang waktu dalam tahun kita bertemu lagi. Mencolok perbedaan yang nasib tentukan, berbeda wajah baik dan buruk, entah siapa yang akan memiliki. Disindir dan ditamparlah kita yang kalau beruntung bisa membuat kita bangkit. Lubang-lubang kehidupan yang membuat terjerumus, terbujuk bayangan mimpi yang indah. Lalu terpisah dendam. Sendiri-sendiri menepi, tanpa seseorang yang sanggup mengerti (dari sebuah lagu yang akan menjadi tinjauan dalam rencana skripsi). Seorang sahabat yang telah berjanji akan membantu prosesnya nanti. Semoga tidak hanya membatu. Sahabat membuat kita punya tanggung jawab.
Sahabat yang hanya ada dalam khayalan, besar kecil kemungkinan bisa bertemu. Tapi memberi arti besar, seakan di dalam darah mengalir darahnya, dalam detak jantung berdenyut dia. Hanya bisa melihat dari jauh dan membersitkan rasa kebanggaan lebih dari kebangsaan. Karena dengan tangannya lewat kreativitasnya semua seragam dalam kebersamaan yang fanatik, tak habis-habis.
Sahabat yang mati dalam pelukan dia. Cerita ketika menumpang kereta batu bara. Tergencet antara gerbong dan gerbong. Panas beruap, peluh meluap sepanjang jalan. Sahabat sama-sama melompat dan sayangnya lompatan sahabat disambut batu pada kepalanya. Mati berdarah mengenai tangan kita. Masih bergerak dan meringis ketika ia meregang nyawa. Mati, hingga ke kuburannya. Sekarang kita memiliki putra dan putri seumuran sahabat yang dulu mati, masa sekolah. Masih terkenang darah yang masih tergenang di tangan.
Sahabat yang kita jejakkan setiap hari, yang kita buangkan kotoran-kekotoran padanya. Madu dan airnya kita manfaatkan. Semuanya kita ambil. Tapi dia tidak bisa menolak, suatu saat dia akan menolak dengan bencana. Karena sahabat itu adalah bumi.
Read More......
Lalu kita berfikir apa sahabat, seperti apa sahabat itu. Kemudian kita memunculkan banyak pendapat tentang apa yang kita fikirkan.
Sahabat menjadi kehidupan kita, menelusuri setiap jalan yang pernah dan akan kita lalui. Sosok seperti apa saja yang telah kita kenal?
Sahabat yang mengkhianati kita, pernahkah kita bagi hidup kita ke dia, baik materi ataupun immateri. Kita percayakan semua kepadanya. Kirimkan cerita detail hari-hari kita, masalah rumah tangga hingga hal-hal remeh temeh. Terkadang masaih menyimpan semua yang patut dirahasiakan atau seperti yang dibilang di awal tadi, sahabat itu berubah menjadi monster, sebelumnya menjelma menjadi parasit lalu menghisap darah kita sampai habis. Bisa dibilang itu pengkhianatan. Seperti dunia mafia “dibalik pengkhianatan ada pengkhianatan”. Megerikan memang!! Sebaiknya kita mengenal dan belajar dunia mafia dari sekarang.
Sahabat yang merasakan hidup susah dari kecil dengan kita, dikemurnian desa yang terkadang munafik atau di kesumpekan kota yang terkadang berlebihan. Kita dan sahabat sama-sama mati rasa. Tak kenal hujan, panas semuanya pernah terlewati melalui jalanan kota dan pematang sawah. Dingin malam hadir dalam memori menusuk. Kejamnya segala hal yang kejam telah terlewatkan. Perpisahan mengakhiri segalanya, lalu berbilang waktu dalam tahun kita bertemu lagi. Mencolok perbedaan yang nasib tentukan, berbeda wajah baik dan buruk, entah siapa yang akan memiliki. Disindir dan ditamparlah kita yang kalau beruntung bisa membuat kita bangkit. Lubang-lubang kehidupan yang membuat terjerumus, terbujuk bayangan mimpi yang indah. Lalu terpisah dendam. Sendiri-sendiri menepi, tanpa seseorang yang sanggup mengerti (dari sebuah lagu yang akan menjadi tinjauan dalam rencana skripsi). Seorang sahabat yang telah berjanji akan membantu prosesnya nanti. Semoga tidak hanya membatu. Sahabat membuat kita punya tanggung jawab.
Sahabat yang hanya ada dalam khayalan, besar kecil kemungkinan bisa bertemu. Tapi memberi arti besar, seakan di dalam darah mengalir darahnya, dalam detak jantung berdenyut dia. Hanya bisa melihat dari jauh dan membersitkan rasa kebanggaan lebih dari kebangsaan. Karena dengan tangannya lewat kreativitasnya semua seragam dalam kebersamaan yang fanatik, tak habis-habis.
Sahabat yang mati dalam pelukan dia. Cerita ketika menumpang kereta batu bara. Tergencet antara gerbong dan gerbong. Panas beruap, peluh meluap sepanjang jalan. Sahabat sama-sama melompat dan sayangnya lompatan sahabat disambut batu pada kepalanya. Mati berdarah mengenai tangan kita. Masih bergerak dan meringis ketika ia meregang nyawa. Mati, hingga ke kuburannya. Sekarang kita memiliki putra dan putri seumuran sahabat yang dulu mati, masa sekolah. Masih terkenang darah yang masih tergenang di tangan.
Sahabat yang kita jejakkan setiap hari, yang kita buangkan kotoran-kekotoran padanya. Madu dan airnya kita manfaatkan. Semuanya kita ambil. Tapi dia tidak bisa menolak, suatu saat dia akan menolak dengan bencana. Karena sahabat itu adalah bumi.
Read More......
Sabtu, 08 November 2008
Indonesia, MUAK!!!!
Di negeri seberang orang berjuang untuk bangsanya,
di sini orang berjuang untuk kroni dan diri sendiri
Read More......
di sini orang berjuang untuk kroni dan diri sendiri
Read More......
Kamis, 06 November 2008
RASIALISME TELAH USANG
Terserah Barack Obama akan merealisasikan agenda dan program kerja yang dia rancang dan koar-koarkan selama masa kampanya yang panjang. Dari Hillary Clinton sampai John McCain sekarang. McCain menambah aroma perperangan dengan seorang rupawan, Sarah Palin. Namanya enak diucapkan, tak terlalu ribet seperti nama Eropa dan Amerika lainnya. Saya juga tak mengerti bagaimana mengucapkan nama dan kata, tapi tetap saja enak SARAH PALIN.
Apalagi seorang teman yang jika telah membicarakan pemilihan presiden di Amerika, yang paling pertama dia lontarkan adalah boot-nya Sarah Palin. “Keren banget, seorang calon wakil presiden perempuan, alamak boot-nya itu, sudah seperti artis saja”, dia mencerocos. Akibatnya saya searching di google dengan memasukkan kata Sarah Palin dan ternyata memang cantik. Panjang pula informasi media tentangnya, menghabiskan dana kampanye untuk berdandan dia dan keluarga, ya termasuk anak-anaknya itu. Lalu kebijaksanaannya yang memecat seorang pegawai pemerintahan, semacam polisi ya? Saya lupa dan malas membalik-balik koran lagi. Tapi Sarah Palin tak akan jadi wakil presiden, mungkin tetap saja jadi Gubernur di salah satu negara bagian seperti sebelumnya, atau dia telah meletakkan jabatannya?
Obama mengukir sejarah, akhirnya tercapai juga cita-cita Martin Luther King untuk memperjuangkan persamaan hak bagi warga kulit hitam di Amerika 45 tahun silam. Kita pun warga Indonesia dibuat sibuk dengan pemilihan presiden Amerika ini, kita bermil-mil jauhnya dari mereka. Ada dari kita yang merasakan kebanggaan dan kesenangan atas kemenangan Obama, ada juga yang tak terlalu peduli, apalagi mereka yang selama ini menentang dan sangat membenci Amerika. Padahal tak tahu apa yang terjadi, apa yang mereka benci, entah ajaran dari siapa yang mereka dapat. Ini lepas dari kepentingan politik dan ekonomi. Kepentingan agama tak dapat disangkut-pautkan.
Yang jelas Amerika menunjukkan pada kita semua. Semua manusia punya harkat, martabat, dan hak yang sama termasuk menjadi seorang presiden.
Dalam editorial koran Tempo, 6 November 2008, di negara ini, Indonesia, diskriminasi dan rasialisme masih terjadi kendati undang-undang, bahkan konstitusi, telah diperbaiki. Dalam Undang Undang Dasar 1945 yang diamandemen, misalnya syarat seorang presiden dan wakil presiden tak lagi mengharuskan orang Indonesia “asli” tapi cukup terlahir sebagai warga negara Indonesia.
Persoalannya, dikotomi kesukuan, Jawa dan luar Jawa, masih terasa. Bangsa ini seolah belum bisa menerima kenyataan seorang presiden bisa terlahir dari suku non-Jawa. Dikotomi agama pun kerap jadi masalah. Padahal Amerika telah menyelesaikan soal ini hampir setengah abad silam, ketika John F.Kennedy tampil menjadi presiden pertama dari kaum katolik yang mayoritas.
Ya begitulah bangsa ini, penuh kekerasan, primordialis, dan bermental miskin. Tak semua memang, tapi sebagian cukup menggambarkan itu kan?
Sudahlah
Read More......
Apalagi seorang teman yang jika telah membicarakan pemilihan presiden di Amerika, yang paling pertama dia lontarkan adalah boot-nya Sarah Palin. “Keren banget, seorang calon wakil presiden perempuan, alamak boot-nya itu, sudah seperti artis saja”, dia mencerocos. Akibatnya saya searching di google dengan memasukkan kata Sarah Palin dan ternyata memang cantik. Panjang pula informasi media tentangnya, menghabiskan dana kampanye untuk berdandan dia dan keluarga, ya termasuk anak-anaknya itu. Lalu kebijaksanaannya yang memecat seorang pegawai pemerintahan, semacam polisi ya? Saya lupa dan malas membalik-balik koran lagi. Tapi Sarah Palin tak akan jadi wakil presiden, mungkin tetap saja jadi Gubernur di salah satu negara bagian seperti sebelumnya, atau dia telah meletakkan jabatannya?
Obama mengukir sejarah, akhirnya tercapai juga cita-cita Martin Luther King untuk memperjuangkan persamaan hak bagi warga kulit hitam di Amerika 45 tahun silam. Kita pun warga Indonesia dibuat sibuk dengan pemilihan presiden Amerika ini, kita bermil-mil jauhnya dari mereka. Ada dari kita yang merasakan kebanggaan dan kesenangan atas kemenangan Obama, ada juga yang tak terlalu peduli, apalagi mereka yang selama ini menentang dan sangat membenci Amerika. Padahal tak tahu apa yang terjadi, apa yang mereka benci, entah ajaran dari siapa yang mereka dapat. Ini lepas dari kepentingan politik dan ekonomi. Kepentingan agama tak dapat disangkut-pautkan.
Yang jelas Amerika menunjukkan pada kita semua. Semua manusia punya harkat, martabat, dan hak yang sama termasuk menjadi seorang presiden.
Dalam editorial koran Tempo, 6 November 2008, di negara ini, Indonesia, diskriminasi dan rasialisme masih terjadi kendati undang-undang, bahkan konstitusi, telah diperbaiki. Dalam Undang Undang Dasar 1945 yang diamandemen, misalnya syarat seorang presiden dan wakil presiden tak lagi mengharuskan orang Indonesia “asli” tapi cukup terlahir sebagai warga negara Indonesia.
Persoalannya, dikotomi kesukuan, Jawa dan luar Jawa, masih terasa. Bangsa ini seolah belum bisa menerima kenyataan seorang presiden bisa terlahir dari suku non-Jawa. Dikotomi agama pun kerap jadi masalah. Padahal Amerika telah menyelesaikan soal ini hampir setengah abad silam, ketika John F.Kennedy tampil menjadi presiden pertama dari kaum katolik yang mayoritas.
Ya begitulah bangsa ini, penuh kekerasan, primordialis, dan bermental miskin. Tak semua memang, tapi sebagian cukup menggambarkan itu kan?
Sudahlah
Read More......
Jumat, 31 Oktober 2008
Ramadhan Akan Berakhir
Pesawat Lion Air masih di udara, padahal malam telah lama naik. Goncangan-goncangan di pesawat cukup membuat ciut nyali, ibu-ibu di samping saya komat-kamit mengucap nama Tuhan. Cuaca buruk, itu informasi yang didapat dari awak penerbangan rute Jakarta menuju Padang. Hingga mendarat di Bandara Internasional Minangkabau pun, langit terlihat gelap, sesekali rintik hujan mengenai bahu saya.
Satu tahun belum lagi saya pulang ke Solok, kampung halaman. Momen seperti bulan puasa dan lebaran adalah waktu yang biasa dipergunakan oleh kebanyakan orang perantauan untuk kembali ke kampung halaman. Menemui orang tua, berlebaran bersama keluarga, mengunjungi sanak famili dan teman-teman lama.
Senin, 29 September 2008 sekitar pukul 17.30 di depan kantor DPRD kota Solok, ada konsentrasi keramaian. Sebelum masuk lokasi ada spanduk betuliskan Pasar Pabukoan Kota Solok. Macam-macam lauk, panganan untuk berbuka khas Minangkabau dapat ditemui dengan mudah. Pedagang dan pembeli berseliweran di sini. Tak terlalu luas, hanya ruas jalan di samping kantor Telkom Solok yang dipergunakan. Susunan meja dan lapak seadanya. Saya di sana waktu itu.
Orangnya berkumis, perawakannya besar. Tangannya cekatan ketika memindahkan lauk dari wadah ke plastik. Ini tahun ke 2 baginya berjualan masakan di pasa pabukoan. Nama warung makan ini lumayan santer terdengar bagi siapa saja yang menginginkan masakan enak yang sedikit berbeda. Andalannya gulai tunjang. Jika pada hari biasa, Ampera Etek dapat kita temui di kawasan teminal angkot Solok. Khusus setiap bulan puasa di pasar pabukoan ini Ampera Etek hanya menjual samba (lauk).
Dari informasi yang diberikan bapak Irmi Rahnadasyan, atau yang biasa dipanggil Pak Guru ini, pasar pabukoan ini baru 2 tahun berjalan di lokasi yang baru ini. Sebelumnya sudah pernah ada, lokasinya berada di tengah pasar. Pemerintah melalui instansi yang terkait yaitu Dinas Pasar Raya meminta pedagang khusus pasa pabukoan ini pindah ke lokasi yang baru. Mengambil tempat di ruas jalan antara kantor Telkom kota Solok dan bekas rumah dinas Bupati lama. Di situlah lapak dan meja-meja pedagang tersusun dengan rapi. Perhitungannya setiap pedagang membayar Rp. 7500,- untuk 1 meja.
Walaupun suasana di sini cukup memadai untuk berjualan, dengan banyaknya urang Solok yang masih berkunjung ke sini saban sore. Pak Guru menilai tempat ini masih mempunyai kekurangan seperti ketidakadaan MCK yang memadai. Bahkan untuk menunaikan shalat magrib pun harus ke masjid yang tak bisa dibilang dekat. Ke masjid setidaknya harus menempuh jarak 300-400 meter. Di lokasi pun tak mungkin menunaikan shalat karena kurang bersih untuk melaksanakan ibadah. Biasanya sebelum Isya orang-orang di sana mulai berkemas-kemas dan biasanya sebagian besar telah meninggalkan lokasi. Meja-meja disingkirkan dan jalanan yang beralih fungsi ini mulai dipergunakan kembali seperti biasanya.
Seminggu kemudian saya ditemani seorang teman berencana melakukan perjalanan ke daerah Suliki. Senin, 6 Oktober 2008 pagi sekitar jam 10 kami memulai perjalanan dari kota Solok. Perkiraannya kami akan menempuh waktu sekitar 2,5-3 jam hingga ke tempat tujuan. Matahari tak begitu terik memancarkan sinarnya, bahkan di beberapa belahan langit terlihat mendung. Bensin motor telah terisi penuh, ini pun kami harus antri. Dari Solok kami bertolak melewati Sumani, biasanya daerah ini adalah titik macet, apalagi masih dalam suasana lebaran yang selalu dihiasi bermacam kendaraan bermotor. Yang paling ramai tentu truk atau mobil dengan bak terbuka di belakangnya. Diisi sebanyak-banyak orang, angkatan tua dan muda menuju tempat wisata. Di jalan pun jika bertemu kolega dengan transportasi yang sama biasa menjadi lawan. Anak-anak kecil hingga remaja dan dewasa yang tak mau ketinggalan mempersenjatai dirinya dengan pistol mainan, berbagai ukuran. Amunisinya peluru bulat warna-warni. Terjadilah pertempuran singkat. Kadang masyarakat di daerah yang dilewati juga sering ikutan. Mereka bergerombol, biasanya di kedai tepi jalan, pos siskamling atau tempat yang strategis. Mobil lewat dan menampakkan tanda-tanda penyerangan mereka telah siap. Menambah suasana ramai lebaran tapi riskan juga mengenai pengguna jalan yang tak berdosa. Jika sudah begitu bisa-bisa semua pengguna jalan baik pengendara roda empat atau roda dua akan bersiaga juga dengan menyiapkan pistol mainan yang marak di pasar menjelang setiap lebaran.
Menurut informasi dari teman seorang polisi yang dinas di daerah Paninggahan jalan Sumani-Singkarak padat lancar. Kita belum akan menemukan kemacetan pikir saya. Dan ternyata pasar Sumani yang biasanya kendaraan tumplek di sana lengang. Bahkan di dermaga danau Singkarak yang dijadikan semacam tempat bermain di hari lebaran, ada komedi putar dan rekan sejawatnya yang lain, juga belum menampakkan keramaian. Mungkin masih belum siang. Daerah terdekat yang akan kami tuju adalah kota Batusangkar. Sepanjang danau Singkarak kami melaju. Di pasar Ombilin kami mengambil jalan ke kanan setelah jembatan. Mendaki sedikit dan terpampanglah pemandangan indah. Kami melewati lereng bukit di samping kiri, dan jurang di samping kanan. Di lembah-lembah itu daerah pedesaan masih terlihat asri, sawah berjenjang-jenjang, pohon padat merayap, dan kincir air di sungai. Alangkah indahnya!
Perjalanan masih berlanjut hingga dari Batusangkar kami melewati daerah Baso. Jalannya panjang dan lurus, sesekali di jalan yang mulus ini ada turunan dan pendakian. Tak terasa kami sampai di Payakumbuh, tak masuk kota memang karena ke Suliki ini bisa dilewati tanpa melalui kawasan kota Payakumbuh. Kepenatan perjalanan belum juga habis, masih jauh lebih 30 km lagi baru akan sampai di Suliki. Kami sempat menangkap petunjuk jalan, lurus terus ke daerah Mungka, jika hendak ke Koto Tinggi dan Suliki mengambil jalan ke kiri.
Melewati daerah Danguang-danguang yang terkenal dengan satenya, lalu nagari-nagari kecil lainnya. Mulai dari situ, jalannya dinamakan jalan Tan Malaka. Panjang hingga ke daerah Pandan Gadang. Di sana rumah tempat Tan Malaka sebelum merantau ke Bukit Tinggi, setelah itu Nusantara dan Asia hingga ke Eropa timur dijamahnya..
Keramaian telah lewat saat sudah dekat sebelum memasuki Pandan Gadang. Yang tersisa hanya barisan bukit-bukit menjulang tinggi, bersatu padu memagari negeri dan lembah di bawahnya. Pemukiman penduduk hanya berjejer di pinggir jalan, sawah dan ladang yang sangat luas memenuhi daerah ini. Belok kanan sembari mendaki sedikit lalu agak lurus akhirnya sampai juga di rumah Tan Malaka. Kami yang pertama kali menelusuri jalan ini tak begitu sulit menemukan lokasi. Jika kebingungan, tinggal bertanya saja ke penduduk, dari awal hingga akhir perjalanan pun tak akan terasa susah.
Lokasi rumah Tan terletak di sisi kiri jalan dari arah Payakumbuh. Bukan berarti tepat langsung berhadapan dengan jalan tapi untuk sampai ke sana harus melewati jalan tanah setapak yang bisa dilalui mobil, lumayan lebar dan tidak rusak. Di sana, di depan sebuah rumah ditancapkan plang petunjuk berjudul Rumah Tan Malaka, Meseum dan Pustaka, bercat putih dengan dasar warna hijau. Bertonggak bambu, arah panah berwarna kuning.
Halamannya cukup luas, di depan rumah banyak tumbuh pohon kelapa dan ada kolam yang sudah tak berisi air. Entah ikan di dalamnya baru saja dipanen. Kami menaiki anak yang berjumlah tujuh buah, menghadapi pintu yang tertutup. Jendalapun tak ada yang buka, sepertinya tak ada penghuni di dalam. Berkali-kali diketok tak ada juga sahutan dari dalam. Dari arah surau yang tak jauh dari rumah baru tampak seorang perempuan berjalan mendekat ke arah rumah. Mudah-mudahan perempuan itu penghuni rumah, ternyata benar.
Pintu dibukakan sambil mengatakan dia akan segera memanggil ayahnya. Saya rasa dia masih sekolah. Kami masuk, dan dipersilahkan duduk di beranda. Sofa lusuh yang tak empuk lagi menjadi sandaran kami yang terbuat lelah karena perjalanannya. Rasa lelah menjadi tak berharga karena sekarang kami sudah berada di dalam rumah “Bapak bangsa yang terlupakan”.
Lalu muncul seorang laki-laki, setengah baya. Saya dan rekan langsung menyalaminya. Kami lalu memperkenalkan diri dan mengutarakan keinginan. Ia memperkenalkan diri sebagai Indra Ibrur Aditama, generasi ke empat dari Dt. Ibrahim Tan Malaka. Ayahnya bernama Johanes, ibunya bisa dibilang cucu Tan Malaka, Ananurnia. Sayang saya tak menanyakan lebih lanjut tentang hubungan keluarga dan silsilah lebih lanjut tentang generasi Tan Malaka. Di tempat yang bisa disebut ruang tamu ini banyak foto-foto Tan, dan keluarga generasi selanjutnya, bapak Indra mengungkapkan kebanyakan foto adalah sumbangan dari para kolektor atau siapa saja ketika rumah Tan ini dijadikan meseum pada tahun 2008 ini, belum terlalu lama. Beliau menerawang ke waktu itu, keadaan rumah itu ramai dan meriah, pemerintah melalui instansi terkait juga hadir bersama keluarga dan penduduk sekitar. Kini hanya sunyi senyap yang hadir. Bahkan pemerintah terkesan melupakan, secara eksplisit dia mengungkapkan setidaknya ada perhatia pemerintah untuk perawatan, karena ini rumah telah menjadi milik publik, meseum!
Kami dipersilahkan masuk ke ruang utama yang lapang, standarnya rumah gadang, tonggak tengah rumah terkesan kokoh. Di sini di isi dengan beberapa lemari berisi buku-buku karya Tan, ataupun buku tentang Tan Malaka karya penulis lain. Buku tamu disediakan di sebuah meja tepat di depan saat hendak masuk. Saya menelusuri nama-nama dan alamat orang-orang yang pernah berkunjung ke sini. Dari daerah Jawa tidaklah sedikit, LSM, kampus dan sebagainya. Di bagian awal tanggal 4-1-2005 ada nama Harry Poeze. Luar biasa peneliti yang satu ini pikir saya, itu bukan pertama kalinya dia ke sini. Bahkan ketika bapak Indra masih kecil dia telah juga pernah ke sini.
Lemari bukunya rendah-rendah, jadi buku disusun mendatar pada bagian bawah lemari, bagian atas dan depan di beri kaca.
Selebihnya di dinding rumah, hampir di semua penjuru di pajang foto-foto Tan dan tepat di bagian tengah kita juga dapat mengetahui daftar ranji Datuk Tan Malaka dari Ninik Mamak yang bertalian darah. Jendela di buka lebar-lebar mengatasi kepengapan. Di sela kami melihat sekililing sebuah buku dikeluarkan oleh bapak Indra, Verguisd en Vergeten, Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. Buku ini dalam satu paket yang berisi tiga buah, deel 1 berwarna coklat muda, deel 2 ungu dan deel 3 biru, ketiga nya tebal-tebal. Karangan Harry Poeze tentunya. Bapak Indra mengungkapkan andai dia mengerti bahasa Belanda tentu banyak hal yang dia ketahui tentang sejarah leluhurnya tersebut. Harry Poeze memang dengan sangat serius meneliti tentang Tan, ini buku terbaru yang dia klaim sangat lengkap. Selama ini bapak Indra hanya mendengar cerita dari kakek dan orang-orang tua yang sedikit banyaknya tahu tentang kisah Tan, seperti cerita turun menurun. Di matanya masih banyak tersimpan keraguan-keraguan, hasrat ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dia juga mengetahui tentang penemuan makam Tan di Kediri, penelusuran yang dilakukan Harry Poeze. Walaupun kelanjutannya dia juga belum tahu. Dia berharap sambil membolak-balik buku itu akan ada terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia.
Read More......
Satu tahun belum lagi saya pulang ke Solok, kampung halaman. Momen seperti bulan puasa dan lebaran adalah waktu yang biasa dipergunakan oleh kebanyakan orang perantauan untuk kembali ke kampung halaman. Menemui orang tua, berlebaran bersama keluarga, mengunjungi sanak famili dan teman-teman lama.
Senin, 29 September 2008 sekitar pukul 17.30 di depan kantor DPRD kota Solok, ada konsentrasi keramaian. Sebelum masuk lokasi ada spanduk betuliskan Pasar Pabukoan Kota Solok. Macam-macam lauk, panganan untuk berbuka khas Minangkabau dapat ditemui dengan mudah. Pedagang dan pembeli berseliweran di sini. Tak terlalu luas, hanya ruas jalan di samping kantor Telkom Solok yang dipergunakan. Susunan meja dan lapak seadanya. Saya di sana waktu itu.
Orangnya berkumis, perawakannya besar. Tangannya cekatan ketika memindahkan lauk dari wadah ke plastik. Ini tahun ke 2 baginya berjualan masakan di pasa pabukoan. Nama warung makan ini lumayan santer terdengar bagi siapa saja yang menginginkan masakan enak yang sedikit berbeda. Andalannya gulai tunjang. Jika pada hari biasa, Ampera Etek dapat kita temui di kawasan teminal angkot Solok. Khusus setiap bulan puasa di pasar pabukoan ini Ampera Etek hanya menjual samba (lauk).
Dari informasi yang diberikan bapak Irmi Rahnadasyan, atau yang biasa dipanggil Pak Guru ini, pasar pabukoan ini baru 2 tahun berjalan di lokasi yang baru ini. Sebelumnya sudah pernah ada, lokasinya berada di tengah pasar. Pemerintah melalui instansi yang terkait yaitu Dinas Pasar Raya meminta pedagang khusus pasa pabukoan ini pindah ke lokasi yang baru. Mengambil tempat di ruas jalan antara kantor Telkom kota Solok dan bekas rumah dinas Bupati lama. Di situlah lapak dan meja-meja pedagang tersusun dengan rapi. Perhitungannya setiap pedagang membayar Rp. 7500,- untuk 1 meja.
Walaupun suasana di sini cukup memadai untuk berjualan, dengan banyaknya urang Solok yang masih berkunjung ke sini saban sore. Pak Guru menilai tempat ini masih mempunyai kekurangan seperti ketidakadaan MCK yang memadai. Bahkan untuk menunaikan shalat magrib pun harus ke masjid yang tak bisa dibilang dekat. Ke masjid setidaknya harus menempuh jarak 300-400 meter. Di lokasi pun tak mungkin menunaikan shalat karena kurang bersih untuk melaksanakan ibadah. Biasanya sebelum Isya orang-orang di sana mulai berkemas-kemas dan biasanya sebagian besar telah meninggalkan lokasi. Meja-meja disingkirkan dan jalanan yang beralih fungsi ini mulai dipergunakan kembali seperti biasanya.
Seminggu kemudian saya ditemani seorang teman berencana melakukan perjalanan ke daerah Suliki. Senin, 6 Oktober 2008 pagi sekitar jam 10 kami memulai perjalanan dari kota Solok. Perkiraannya kami akan menempuh waktu sekitar 2,5-3 jam hingga ke tempat tujuan. Matahari tak begitu terik memancarkan sinarnya, bahkan di beberapa belahan langit terlihat mendung. Bensin motor telah terisi penuh, ini pun kami harus antri. Dari Solok kami bertolak melewati Sumani, biasanya daerah ini adalah titik macet, apalagi masih dalam suasana lebaran yang selalu dihiasi bermacam kendaraan bermotor. Yang paling ramai tentu truk atau mobil dengan bak terbuka di belakangnya. Diisi sebanyak-banyak orang, angkatan tua dan muda menuju tempat wisata. Di jalan pun jika bertemu kolega dengan transportasi yang sama biasa menjadi lawan. Anak-anak kecil hingga remaja dan dewasa yang tak mau ketinggalan mempersenjatai dirinya dengan pistol mainan, berbagai ukuran. Amunisinya peluru bulat warna-warni. Terjadilah pertempuran singkat. Kadang masyarakat di daerah yang dilewati juga sering ikutan. Mereka bergerombol, biasanya di kedai tepi jalan, pos siskamling atau tempat yang strategis. Mobil lewat dan menampakkan tanda-tanda penyerangan mereka telah siap. Menambah suasana ramai lebaran tapi riskan juga mengenai pengguna jalan yang tak berdosa. Jika sudah begitu bisa-bisa semua pengguna jalan baik pengendara roda empat atau roda dua akan bersiaga juga dengan menyiapkan pistol mainan yang marak di pasar menjelang setiap lebaran.
Menurut informasi dari teman seorang polisi yang dinas di daerah Paninggahan jalan Sumani-Singkarak padat lancar. Kita belum akan menemukan kemacetan pikir saya. Dan ternyata pasar Sumani yang biasanya kendaraan tumplek di sana lengang. Bahkan di dermaga danau Singkarak yang dijadikan semacam tempat bermain di hari lebaran, ada komedi putar dan rekan sejawatnya yang lain, juga belum menampakkan keramaian. Mungkin masih belum siang. Daerah terdekat yang akan kami tuju adalah kota Batusangkar. Sepanjang danau Singkarak kami melaju. Di pasar Ombilin kami mengambil jalan ke kanan setelah jembatan. Mendaki sedikit dan terpampanglah pemandangan indah. Kami melewati lereng bukit di samping kiri, dan jurang di samping kanan. Di lembah-lembah itu daerah pedesaan masih terlihat asri, sawah berjenjang-jenjang, pohon padat merayap, dan kincir air di sungai. Alangkah indahnya!
Perjalanan masih berlanjut hingga dari Batusangkar kami melewati daerah Baso. Jalannya panjang dan lurus, sesekali di jalan yang mulus ini ada turunan dan pendakian. Tak terasa kami sampai di Payakumbuh, tak masuk kota memang karena ke Suliki ini bisa dilewati tanpa melalui kawasan kota Payakumbuh. Kepenatan perjalanan belum juga habis, masih jauh lebih 30 km lagi baru akan sampai di Suliki. Kami sempat menangkap petunjuk jalan, lurus terus ke daerah Mungka, jika hendak ke Koto Tinggi dan Suliki mengambil jalan ke kiri.
Melewati daerah Danguang-danguang yang terkenal dengan satenya, lalu nagari-nagari kecil lainnya. Mulai dari situ, jalannya dinamakan jalan Tan Malaka. Panjang hingga ke daerah Pandan Gadang. Di sana rumah tempat Tan Malaka sebelum merantau ke Bukit Tinggi, setelah itu Nusantara dan Asia hingga ke Eropa timur dijamahnya..
Keramaian telah lewat saat sudah dekat sebelum memasuki Pandan Gadang. Yang tersisa hanya barisan bukit-bukit menjulang tinggi, bersatu padu memagari negeri dan lembah di bawahnya. Pemukiman penduduk hanya berjejer di pinggir jalan, sawah dan ladang yang sangat luas memenuhi daerah ini. Belok kanan sembari mendaki sedikit lalu agak lurus akhirnya sampai juga di rumah Tan Malaka. Kami yang pertama kali menelusuri jalan ini tak begitu sulit menemukan lokasi. Jika kebingungan, tinggal bertanya saja ke penduduk, dari awal hingga akhir perjalanan pun tak akan terasa susah.
Lokasi rumah Tan terletak di sisi kiri jalan dari arah Payakumbuh. Bukan berarti tepat langsung berhadapan dengan jalan tapi untuk sampai ke sana harus melewati jalan tanah setapak yang bisa dilalui mobil, lumayan lebar dan tidak rusak. Di sana, di depan sebuah rumah ditancapkan plang petunjuk berjudul Rumah Tan Malaka, Meseum dan Pustaka, bercat putih dengan dasar warna hijau. Bertonggak bambu, arah panah berwarna kuning.
Halamannya cukup luas, di depan rumah banyak tumbuh pohon kelapa dan ada kolam yang sudah tak berisi air. Entah ikan di dalamnya baru saja dipanen. Kami menaiki anak yang berjumlah tujuh buah, menghadapi pintu yang tertutup. Jendalapun tak ada yang buka, sepertinya tak ada penghuni di dalam. Berkali-kali diketok tak ada juga sahutan dari dalam. Dari arah surau yang tak jauh dari rumah baru tampak seorang perempuan berjalan mendekat ke arah rumah. Mudah-mudahan perempuan itu penghuni rumah, ternyata benar.
Pintu dibukakan sambil mengatakan dia akan segera memanggil ayahnya. Saya rasa dia masih sekolah. Kami masuk, dan dipersilahkan duduk di beranda. Sofa lusuh yang tak empuk lagi menjadi sandaran kami yang terbuat lelah karena perjalanannya. Rasa lelah menjadi tak berharga karena sekarang kami sudah berada di dalam rumah “Bapak bangsa yang terlupakan”.
Lalu muncul seorang laki-laki, setengah baya. Saya dan rekan langsung menyalaminya. Kami lalu memperkenalkan diri dan mengutarakan keinginan. Ia memperkenalkan diri sebagai Indra Ibrur Aditama, generasi ke empat dari Dt. Ibrahim Tan Malaka. Ayahnya bernama Johanes, ibunya bisa dibilang cucu Tan Malaka, Ananurnia. Sayang saya tak menanyakan lebih lanjut tentang hubungan keluarga dan silsilah lebih lanjut tentang generasi Tan Malaka. Di tempat yang bisa disebut ruang tamu ini banyak foto-foto Tan, dan keluarga generasi selanjutnya, bapak Indra mengungkapkan kebanyakan foto adalah sumbangan dari para kolektor atau siapa saja ketika rumah Tan ini dijadikan meseum pada tahun 2008 ini, belum terlalu lama. Beliau menerawang ke waktu itu, keadaan rumah itu ramai dan meriah, pemerintah melalui instansi terkait juga hadir bersama keluarga dan penduduk sekitar. Kini hanya sunyi senyap yang hadir. Bahkan pemerintah terkesan melupakan, secara eksplisit dia mengungkapkan setidaknya ada perhatia pemerintah untuk perawatan, karena ini rumah telah menjadi milik publik, meseum!
Kami dipersilahkan masuk ke ruang utama yang lapang, standarnya rumah gadang, tonggak tengah rumah terkesan kokoh. Di sini di isi dengan beberapa lemari berisi buku-buku karya Tan, ataupun buku tentang Tan Malaka karya penulis lain. Buku tamu disediakan di sebuah meja tepat di depan saat hendak masuk. Saya menelusuri nama-nama dan alamat orang-orang yang pernah berkunjung ke sini. Dari daerah Jawa tidaklah sedikit, LSM, kampus dan sebagainya. Di bagian awal tanggal 4-1-2005 ada nama Harry Poeze. Luar biasa peneliti yang satu ini pikir saya, itu bukan pertama kalinya dia ke sini. Bahkan ketika bapak Indra masih kecil dia telah juga pernah ke sini.
Lemari bukunya rendah-rendah, jadi buku disusun mendatar pada bagian bawah lemari, bagian atas dan depan di beri kaca.
Selebihnya di dinding rumah, hampir di semua penjuru di pajang foto-foto Tan dan tepat di bagian tengah kita juga dapat mengetahui daftar ranji Datuk Tan Malaka dari Ninik Mamak yang bertalian darah. Jendela di buka lebar-lebar mengatasi kepengapan. Di sela kami melihat sekililing sebuah buku dikeluarkan oleh bapak Indra, Verguisd en Vergeten, Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. Buku ini dalam satu paket yang berisi tiga buah, deel 1 berwarna coklat muda, deel 2 ungu dan deel 3 biru, ketiga nya tebal-tebal. Karangan Harry Poeze tentunya. Bapak Indra mengungkapkan andai dia mengerti bahasa Belanda tentu banyak hal yang dia ketahui tentang sejarah leluhurnya tersebut. Harry Poeze memang dengan sangat serius meneliti tentang Tan, ini buku terbaru yang dia klaim sangat lengkap. Selama ini bapak Indra hanya mendengar cerita dari kakek dan orang-orang tua yang sedikit banyaknya tahu tentang kisah Tan, seperti cerita turun menurun. Di matanya masih banyak tersimpan keraguan-keraguan, hasrat ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dia juga mengetahui tentang penemuan makam Tan di Kediri, penelusuran yang dilakukan Harry Poeze. Walaupun kelanjutannya dia juga belum tahu. Dia berharap sambil membolak-balik buku itu akan ada terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia.
Read More......
Langganan:
Postingan (Atom)
