Kamis, 24 Juli 2008

Rindu Menulis

Sudah lama Sekali tidak menulis, mencurahkan pikiran ke dalam bentuk informasi entah berita, entah kejadian harian. Rindu juga tangan ini berkalaborasi dengan otak dan hati untuk coba terus belajar menulis yang baik. Sekarang waktu tak ada cukup untuk itu, kalau tidak pagi, malam jua bekerja. Jika semua telah teratur jadwal dan apa yang mesti diatur serta pandai memanfaatkan waktu akan datang juga kesempatan itu.
Sekolah sebentar lagi juga akan mulai. Sampai terbiasa semua akan lancar-lancar saja



Read More......

Selasa, 01 Juli 2008

Siti Nurbaya is Gangster

Berikut ini adalah sebuah artikel di majalah Tempo edisi khusus Kebangkitan Nasional 1908-2008. Salah satu cara media jurnalistik memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional. Entah kenapa aku begitu tertarik dengan yang satu ini. Padahal banyak yang lain, seratus karya. Semuanya tentang buku, Tempo memberi tema besar "Berbagai Tinta Menulis Indonesia". Ya untuk yang tak sempat membeli majalah Tempo, tak sempat membaca, tak sempat tahu. Ini menjadi sedikit tambahan ilmu pengetahuan. Mudah-mudahan bemanfaat.

Perlawanan Abadi Siti Nurbaya

Tak sekedar menyorot kawin paksa, roman itu juga mendobrak kekakuan adat. Sebuah referensi klasik sastra Indonesia.

Siti Nurbaya belum mati. Entah sejak kapan nama itu menjadi lambang perempuan modern yang tertindas kekolotan adat. Boleh dibilang, tak ada tokh fiktif sastra Indonesia modern yang bisa menandingi nilai personafikasi sosok perempuan ini.
Tokoh sentral dalam Roman Siti Nurbaya (garis miring) karya Marah Rusli itu telah hadir di ruang-ruang kelas sekolah sejak diterbitkan Balai Pustaka pada 1922. Siti Nurbaya (garis miring) bahkan mengilhami beberapa sutradara untuk mengangkat kisahnya ke layar kaca. Di Padang, Siti Nurbaya hadir seperti sosok riil. Ada jembatan atas namanya, ada pula makam lengkap dengan cungkup dan kelambunya.
Siti Nurbaya memang telah mempengaruhi kehidupan nyata. Yang menarik, beberapa lama setelah roman itu lahir, tejadi perubahan dalam keudayaan masyarakat Minangkabau, terutama berkaitan dengan kawin paksa. Roman itu kemudan menjadi counter-culture(garis miring), yang mengejek setiap orang tua ketika hendak memaksa anak perempuannya kawin dengan perjodohan paksa: ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya.
Siti Nurbaya (garis miring) adalah Roman marah Rusli yang paling masyhur di angkatan Balai Pustaka. Marah Rusli dinilai sebagai salah satu pelopor yang mengakhiri zaman kesusteraan lama. Persoalan yang dikemukakan di dalam karya-karyanya bukan lagi istana-sentris dan hal-hal bersifat fantasi belaka, melainkan gambaran realitas masyarakat pada masa itu.
Roman Siti Nurbaya (garis miring)berkisah tentang percintaan melodramatis Siti Nurbaya dengan Syamsul Bahri. Namun orang tua Siti tak menyetujui. Siti pun menikah dengan Datuk Maringgih, orang tua kaya berhati licik. Siti akhirnya meninggal diracun anak buah Datuk Maringgih. Syamsul pun mati.
Siti Nurbaya menarik karena roman ini mampu membangun pemahaman baru akan kegelisahan perempuan terhadap adat dan kebudayaan yang mencengkram mereka. Cerita ini sekaligus mengambarkan pengorbanan perempuan-Siti Nurbaya-untuk kedua orang tuanya dengan menikahi Datuk kaya demi melunasi utang orang tua.
Ini yang membuat roman tersebut kuat. Rusli-kelahiran Padang, 7 Agustus 1889-mengalirkan gagasannya hingga terasa mendahului zamannya. Lewat dialog tokoh-tokohnya, Rusli menyampaikan gagasan tentang kekolotan di kalangan bangsawan yang merugikan, kearifan hidup pada zaman perubahan, corak perkawinan ideal, keburukan poligami, serta masalah hubungan laki-laki dan perempuan.
Lewat romannya itu, seperti pernah ditulis sejarawan Taufk Abdullah di majalah Tempo (garis miring), Rusli seakan menginginkan reformasi ideal. Ia mencita-citakan perkawinan tanpa paksaan. Ia juga menentang keras poligami. Secara karikaturis ia mengecam...selanjutnya di majalah Tempo, sedikit lagi kok.


Read More......

For the owner of my Heart also my sweet little Princes




Bersama Stanny, berwawancara di toga mas Galeria. Great chance! Bekerja untuk berpenghasilan bergelut dengan buku. Hahaha
Read More......

Jumat, 06 Juni 2008

Pulang

Masa ujian telah berakhir, itupun hanya seminggu. Tak perlu penderitaan yang lebih lama. Efektif memang kalau jadwal ujian hanya seminggu, dua buah mata kuliah yang diujiankan dalam sehari. Bahkan ada juga yang dalam sehari dapat menjalani tiga kali ujian. Keefektifannya terlihat ketika ujian selesai, mereka yang ingin segera mudik ke kampung halaman dapat segera pulang. Waktunya pun juga semakin panjang saat harus kembali lagi dari masa liburan. Seperti salah seorang teman dari Jakarta yang bakal pulang hari Sabtu. Kita selesai ujian hari Jumat tanggal 6 Juni, sebenarnya dia berencana dan bisa langsung pulang sorenya. Tapi diundur satu hari saja karena rapat terakhir persiapan Ospek. Lalu teman sesama dari Padang memutuskan pulang hari Selasa dengan menebus sekitar 900 ribuan. Sore jumat ini setelah mengikuti rapat persiapan Ospek yang terakhir, aku menemani teman dari Padang satu lagi untuk booking tiket kepulangannya. Harganya berkisar 900 ribu sampai 1 jutaan. Cukup besar untuk itu. Aku jadi puyeng memikirkan, sementara aku masih terombang-ambing belum bisa memutuskan apakah aku akan ikut-ikutan pulang atau tidak.

Setelah rapat, dan aku akan berada di posisi pendamping pada Ospek nanti. Ada beberapa persiapan yang harus disiapkan, sebenarnya tak banyak. Aku harus menguasai tentang materi tentang State of War, di dalamnya terdapat unsur-unsur kebersamaan, berani berpikir, tanggung jawab dan kebebasan bersekspresi. Diharuskan juga untuk menyertakan tulisan sebanyak 2 atau 3 halaman. Tanggal 28 Juli, kita akan rapat persiapan lagi, jadi sebelum tanggal bagi mereka yang pulang diharuskan sudah berada di Jogja lagi.

Jumat malam ini tiba-tiba hp ku berdering orang tua ku menelfon. Menanyakan tentang ujian dan tetek bengeknya. Percakapan kali ini aku sarat dengan kesan emosional yang terjalin antara anak dan orang tuanya. Pokok pembahasan yang pasti disinggung adalah apakah aku akan pulang atau tidak. Aku tak sanggup menjawab pertanyaan itu, walaupun mereka tak menanyakan secara langsung. Tapi aku menangkap mereka menelfon ku malam ini, secara tersirat menanyakan kapan waktunya untukku akan pulang.
Aku mengemukakan beberapa pernyataan. Aku memang punya keinginan pulang, siapa yang tak ingin pulang setelah tak bertemu dengan orang tua, tak merasakan suasana rumah kampung halaman, tak menikmati kebersamaan dan canda tawa dengan teman-teman yang sudah lama ditinggalkan, tak melihat perkembangan-perkembangan yang terjadi di kampung tempat aku beranjak meningalkannya merantau demi ilmu pengetahuan dan pengalaman. Tapi aku tak pulang ke Banjarnegara, Cilacap, Semarang, Tegal, Ngawi, Blora atau daerah-daerah di kawasan Jawa. Aku pulang ke Sumatera, melintas pulau, negeri pesisir barat sumatera yang tandus dan subur. Tak terhitung banyak pengeluaran yang harus dikeluarkan orang tuaku untuk kepulangan yang tak mungkin akan lama ini. Bagaimana aku pulang kalau hanya 1-2 minggu, atau paling lama 3 minggu. Hanya akan sia-sia karena aku tak banyak juga di rumah kalau pulang, aku sibuk ke luar menjumpai teman-teman, melihat-lihat perubahan pemandangan alam. Ya mungkin saja jangan-jangan danau Singkarak airnya surut sekitar 5 kilometer, atau menyaksikan gunung Talang meletus.
Kenapa bakal tak lama padahal ada waktu sekitar 1 atau 2 bulan dialokasikan untuk masa liburan kuliah. Yang pertama selain akan harus kembali lagi ke Jogja sebelum tanggal 28 Juli, selanjutnya ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Yang paling dekat adalah mencoba membikin tulisan untuk Jurnal Filsafat yang baru. Sekalian pengumuman siapa tahu teman-teman di Padang, Aceh, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Papua seluruh pelosok Nusantara yang membaca blog ini berminat untuk:

UNDANGAN MENULIS DI JURNAL MAHASISWA FAKULTAS FILSAFAT UGM

Dalam diskursus filsafat kematian mengandung jamak pemaknaan. Karenannya ia tak bisa ditempatkan pada kapling kategoris interpretasi. Pada kesempatan ini, Jurnal Mahasiswa KACAMATA Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada mengundang Anda untuk menguntai gagasan dari sengkarut kematian melalui karya tulis.

TEMA: KEMATIAN

Tema Pilihan*:
1. Harakiri: antara Mempertahankan dan Mengakhiri Eksistensi
2. Ambivalensi Kematian: Akhir atau Perpindahan Konteks Kehidupan
3. Menuju Kematian Ideal
4. Meraih Solusi dengan Bunuh Diri: Sebuah Telaah Filosofis
5. Akhir Kehadiran Subjek
6. Upaya Mengakhiri Kedigdyaan Teks
7. Kematian Tuhan
8. Hak Menghadirkan Kematian: Silang Kuasa antara Tuhan dan Manusia

*Dibebaskan memakai perspektif filosof tertentu yang terkait

Syarat dan Prosedur Penulisan:
1. Penulis adalah Mahasiswa D3 atau S1 segala disiplin ilmu
2. Gagasan tulisan hasil telaah pribadi dan belum pernah dipublikasikan
3. Memakai gaya bahasa renyah, tanpa lepas dari EYD
4. Menggunakan penulisan ilmiah, acuan dan keterangan tambahan memakai endnote (lengkap)
5. Panjang tulisan 14-17 halaman kertas A4 spasi 1.5, semua marin 3 cm. dan front Times New Roman (12)
6. Menyertakan identitas lengkap meliputi: nama, jurusan asal PT, alamat, nomor telp/hp dan email, foto close up, dan data diri yang ditulis secara naratif
7. Dikrim melalui email ke: kacamata@filsafat.ugm.ac.id
8. Batas waktu pengiriman naskah tanggal 13 Juli 2008
9. Tim Editor Jurnal Kacamata berhak menyunting tanpa mengubah gagasan
10. Segala plagiarisme menyebabkan diskualifikasi

Alamat Redaksi:
Fakultas Filsafat Jalan Olah Raga Bulaksumur Yogyakarta 55281
Contacs: 08562924786-08564007416 Iklan/distribusi: 081326647850 (Haqi)
Home: www.jurnalmahasiswa.filsaat.ugm.ac.id
Email: kacamata@filsafat.ugm.ac.id

INFO SELENGKAPNYA Klik: www.mcnadjib.wordpress.com

Butuh waktu yang panjang untuk menyelesaikannya, referensi yang benar-benar relevan, atau mungkin sedikit penelitian kualitatif. Bagiku ini ujian besar dalam proses belajar menulis. Mudah-mudahan saja berjalan lancar dan hasilnya jadi dan memuaskan. Cukup sudah beretorika, saatnya berkata melalui karya.

Lalu alasan berpikir tentang rencana kepulangan ini adalah seperti pengalaman yang sudah-sudah saat berkesempatan pulang pada masa liburan, aku juga pulang saat lebaran, Jarak waktunya kadang-kadang dekat sekali. Saatnya untuk berani memilih pulang dengan waktu yang tepat, jangan terjebak terlalu dalam pada kemelankonisan. Ya begitulah akhirnya tak pulang pada liburan semester ini.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, terheran-heran kenapa buat pulang saja susah. Pulang ya tinggal pulang tak usah banyak pertimbangan. Bagiku tidak tentang itu, aku hanya sedikit menampilkan sisi yang berbeda dengan dimensi yang jauh dari sudut pandang biasa ku.
Pulang tak hanya membawa badan dan barang, pulang juga membawa jiwa. Jiwa yang siap untuk pulang, siap dan tidak kaget melihat perubahan. Tidak canggung, bahkan tidak terkejut seperti yang pernah dibayangkan sebelumnya.
Pulang membawa beban, meninggalkan banyak cerita.
Read More......

Surat

Assalamualaikum Ayahnda dan Ibunda...

Bagaimana ananda akan memulai mengatakan sesuatau yang sebenarnya tak dapat ananda ungkapkan. Tapi ananda tak akan menjadi berani jika tak mengatakannya kepada ayahnda dan ibunda. Ananda belajar menjadi orang yang berani hingga jauh diri ini dari ayahnda dan ibunda. Tak lagi bisa ayahnda dan ibunda amati setiap saat, tak dalam pengawasan mata, tak juga dalam nasihat ayahnda dan ibunda langsung.

Sejauh waktu ananda berjauhan dari ayahnda dan ibunda, tak sedikit yang ananda temui dalam hidup ini. Berbagai macam ilmu pngetahuan menyerang ananda bertubi-tubi. Hingga tak terelakkan olehnya, bukannya ananda mengelak bukannya anda kenyang dengan semua yang ananda dapat rasai itu, malah ananda semakin lapar dan haus dengan ilmu pengetahuan itu sendiri. Ananda sekarang tentu sama seperti ayahnda dan ibunda dulu, banyak bertemu macam manusia. Bertanya dan tak henti-hentinya ananda berbincang dengan sekian ragam manusia itu ayah bunda. Banyak yang ananda ketahui jika sebelumnya tak ananda ketahui, banyak hal yang ananda terima dan ananda anggap semua itu ilmu pengetahuan ayah bunda. Sekolah formal ananda masih seperti yang ananda niatkan dulu sebelum ananda menjejakkan kaki di tanah jawa ini. Tak ada yang kurang tak ada yang tak berkembang dalam diri ananda ini, jiwa dan raga. Tak perlu ayahnda dan ibunda cemaskan. Dalam hal ini ananda masih berada di jalan yang sama ketika ayahnda dan ibunda melepaskan ananda dulu.


Tak terbersit sedikitpun dalam hati ini untuk memperlama dan mempersulit masa selesai sekolah ananda. Malah begitu keras keinginan untuk segera menyandang gelar sarjana, dan lepas dari kesusahan ayahnda dan ibunda dalam membiayai sekolah ananda. Sesegera mungkin ada pikiran untuk secepat mungkin berjalanlah waktu sekencang mungkin. Hingga ananda sudah berpenghasilan sendiri. Berniat ananda untuk menyekolahkan adinda, bungsu ayahnda dan ibunda. Setidaknya meringankan beban ayah dan bunda. Ananda kadang merasa malu juga pada diri ini, di usia yang tak bisa dibilang kanak-kanak ini, ananda masih begantung pada ayahnda dan ibunda seutuhnya. Tak mengurangi beban, malah ananda merasakan beban ayah bunda semakin berat. Tapi ayahnda dan ibunda selalu menjawab 'itu sudah kewajiban kami, tak perlu dipikirkan'. Begitu mulianya ayahnda dan ibunda. Ananda langsung nelangsa mendengarnya dan yang tersisa hanya keinginan untuk membalas dan tak menyiakan kasih sayang ayah bunda.

Sekarang ayah bunda. Belum sempat ananda mengurangi beban ayah bunda, belum sedikitpun menghadirkan kebanggaan dalam diri ayah bunda. Ananda yang hina ini, malah melawan kepercayaan ayah bunda. Ananda menghadirkan sesuatu yang tak pantas ayah dan bunda terima. Ananda hina ayah bunda.
Ananda menyakiti hati, harga diri ayah bunda.
Kabar yang telah datang pada ayah bunda ini tentu sangat tak dapat ananda bayangkan bagaimana perasaan ayah dan bunda.

Dalam kesempatan ini, ananda mohon izin secara tulisan ini pada ayah bunda untuk menikah. Ananda tak dapat lagi bertahan untuk selalu terus begini. Sudah saat yang tepat ananda rasa jika ananda punya keinginan ini. Mungkin bagi ayah bunda serasa tergesa-gesa, tapi tidak bagi ananda, ayah bunda. Mungkin yang ayah bunda bayangkan bagaimana kehidupan ananda ke depan. Ayah bunda tak perlu khawatir, karena ananda siap menjalaninya apapun hambatan dan halangannya. Ananda siap karena yakin dengan apa yang ananda pilih, apa yang ananda kehendaki.
Apakah ananda anak yang tak berbakti pada orang tua, ayah bunda? Ananda menghancurkan harapan ayah bunda? Tapi apa yang ananda hancurkan harapan ayah bunda, ananda tetap menjalani sekolah, dan terus akan menyelesaikannya, walaupun seandainya ini terwujud, sekolah bukan satu-satunya yang ananda pikirkan. Ananda juga harus punya penghasilan untuk menghidupi keluarga ananda. Ananda siap untuk itu ayah bunda.
Sekiranya sekarang ananda mohon kerelaan dan pikiran yang matang dari ayah bunda, dan mudah-mudahan memberikan keputusan yang sebaik-baiknya.

Tulisan ini hanya menjadi penghantar kepada ayah bunda, secepatnya ananda akan pulang. Agar ananda, ayah dan bunda dapat membicarakan ini secara lisan. Karena dengan tatap muka, ada kejelasan yang bisa diselesaikan.

Sedikit ananda perkenalkan gadis yang akan menjadi teman hidup ananda. Namanya A, seorang gadis jawa ayah bunda. Orang tuanya tinggal di S. Bersekolah juga di Y. Umurnya dua tahun di bawah ananda. Mudah-mudahan dengan ridho dari ayah bunda bisa menjadi menantu yang baik. Dari kita berdua tak ada lagi yang tertinggal, semuanya telah kami pertibangkan baik buruknya. Ke orangtuanya pun ananda telah mengungkapkan ini.

Sembah hormat ananda
Read More......

Kamis, 29 Mei 2008

Harga Sebuah Eksistensi

Proses perjalanan dalam hari-hari terakhir kepengurusan Forkommi (Forum komunikasi mahasiswa minang) UGMtahun 2007/2008. Aku melihat ada 3 fase, yang pertama konsolidasi anggota, suksesi kepemimpinan dan musyawarah besar. Aku menyebutnya seperti itu, nama acara jelasnya aku tak tahu. Kira-kira aku rasakan begitu.

1. Konsolidasi yang coba digalang beberapa senior, pengurus 2007/2008, dan individu yang peduli pada institusi ini. Aku rasa semua orang peduli terhadap Forkommi, tingkat kepeduliannya saja yang membedakan. Aku tak habis pikir ketika Pak Wo memaksa dan sangat mengharapkan kehadiran ku dalam pertemuan yang direncanakan tersebut. Untuk kali ini akan diadakan di kosanku. Kebetulan aku dan Pak Wo satu kos. Pak Wo menunjukkan tingkat kepedulian yang sangat akhir-akhir ini dari tindakan-tindakannya. Sejauh apa yang dia lakukan aku tak tahu. Hanya aku merasa Pak Wo bekerja keras agar semuanya lancar. Yang lain pun aku rasa begitu.

Dihadiri beberapa orang, pokok pertemuan diarahkan pada angkatan 2006 yang akan melanjutkan tongkat kepemimpinan Forkommi selanjutnya. Ada aku, Heru, Rian, Hendro dan satu perempuan yang aku lupa namanya. Lalu Arief, ketua yang masih menjabat sampai pembubaran saat Mubes. Da Ipam dan Da Tommi, dua ketua sebelum Arief. Ilham, Nia, Yogi dan Pak Wo. Dari penjelasan mereka, ini pertemuan yang terakhir setelah hari-hari sebelumnya diadakan di beberapa tempat dengan orang-orang yang berbeda. Pendahuluan sesaat yang mengingatkan semua akan fitrah Forkommi. Lalu permintaan mengemukakan pendapat, berupa apa yang dirasakan selama menjadi anggota forkommi lalu rekomendasi langkah selanjutnya; inti dari pertemuan ini. Semua di sini bicara sebatas sharing, bukan mencari benar salah, menilai suka atau tidaksuka. Hal penting lainnya adalah pernyataan kesediaan angkatan 2006 untuk memegang, melanjutkan dan mengembangkan perjalanan Forkommi selanjutnya. Lama kita bicara, ngobrol dan bertukar pikiran. Walaupun begitu dari pertemuan yang sangat kekeuargaan ini, aspek-aspek yang ingin dicapai telah terangkum semua.

2. Suksesi kepemimpinan. Aku tak tahu kalau hanya ada aku sendiri dalam pertemuan kali ini. Aku berhadapan dengan Da Roni, Arief, Nia, Lola dan Pak Wo. Lagi-lagi pak Wo sangat mengharapkan kesediaan waktuku untuk menghadiri pertemuan ini. Kerja keras dan keinginan Pak Wo sangat jelas tergambar dari mukanya. Dedikasi yang patut diancungi jempol, yang lain juga. Terjawab keheranana-keherananku tentang tingkah Pak Wo. Setelah menikmati waktu kekosongan dari aktivitas organisasi di kampus, benar-benar hanya fokus kuliah. Pak Wo mulai menapaki jalan demi membawa Forkommi bangkit dari 'keterpurukan' ini. Pak Wo tak ingin menyesal untuk kedua kali, setelah penyesalan pertama kali dulu. Setahun yang lewat ketika Mubes Forkommi Pak Wo tak mengambil peran dalam kepengurusan. Pak Wo punya kapasitas yang lebih dari cukup untuk memimpin Forkommi, tapi karena kekhawatiran fokusnya terbagi dengan organisasi lain. Pak Wo menampik jalan itu. Mungkin aku agak salah menggunakan kata menyesal, tapi mau pakai kata apa lagi? Sekarang Pak Wo tak mau membuang kesempatan ini, dan aku lihat keseriusan Pak Wo dan yang lainnya untuk mengayomi dan bersama-sama melangkah dengan yang merasa Forkommi sesuatu yang harus diperjuangkan demi pencapaian yang lebih baik. Membuat eksistensi yang lebih vulgar, yang lebih menderapkan langkah.
Setelah pendahuluan, lalu masuk ke pokok persoalan. Terjadilah lemparan-lemparan pernyataan, saran dan dialektika pembicaraan antara aku dan steering committe. Semuanya masih dalam batasan Sharing. Tak ada unsur-unsur otoritas, perdebatan yang tajam. Pada khirnya di waktu lebih dari sejam aku menolak untuk masuk dalam bursa calon ketua Forkommi.

3. Musyawarah Besar XII Forkommi UGM, Minggu 18 Mei 2008, di Asrama Putri Bundo Kanduang JL. Bintaran Tengah No. 7 Yogyakarta.
Pagi itu acara yang rencana akan di selenggarakan jam 8, malah molor hingga jam 10. Peserta Mubes pun tak bisa dibilang banyak. Hingga saat Maghrib aku di sana peserta sudah lumayan banyak. Sidang Pendahuluan oleh badan pekerja Mubes, membahas berupa rancangan Tata Tertib Mubes XII. Dilanjutkan dengan pemilihan pimpinan sidang tetap.
Pimpinan sidang tetap terpilih melaksanakan sidang pleno. Di dalamnya bertujuan untuk memberikan penilaian terhadap laporan pertanggung jawaban pengurus.Selesai dan sore waktu itu meninjau penyempurnaan AD/ART/GBHK. Sama seperti tahun lalu aku masuk komisi A yang membahas AD/ART. Komposisi tahun sekarang beda. Tahun lalu aku masih banyak mengikuti, sekarang sudah banyak berkata. Dari kontribusiku yang sedikit ini aku setidaknya bisa mengungkapkan sesuatu dalam forum kecil ini. Hanya sampai Maghrib aku di sana, itupun pembahasan AD/ART kepada forum sidang belum selesai.
Menurut cerita Pak Wo, pembahasan AD/ART berjalan lebih lama dar yang lainnya. Andi terpilih menjadi ketua Forkommi tahun 2008/2009. Lalu pembahasan yang sama dengan tahun lalu juga kembali diungkapkan tahun ini lagi. Tentang perlu tidaknya diadakan posisi Sekjen dalam struktur kepengurusan Forkommi. Perdebatan yang panjang, akhirnya memutuskan untuk melegalkan posisi Sekjen. Begitulah.

Banyak atau tidak yang dapat dilaksanakan oleh kepengurusan Forkommi tahun lalu dan tahun ini, semua tergantung pada kontribusi bersama. Tak dapat diindahkan juga kalau organisasi ini menempatkan dua macam dalam perjalanannya. Menjadikannya sebagai organisasi sebagai konseptor dan eksekutor atau menjadikannya sebagai keluarga yang berdasar pada aspek kekeluargaan.
Entah seperti apa ke depan, aku belum dapat memutuskan aku akan bagaimana di dalamnya. Aku akan berbuat sebisa apa yang akan aku lakukan. Mulai dari bagaimana memahami posisi dan tindakan aplikasi nyata.
Semua tentu berpengharapan akan melakukan yang terbaik. Ini akan menjadi baik, ini akan menjadi kebanggaan, ini akan menjadi keluarga.
Read More......

Sabtu, 24 Mei 2008

TINJAUAN HERMENEUTIKA MARTIN HEIDEGGER TERHADAP TEKS ANTI-KRIST FRIEDRICH NIETZSCHE


Hal pertama yang awal-awal dipahami adalah mengerti dengan baik tentang fenomenologi Heidegger. Hal ini penting karena menjadi penuntun untuk memahami bagaimana ‘Ada’ menyingkapkan diri. Heidegger sendiri memberikan kritik atas Rene Decartes yang menemukan cogito dan mempostulatkan cogito ergo sum tapi tak pernah mempertanyakan sum (ada) itu sendiri. Hal ini melatarbelakangi Heidegger menyatakan bahwa bukan kesadaran yang menentukan Ada melainkan Ada yang menetukan kesadaran.

Fenomenologi Heidegger itu sendiri adalah; kesadaran bukan hanya sadar akan sesuatu, yaitu memiliki isi tematis tertentu, melainkan terlebih sadar sebagai sesuatu (fokus pada subjek bukan objek). Ada yang lebih utama daripada kesadaran. Fenomenologi Heidegger lebih bersifat ontologis karena menyangkut kenyataan itu sendiri. Lalu prinsip fenomenologi selanjutnya adalah fakta keberadaan merupakan persoalan yang lebih fundamental ketimbang kesadaran dan pengetahuan manusia.

Dalam penjabaran tentang pembedaan ontologis (ontologishe differenz), ada 2 hal yaitu antara Sein dan Seinde, Ada dan Mengada. Untuk memahami Ada kita harus memulai dari Mengada yang bisa mempertanyakan Ada. Coba kita lihat dalam teks Anti-Krist nya Nietzsche.



Apakah baik itu?- Semua yang meninggikan kekuatan, kehendak berkuasa, kekuasaan itu sendiri dalam manusia.

Apakah buruk itu?- Semua yang berasal dari kelemahan.

Apakah kebahagiaan itu?-Perasaan bahwa kekuasaan meningkat- bahwa sebuah perlawanan telah diatasi.

Bukan kepuasan diri, melainkan lebih banyak kekuasaan; bukan perdamaian sama sekali, melainkan perang; bukan kebajikan, melainkan keterampilan (kebajikan dalam gaya Renaisans, virtu, kebajikan tanpa asam moralik).

Yang lemah dan penyakitan akan musnah: asas pertama filantropi kita. Dan orang harus membatu mereka menjadi musnah.

Apakah yang lebih merugikan ketimbang suatu kejahatan?- Simpati aktif untuk yang lemah dan penyakitan-Kristen.

Pembedaan ontologis yang membawa kepada pemisahan antara Ada dan Mengada coba ditelusuri dengan kesadaran akan sesuatu yang membuat kefokusan sendiri pada subjek bukan pada objek. Nietzsche telah memaparkan kenyataan berupa konteks-konteks Ada. Ini mengacu pada paparan berupa pertanyaan-pertanyaan seperti apakah baik itu, buruk, kebahagiaan. Nietzsche langsung mengkaitkan dengan jawaban yang berupa konteks Mengada. Konkritnya baik (sebagai ada) lalu semua yang meninggikan kekuatan, kehendak berkuasa, kekuasaan itu sendiri dalam manusia (sebagai mengada). Untuk memahami Ada, kita harus memulai dari Mengapa yang bisa mempertanyakan Ada langsung bisa terjawab dari contoh konkrit di atas.

Hal ini juga menggambarkan dan menjelaskan tentang ‘tidak semua Mengada bisa bertanya tentang Ada, yang bisa melakukan itu hanyalah Dasein (Ada-di-sana)’. Ada-di-sana untuk menujukkan ciri khas kemewaktuan dan keterlemparan manusia atau faksilitas. Perasaan bahwa kekuatan meningkat-bahwa sebuah perlawanan telah diatasi. Bukan kepuasan diri, melainkan lebih banyak kekuasaan; bukan perdamaian sama sekali, melainkan perang; bukan kebajikan, melainkan keterampilan (kebajikan dalam gaya Renaisans, virtu, kebajikan tanpa asam moralik) merupakan Dasein yang bisa menanyakan tentang Ada yaitu suatu kebahagiaan, apa kebahagiaan itu? Dasein di atas mampu melakukannya karena memenuhi faktor memiliki hubungan dengan Adanya, yakni terbuka tehadap penyingkapan Ada.

Tak salah juga kalau manusia adalah satu-satunya wadah bagi penyingkapan Sang Ada. Yang menyebabkan manusia memiliki potensi untuk mempertanyakan (interpretasi) keberadaannya, sehingga membuka diri terhadap realitas. Manusia adalah seorang pembawa pesan, pengungkap keberadaan, yang menjadi media penghubung jurang antara Ada yang tersembunyi dan yang terungkap; antara ketidakberadaan dan keberadaan.

Nietzsche yang dengan vitalismenya ini tempatnya jauh daripada agam kristen dan komunisme. Ia berkembang dalam suatu pergumulan yang berat dengan dirinya sendiri dan dunia ini. Baginya agama kristen adalah lambang pemutarbalikkan nilai-nilai. Sebab yang dipandang sebagai jiwa Kristiani ialah menolak segala yang alamiah sebagai hal yang tak layak, yang memusuhi segala yang nafsani. Pengertian “Allah” agama kristen adalah pengertian yang paling rusak dari segala pengertian tentang Allah, sebab Allah dipandang sebagai Allah anak-anak piatu dan janda-janda, Allah orang-orang sakit. Allah dipandang sebagai roh yang bertentangan sekali dengan hdup ini. Jiwa kristiani adalah jiwa yang tidak memberi penguasaan dan kebangsawanan.

Suatu penelahaan kritis atas konsep Kristen mengenai Tuhan mengundang simpulan yang sama. –Suatu bangsa yang masih mempercayai dirinya jiga masih memiliki Tuhannya sendiri. Dalam diri Tuhan ini bangsa itu menghargai kondisi-kondisi yang telah membuat sejahtera, kebajikan-kebajikannya-bangsa itu memproyeksikan kegembiraan atas keadaan dirinya, perasaan berkuasanya kepada suatu pendirian yang bisa disebut terima kasih. Prastruktur verstehen yang pertama yaitu Vorhabe; sesuatu yang sudah dipunya sebelumnya tercakup di atas.

Lalu Vorsicht; sesuatu yang sudah dilihat sebelumnya. Kristen berdiri bertentangan dengan semua kesehatan intelektual. Maksudnya apa? Ia (mengacu pada intelektual) hanya bisa menggunakan pikiran busuk sebagai pikiran Kristen, ia memihak kepada segala yang bodoh, ia menyatakan kutukan terhadap “roh”, terhadap keunggulan jiwa yang sehat. Karena sakit masuk dalam esensi Kristen, maka kondisi Kristen tipikal, yaitu “iman”, harus merupakan suatu bentuk kesakitan, setiap jalan yang langsung, jujur, saintifik menuju pengetahuan harus ditolak oleh gereja, sebagai jalan yang terlarang.

Nietzsche melanjutkan lebih jauh pada perbandingan antara Kristen dan Buddha. Ia mulai menapaki dan dapat ditangkap ada unsur Vorgriff; sesuatu yang sudah ditangkap sebelumnya. Bagi Nietzsche Kristen dan Buddha sama-sama agama nihilistik, sama-sama agama dekadensi tetapi berbeda dengan sangat menarik. Nietzsche mampu menghadirkan dan mengkomparasikannya. Hingga membawa kepada pemahaman yang dapat dipahami sebagai berikut. Buddha seratus kali lebih realistik ketimbang Kristen. Buddha memiliki komposisi yang terdiri dari warisan suatu penelahaan yang dingin atas berbagai masalah. Agama ini datang setelah suatu gerakan filosofis. Yang berlangsung ratusan tahun.

Ini kemudian menjadi sangat menarik. Pendapat Nietzsche: Buddhisme adalah satu-satunya agama yang benar-benar positivistik dalam sejarah bahkan dalam epistemologinya (suatu fenomenalisme kaku). Agama ini tidak lagi bicara mengenai “perjuangan melawan dosa” melainkan, dan ini sesuai dengan aktualitas, “perjuangan melawan penderitaan”. Yang membedakannya dengan Kristen adalah meninggalkan konsep-konsep moral yang menipu diri itu. Agama ini berada, dalam bahasa Nietzsche, di seberang baik dan jahat. Dua fakta psikologis yang mendasari dan yang menjadi tujuan adalah:

Pertama, suatu keterangsangan sensibilitas yang berlebihan yang mengekspresikan diri sebagai kemampuan tinggi untuk merasakan sakit, Kemudian suatu kelebihan intelektualitas, suatu kesibukan yang terlalu besar dengan konsep-konsep dan prosedur-prosedur logis di bawah mana instink personal telah dikalahkan oleh demi kemenangan yang “impersonal”.

Prakondisi untuk Buddhisme adalah iklim yang lunak, adat sangat halus dan liberal, tanpa militerisme; dan dalam klas-klas tinggi dan terpelajarlah gerakan ini memiliki lahannya. Tujuan tertingginya adalah keceriaan, kesunyian, tidak adanya nafsu dan tujuan ini tercapai. Buddhisme bukanlah agama tempat orang mencita-citakan kesempuan semata.

Sedangkan dalam Kristen instink-instink dari mereka yang dikalahkan dan ditindas maju ke muka: adalah klas-klas terendah yang mencari penyelamatan mereka dalam agama ini. Di sini bisnis kasuistik dosa, kritik diri, pengadilan-nurani dipraktekkan sebagai suatu spesifik melawan kebosanan; disini suatu sikap emosional terhadap satu kekuasaan, disebut ‘Tuhan’, selalu dihidup-hidupkan (melalui sembahyangan); disini hal-hal tertinggi dianggap tidak bisa dicapai, pahala, “berkat”. Disini juga tidak terdapat keterbukaan; ceruk di sudut, kamar gelap itulah Kristen. Disini tubuh itu dihina kesehatan ditolak sebagai sensualitas.

Artikulasi eksistensial pemahaman menjadikan bahasa sebagai alat pengungkapan Ada kepada pengertian Kristen yang lainnya. Kristen: kebencian terhadap mereka yang berifikir beda, kehendak untuk menindas. Kristen: permusuhan maut terhadap majikan-majikan di dunia, terhadap “ningrat” dan pada waktu yang sama kompetisi rahasia yang tertutup (orang membiarkan mereka memiliki “tubuh”, sedangkan dia hanya menginginkan “jiwa”. Kebencian terhadap pikiran, kebanggaan, keberanian, kebebasan, kemerdekaan pikiran, itu juga Kristen. Kebencian terhadap kesenangan indera-indera, terhadap kesenangan pada umumnya, itulah Kristen.

Proses Denken (berfikir) dan mencoba menelaah dialektika Nietzsche yang pada akhirnya mengutuk Kristianitas. Kristen adalah bentuk kerusakan yang paling ekstrim yang bisa dibayangkan, ia memiliki kehendak untuk melakukan kerusakan yang paling tinggi yang bisa dibayangkan. Gereja Kristen tidak meninggalkan sedikit pun yang tidak disentuh oleh kekejiannya. Ia telah membuat setiap nilai menjadi non nilai, setiap kebenaran dusta, setiap jenis integritas kejahatan jiwa.

Pemahaman-pemahaman Nietzsche membuat proses interpretasi tidak lepas dari relasi Denken dan sein-nya Heidegger. Nietzsche dengan kekayaan wawasan psikologisnya memberikan suatu paduan dengan menunjukkan makna dari konsep-konsep kuncinya “kehendak berkuasa” dan “sublimasi”. Pemusnahan sensualitas yang oleh Nietzsche dikatakan merupakan praktek gereja Kristen itu bertentangan dengan “Vergeistigung”nya, menjadikannya “spiritual”.


Read More......