<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829</id><updated>2011-07-31T00:33:16.005-07:00</updated><category term='Hujan Sore-sore'/><category term='puisi'/><title type='text'>HANYA MATA</title><subtitle type='html'>Belum sempat untuk memikirkan nikmatnya dunia, dia datang karena kesalahanku... Pasrah seakan moksa, pelepasan yang tiada tara!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>49</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-7574751040111760159</id><published>2009-10-29T02:19:00.000-07:00</published><updated>2009-10-29T02:25:22.186-07:00</updated><title type='text'>ANNOUNCEMENT</title><content type='html'>Blog ini pindah ke www.alfiansyafril.co.cc&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-7574751040111760159?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/7574751040111760159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=7574751040111760159' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/7574751040111760159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/7574751040111760159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2009/10/announcement.html' title='ANNOUNCEMENT'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-5035457726461087596</id><published>2009-05-24T08:34:00.000-07:00</published><updated>2009-05-24T08:45:26.830-07:00</updated><title type='text'>Lane Bicara Pram</title><content type='html'>Saya menggunakan lift untuk sampai ke lantai lima sebuah gedung. Tangganya unik, melingkar menyerupai bangunannya. Gedung ini bernama Gedung Lengkung Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Ada yang istimewa siang itu. Di sini akan diselenggarakan seminar dengan judul “Pramoedya Ananta Toer di Asia Tenggara”. Acara ini diselengarakan oleh Human Rigths and Democracy in Southeast Asia Studies (HARD-SEAS) bekerja sama dengan Sekolah Pasca Sarjana UGM. HARD-SEAS merupakan program S2 Ilmu Politik dengan konsentrasi Hak Asasi Manusia dan Demokrasi di Asia Tenggara, kerja sama dengan Pusat Studi Sosial Asia Tenggara-Universitas Gadjah Mada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program ini menarik karena berdiri dan berkembang secara kolaboratif dengan institusi terkait dalam Universitas Gadjah Mada, dan juga dengan institusi Internasional. Misalnya, Universitas Oslo (Norwegia), Universitas Colombo (Srilanka), Universitas Walailak (Thailand), Universitas Sidney (Australia), dan Universitas Nasional Singapura (Singapura).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti lazimnya permulaan kuliah di awal semester, diadakan kuliah umum. Pengajar tamu kaliber internasional, seperti Dr. Oliver Pye dari Universitas Bonn didatangkan. Untuk tim pengajar dari UGM sendiri antara lain ada Prof. Dr. Mohtar Masoed, Cornelis Lay M.A., Dr. Nicolaas Warouw, Heribertus Jaka Triyana, SH., LL.M dan lainnya. Prof. OlleTornquist dari Universitas Oslo dan Budi Santoso, SH., LL.M dari Independent Legal Aid Institute (ILAI) didatangkan sebagai pengajar tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debbie Prabawati, peneliti DEMOS Jakarta dan mahasiswa HARD-SEAS mengatakan, ”Program ini mampu menggabungkan dunia akademis dan dunia aktivis yang bergerak di ranah sosial dan politik. Para pengajar kebanyakan terlibat dan mempunyai pengalaman langsung dengan dunia gerakan sosial politik sehingga topik-topik yang disampaikan dalam kuliah selalu aktual.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat prakarsa HARD-SEAS, pertengahan Mei ini datanglah Max Lane untuk berbicara mengenai Pram dan Asia Tenggara. Ia dikenal sebagai penerjemah karya Pram ke dalam bahasa Inggris. Dan juga mencurahkan pikirannya untuk meneliti sosok salah seorang sastrawan di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masuk ke dalam ruangan seminar. Kursi-kursi merah sebagian besar telah terisi. Kebanyakan mahasiswa, dari buku tamu saya lihat hampir seimbang antara mahasiswa S1 dan S2 UGM.  Jurusannya macam-macam. Juga ada beberapa dari berbagai institusi lain.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang baru datang mondar-mandir mencari tempat yang pas untuk duduk. Lewat beberapa menit dari pukul 13.00, moderator memulai acara. Mulanya sedikit penghantar, tak lama langsung mengundang Max Lane maju ke depan untuk presentasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan tinggi itu berjalan ke depan, rambutnya putih. Tubuh tambunnya langsung mengambil posisi di mimbar coklat muda. Sedikit mengangkat mikrofon lalu mulai bicara. Bahasa Indonesianya lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan saya lurus ke depan, ke arah mimbar. Sempat tergoda untuk memperhatikan ruangan yang sejuk dan rapi ini. Yang membikin unik, lengkungannya itu.  Saya teringat dengan kelas saya di fakultas. Beda jauh memang, saya pikir kalau kuliah di sini, enak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burung garuda, lambang Negara Indonesia tergantung gagah di dinding. Agak ke bawah, terpampang  foto Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden dan Jusuf Kalla sebagai wakil presiden. Dalam hitungan beberapa bulan ke depan, foto pasangan ini tak akan bersanding lagi. Sudah pecah kongsi. Sekolah, kantor-kantor pemerintah dari kelurahan hingga departemen-departemen akan meluangkan sedikit waktu untuk melakukan pergantian foto presiden dan wakilnya yang baru. Salah satu dari mereka masih berkesempatan nampang lagi, bisa juga tidak dua-duanya jika pasangan Megawati-Prabowo menang pilpres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinding kiri kanannya berlubang-lubang. Kalau mata memandang agak lama bisa membuat pusing. Lima orang yang pernah menjabat direktur program Pasca Sarjana, fotonya dipajang di bagian atas. Ichsanul Amal yang sekarang menjadi Ketua Dewan Pers adalah salah satunya.     &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Max Lane memulai presentasinya dengan mengutip pernyataan Pram saat berpidato dalam pelantikannya sebagai anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD). ”Satu kekeliruan pendiri bangsa menamakan bangsa ini dengan nama Indonesia,” kata Pram. Alasannya, kata “Indonesia” merupakan nama warisan dari penjajah kolonial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama India untuk Indonesia sekarang ini, berasal dari perburuan rempah-rempah Maluku mulai akhir abad 15 oleh bangsa-bangsa Barat, yang menyebabkan seluruh dunia non Barat dijajah oleh Barat. Rempah-rempah yang ditemukan di India hampir sama dengan yang ditemukan di Indonesia. Dalam kekuasaan Belanda, Indonesia dinamai India Belanda. Dan untuk mengakali agar pribumi tidak mengasosiasikan dengan India, nama ini ditulis: Hindia. Politik permainan kata. Nama “nusantara” atau “dipantara” yang dilahirkan melalui sejarah panjang bangsa ini (masa Majapahit dan Singosari) yang seharusnya dipakai oleh para pendiri bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan tidak didapatkan dalam masa yang singkat. Butuh waktu panjang dan melelahkan, hingga kemerdekaan Indonesia diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945. Pram setuju dengan konsep kebangkitan nasional yang disampaikan oleh Soekarno. Ada tiga hal, yang pertama adalah manifesto komunis, yang bisa menghilangkan perbedaan kelas dalam masyarakat. Lalu deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat. Dan yang terakhir, tulisan-tulisan dan gerakan yang dipelopori oleh Sun Yat Sen. Pemikiran-pemikiran Sun Yat Sen mampu memberikan pencerahan tentang nilai-nilai nasionalisme dan kebebasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun Yat Sen merupakan anak orang kebanyakan, kebetulan seorang dokter, naik panggung menjadi presiden dan pemimpin negeri langit Tiongkok. Begitu tulis Pram dalam Rumah Kaca. Berdirinya Republik Tiongkok pada 1911 akibat proses revolusi dan bersatunya Tiongkok, menimbulkan arus nasionalisme yang kuat. Di belahan bumi Asia lainnya, di STOVIA, sekolah dokter Jawa, salah seorang terpelajar Pribumi sangat dipengaruhi bahkan menjadi pengagumnya. Ia berkhayal mempersatukan bangsa-bangsa di Hindia dan perantauan, sebagaimana yang telah dilakukan Sun Yat Sen dengan bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramoedya Ananta Toer merupakan sejarahwan yang paling radikal sekaligus pelopor pembaharuan  dalam menganalisis ke-Indonesiaan. Ia memulai penelitian tentang Indonesia dengan mempelajari Kartini. Hasilnya, dia menelorkan novel “Panggil Aku Kartini Saja”. Ini seharusnya ada dua jilid, tapi yang ke dua tidak diterbitkan. Pram menemukan Kartini pernah menulis, bahwa ada mahasiswa STOVIA yang menulis dalam bahasa Melayu. Tapi Kartini tidak menyebut nama. Lalu, Pram akhirnya mencari sendiri siapa nama itu . Ia menemukan orangnya adalah Tirto Adhi Soerjo, yang kemudian diasosiasikannya dalam tetralogi Buru sebagai tokoh Minke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lane, masih semangat menjelaskan hal ini. Lalu sedikit masuk menyinggung masalah pendidikan sastra di Indonesia. Dia kelihatan jengkel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa Kartini dan Tirto Adhi Soerjo hilang dalam sejarah Indonesia, hilang dalam buku pelajaran sejarah sekolah?” Lane bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia heran, bagaimana bisa orang yang mendirikan surat kabar yang bisa dikatakan sebagai permulaan di Nusantara tidak masuk dalam buku sejarah yang diajarkan pada anak sekolah? Atau jika itu tidak cukup, bagaimana dengan berdirinya Sjarikat Priayi lalu Sjarikat Dagang Islam? Bukankah ini cukup fundamental untuk sebuah nama patut dicatat dalam sejarah bangsa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Lane, Pram sendiri telah menemukan jawabannya. Penulis sejarah banyak menyelewengkan dan melakukan kebohongan dalam menulis sejarah! Terkadang berbagai macam kepentingan bermain di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lane menangkap ada yang aneh dari bangsa ini terhadap sosok Pramoedya Ananta Toer. Hingga sekarang belum ada pencabutan terhadap pelarangan buku Pram. Tetapi anehnya di toko buku buku Pram banyak beredar. Oleh penerbitnya masih dicetak ulang. Terlihat memang, orang Indonesia belum sadar dan taat hukum. Hadirin tertawa geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kenapa larangan terhadap buku-buku Pram belum dicabut? Max Lane menilai masih terdapat ancaman terhadap status quo dan stabilitas nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya takut dengan kata-kata status quo ini,” ungkap Lane, sambil menghela nafas. Disambut tawa peserta seminar lagi.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Menurut Pram salah satu sifat dalam membentuk nation adalah “bahasa bersama” yang dikembangkan dan hidup dalam sastra. Lalu menjadi “sastra bersama”. Ini menjadi salah satu kesimpulan yang dapat ditangkap Max Lane dari pemikiran Pram dalam karyanya. Kebudayaan Indonesia ditulis dalam bahasa bersama yaitu bahasa Melayu. Lane kemudian memberikan penjelasan dengan mengajukan analogi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di Malaysia ada penulis seperti Pram, maksudnya jika ada penulis yang mampu menangkap esensi kebangkitan Malaysia, dalam bahasa apa ia akan menulis? Di Malaysia, Lane pernah tanya ke orang Cina. Dia menjawab tulisannya akan ditulis dalam bahasa Cina. Hal yang sama jika ditanyakan kepada etnis Melayu atau India. Maka mereka akan menjawab dalam bahasa yang sesuai dengan etnisnya. Bahasa nasional Malaysia adalah  bahasa Inggris. Tapi di Malaysia bahasa Inggris bukan konsensus atau “bahasa bersama”. Jadi tidak ada keseragaman jawaban bahasa, sehingga di Malaysia sastra bersama tidak kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedikit bercanda, Lane bercerita. Dia naik pesawat Air Asia dari Singapura ke Jogja. Diundang untuk berbicara oleh program akademis yang khusus membahas Asia Tenggara. Dengan sedikit berat, dia harus memasukkan unsur itu dalam tema besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menggambarkan sosok Pram, bahwa Pram merasa bahwa dia sepenuh-penuhnya adalah orang Indonesia. Bukan orang Jawa. Pada umumnya sikap Pram bisa dikatakan “kejam” terhadap Jawa. Bahkan Pram bisa disebut sangat terobsesi dengan Nusantara atau Indonesia.  Konsep kebudayaan yang berakar dan berkembang melalui bahasa tadi, menjadikan novel-novel Pram sebagai proses dari revolusi anti kolonial. Dan ini menjadi lebih luas melalui perspektifnya. Negara-negara di Asia Tenggara adalah hasil dari revolusi dari anti kolonial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perspektif-perspektif ini yang akhirnya menjadi satu pertanyaan, sejauh mana novel Pram dibaca di kawasan Asia Tenggara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apresiasi yang paling terang, melihat peran karya Pram dalam lingkup Asia Tenggara adalah saat Pram mendapat penghargaan dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina. Penghargaan dalam “for Journalism, Literature, and Creative Art, in recognitation of his illuminating with brilliant stories the historical awakening, and modern experience of the Indonesian people”. Walaupun penghargaan ini menimbulkan sedikit kontroversi. Saat itu, Mochtar Loebis yang lebih dulu menerima penghargaan serupa mengancam akan mengembalikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Filipina banyak membeli buku-buku Pram dalam edisi bahasa Inggris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayangnya kebanyakan orang membeli dalam bentuk.. Apa ya bahasa Indonesia piracy?” Lane tersendat memberi penjelasannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bajakan!” jawab peserta, seraya melepas tawa dan senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram banyak menuliskan tentang Filipina dalam novel-novelnya. Tema yang diangkat masih berkisar tentang nasionalisme. Lebih tua dari Tiongkok, Pribumi Filipina memilih presidennya yang pertama, Emilio Aguinaldo. Tahun 1897! Republik Pertama di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama dengan kaum terpelajar Hindia yang menggantungkan harapan kepada kaum liberal “murni” Belanda di negeri Belanda. Kaum terpelajar pribumi Filipina pun menggantungkan harapannya kepada kaum liberal Spanyol. Yang suatu saat para penjajah bermurah hati mengangkat mereka menjadi anggota parlemen, menikmati hak-hak sipil di bawah kekuasaan penjajah, dan boleh melakukan sesuatu untuk bangsa sendiri di tanah air sendiri. Itu adalah mimpi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya Tirto Adhi Soerjo dengan Medan Priaji di Hindia, kelompok kecil dengan impian besar, di Filipina, kaum terpelajar juga ikut bermimpi dengan  menerbitkan surat kabar. Pribumi Filipina menerbitkan surat kabar sendiri, La Solidaridad dengan Dr. Jose Rizal sebagai pemukanya. Bahkan La Liga Filipina, sebuah organisasi pergerakan, juga didirikan olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga di Singapura, penerbit Penguin Grup Australia yang mencetak novel-novel Pram dalam bahasa Inggris banyak diminati masyarakat ini. Orang Singapura suka dengan nilai-nilai dalam buku Pram. Nilai humanisme yang mendalam dan terlebih nilai bebas sendiri (independent) tidak bergantung pada penguasa (pemerintah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beberapa waktu belakangan ini saya sering menetap di Singapura. Saya agak senang sekarang, sebentar lagi saya akan meninggalkan negara ini,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara konstitusi, Singapura adalah negara yang menggunakan sistem politik demokrasi parlementer. Tapi kuatnya pengaruh Lee Kuan Yew menyebabkan Singapura bukanlah sebuah negara yang ideal bila dilihat dari sisi demokratisasi. Sebab praktik politik otoriter dan pembatasan kebebasan pers bukan hal yang rahasia lagi di Singapura. Walaupun Lee Kuan Yew sudah mengundurkan diri dari kancah politik, tapi pengaruhnya masih sangat besar dalam budaya politik. Siapa yang menjadi Perdana Menteri dan Presiden Singapura, harus mendapat “restu” dari pimpinan seangkatan mantan Presiden Soeharto ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tampilnya PM Gooh Tjoh Tong dan PM BG Lee yang dilantik 12 Agustus 2004 ini adalah “karya” Lee Kuan Yew. Lee dianggap sebagai seorang otoriter yang condong kepada kaum elit. Lee sendiri pernah dikutip mengatakan bahwa ia lebih suka ditakuti daripada disayangi rakyatnya. Dengan mengawinkan kapitalisme dengan sistem politik otoriter yang memberangus kebebasan sipil, membatasi partisipasi politik, termasuk mengendalikan kemerdekaan pers ia begitu dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lee melaksanakan beberapa peraturan keras guna menekan kaum oposisi dan kebebasan berpendapat, misalnya penuntutan perkara pemfitnahan hingga membangkrutkan musuh-musuh politiknya. Pada suatu perkara misalnya, setelah putusan pengadilan yang condong kepada Lee digulingkan oleh Dewan Penasihat, pemerintah menghapuskan hak untuk naik banding kepada Dewan. Selama Lee menjabat sebagai Perdana Menteri (1965–1990), ia memenjarakan Chia Thye Poh, mantan anggota Parlemen partai oposisi Barisan Sosialis, selama 22 tahun berdasarkan UU Keamanan Dalam Negeri. Chia bebas pada tahun 1989. Untuk memberikan wewenang penuh kepada para hakim dalam keputusan mereka, Lee menghapuskan sistem juri dalam pengadilan Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini satu hal yang aneh, di negara yang dilarang memfilmkan atau memfotografikan kegiatan politik. Buku-buku Pram sangat diminati. Pendambaan masyarakat sana terhadap nilai-nilai kebebasan adalah jawabannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya takut jangan-jangan capres-cawapres Indonesia sekarang, akan meniru cara pemerintahan Lee Kuan Yew. Tanda-tanda ke arah itu telah terlihat,” sambung Max Lane. Candaan yang serius ini mengenai peserta lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang ditangkap Lane dari Pram, ada elemen demokrasi yang perlu diperhatikan. Proses pergerakan itu dari bawah, bukan dari atas, dan perubahan sebagai hasilnya harus menyapu bersih. Ini relevan dengan kesimpulan yang dilihat Max Lane dari sosok dan karya Pram. Bahwa Indonesia adalah makhluk baru yang merupakan hasil dari kreativitas pergerakan rakyat Indonesia sendiri. Bukan kemerdekaan dan kebebasan yang didapatkan sebagai hadiah dari penjajah. Tetapi proses kreatif itu belum tuntas. Kreasi Indonesia baru ini harus diselesaikan dengan revolusi demokratis yang tuntas dan sepenuh-penuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kebudayaan Indonesia bukan datang dari wayang, tari-tarian Bali, atau ukiran-ukiran Dayak dan sebagainya. Tapi mempunyai keunikan yang lebih besar. Indonesia merupakan hasil dari Revolusi Prancis, kemerdekaan Amerika Serikat, kebangkitan Jepang, perjuangan Cina lewat Sun Yat Sen, Pergerakan Filipina dengan Dr. Jose Rizal. Indonesia merupakan “Anak Semua Bangsa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan ke depan pun tak kalah sulit. Menentukan pemimpin bangsa. Karena di tangan-tangan mereka nasib masyarakat sebagai bagian bangsa dipertaruhkan.  Kelas borjuis tidak mampu memimpin Indonesia. Tirto Adhi Soerjo tidak mampu bertahan dan lenyap dengan menyedihkan. Nyai Ontosoroh juga tidak, hanya bisa survive dengan hidup di Prancis. Orang dari kalangan bawah seperti Hadji Misbach, Siti Soendari atau Mas Marco Kartodikromo, yang bisa memimpin Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Max Lane turun dari panggung disambut tepuk tangan meriah dari peserta. Lebih kurang satu jam dia bicara. Beragam tanggapan dan pertanyaan dilontarkan oleh peserta seminar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ainur salah satunya, dia tidak yakin dengan Lane. Hanya 1% dari penduduk Indonesia yang membaca Pram. Di toko buku, novel-novelnya Pram display-nya selalu dalam jumlah banyak. Dan selalu dicetak ulang, terutama tetralogi Buru yang termasyhur itu. Keyakinan semu ini membuat dia jadi berpikir. Sebenarnya persoalannya adalah, waktu membaca orang Indonesia yang memang kurang. ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-5035457726461087596?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/5035457726461087596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=5035457726461087596' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/5035457726461087596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/5035457726461087596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2009/05/lane-bicara-pram.html' title='Lane Bicara Pram'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-4642417529951124472</id><published>2009-04-15T07:45:00.000-07:00</published><updated>2009-04-15T07:49:32.959-07:00</updated><title type='text'>Ingin Jadi Wartawan</title><content type='html'>Dilahirkan jauh di Sumatera, selesai SMA merantau ke Jogja. Belum pernah keluar jauh dari Padang. Sembari memikirkan seperti apa daerah yang akan saya tinggali, saya bergairah. Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada menerima saya untuk menjadi mahasiswa. Satu hal yang paling menarik adalah ketakjuban melihat kereta. Saya naik kereta dari Jakarta ke Jogja, kereta eksekutif malam, pertama kali. Saat SD guru-guru mengajarkan bahwa di Indonesia ada alat transportasi berupa kereta. Tapi saya tak melihat kereta di daerah saya. Mungkin sama dengan guru-guru di Papua, Aceh, Maluku dan lainnya mengajarkan ”ini Budi, ini Ani”. Mereka belajar kereta, becak, Budi, Ani dan lainnya yang tidak ada di sekitar mereka. Saya merasa ada pendidikan yang anti realitas saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menikmati sekali perjalanan, dan sekarang tersadar. Saya menikmati realitas yang tidak nyata. Di balik kaca kereta disuguhi pemandangan, sawah-sawah terbentang, jika siang hari mungkin ada petani yang sedang mencangkul sawahnya. Lalu jalan-jalan luas yang kelihatan samar-samar. Lampu-lampu rumah yang temaram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat yang lalu, sebelum menuliskan ini. Saya dan pacar saya mengantarkan teman ke stasiun, dia akan berangkat ke Jakarta. Pacarnya juga ikut mengantar. Kita duduk-duduk di pelataran stasiun Lempuyangan selama satu setengah jam. Bercerita banyak, salah satunya teman itu bercerita tentang kereta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Banggalah naik kereta ekonomi, karena saat pemberontakan buruh-buruh di Jawa dari Cirebon hingga Solo, Sragen, orang-orang pada naik kereta ekonomi,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bertiga mendengarkan ceritanya tentang Ben Anderson, Kahin, tentang sejarah pergerakan dan nasionalisme. Seorang penulis Ceko, Rudolf Mrazek menuliskan dengan bagus tentang ironi kereta di Indonesia. Dia mengenalkan istilah ”Mooi Indies”. Saat naik kereta kita disuguhkan pemandangan yang indah. Pegunungan, manusia dan segala tingkah polahnya, rumah-rumah dan sebagainya. Dari kaca jendela kereta, hanya dari kaca jendela. Tapi realitasnya, keringat petani yang bercucuran belum tentu dapat dirasakan pahitnya. Begitulah ”Hindia yang Molek”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Pram, membuat saya tertarik menjadi manusia. Yang berguna, yang berpikir dan yang menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kuliah saya biasa-biasa saja. Ujian, ke kampus, sesekali berdiskusi dengan teman-teman. Suatu ketika kost saya didatangi seseorang. Dia menumpang di kamar teman kost saya. Karena satu kost, kita lama-lama kenal. Lalu mulai ngobrol, banyak hal. Kebetulan kita sama-sama suka baca buku, jadinya nyambung. Lama dia tinggal di kost, hingga malah menjadi warga kost.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka karena bukunya banyak. Sering pinjam, kadang juga untuk mengerjakan tugas. Waktu yang pendek itu perlahan membuat saya semakin kenal dirinya. Dia wartawan, dan  saya pernah menemani dia liputan. Pagi-pagi jam tiga kita pernah ke Kali Gendol, menunggu para penambang pasir. Saat dia wawancara, saya tertidur di batu besar. Lalu pertama kali kita jalan bareng ke luar, masih sangat lekang dalam pikiran. Saya diajak ke sebuah rumah di Patehan. Saya mengenal Muhidin M. Dahlan di sana, akhirnya saya mengenal bukunya juga. Sekarang kita berteman di Facebook. Marjinal, grup punk di Jakarta juga dikenalkan malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hari saya sering melihat kartu pers-nya yang tergantung di depan kaca. Mungkinkah saya menjadi wartawan? Itu pikir saya saat itu. Caranya bagaimana, saat saya tanyakan ke dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu selesaiin kuliahmu, dapatkan ijazah dan coba lamar ke media-media. Jangan sepertiku yang ga punya ijazah. Selamanya menjadi wartawan kurcaci,” jawabnya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Butuh waktu lama kalau menunggu selesai kuliah. Intensitas menulis saya tingkatkan lagi. Biasanya saya menulis di blog. Macam-macam, cerita keseharian, masa lalu, puisi. Tapi jarang menulis tentang hal yang agak serius. Ya, mungkin semacam menulis dalam konteks wawancara atau liputan tentang sesuatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah teman saya itu kedatangan temannya lagi, perempuan. Saya dikenalkan, namanya Syafa’atun. Umurnya 32 tahun. Atun menginap di rumah pacar saya. Di luar mengikuti acara pokoknya di UGM, semacam seminar atau pelatihan, kami menyempatkan hangout. Makan-makan dan karaoke. Saya mengantar Atun ke bandara, dia balik ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan berikutnya Atun sering ke Jogja, dan pasti bertemu kita lagi. Ini membuat kita makin dekat. Teman saya dan Atun ini kenal saat kursus penulisan di Jakarta sekitar tahun 2006. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengingatkan Atun jika ada informasi tentang kursus penulisan kirim e-mail ke saya. Akhir tahun 2008 saya dapat e-mail. Isinya tentang kursus menulis. Saya jajaki informasi di e-mail dan menghubungi contact person di sana. Negosiasi tentang biaya kursus jadi hal penting. Saya dapat potongan 50 % untuk pembayaran biaya kursus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medio Januari 2009 saya berangkat ke Jakarta. Akhirnya belajar jurnalistik juga secara resmi, pikir saya. Kurang lebih dua minggu di sana. Minggu pertama saya diajar Janet Stelle, Profesor dari George Washington University, spesialis sejarah media. Lalu minggu ke dua dengan Andreas Harsono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasannya macam-macam. Yang paling pokok kursus ini mengacu kepada Literary Journalism, tetapi tak lepas dari unsur-unsur jurnalisme secara umum. Dasar-dasar dan etika jurnalisme, teknik intervieu dan sebagainya. Saya rasa ini sangat kompleks. Suasana belajar cair. Ada juga penugasan yang diberikan, bahan diskusinya banyak dari tugas yang kami bikin. Pesertanya ada 13 orang, latar belakang yang berbeda, dan saya termuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari Jakarta, rasanya penuh dan banyak ide-ide untuk menuliskan berbagai hal. Tapi selalu gagal karena tidak ada jalur yang jelas, maksud saya di sini, saya tidak ada institusi. Jadi pertanggungjawaban kerja tidak jelas. Saya coba reportase sendiri, yang jadi penghalang dana untuk liputan. Apalagi jika akan membahas hal-hal yang sensitif, membutuhkan dana yang tidak sedikit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku Fahri Salam,” begitu teman saya itu mengenalkan dirinya, dulu. Saya menjabat tangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta saya sempat bertemu dengan Fahri sewaktu kursus. Dia mendorong saya untuk mencoba menjadi orang yang praktis. Dia menyarankan agar saya banyak belajar dulu di lapangan. Banyak menulis, mencari kantong diskusi, banyak membaca dan mencoba memulai menulis di koran, untuk rubrik opini mungkin. Tapi saya tidak mau, saya mau masuk ke dalam industri media ini. Saya membulatkan tekad untuk menjadi wartawan. Wartawan yang independen dan tidak menerima amplop.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-4642417529951124472?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/4642417529951124472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=4642417529951124472' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/4642417529951124472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/4642417529951124472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2009/04/ingin-jadi-wartawan.html' title='Ingin Jadi Wartawan'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-2546142260482672520</id><published>2009-03-28T22:16:00.000-07:00</published><updated>2009-03-28T22:21:12.977-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Ada Sesuatu Yang Terjadi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Kepercayaan adalah suatu keadaan dimana orang berhenti berpikir (untuk sementara atau untuk seterusnya) dan kepercayaan adalah suatu keadaan dimana orang tak boleh berfikir lagi”&lt;/span&gt; (Pramoedya Ananta Toer dalam Mereka Yang Dilumpuhkan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan kecenderungan merasa salah dan benar selalu menyertai. Akibatnya ada suatu pegangan yang harus digunakan. Agama, dan sebagainya. Unsur-unsur kepercayaan menusuk halus dalam setiap gerak pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan-pernyataan seseorang yang dimulai dengan pembelaan biasanya selalu menyebabkan rasa percaya. Saat terjadi sesuatu, orang cenderung lemah dan mengalah kepada akal sehat. Segala kemungkinan-kemungkinan yang belum bisa diterjemahkan dapat dijadikan pegangan. Berkemungkinan boleh saja, tapi ada batasan yang menyertainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kemungkinan itu sudah adil sejak dalam pikiran? Apakah pikiran-pikiran itu telah dipertimbangkan dengan menyertakan analisis yang dapat meruntuhkan hipotesis yang dibangun? Jika hanya merasa sedikit ada celah untuk menekan lalu memperbesar yang sedikit itu sebaiknya jangan. Bisa-bisa itu menjadi bumerang yang akan menekan balik.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika merasa bersalah dengan tuduhan yang dilancarkan ternyata tak jelas ujungnya. Dan benar ternyata itu salah. Apakah ada rasa malu? Atau masih tetap berkepala batu. Mempertahankan pendapat agar tetap bisa digunakan sebagai alasan pembenaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang cenderung bersikap defensif saat dirinya merasa terancam. Saat dituduh melakukan kejahatan yang memang tidak dilakukannya dia akan mencari cara untuk bertahan. Ketika sudah jengah dengan tuduhan-tuduhan yang dialamatkan ada pikiran untuk menyerang balik. Orang tak akan senang jika terus dijadikan objek tekanan, terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa ada yang melindungi dan di posisi paling dekat dengan kekuasaan, orang tak segan-segan untuk bertindak. Segala kemungkinan masih bisa dijadikan pegangan tanpa pikir panjang terus dipelihara. Dicari alasan yang paling dekat dan relevan dengan tindakan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekarang saat semuanya mentah, orang yang menekan tidak bergerak lagi. Beranjak seakan tak pernah terjadi. Lalu mencari penyelamatan dengan membesarkan kekeluargaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini yang terjadi, lalu apa yang bisa dilakukan? Kenyataannya sekarang semua berubah seperti sedia kala dan boleh dikatakan semakin memburuk. Ya memburuk, tanpa interaksi, tanpa tegur sapa. Yang ada hanya kecurigaan, kecurigaan yang terus menerus. Beruntunglah mereka-mereka yang antipati dan tak ingin tahu sama sekali, mereka bisa melanjutkan hidup tanpa ambil pusing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara masih bisa dihirup, masuk melalui rongga dadanya. Dia masih mandi dan berangkat dan pulang. Dari luar tak ada ketakutan yang memayunginya. Hanya dia tahu ancaman-ancaman ada di sekelilingnya. Lebih baik menghilang, lebih baik tak pulang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-2546142260482672520?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/2546142260482672520/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=2546142260482672520' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/2546142260482672520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/2546142260482672520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2009/03/ada-sesuatu-yang-terjadi.html' title='Ada Sesuatu Yang Terjadi'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-5581682151983020799</id><published>2009-03-11T08:38:00.000-07:00</published><updated>2009-03-11T08:47:11.876-07:00</updated><title type='text'>Hari-Hari Belakangan</title><content type='html'>Tekanan mengajarkan kedewasaan. Kira-kira begitu yang dapat ditangkap memperhatikan kisah seorang teman. Dalam hidup, dia dikelilingi banyak pejilat. Yang benar-benar kelihatan hanya satu. Satu orang saja. Dia berkeluh kesah. Membayangkan orang di seberang sana ada di dekatnya. Setidaknya dia bisa bercerita. Berharap ada persepsi yang sama. Tapi orang yang dikatakan teman itu jauh, tidak bisa ditempuh 1 atau 2 jam saja. Butuh waktu 9-10 jam dan ruang untuk rasa lelah, jika ingin bertemu. Informasi terakhir teman ini tak lama lagi akan datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai si penjilat tadi, dia heran. Dulu dia tak begitu. Dicari-carilah penyebab kenapa si penjilat jadi suka menjilat-jilat. Kenapa dia berubah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah seorang teman ini, membuat si teman berpikir dan berkata. Jangan-jangan, si penjilat merasa kalah. Cara berpikir, relasi dan kedewasaan. Si penjilat yang suka menjilat-jilat kalah telak oleh dia, teman tadi. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merambat ke banyak hal jadinya. Si penjilat itu sering merasa yang paling tahu. Dia masuk dalam klasifikasi “orang yang tak tahu, tapi berlagak banyak tahu”. Yang paling tidak disukai si teman terhadap si penjilat adalah jika berbicara selalu men-judge, menghakimi bahasa Indonesianya. Karena itu pula si penjilat sangat-sangat sok tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malas berdebat dengan si penjilat. Jijik untuk berdiskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasihan melihat nasib teman ini. Walaupun melihat nasibku sendiri juga banyak yang menyedihkan, tapi buat teman ini…ah kasihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula teman yang dicap oleh temannya sendiri dengan gelar “manusia pesimistis”. Karena terlalu banyak membaca Nietzsche. Hahaha apa pula itu. Ingin juga aku membaca Nietzsche jadinya. Seperti apa itu konsepnya? Superman kah? Ada-ada saja aku pikir. Kurang dalam memahami, tapi tak apalah. Mengemukakan pendapat sudah berani. Zaman sekarang orang bebas bercerita, bebas menilai. Tapi si teman yang di cap “pesimistis” tadi tersinggungnya minta ampun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang tak ada yang lebih enak bertemu teman lama. Saat itu bisalah bercerita tentang berbagai hal. Pengalaman-pengalaman, sejarah, nostalgia dan sebagainya apa yang terlintas di benak. Banyak berpuluh-puluh lembar jika &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nak&lt;/span&gt; dicatat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang kalau lah kemana-kemana, banyak pengetahuannya. Untuk bercerita banyak bahan yang akan disampaikan. Sampai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;parak subuh&lt;/span&gt; tak habis. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-5581682151983020799?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/5581682151983020799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=5581682151983020799' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/5581682151983020799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/5581682151983020799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2009/03/hari-hari-belakangan.html' title='Hari-Hari Belakangan'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-1112617690251500685</id><published>2009-02-25T19:32:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T19:34:35.552-08:00</updated><title type='text'>Membaca atau Tidak</title><content type='html'>Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Ditjen Pendidikan Tinggi menyelenggarakan Program Kreativitas Mahasiswa atau PKM. Dibedakan atas dua macam yaitu Program Kreativitas Mahasiswa Artikel Ilmiah yang disingkat PKM-AI. Yang kedua Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis atau PKM-GT. Ini merupakan ajang kompetisi penulisan ilmiah bagi mahasiswa Program Sarjana dan Diploma. Hasilnya adalah artikel dari hasil karya mahasiswa atau kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 18 Februari 2008 saya dan beberapa mahasiswa dikumpulkan oleh pihak dekanat di ruang sidang 1 lantai 2 fakultas Filsafat. Najib Yuliantoro, Muhammmad Rifqi, Suluh P.W, Ahmad Baiqunni dan lainnya. Ada sekitar 23 mahasiswa dalam daftar hadir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Dekan III, Dra. Sartini, M.Hum memprakarsai pertemuan ini. Hadir juga Syamsul Ma’arif S.Fil, dosen Metode Penelitian Sosial Humaniora dan Kosmologi. Beliau akan menjadi salah satu viewer atau dosen pembimbing. Dalam ketentuan surat yang dikirimkan oleh Direktur Kemahasiswaan, Universitas Gadjah Mada bernomor 154/Dir.MAWA/APK/2009 berisi undangan yang ditujukan kepada tiga pihak. Wakil Dekan yang membidangi Kemahasiswaan, Ketua GAMA Cendekia dan Ketua Unit Penalaran Indisipliner UGM. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dilampirkan juga penjelasan tentang format dan struktur usulan PKM-karya tulis. Artikel Ilmiah ataupun Gagasan Tertulis. Banyak lingkup persyaratan, persyaratan administratif, penulisan, pengetikan.  Di samping itu juga telah ditentukan format kulit muka, halaman pengesahan, stuktur tulisan beserta komponennya seperti judul, nama, abstrak dan sebagainya. Bagaimana menuliskan daftar pustaka juga ditentukan. Ternyata ada dua system, memakai sistem Harvard atau sistem Vancouver. Batas pengetikan juga telah ditetapkan aturannya, 4 cm samping kiri, 4 cm batas atas dan seterusnya. Jarak spasi antar Bab dab sub-bab, kalimat di bawahnya, kutipan, spasi antar alinea, penomoran halaman tak luput dari aturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lampiran sebanyak 18 halaman ini, dosen pembimbing mesti harus disertakan. Selain pak Arif di atas, kampus meminta kesediaan Drs. Achmad Charris Zubair. Di filsafat mengajar Etika, Teori Etika dan Bahasa Inggris Filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama lebih kurang satu setengah jam, wakil dekan III dan dua dosen pembimbing memberikan pengarahan. Kampus telat diberi tahu oleh pihak Universitas tentang surat ini. Jadi waktunya sangat mepet. Tanggal 18 Februari pihak dekanat mensosialisasikan dengan harapan mahasiswa mengerjakan semaksimal mungkin. Dan ditetapkan juga rencana 5 hari setelah itu, tepatnya Senin tanggal 23 Februari, telah dikumpulkan. Akan dikembalikan lagi setelah dibaca oleh dua dosen viewer, keesokan harinya. Mahasiswa mendapat cacatan dan memperbaiki menambah atau mengurangi hal yang dirasa perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu akan diberikan lagi kepada dosen viewer, dibaca dan dievaluasi dan dikembalikan lagi kepada mahasiswa. Jadi ada 2 kali proses pengeditan, sebelum hasil final diserahkan tanggal 2 Maret 2009. Pihak fakultas akan mengirimkan ke universitas hasil seleksi final. Semuanya harus terkumpul di universitas sebelum tanggal 10 Maret 2009.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima hari saya habiskan dengan mengumpulkan referensi. Saya menggunakan buku Imagined Community karangan Benedict Anderson sebagai litelatur utama. Dasar-dasar Ilmu Politik, Miriam Budihardjo juga saya pelajari. Tema besar penulisan saya untuk PKM-GT adalah tentang nasionalisme. Penjabarannya saya akan berfokus kepada konflik etnik dan kekerasan di berbagai tempat di Indonesia. Aceh, Papua, Maluku dan sebagainya. Nasionalisme seperti apa yang dipakai Indonesia? Saya akan mencoba menarik garis merahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai malam sebelum tanggal 23 Februari, saya hanya mampu menyelesaikan bagian perumusan masalah di bab pendahuluan. 5 halaman! Terlalu lama di buku saya jadi keteteran di penulisan. Saya mengeluh dengan sempitnya waktu. Tapi ini bukan alasan yang bias diterima, pikir saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak apa, selesaikan seberapa bisa, lalu dikumpulkan guna dievaluasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya senin, tanggal 23 itu saya kumpulkan ke ruangan dosen. Saya bertemu langsung dengan bapak Syamsul Ma’arif. Beliau menyuruh saya mengkopi 1 lagi untuk bapak Achmad Charris Zubair. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jilid pendahuluan itu saya serahkan ke resepsionis di ruang dosen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 24 Februari, saya mendapat sms dari ibu Sartini. Beliau mengucapkan terima kasih atas keikutsertaan saya, dan mempersilahkan mengambil berkas yang telah dievaluasi dosen pembimbing ke kantor dekanat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu sehabis kuliah jam 14.40 saya langsung ke dekanat. Dan diserahkan oleh personalia di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak habis pikir, saat saya melihat kertas 5 halaman ditambah selembar permohonan maaf atas belum lengkapnya tulisan saya. Saya tak menemukan bagian mana yang dievaluasi. Bagian yang diterima bapak Syamsul Ma’arif jelas ada catatan di bagian belakang. Beberapa kalimat tentang masukan dan permintaan untuk segera diselesaikan. Serta pembetulan tanda baca dan penambahan kalimat di dalam tulisan. Saya harus objektif tentang hal ini. Bapak Arif membacanya, benar-benar mengevaluasi dan memberikan masukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi berkas yang saya rasa untuk bapak Achmad Charris Zubair, hanya ada catatan di bagian depan “belum lengkap jadi belum bisa dievaluasi”. Saya kira beliau belum membacanya. Saya jadi subjektif melihatnya. Mungkin karena kesibukan beliau, ditambah bukan hanya berkas saya tapi juga yang lainnya menumpuk. Beliau belum sempat benar-benar “membacanya”. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalaupun pernyataan dan anggapan saya ini tidak benar, saya mohon maaf. Tapi subjektifitas tidak bisa saya hilangkan. Saya terlalu skeptis terhadap hal yang saya rasa mungkin benar-benar tidak beres. Saya mencermati lagi kalimat Pram yang sering diucapkan Fahri Salam kepada saya “adil sejak dalam pikiran”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-1112617690251500685?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/1112617690251500685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=1112617690251500685' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/1112617690251500685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/1112617690251500685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2009/02/membaca-atau-tidak.html' title='Membaca atau Tidak'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-1815792476778358220</id><published>2009-02-06T00:23:00.000-08:00</published><updated>2009-02-08T01:36:09.730-08:00</updated><title type='text'>Nonton Bareng Madagascar 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SY6nZE8JqjI/AAAAAAAAABI/C4ZQuwQiceE/s1600-h/DSCI0002.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 209px; height: 157px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SY6nZE8JqjI/AAAAAAAAABI/C4ZQuwQiceE/s400/DSCI0002.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300357860726254130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Dua motor keluar dari sebuah rumah di blok C nomor 2, perumahan Muslim Darussalam Condong Catur, Sleman. Saya mengendarai motor lama Astrea Grand hitam keluaran tahun 1994.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Membonceng perempuan kelas 3 SMP, namanya Adelia. Adik kembarnya, Aldo dan Aldi duduk di jok belakang Mio. Di depan yang memegang kendali Arleta. Dia anak pertama dari pasangan Suradji dan Katini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;Jumat pagi, tanggal 2 Januari 2009. Dari malam sebelumnya saya dan Arleta &lt;i style=""&gt;smsan&lt;/i&gt; membahas akan diajak main kemana adik-adiknya. Adelia, Aldo dan Aldi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Mereka sempat &lt;i style=""&gt;bete&lt;/i&gt; ketika malam pergantian tahun baru. Kali ini mereka diajak bapak ibunya liburan ke rumah di Jogja, tidak seperti perayaan tahun baru sebelumnya. Biasanya mereka sekeluarga berkumpul di rumah Sukoharjo. Mereka berharap akan keluar pas pergantian tahun baru. Tapi seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak di Sukoharjo tidak di Jogja sama saja. Mereka tetap di rumah. Play Station yang dibawa dari Sukaharjo menemani Aldo dan Aldi. Adelia sibuk dengan HP-nya, lalu menonton TV bersama bapak dan ibu, atau ngobrol dengan mbak Yati, pembantu rumah tangga mereka yang juga diboyong ke Jogja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Arleta terhindar dari kemuraman dalam rumah. Ia senang saat diizinkan orang tuanya untuk merayakan tahun baru di luar. Pukul 9 malam 31 Desember saya menjemput Eta ke rumah. Dia menggunakan kemeja bergaya Korea, yang tempo hari dibeli di &lt;i style=""&gt;Miami Beach&lt;/i&gt;. Rambutnya di keriting, cantik sekali. Kita keliling jalanan Jogja, beli terompet dan akhirnya terjebak di Alun-alun Utara Keraton. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Dari arah malioboro, orang-orang tumpah ruah menumpuk ke arah Monumen Serangan Umum 1 Maret. Kawasan ini menjadi titik keramaian, dari Rumah Sakit PKU Muhammadiyah di timur dan Bank Indonesia di barat, semakin malam semakin mendesak ke arah alun-alun. Hingga sampai akhirnya kuota penuh, tak ada lagi tempat untuk bergerak ke luar. Di Alun-alun dimeriahkan oleh penampilan band, sedangkan di Monumen Serangan Umum 1 Maret menampilkan wayang dengan musik kontemporer. Posisi Arleta dan saya di jalan samping Bank BNI 46. Tak bisa menuju alun-alun, tak bisa mendekat ke monumen. Sampai &lt;i style=""&gt;teng&lt;/i&gt; pukul 12, kami duduk di atas motor, meniup terompet bergabung dengan ratusan manusia lainnya. Kembang api berterbangan di udara dari dua arah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Arleta mendokumentasikan suasana di sana dengan handycam. Butuh sejam untuk jalan keluar. Jam 2 kurang baru sampai di rumah. Ibu Arleta membukakan pintu dengan mengantuk-ngantuk. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Keesokan harinya, Adelia, Aldo, Aldi minus Arleta dibawa bapak dan ibu mengisi waktu liburan. Ke candi Borobudur dan taman wisata di daerah Magelang. Mbak Yati ikut. Xenia putih meninggalkan rumah sekitar jam 9 pagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Sore hari mereka sekeluarga kembali. Bapak dan Ibu malamnya balik ke Sukoharjo. Arleta dititipi adik-adiknya, ditemani mbak Yati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Karena menimbang kebosanan adik-adik, Arleta dan saya sepakat membawa mereka jalan-jalan besoknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;“Mereka terserah mau kemana, ngikut aja” kata Arleta. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Lampu merah di pertigaan gejayan dan Universitas Negeri Yogyakarta memberi kesempatan saya bertanya tujuan ke Arleta.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Malioboro sudah ramai walaupun hari masih pagi. Kami parkir di depan mal Malioboro. Masuk ke dalam menuju arena bermain anak-anak. Aldi dan Aldo ke tempat penukaran koin. Sekitar sejam di sana, membawa pulang 2 buah pensil hadiah dari tiket-tiket yang keluar dari mesin-mesin game. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;“Kemana lagi ta?” tanya saya mendekat ke arahnya saat menuruni eskalator.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;“Ga tau, kamu ada ide ga?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;“Tanya adek-adek?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;“Mereka ga tau, mereka ikut aja kemana”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;“Taman Pintar mau ga?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;“Ya, bolehlah”.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Arleta menggandeng Aldi, mengekor di belakang Aldo dengan Lia. Saya paling belakang. Menuju Ice Cream McD di selatan mal. Untuk adik-adiknya es krim yang menggunakan mangkok, biar tidak tumpah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:240.75pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.jpg" title="DSCI0002" gain="1.25" blacklevel="-6554f"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.jpg" shapes="_x0000_i1025" height="240" width="321" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Aldo dan Aldi dibujuk Arleta untuk boncengan dengan saya. Gantian dengan Lia yang dari rumah dengan saya. Sebelum berangkat dari rumah, sudah ada perjanjian gantian boncengan. Waktu berangkat tadi Aldo Aldi langsung naik motor Eta, sekarang gilirannya dengan saya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Aldo Aldi asyik-asyik saja, ketika sudah di jalan menuju Taman Pintar. Mereka nangkring di belakang, saya sesekali menanyakan keadaan mereka. Apakah mereka baik-baik saja, mau main kemana dan semacamnya. Mereka hanya menjawab seperlunya. Masih belum cair komunikasi antara saya dengan mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Taman Pintar ramai sekali. Kita masuk ke dalam, suasananya hiruk pikuk. Tak nyaman di situ, kita langsung pergi tak jadi main-main di sana. Memang suasananya tidak terlalu cocok dengan Aldo Aldi, apalagi Lia. Aldo Aldi sekarang sudah kelas 4 SD. Dan kebanyakan anak-anak di taman pintar lebih kecil dari mereka. Mungkin lebih pas untuk anak SD kelas 1 atau 2 dan TK ke bawahnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Kembali ke parkiran motor setelah hanya mengitari bagian depan taman pintar. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Ambarukmo Plaza megah berdiri di jalan solo. Gedungnya bercat kuning. Sepanjang 2004 pembangunan mal ini menjadi perbincangan publik karena&lt;span style=""&gt; merusak situs bangunan bersejarah keraton Pesanggrahan Ambarukmo.&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Para aktivis menentang dengan alasan merusak bangunan bersejarah. Tata ruang kota, budaya dan ekonomi yang mengacu kepada rakyat kecil juga menjadi persoalan. Fahri Salam, seorang wartawan lepas memaparkan secara panjang tentang hal ini dalam tulisannya “Jagad Mal Jogja”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Kami berlima di Studio bioskop 21 Amplas. Satu-satunya di Jogja. Senin sampai jumat tiket seharga dua puluh ribu. Weekend atau hari libur dua puluh lima ribu. Ukurannya mahal jika dibandingkan dengan kota-kota besar lain. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ada 2 pilihan film yang cocok untuk ditonton di masa liburan ini, dengan adik-adik Arleta tentunya. Madagascar 2 dan Felix &amp;amp; Obelix. Saya dan Arleta memutuskan membeli 5 tiket untuk film Madagascar 2. Studio … pukul …&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Tumpangan saya berganti lagi. Sekarang saya bersama Lia lagi. Hujan rintik-rintik turun saat kita kembali ke rumah. Sebentar lagi shalat Jumat. Saya menawarkan Aldo dan Aldi jumatan bersama. Arleta menanyakan mereka mau jumatan dengan saya, tapi mereka tidak mau. Walaupun ditakuti akan dimarahi ibu kalau tidak shalat mereka berdua tetap tidak tergoyahkan. Saya pulang dulu ke kos, nanti sore ke sana lagi. Jemput untuk nonton film.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Dari siang sampai sore hujan terus turun. Sempat berhenti tapi tak lama langsung deras lagi. Sayang sudah beli tiket. Mengenakan mantel saya ke rumah Arleta lagi, hujan semakin deras. Walaupun sudah pakai mantel jaket saya basah. Untung saya telah antisipasi dengan membawa jaket satu lagi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Mereka sudah menunggu, sepertinya sudah siap berangkat. Tapi tak mungkin berangkat jika hujan masih sangat deras. Mantel tak akan membantu. Lain cerita kalau hanya saya dan Arleta berangkat berdua, kita akan lanjut saja. Tapi dengan membawa adik-adiknya, saya khawatir mereka terkena flu. Apalagi jika ketahuan ibu bapak. Tentu Arleta yang dimarahi jika mereka sampai sakit.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Saya menyuruh Arleta telfon taksi. Tapi si sopir taksi bilang sedang tidak kerja. Akhirnya saya mencari taksi ke luar. Sampai ke pasar Condong Catur, jaraknya dari rumah Arleta hampir satu kilometer. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Tak menunggu lama, langsung dapat. Saya diiringi taksi di belakang kembali ke rumah. Motor saya parkir di garasi. Semua langsung bergerak saat taksi menunggu di depan pagar. Satu-persatu masuk ke dalam taksi setelah pamit ke mbak Yati. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;“Amplas pak”, kata saya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Lia di depan. Arleta, Aldo, Aldi dan saya di belakang. Taksi jalan pelan, saat melewati jalan di STIE YKPN malah terjebak macet. Jalannya sempit dan banyak dilalui kendaraan saban waktu. Sebentar lagi filmnya akan diputar. Sepertinya kami akan terlambat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Kami tergesa-gesa ketika sampai di pintu samping Amplas, lantai 1. Studio 21 di lantai 3. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Pintu studio 4 telah dibuka. Kenyataannya memang terlambat sekitar beberapa menit. Filmnya diputar 17:50 . Saya bertanya kepada orang di samping, dia jawab belum terlalu lama. Arleta di pojok bangku F.1, lalu Aldo, Aldi, Lia dan saya di F.5.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Filmya lucu, banyak adegan yang bikin ketawa. Sesekali saya curi pandang ke Aldo dan Aldi. Mereka tampak menikmati. Bercakap dengan Lia dan Eta terkadang. Bahkan Aldo beberapa kali saya lihat melirik ke kanan kiri, mengamati keadaan sekeliling agaknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Madagascar 2 durasinya tak terlalu lama. Overall kami semua senang. Sampai filmnya selesai kami masih tertawa-tawa sendiri. Sepertinya ingin menonton lagi. Arleta senang dengan si “moto-moto”, kuda nil yang menggoda, hingga “gloria” jatuh hati. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Saat jalan ke Carrefour saya tanya ke Aldo Aldi bagaimana menurut mereka filmya. Mereka menjawab lucu. Dan tak banyak bicara. Antara saya dan Aldo Aldi suasananya belum cair. Baru sekali ini kami jalan bersama. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Lia antri di kasir carrefour. Sambil membawa sekantong belanjaan, isinya minuman dan beberapa cemilan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Sampai balik ke rumah lagi, saya belum juga bisa mendekatkan diri dengan Lia, Aldo dan Aldi. Arlete bilang mereka memang pemalu. Wajar di peristiwa jalang bareng pertama ini kata Arleta.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Kami semua masih sempat makan sate ketika sudah di rumah. Jam setengah sembilan saya pamit pulang.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing"&gt;Arleta cerita. Besoknya ibu bapak ke Jogja lagi. Aldo Aldi cerita tentang nonton film. Mereka kelihatan semangat dan banyak detail yang mereka ingat. Kapan ya kita bisa nonton film bareng lagi? Pikir saya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-1815792476778358220?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/1815792476778358220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=1815792476778358220' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/1815792476778358220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/1815792476778358220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2009/02/nonton-bareng-madagascar-2.html' title='Nonton Bareng Madagascar 2'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SY6nZE8JqjI/AAAAAAAAABI/C4ZQuwQiceE/s72-c/DSCI0002.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-6069596722040200384</id><published>2009-01-25T04:57:00.000-08:00</published><updated>2009-01-25T04:58:25.712-08:00</updated><title type='text'>Dua Jam Yang Tak Terasa</title><content type='html'>Kursus berlangsung dari tanggal 7-16 Januari 2009 di kantor Pantau, Jl. Raya Kebayoran Lama No 18 CD Jakarta Selatan. Ada 6 hari pertemuan di kelas, yang masing-masing terdiri dari 2 sesi, jam 10 pagi sampai jam 12. Jeda satu jam, lalu dilanjutkan sesi ke dua jam 1 hingga jam 3 sore. Di setiap akhir pertemuan diberikan tugas yang akan didiskusikan pada pertemuan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janet Stelle, adalah instruktur yang akan memberikan materi tentang Jurnalisme Sastrawi (Litterary Journalism) di minggu pertama. Profesor dari George Washington University, spesialisasi sejarah media ini dijadwalkan Rabu hingga Jumat (7-9 Januari 2009). Untuk minggu kedua, diampu oleh Andreas Harsono. Dia wartawan Pantau, anggota International Consortium of Investigative Journalist dan mendapatkan Nieman Fellowship di Universitas Harvard. Bukunya From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of  Indonesian Nationalism tak lama lagi akan terbit. Pertemuan dengan Andreas berlangsung pada hari senin (12 januari), Rabu (14) dan berakhir Jumat ( 16). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada libur satu hari setiap pertemuan, tak sepadat Janet, yang tidak bisa terlalu lama di Indonesia. Karena harus segera balik ke Washington, Amerika. Saat kelas terakhir Janet hari jumat dia bergegas. Dengan menggunakan taksi, Janet ke bandara Soekarno-Hatta untuk terbang ke Singapore. Menginap semalam di sana dan besoknya terbang selama 24 jam ke Amerika. Hari senin dia akan mengajar di kampus. Mobilitas yang tinggi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang berkumpul di dalam sebuah ruangan. Kursi-kursi tersusun, membentuk huruf U. Ada satu meja dengan mawar merah di atasnya. Plakat yang bertuliskan Pantau, kajian media dan jurnalisme serta jam dinding segi empat tergantung di dinding. Nyaman sekali, suasana santai tercipta di antara percakapan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hari pertama, Andreas membuka perkenalan. Lalu Janet dan dilanjutkan masing-masing peserta. Nama lengkap dan panggilan serta motivasi mengikuti kursus. Peserta kursus Jurnalis Sastrawi angkatan ke 16 ini sebanyak 14 orang. Satu peserta dari Papua, Hans Gebze, lebih sering tidak hadir dalam rangkaian kursus. Adriani Salam Jaques Kusni (Studio Arsitektur A&amp;A), jauh-jauh datang dari Makasar. Angga Haksoro Ardhi dari Voice of Human Rights News Centre. Ada beberapa orang yang berprofesi sebagai pengajar di universitas, Badrus Sholeh dosen Hubungan Internasional di UIN Syarif Hidayatullah, Putri Suryandari dari Universitas Budi Luhur, berencana menulis buku tentang arsitektur, sesuai dengan latar belakang keilmuannya. Yang ketiga Riris W.Widati dari UAI Jakarta, pernah bekerja sebagai wartawan antara lain di Sarina dan Jurnal Perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ada yang bekerja di lembaga, komunitas atau institusi. Seperti Supriatna dari Arus Pelangi. Arus Pelangi adalah organisasi yang memberi perhatian kepada masalah LGBTI (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Interseksual).  Selanjutnya Titi Moektijasih (UN OCHA), Irma Dana (Klub Indonesia Hijau, Bogor), Ken Ken (Yayasan CDT 31), Syarifah Amelia ( Government Institution/Technical Cooperation) dan Fauzi Aunul (ICRAF, sebuah lembaga Agroforesty). Dua orang terakhir adalah Mukhti, wartawan  majalah Otonomi dan saya, Alfian Syafril, mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah perkenalan Andreas undur diri. Janet memulai kelas dengan penjelasan dan gambaran tentang jurnalisme sastrawi. Inti yang ingin disampaikan oleh apa yang disebut dengan jurnalisme adalah fakta. Tanpa fakta tidak bisa disebut jurnalisme. Secara umum jurnalisme sastrawi adalah fakta yang ditekankan dengan gaya bercerita yang berbeda. Ada hal yang lebih mendalam dan memikat yang ingin disampaikan oleh jurnalisme sastrawi ini. Perkawinan antara jurnalisme (fakta) dan sastra (fiksi). Ini menjadi kontradiktif, tapi pada dasarnya tetap fakta. Banyak hal yang disampaikan dan dibagi oleh Janet dalam 3 kali pertemuan. Mengenai sejarah narrative journalism, unsur-unsur jurnalisme, struktur dalam sebuah tulisan narasi hingga pemakaian kata “saya” dalam sebuah tulisan. Bahan-bahan berupa bacaan dari berbagai macam tulisan yang disiapkan panitia dalam sebuah paket juga memperkaya materi-materi di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penugasan juga menjadi hal yang menarik. Tugas dibacakan oleh masing-masing peserta untuk kemudian dikomentari dan didiskusikan bersama. Dua tugas dengan Janet adalah “menulis tentang sebuah peristiwa yang disaksikan. Mulai dengan adegan tanpa penjelasan dengan topik apa saja yang bisa memikat pembaca untuk membaca narasi” dan “menulis narasi dengan gaya orang pertama (saya, aku, gua dan lainnya) untuk menggambarkan sebuah adegan”. Saya baru menyadari kalau dua tugas yang saya kerjakan belum memuaskan, terkadang tidak nyambung dengan perintah yang diminta. Begitu juga dengan tugas bersama Andreas minggu berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang saya catat dari koreksi tugas ini adalah tentang detail, penambahan detail dan pengaturan yang lebih baik lagi, kalimat atau alineanya. Lalu menghilangkan dialog-dialog yang tidak perlu, pemakaian kata-kata yang berlebihan dan terkadang klise. Pemilihan kata yang akan digunakan dalam tulisan juga perlu diperhatikan, jika tidak akan ada bayak pemborosan kata. Tentang masalah fokus, menentukan struktur yang jelas dan benar sehingga tidak meloncat-loncat (cerita/alur). Tema yang menarik sehingga cerita tidak datar dan makna (meaning) yang ingin disampaikan dapat dimengerti oleh pembaca. Lalu untuk memperkuat makna, menurut Janet setiap penulis memerlukan sebuah engine (mesin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan pemakaian kata “saya” atau menggunakan sudut pandang orang pertama dalam tulisan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Jika penulis (wartawan) tidak punya peran penting dalam liputan, tidak penting memasukkan kata “saya”. Lebih baik menggunakan sudut pandang orang ketiga. Bahwa diperlukan karakter yang kuat dalam sebuah tulisan. Ada tokoh utama yang menjadi karakter cerita, dan kalau bisa si tokoh adalah seorang yang aktraktif, terbuka dan komunikatif. Ungkapkan konflik dan di bagian akhir selesaikan dengan berbagai macam pilihan. Narrative Journalism seperti sebuah film, video yang bergerak, bukan picture yang hanya diam.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari terakhir Janet benar-benar telah kehabisan kata-kata bahasa Indonesianya. “Uff, bahasa Indonesia saya sudah habis”, ucapan Janet saat mengakhiri kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai hal ini, saya pernah baca sebuah blog yang menceritakan kebiasaan Janet ini. Ini cara Janet menyelesaikan kelas kesimpulannya. Hari Jumat itu berbeda, di saat kelas akan berakhir mbak Fiqoh staf Pantau masuk membawa kue tar sambil menyanyikan lagu Happy Birhday. Sontak peserta kelas ikut bernyanyi, riuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janet surprise dan terkaget-kaget, ”Is it June?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hohoho, terjadi kesalahan informasi tanggal kelahiran Janet. Juni bukan Januari. Nyanyian mulai melemah, perlahan hilang. Salah satu yang paling semangat adalah mas Fauzi (Aunul Fauzi). Dia menyanyikan lagu selamat ulang tahun lantang sekali. But party must go on, jika tidak ulang tahun, mumpung awal tahun sekalian pesta tahun baru. Atau pesta kecil perpisahan dengan Janet. Janet begitu terburu-buru, setelah foto bersama di lantai atas gedung Pantau dia langsung mengundurkan diri. Semua orang bersalaman dengan Janet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari pertama kursus telah lewat. Sabtu  masih ada kelas tambahan dengan Endi M.Bayuni Chief Editor, The Jakarta Post. Sayang saya terlambat, sampai di kantor Pantau saat-saat akhir. Tidak banyak yang saya tangkap dari kelas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andreas menggunakan batik biru senin tanggal 12 Januari 2009. Kelas dimulai jam 10 tepat. Power point melalui proyektor telah siap. Dimulai dengan slide dengan pertanyaan “apa jawabannya?”, dari 7 pernyataan. Salah satunya adalah “benarkah di Indonesia makin Islamis dan suara-suara minoritas makin diabaikan”. Pagi itu kita membahas tentang “bias” dan dilanjutkan dengan pembahasan secara padat dan jelas tentang sembilan elemen jurnalisme. Materi ini disarikan  dari buku Sembilan Elemen Jurnalisme karangan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang jadi 10 elemen, karena ada komentar dan masukan melalui internet dan lainnya”, kata Andreas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elemen tambahan itu adalah Warga Punya Hak dan Kewajiban terhadap Berita. Satu hal yang selalu saya ingat dan jadi kata yang sangat penting bagi saya, Andreas bilang “Jika ingin menulis harus masuk ke hal yang paling fundamental, jangan terlena oleh perspektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cukup sekali Andreas mengingatkan tentang ini. Bahkan tugas yang saya buat, setelah koreksi masih banyak perspektif. Andreas lagi-lagi rewel tentang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam pertama terasa cepat oleh Andreas. Saya pribadi menampung banyak informasi dan  banyak kata-kata yang menginspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aan saja terkesima dengan Andreas”, kata Fahri kepada seorang teman ketika saya sudah di Jogja lagi.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai makan siang dan istirahat kelas dilanjutkan dengan materi tentang tujuh pertimbangan narasi dan diskusi soal jurnalisme sastrawi. Lagi-lagi terasa cepat. Hingga diakhiri dengan tugas untuk pertemuan selanjutnya. Ada jeda sehari sebelum bertemu Andreas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke lima kursus atau pertemuan ke dua dengan Andreas Harsono di isi dengan membacakan tugas masing-masing. Beda-beda tema yang coba diungkapkan. Tugasnya membuat deskripsi. Jam ke dua Andreas membahas panjang lebar tentang “Hiroshima” karya John Hersey. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berlatih wawancara secara langsung untuk menutup rangkaian Kursus Jurnalisme Sastrawi angkatan XVI ini. Membahas tentang sumber anonim dan mendiskusikan teknik interview. Sebelumnya diskusi tentang tulisan yang bertema sama tapi dengan gaya dan strktur berbeda. Temanya tentang Aceh, yang diambil dari tulisannya Chik Rini “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft”, Andreas Harsono “Republik Indonesia Kilometer Nol” dan “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” karya Alfian Hamzah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Andreas berat, pelan bahkan tanpa tekanan. Mengalir lancar dan saya yakin ini akhir dari kursus kali ini. Andreas mengakhiri dengan indah. Saya dan yang lain bersemangat, Andreas begitu menginspirasi.   &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-6069596722040200384?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/6069596722040200384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=6069596722040200384' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/6069596722040200384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/6069596722040200384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2009/01/dua-jam-yang-tak-terasa.html' title='Dua Jam Yang Tak Terasa'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-7983163711024255178</id><published>2009-01-19T01:39:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T23:48:16.357-08:00</updated><title type='text'>Sore, Potongan Sudut Jakarta</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Tembok panjang yang tak ter-plester dengan selesai membatasi sepanjang aliran kali kecil, penuh sampah. Plastik-plastik bekas belanja di swalayan atau layangan yang hanya tinggal kerangkanya saja menjadi penghias aliran air kehitaman. Di balik tembok ada beberapa rumah yang berbatasan langsung, bahkan air terjun mini dari pipa banyak muncul ke dalam kali. Air pembuangan rumah tangga. Campur baur bau yang dihembus-hembuskan angin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Di sisi kali yang lain ada ruas jalan masih bebas, terkadang diapit oleh bangunan yang kebanyakan rumah penduduk, atau kalau tidak warung kebutuhan sehari-hari yang dipaksakan berdiri. Sore hari, seorang bapak menggendong anaknya yang baru beberapa tahun, sesaat meninggalkan lelahnya pekerjaan yang menghinggapi dari pagi. Beberapa pemuda duduk-duduk di bale-bale dan kursi yang disediakan seadanya oleh pemilik warung. Salah seorang membaca tabloid Top Skor sekedar mengetahui jadwal pertandingan bola liga eropa minggu ini, dan sedikit berharap dengan analisis pertandingan di tabloid agar bisa menang taruhan nanti. Dua lainnya dengan pakaian yang masih rapi dan sepatu terpasang bercakap-cakap ngalor-ngidul tentang sesuatu. Bapak tua dengan topi koboi menemani dan nimbrung sekali-sekali. Abu rokok berjatuhan melalui pegangan sela-sela jari ke kali yang masih mengalir pelan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;“Mmmamam….mmmm”si bayi dalam gendongan bapaknya berteriak ingin mengungkapkan sesuatu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Si bapak menimang-nimang ke kiri dan ke kanan sambil bolak balik di depan dua pemuda dan orang tua tadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;“Ada apa e si kecil, kecil…?”ujar orang tua, bermaksud menggoda si bayi sambil meminta bapaknya mengalihkan gendongan kepadanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Tapi tak jadi, karena ibu si bayi keburu datang sambil membawa bubur dalam kotak kecil. Pelan-pelan bayi itu dipindahkan bapaknya ke dalam kereta. Sambil mendorong-dorong kereta si ibu menyisipkan sendok kecil ke mulut mungil anaknya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Si kecil menangis dan membuat si ibu membawa bayinya ke dalam rumah. Kusen jendela yang dicat hijau pekat serasi dengan permukaan rumah yang warna hijaunya lebih terlihat lembut. Dari luar jendela dilapisi terali besi hitam. Tak ada halaman di sini, hanya beranda yang ditemani sepasang kursi beserta mejanya. Di sebelah kiri ada bangunan dua lantai memanjang ke samping, kira-kira 8 meter. Ada bagian menjorok ke belakang jika dilihat dari depan. Lantai bawah ada tiga kamar yang berfungsi dan selebihnya sedang direnovasi. Di ujung bangunan ada tangga untuk naik ke lantai dua. Di atas ini, hanya dua pintu yang terbuka, selebihnya dikunci dengan gembok, keseluruhan ada enam kamar yang disediakan untuk kost-kosan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Si ibu dengan bayi kecil tadi yang menjadi pengelola rumah kos-kosan yang sebagian besar di isi oleh mahasiswa Teknik Elektomedik dan Radiografi, Universitas Politeknik Kesehatan Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Bedak tipis di pipi, sambil masih sempat sesaat menyemprotkan pewangi ke t-shirt yang dikenakan. Sementara seorang lagi sibuk mengikatkan tali sepatu sportnya. Dari salah satu kamar sayup-sayup terdengar perintah ke arah kamar mandi agar yang di dalam lebih cepat. Kawasan Senayan menjadi tujuan mereka sore ini, hari rabu adalah jadwal untuk joging. Handuk kecil dan tas tersandang di lengan gadis yang tadi mengikat tali sepatu dan sekarang telah berdiri, menunggu 3 orang temannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;“Kaus kakiku, dimana?” yang baru keluar kamar mandi mengajukan pertanyaan entah kepada siapa sambil terus berlalu ke dalam kamar. Semuanya serba cepat setelah itu, ketika salah seorang menyuruh yang lain segera, karena teman yang lain telah menunggu. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-7983163711024255178?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/7983163711024255178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=7983163711024255178' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/7983163711024255178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/7983163711024255178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2009/01/sore-potongan-sudut-jakarta.html' title='Sore, Potongan Sudut Jakarta'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-5725033575204481938</id><published>2009-01-19T01:38:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T01:39:52.221-08:00</updated><title type='text'>Termehek-Mehek Mewujudkan Keinginan?</title><content type='html'>Juwita duduk di depan meja lipat yang dipenuhi tumpukan kertas, isinya angka-angka dan coretan-coretan kecil. Tugas rangkaian listrik dari kuliahnya di Politeknik Kesehatan Jakarta II. Sesekali tangannya menari-nari dengan pulpen di atas kertas. Badan dicondongkan ke depan dengan mata yang terkadang dipejamkan. Dia bergerak dengan mengangkat meja lipat bergambar barbie, lalu meraih kertas kosong yang digunakan untuk menghitung bilangan jawaban soal tugasnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Baru beberapa bulan di Jakarta, belum genap setahun. Sebentar lagi ujian semester pertamanya di bangku kuliah. Dulu, sekolah di daerah, berkilo-kilometer dari Jakarta. Lulus SMAN 1 Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Hijrah ke Jakarta meninggalkan nenek dan kakeknya. Dari kecil dibesarkan oleh mereka membuat dia sedih dan berat untuk pergi. Tapi tawaran dari kakak Ibunya yang bekerja di Pusdiklat Depkes Jakarta, membuat dia berangkat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lahir di Banjarmasin delapan belas tahun yang lalu, tapi tak mengerti kenapa di akta kelahiran-nya ditulis Wonogiri, 4 Juni 1990. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Saya anak tunggal, kira-kira umur 1 tahun bapak ibu saya cerai mas, saya juga ga tau gimananya, taunya dari cerita saudara atau tetangga aja,” ucapnya kepada saya. Ia tampaknya mulai malas melayani soal-soal di hadapannya. Sambil berdiri ia masih menyambung “itupun saya udah gede baru ngerti bapak-ibu cerai, terus umur 2  atau 3 tahun mungkin, ibu saya ke Jakarta”. Semenjak itu dia dibesarkan dan disekolahkan atas usaha kakek dan nenek, sesekali kiriman datang dari ibunya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir ketemu ibunya lebaran kemaren, disusul ke kampus. Sekitar setengah jam di dekat warung pedagang kaki lima, ngobrol kabar satu sama lain dan berbagi cerita tentang apa saja yang menjadi pengobat kerinduan ibu dan anak. Dia bercerita lepas saja. Langsung saya tanya, “kapan terakhir kali ketemu bapak?”.     &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Air mukanya tidak berubah ketika jawabannya cukup mengejutkan saya. Selama hidupnya dia belum pernah ketemu sekalipun dengan bapaknya. Hanya  foto-foto pernikahan orang tuanya ketika di Kalimantan yang mengenalkan dia dengan wajah bapaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada sih mas, keinginan untuk ketemu ayah saya. Ga tau kapan,” senyum mengembang dari bibir merahnya.&lt;br /&gt;“Pernah ungkapin ke siapa tentang keinginan itu?”saya memandangnya dalam-dalam.&lt;br /&gt;“Just only one Allah, mas. Saat shalat ya, adalah minta buat bisa diketemuin sama bapak..”, ujarnya dengan penuh pengharapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terdiam dan mencoba merasakan kerinduan yang hadir dalam suasana ini. Tiba-tiba”Kenapa ga ikut Termehek-mehek aja kamu?, saya mengusulkan.&lt;br /&gt;“Ga penting, acara ga penting. Acara yang isinya nangis-nangis doang. Membuka aib orang aja, ga mendidik. Ga baik, ya kadang baik kalo ga bikin ribut, tapi tetap aja ribut ujung-ujungnya,” rentetan kata emosi dari dirinya membuat saya permisi sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-5725033575204481938?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/5725033575204481938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=5725033575204481938' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/5725033575204481938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/5725033575204481938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2009/01/termehek-mehek-mewujudkan-keinginan.html' title='Termehek-Mehek Mewujudkan Keinginan?'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-8553187855873473052</id><published>2009-01-19T01:33:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T01:35:36.071-08:00</updated><title type='text'>Sekelumit Kisah STAN</title><content type='html'>Pertengahan Januari ini, seorang teman menempuh waktu 30 menit dari Bintaro ke Kebayoran Baru. Acara pertemuan, mumpung saya lagi di Jakarta. Dia teman sekelas waktu SMA. Sekarang kuliah di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) jurusan Administrasi Perpajakan. Selain itu, ada juga jurusan Akuntansi Pemerintahan, Bea dan Cukai, Piutang Lelang Negara, Pajak Bumi Bangunan Penilaian dan Pembendaharaan Negara. Saya menunggunya di depan Rumah Sakit Pertamina Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sana kami ke kantor Pantau di Kebayoran Lama. Ada janji wawancara dengan Siti Nurrofiqoh, staf Pantau. Saya masih harus menunggu mbak Fiqoh datang. Sambil menunggu, saya dan teman duduk di atas gedung kantor Pantau sembari menikmati secangkir kopi. Di sela-sela obrolan, saya tanya bagaimana rasanya kuliah di STAN. Untuk masuk kampus ini standar tesnya tinggi sekali, kemampuan matematika harus kuat. Matematika bagi sebagian anak sekolah adalah momok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jawaban yang saya dapatkan lain. “Biasa saja,” katanya, “Malah saya iri sama anak UI, ITB. UI mungkin lebih bagus dibanding STAN, analoginya jika output UI 200, STAN 110. Itu dengan input yang sama.”&lt;br /&gt;Yang dimaksud output disini adalah dunia kerja, yang mengacu kepada kemampuan analisis. Di UI dan Trisakti juga ada jurusan pajak. Mereka lebih ke teori, STAN lebih unggul untuk pemahaman aplikasi keilmuan. Komposisi mahasiswa laki-laki dan perempuan berbanding 1:3. Memang ada prioritas untuk kaum “adam”. &lt;br /&gt;“Kenapa begitu?”tanya saya.&lt;br /&gt;“Mutasi pekerjaan. Laki-laki lebih gampang untuk berpindah-pindah dibanding perempuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar ada dua macam pelajaran di sana, hitungan dan hafalan. Akuntasi dan Pajak, termasuk jurusan yang paling susah dalam pelajaran hitungan. Sama seperti mahasiswa fakultas hukum yang menghafal begitu panjang barisan undang-undang, mahasiswa STAN tak kalah banyak menghafal tentang pajak. Berkutat dengan angka-angka menjadi makanan sehari-hari. Sangat jarang membahas “dunia luar”, kalaupun ada biasanya mereka berdiskusi tentang dinamika Departemen Keuangan. Mengenai kebijakan yang dikeluarkan terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Karena muaranya setelah mereka lulus akan ditempatkan di Departemen Keuangan, misalnya di Departemen Pajak, Bea Cukai, KPPN atau BKF. Tapi bisa juga di instansi non-Depkeu, seperti BPKP, BPK atau Bapeppam. Sistem kuliahnya bisa dibilang santai tapi ujiannya sangat sulit.&lt;br /&gt;“Pernah awak  kuliah hitungannya 3 SKS, seharusnya 4 kali pertemuan, tapi cuma dijadikan 2 jam. Pas ujian, beuhh …,” Renrefli tak menyelesaikan kalimatnya. Dia hanya mengangkat kedua tangannya ke atas tanda menyerah.&lt;br /&gt;“Ya karena tuntutan IPK harus di atas 2.75 bia indak di DO, terpaksa belajar keras setiap sebelum ujian”, sambungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan mahasiswanya adalah orang jawa, hampir sebagian besar. STAN itu untuk orang jawa. Ini isu yang kebanyakan berkembang di kalangan mahasiswa non-jawa. Karena stereotipe sudah terlalu lama dikuasai orang jawa. Renrefli pernah bertanya kepada salah seorang temannya yang baru lulus saat test ketiga kalinya. Orang tuanya lebih senang dia jadi birokrat dengan kuliah yang setelah lulus langsung dapat kerja. Dia menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah budaya jawa, yang menganggap kerja di kantor pemerintahan itu lebih baik.&lt;br /&gt;Kalau benar begitu saya berfiir mungkin ada hubungannya dengan sejarah kolonial Belanda. Penetrasi terhadap budaya jawa. Saya teringat cerita Pram, khususnya beberapa bagian di Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-8553187855873473052?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/8553187855873473052/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=8553187855873473052' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/8553187855873473052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/8553187855873473052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2009/01/sekelumit-kisah-stan.html' title='Sekelumit Kisah STAN'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-164955712916078848</id><published>2009-01-19T01:32:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T01:33:35.144-08:00</updated><title type='text'>Persepsi Mas Raka</title><content type='html'>Pagi minggu, dekat kawasan Graha Saba Pramana konsentrasi kerumunan massa dan kendaraan tumpah ruah. Orang-orang joging diantara berbagai macam kuliner dijajakan. 500 meter ke arah utara, ada perempatan lampu merah. Orang-orang lebih mengenal dengan nama perempatan MM UGM. Utara perempatan menuju Kaliurang atas. Timur ke arah kehutanan UGM. Di sebelah barat ke jalan Sardjito, Rumah Sakit Umum Dr.Sardjito dan kampus Fakultas Teknik UGM melalui jalan ini. Di sisi timur kanan perempatan ada pos polisi, di depan pos sebuah plang terpancang “Polisi Sektor Bulaksumur”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambutnya panjang hingga ke bahu, keseluruhannya hitam walau beberapa helai telah berubah menjadi putih. Pandangan matanya tajam, sesekali lidahnya membasahi bibir. Kumis tebal dan janggut yang dibiarkan panjang menambah kesan sangar. Tubuhnya tidak terlalu besar, malah cenderung kurus tapi kekar dan hitam legam terbakar matahari. Hem biru yang kancingnya dibiarkan terbuka melapisi badannya. Ditambah rompi hijau hitam bersaku di bagian bawah, dipungung rompi tertulis Harjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf  mas agak telat dari janji kita kemaren, biasalah hari minggu jadi agak nyantai”, katanya ketika saya langsung mendekatinya. Perempuan di sampingnya menyunggingkan senyum. Tak berbeda jauh penampilannya. Kaos putih hitam dilapisi rompi yang sama bertulis Harjo di punggungnya. Tak ketinggalan manset hitam terpasang dari lengan hingga pergelangan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Jadi gimana mas, mau langsung coba jualan? Udah agak siang sebaiknya langsung aja”, ujarnya sambil menyerahkan beberapa eksemplar koran hari itu. “Koran Tempo 1000 rupiah, Harjo 2000, Kompas dan KR masing-masing 3500 dan 2500 rupiah”,sambungnya.&lt;br /&gt;“Nanti kita pisah, saya dan istri saya di sini mas di utara, sekarang udah setengah sembilan jam sebelas kita kumpul lagi sekalian istirahat”, tangannya sibuk memisahkan koran-koran sambil memberi instruksi dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak punya pilihan saya langsung memisahkan diri dari mereka, menuju ke utara perempatan. Dua setengah jam ke depan saya akan mencoba menjadi seorang penjaja koran di jalanan. Sekitar 60 detik saya menawarkan dagangan ke orang-orang yang berhenti, sebelum berjalan lagi. Dan menunggu tiga sisi lainnya sebelum traffic light di posisi saya lampu merahnya menyala kembali. Sesekali saya melempar pandang kepada mas Raka, begitu namanya ketika mengenalkan diri kemaren. Tubuhnya timbul tenggelam diantara mobil dan sepeda motor. Istrinya lebih banyak mengambil tempat di sisi trotoar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari sebentar lagi akan di atas kepala, saya semakin sering menoleh ke arah seberang. Hingga koran di tangan seorang di seberang bergerak-gerak ke kiri dan kanan. Saya berdiri tegak dan lambaian tangan mas Raka menyuruh saya menuju ke tempatnya. Setengah berlari dengan koran yang masih tersisa di tangan dalam hitungan 10 detik saya sudah berada di dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana mas?capek ya?”,tanyanya sambil mengambil posisi duduk di pagar trotoar.&lt;br /&gt;“Lumayan, maaf ga kejual semua mas”, dengan menyerahkan sisa koran dan lembaran duit dari koran yang terjual saya menjawab.&lt;br /&gt;“Yo ra opo-opo to mas, lagian kan mas hanya ingin merasakan gimana jualan koran to? Ga enak to mas?”, ujarnya sambil melirik istrinya. Si istri tersenyum-senyum saja.&lt;br /&gt;“Ga apa-apa kok mas, sekalian bisa langsung masuk ke inti tentang tujuan saya”, saya menjelaskan panjang sekali lagi kepada mas Raka, bahwa saya ingin mewancarainya. Karena ingin menulis cerita tentang kehidupan penjual koran, suka duka di jalanan, keluarga dan sebagainya. “Owalah mas, saya kira mas ingin ikutan jual koran dari pagi sampai pulang, ra ngerti kalo cuma mau wawancara wae”, dia bicara dengan mimik menyesal. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-164955712916078848?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/164955712916078848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=164955712916078848' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/164955712916078848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/164955712916078848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2009/01/persepsi-mas-raka.html' title='Persepsi Mas Raka'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-7398493777653883683</id><published>2009-01-05T06:18:00.000-08:00</published><updated>2009-01-05T06:20:01.153-08:00</updated><title type='text'>Kepercayaan Lokal Menjawab Persoalan Global Warming</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sejauh mana filsafat dalam aspek-aspek kosmologi memaknai global warming &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Filsafat pada umumnya membahas dan mengkaji hal-hal yang mendasar. Dalam menyikapinya terkadang perlu ada sinkronisasi dalam memaknai antara yang umum dan khusus. Dalam pemahaman filsafat juga mengacu kepada being and non-being. Lalu tercabang kepada permasalahan yang melingkupi objek-objek filosofis. Kosmologi yang secara paling umum disebut sebagai ilmu pengetahuan tentang alam atau dunia. Kosmologi tidak kerap membicarakan tentang benda material yang mati saja seperti batu, udara dan sebagainya. Tetapi kemudian juga melangkah jauh kepada makhluk-makhluk yang hidup di atasnya, manusia dan sebagainya. Kosmologi berangkat dari keseluruhan aktivitas duniawi, yang membahas segala macam tentang dunia dan materi-materinya. Seperti permasalahan ruang dan waktu yang mendasari perbedaan antara kuantitas dan kualitas. Maka dapat dikatakan bahwa sifat kosmologi adalah lebih luas dan mendasar tentang segala keuniversalan alam (nature). Kosmologi dalam diskursus filsafat mempelajari manusia dan kosmos sebagai “objek”, yaitu suatu kenyataan objektif dengan struktur dan arahnya sendiri. Setiap topik yang berkembang dalam pembicaraan kosmologi dapat dan sepertinya harus disertai dengan analisis konsekuensi-konsekuensi bagi pengetahuan.&lt;br /&gt;Substansi dalam kosmos secara khusus dapat diambil kesimpulan bahwa manusia memiliki keunggulan di dalam kosmos. Jadi peran penting manusia sebagai sasaran dan puncak seluruh evolusi kosmis terlihat disini. Dalam tulisan ini saya menjadikan manusia sebagai subjek yang berhadapan dengan aktivitas alam. Gejala-gejala alam tidak pernah lepas dari andil manusia dalam mencapai tempat tertinggi kepadatan dan kekayaan yang menentukan kosmos. Manusia adalah pengkosmos. Dengan begitu muncul keinginan dan kemutlakan bagi manusia, dengan sendirinya manusia dibebani tanggung jawab dan kebebasan yang mutlak, dalam hal ini terhadap alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche dengan radikal mengatakan bahwa kehendak berkuasa adalah “dunia”. Gagasan Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa ini merupakan saripati dari seluruh petualangan pemikiran Nietzsce, kesimpulan ini merupakan hasil-hasil percobaan (Versuch) lewat kontemplasi yang panjang, bukan ditarik begitu saja dari premis-premis silogisme yang dituangkan dalam suatu tulisan yang sistematis. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Melalui metode filsafatnya yang menghasilkan tulisan-tulisan yang tidak terikat pada suatu sistem, Nietzsche menemukan bahwa kehendak untuk berkuasa merupakan prinsip dari seluruh kehidupan manusia dan alam (St. Sunardi, 1996).&lt;br /&gt;Kelanjutan dalam berbagai aspek dari gagasan Nietzsche tersebut, politik, negara moralitas dan sebagainya. Tentang kedudukan manusia dalam dunia (die Sonder Stellung des Menschen im Cosmos). Nietzsche menolak gagasan bahwa manusia hanyalah merupakan anugerah yang diberikan alam sebagaimana yang dikemukan Charles Darwin. Nietzsche juga tidak menyetujui pandangan religius yang mengakui bahwa manusia adalah rahmat ilahi. Menurut Nietzsche kedudukan manusia terletak diantara binatang dan apa yang disebut Ubermansch. Yang membedakannya adalah bahwa manusia mempunyai tujuan yang hanya dapat dicapai oleh manusia itu sendiri dengan menggunakan kemampuan (potensia) dan kemungkinan untuk mengatasi dirinya. Manusia yang tidak merealisasikan kemungkinan dan potensi-potensinya akan tetap sebagai status binatang. Ubermansch adalah semacam manusia “ideal” yang dapat merealisasikan semua kemungkinannya “aussereste Moglichkeit des Menschen” (Curt Freidlein,1984).   &lt;br /&gt;Sejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuwan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di bumi selalu berubah. Pada abad 19, studi mengenai iklim mulai mengetahui tentang kandungan gas yang berada di atmosfer, disebut “gas rumah kaca”, yang bisa mempengaruhi iklim di bumi. Gas rumah kaca adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, jika tidak, tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka bumi. Secara umum karbondioksida adalah penyumbang utama gas kaca. Sumber utama peningkatan konsentrasi karbondioksida adalah penggunaan bahan bakar fosil, ditambah pengaruh perubahan permukaan tanah (pembukaan lahan, penebangan hutan, pembakaran hutan, mencairnya es). Dalam arti lain aktivitas manusia dari agrikultural. &lt;br /&gt;Salah satu perspektif yang berkembang mengatakan bahwa manusia-lah yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2007, menunjukkan bahwa secara rata-rata global aktivitas manusia semenjak 1750 menyebabkan adanya pemanasan. Perubahan kelimpahan gas rumah kaca dan aerosol akibat radiasi matahari dan keseluruhan permukaan bumi mempengaruhi keseimbangan energi sistem iklim.&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk yang bereksistensi terus menerus, memerlukan alam sebagai wadah untuk kegiatan survivalnya tersebut. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mempengaruhi kemampuan manusia melaksanakan “kehendak untuk berkuasa”. Lalu, apa yang menyebabkan alam menjadi salah satu ancaman terbesar manusia dan lingkungannya pada semester? Yang berkembang sekarang adalah pemanasan global, yang membuat ilmuawan ataupun yang berkepentingan terhadap hal ini menekankan pada masyarakat (manusia-manusia) bahwa ini ancaman terhadap kelangsungan manusia yang berangkat dari “kehendak untuk berkuasa” tadi.&lt;br /&gt;Dalam kepercayaan masyarakat tradisional bahkan modern sekalipun, takhayul menjadi satu bagian penting dalam berhubungan dengan alam. Ada yang merasa salah dengan takhayul karena kesadaran modern membebaskan manusia dari takhayul, dari batas dan ketakutan yang disebabkan oleh hal-hal yang tidak dapat dibuktikan atau diterangkan dengan akal sehat. Takhayul mewarnai kepercayaan lokal. Salah satu kontribusi yang dapat diterapkan terhadap permasalahan pemanasan global ini adalah menghidupkan kepercayaan lokal yang di dalamnya terkandung cerita dan ajaran-ajaran yang filosofis. Pada masa silam manusia takut bukan kepada Tuhan (sebelum agama monoteisme ada), melainkan kepada alam. Alam dipercaya keramat, dengan demikian tak boleh disewenangi. Pemanfaatannya harus dengan permisi dan dalam batas-batas yang tahu diri. Pada hari-hari tertentu pepohonan tua diberi sesajen. Kepada gunung dan kawah purba diupacarakan persembahan. Pada musim-musim tertentu (terutama musim birahi binatang) manusia pamali berburu. Manusia tidak punya mesin pendingin untuk menyimpan daging sehingga membunuh secukupnya yang bisa dimakan. Seperti singa, mereka tidak membunuh rusa beberapa ekor sekaligus lalu menyimpannya dalam “kulkas”. Maka tak ada hewan atau pepohonan yang dibantai (dibantai dalam arti dihabiskan dalam jumlah berlebihan). Semua makhluk hidup dalam keadaan seimbang. Seperti Yin Yang, dalam filsafat Cina.&lt;br /&gt;Keseimbangan dan rasa takut sekaligus menghormati alam membuat struktur alam seimbang. Setidaknya dari segi ini dapat mengerem produktivitas dan keinginan manusia untuk berkuasa termasuk alam dan dunia seperti yang dikatakan Nietzsche. Bahwa ada nilai-nilai tradisional yang harus diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-7398493777653883683?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/7398493777653883683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=7398493777653883683' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/7398493777653883683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/7398493777653883683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2009/01/kepercayaan-lokal-menjawab-persoalan.html' title='Kepercayaan Lokal Menjawab Persoalan Global Warming'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-5177992075462778587</id><published>2009-01-05T06:17:00.000-08:00</published><updated>2009-01-05T06:18:01.466-08:00</updated><title type='text'>Menyuruh = Membunuh</title><content type='html'>Aku tak suka disuruh-suruh…&lt;br /&gt;Kenapa orang masih suka menyuruh-nyuruh&lt;br /&gt;Bahkan Tuhan pun menyuruh&lt;br /&gt;Banyak pilihan untuk menjadi islam statistik&lt;br /&gt;Begitu agama aku&lt;br /&gt;Tak sembahyang, tak puasa dan seterusnya&lt;br /&gt;Jadi hanya untuk memenuhin statistik saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa ada kebenaran yang fungsional dan yang &lt;br /&gt;Filosofis, tidak dapat diukur&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-5177992075462778587?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/5177992075462778587/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=5177992075462778587' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/5177992075462778587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/5177992075462778587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2009/01/menyuruh-membunuh.html' title='Menyuruh = Membunuh'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-4393703732005783674</id><published>2009-01-05T06:15:00.000-08:00</published><updated>2009-01-05T06:17:01.316-08:00</updated><title type='text'>Sahabat Adalah Bumi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pernahkah kita menemukan seorang sahabat?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kita berfikir apa sahabat, seperti apa sahabat itu. Kemudian kita memunculkan banyak pendapat tentang apa yang kita fikirkan.&lt;br /&gt;Sahabat menjadi kehidupan kita, menelusuri setiap jalan yang pernah dan akan kita lalui. Sosok seperti apa saja yang telah kita kenal? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat yang mengkhianati kita, pernahkah kita bagi hidup kita ke dia, baik materi ataupun immateri. Kita percayakan semua kepadanya. Kirimkan cerita detail hari-hari kita, masalah rumah tangga hingga hal-hal remeh temeh. Terkadang masaih menyimpan semua yang patut dirahasiakan atau seperti yang dibilang di awal tadi, sahabat itu berubah menjadi monster, sebelumnya menjelma menjadi parasit lalu menghisap darah kita sampai habis. Bisa dibilang itu pengkhianatan. Seperti dunia mafia “dibalik pengkhianatan ada pengkhianatan”. Megerikan memang!! Sebaiknya kita mengenal dan belajar dunia mafia dari sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat yang merasakan hidup susah dari kecil dengan kita, dikemurnian desa yang terkadang munafik atau di kesumpekan kota yang terkadang berlebihan. Kita dan sahabat sama-sama mati rasa. Tak kenal hujan, panas semuanya pernah terlewati melalui jalanan kota dan pematang sawah. Dingin malam hadir dalam memori menusuk. Kejamnya segala hal yang kejam telah terlewatkan. Perpisahan mengakhiri segalanya, lalu berbilang waktu dalam tahun kita bertemu lagi. Mencolok perbedaan yang nasib tentukan, berbeda wajah baik dan buruk, entah siapa yang akan memiliki. Disindir dan ditamparlah kita yang kalau beruntung bisa membuat kita bangkit. Lubang-lubang kehidupan yang membuat terjerumus, terbujuk bayangan mimpi yang indah. Lalu terpisah dendam. Sendiri-sendiri menepi, tanpa seseorang yang sanggup mengerti (dari sebuah lagu yang akan menjadi tinjauan dalam rencana skripsi). Seorang sahabat yang telah berjanji akan membantu prosesnya nanti. Semoga tidak hanya membatu. Sahabat membuat kita punya tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat yang hanya ada dalam khayalan, besar kecil kemungkinan bisa bertemu. Tapi memberi arti besar, seakan di dalam darah mengalir darahnya, dalam detak jantung berdenyut dia. Hanya bisa melihat dari jauh dan membersitkan rasa kebanggaan lebih dari kebangsaan. Karena dengan tangannya lewat kreativitasnya semua seragam dalam kebersamaan yang fanatik, tak habis-habis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat yang mati dalam pelukan dia. Cerita ketika menumpang kereta batu bara. Tergencet antara gerbong dan gerbong. Panas beruap, peluh meluap sepanjang jalan. Sahabat sama-sama melompat dan sayangnya lompatan sahabat disambut batu pada kepalanya. Mati berdarah mengenai tangan kita. Masih bergerak dan meringis ketika ia meregang nyawa. Mati, hingga ke kuburannya. Sekarang kita memiliki putra dan putri seumuran sahabat yang dulu mati, masa sekolah. Masih terkenang darah yang masih tergenang di tangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat yang kita jejakkan setiap hari, yang kita buangkan kotoran-kekotoran padanya. Madu dan airnya kita manfaatkan. Semuanya kita ambil. Tapi dia tidak bisa menolak, suatu saat dia akan menolak dengan bencana. Karena sahabat itu adalah bumi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-4393703732005783674?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/4393703732005783674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=4393703732005783674' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/4393703732005783674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/4393703732005783674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2009/01/sahabat-adalah-bumi.html' title='Sahabat Adalah Bumi'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-1026143937624209490</id><published>2008-11-08T18:37:00.000-08:00</published><updated>2008-11-08T18:42:16.524-08:00</updated><title type='text'>Indonesia, MUAK!!!!</title><content type='html'>Di negeri seberang orang berjuang untuk bangsanya,&lt;br /&gt;di sini orang berjuang untuk kroni dan diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-1026143937624209490?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/1026143937624209490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=1026143937624209490' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/1026143937624209490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/1026143937624209490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/11/indonesia-muak.html' title='Indonesia, MUAK!!!!'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-3779020925578396330</id><published>2008-11-06T23:53:00.000-08:00</published><updated>2008-11-06T23:56:00.543-08:00</updated><title type='text'>RASIALISME TELAH USANG</title><content type='html'>Terserah Barack Obama akan merealisasikan agenda dan program kerja yang dia rancang dan koar-koarkan selama masa kampanya yang panjang. Dari Hillary Clinton sampai John McCain sekarang. McCain menambah aroma perperangan dengan seorang rupawan, Sarah Palin. Namanya enak diucapkan, tak terlalu ribet seperti nama Eropa dan Amerika lainnya. Saya juga tak mengerti bagaimana mengucapkan nama dan kata, tapi tetap saja enak SARAH PALIN.&lt;br /&gt;Apalagi seorang teman yang jika telah membicarakan pemilihan presiden di Amerika, yang paling pertama dia lontarkan adalah boot-nya Sarah Palin. “Keren banget, seorang calon wakil presiden perempuan, alamak boot-nya itu, sudah seperti artis saja”, dia mencerocos. Akibatnya saya searching di google dengan memasukkan kata Sarah Palin dan ternyata memang cantik. Panjang pula informasi media tentangnya, menghabiskan dana kampanye untuk berdandan dia dan keluarga, ya termasuk anak-anaknya itu. Lalu kebijaksanaannya yang memecat seorang pegawai pemerintahan, semacam polisi ya? Saya lupa dan malas membalik-balik koran lagi. Tapi Sarah Palin tak akan jadi wakil presiden, mungkin tetap saja jadi Gubernur di salah satu negara bagian seperti sebelumnya, atau dia telah meletakkan jabatannya?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obama mengukir sejarah, akhirnya tercapai juga cita-cita Martin Luther King untuk memperjuangkan persamaan hak bagi warga kulit hitam di Amerika 45 tahun silam. Kita pun warga Indonesia dibuat sibuk dengan pemilihan presiden Amerika ini, kita bermil-mil jauhnya dari mereka. Ada dari kita yang merasakan kebanggaan dan kesenangan atas kemenangan Obama, ada juga yang tak terlalu peduli, apalagi mereka yang selama ini menentang dan sangat membenci Amerika. Padahal tak tahu apa yang terjadi, apa yang mereka benci, entah ajaran dari siapa yang mereka dapat. Ini lepas dari kepentingan politik dan ekonomi. Kepentingan agama tak dapat disangkut-pautkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas Amerika menunjukkan pada kita semua. Semua manusia punya harkat, martabat, dan hak yang sama termasuk menjadi seorang presiden. &lt;br /&gt;Dalam editorial koran Tempo, 6 November 2008, di negara ini, Indonesia, diskriminasi dan rasialisme masih terjadi kendati undang-undang, bahkan konstitusi, telah diperbaiki. Dalam Undang Undang Dasar 1945 yang diamandemen, misalnya syarat seorang presiden dan wakil presiden tak lagi mengharuskan orang Indonesia “asli” tapi cukup terlahir sebagai warga negara Indonesia. &lt;br /&gt;Persoalannya, dikotomi kesukuan, Jawa dan luar Jawa, masih terasa. Bangsa ini seolah belum bisa menerima kenyataan seorang presiden bisa terlahir dari suku non-Jawa. Dikotomi agama pun kerap jadi masalah. Padahal Amerika telah menyelesaikan soal ini hampir setengah abad silam, ketika John F.Kennedy tampil menjadi presiden pertama dari kaum katolik yang mayoritas.     &lt;br /&gt;Ya begitulah bangsa ini, penuh kekerasan, primordialis, dan bermental miskin. Tak semua memang, tapi sebagian cukup menggambarkan itu kan?&lt;br /&gt;Sudahlah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-3779020925578396330?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/3779020925578396330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=3779020925578396330' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/3779020925578396330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/3779020925578396330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/11/rasialisme-telah-usang.html' title='RASIALISME TELAH USANG'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-8168610925241932769</id><published>2008-10-31T22:59:00.001-07:00</published><updated>2008-10-31T23:03:31.007-07:00</updated><title type='text'>Ramadhan Akan Berakhir</title><content type='html'>Pesawat Lion Air masih di udara, padahal malam telah lama naik. Goncangan-goncangan di pesawat cukup membuat ciut nyali, ibu-ibu di samping saya komat-kamit mengucap nama Tuhan. Cuaca buruk, itu informasi yang didapat dari awak penerbangan rute Jakarta menuju Padang. Hingga mendarat di Bandara Internasional Minangkabau pun, langit terlihat gelap, sesekali rintik hujan mengenai bahu saya.&lt;br /&gt;Satu tahun belum lagi saya pulang ke Solok, kampung halaman. Momen seperti bulan puasa dan lebaran adalah waktu yang biasa dipergunakan oleh kebanyakan orang perantauan untuk kembali ke kampung halaman. Menemui orang tua, berlebaran bersama keluarga, mengunjungi sanak famili dan teman-teman lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 29 September 2008 sekitar pukul 17.30 di depan kantor DPRD kota Solok, ada konsentrasi keramaian. Sebelum masuk lokasi ada spanduk betuliskan Pasar Pabukoan Kota Solok. Macam-macam lauk, panganan untuk berbuka khas Minangkabau dapat ditemui dengan mudah. Pedagang dan pembeli berseliweran di sini. Tak terlalu luas, hanya ruas jalan di samping kantor Telkom Solok yang dipergunakan. Susunan meja dan lapak seadanya. Saya di sana waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Orangnya berkumis, perawakannya besar. Tangannya cekatan ketika memindahkan lauk dari wadah ke plastik. Ini tahun ke 2 baginya berjualan masakan di pasa pabukoan. Nama warung makan ini lumayan santer terdengar bagi siapa saja yang menginginkan masakan enak yang sedikit berbeda. Andalannya gulai tunjang. Jika pada hari biasa, Ampera Etek dapat kita temui di kawasan teminal angkot Solok. Khusus setiap bulan puasa di pasar pabukoan ini Ampera Etek hanya menjual samba (lauk).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari informasi yang diberikan bapak Irmi Rahnadasyan, atau yang biasa dipanggil Pak Guru ini, pasar pabukoan ini baru 2 tahun berjalan di lokasi yang baru ini. Sebelumnya sudah pernah ada, lokasinya berada di tengah pasar. Pemerintah melalui instansi yang terkait yaitu Dinas Pasar Raya meminta pedagang khusus pasa pabukoan ini pindah ke lokasi yang baru. Mengambil tempat di ruas jalan antara kantor Telkom kota Solok dan bekas rumah dinas Bupati lama. Di situlah lapak dan meja-meja pedagang tersusun dengan rapi. Perhitungannya setiap pedagang membayar Rp. 7500,- untuk 1 meja.&lt;br /&gt;Walaupun suasana di sini cukup memadai untuk berjualan, dengan banyaknya urang Solok  yang masih berkunjung ke sini saban sore. Pak Guru menilai tempat ini masih mempunyai kekurangan seperti ketidakadaan MCK yang memadai. Bahkan untuk menunaikan shalat magrib pun harus ke masjid yang tak bisa dibilang dekat. Ke masjid setidaknya harus menempuh jarak 300-400 meter. Di lokasi pun tak mungkin menunaikan shalat karena kurang bersih untuk melaksanakan ibadah. Biasanya sebelum Isya orang-orang di sana mulai berkemas-kemas dan biasanya sebagian besar telah meninggalkan lokasi. Meja-meja disingkirkan dan jalanan yang beralih fungsi ini mulai dipergunakan kembali seperti biasanya.  &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Seminggu kemudian saya ditemani seorang teman berencana melakukan perjalanan ke daerah Suliki. Senin, 6 Oktober 2008 pagi sekitar jam 10 kami memulai perjalanan dari kota Solok. Perkiraannya kami akan menempuh waktu sekitar 2,5-3 jam hingga ke tempat tujuan. Matahari tak begitu terik memancarkan sinarnya, bahkan di beberapa belahan langit terlihat mendung. Bensin motor telah terisi penuh, ini pun kami harus antri. Dari Solok kami bertolak melewati Sumani, biasanya daerah ini adalah titik macet, apalagi masih dalam suasana lebaran yang selalu dihiasi bermacam kendaraan bermotor. Yang paling ramai tentu truk atau mobil dengan bak terbuka di belakangnya. Diisi sebanyak-banyak orang, angkatan tua dan muda menuju tempat wisata. Di jalan pun jika bertemu kolega dengan transportasi yang sama biasa menjadi lawan. Anak-anak kecil hingga remaja dan dewasa yang tak mau ketinggalan mempersenjatai dirinya dengan pistol mainan, berbagai ukuran. Amunisinya peluru bulat warna-warni. Terjadilah pertempuran singkat. Kadang masyarakat di daerah yang dilewati juga sering ikutan. Mereka bergerombol, biasanya di kedai tepi jalan, pos siskamling atau tempat yang strategis. Mobil lewat dan menampakkan tanda-tanda penyerangan mereka telah siap. Menambah suasana ramai lebaran tapi riskan juga mengenai pengguna jalan yang tak berdosa. Jika sudah begitu bisa-bisa semua pengguna jalan baik pengendara roda empat atau roda dua akan bersiaga juga dengan menyiapkan pistol mainan yang marak di pasar menjelang setiap lebaran.&lt;br /&gt;Menurut informasi dari teman seorang polisi yang dinas di daerah Paninggahan jalan Sumani-Singkarak padat lancar. Kita belum akan menemukan kemacetan pikir saya. Dan ternyata pasar Sumani yang biasanya kendaraan tumplek di sana lengang. Bahkan di dermaga danau Singkarak yang dijadikan semacam tempat bermain di hari lebaran, ada komedi putar dan rekan sejawatnya yang lain, juga belum menampakkan keramaian. Mungkin masih belum siang. Daerah terdekat yang akan kami tuju adalah kota Batusangkar. Sepanjang danau Singkarak kami melaju. Di pasar Ombilin kami mengambil jalan ke kanan setelah jembatan. Mendaki sedikit dan terpampanglah pemandangan indah. Kami melewati lereng bukit di samping kiri, dan jurang di samping kanan. Di lembah-lembah itu daerah pedesaan masih terlihat asri, sawah berjenjang-jenjang, pohon padat merayap, dan kincir air di sungai. Alangkah indahnya!&lt;br /&gt;Perjalanan masih berlanjut hingga dari Batusangkar kami melewati daerah Baso. Jalannya panjang dan lurus, sesekali di jalan yang mulus ini ada turunan dan pendakian. Tak terasa kami sampai di Payakumbuh, tak masuk kota memang karena ke Suliki ini bisa dilewati tanpa melalui kawasan kota Payakumbuh. Kepenatan perjalanan belum juga habis, masih jauh lebih 30 km lagi  baru akan sampai di Suliki. Kami sempat menangkap petunjuk jalan, lurus terus ke daerah Mungka, jika hendak ke Koto Tinggi dan Suliki mengambil jalan ke kiri. &lt;br /&gt;Melewati daerah Danguang-danguang yang terkenal dengan satenya, lalu nagari-nagari kecil lainnya. Mulai dari situ, jalannya dinamakan jalan Tan Malaka. Panjang hingga ke daerah Pandan Gadang. Di sana rumah tempat Tan Malaka sebelum merantau ke Bukit Tinggi, setelah itu Nusantara dan Asia hingga ke Eropa timur dijamahnya..&lt;br /&gt;Keramaian telah lewat saat sudah dekat sebelum memasuki Pandan Gadang. Yang tersisa hanya barisan bukit-bukit menjulang tinggi, bersatu padu memagari negeri dan lembah di bawahnya. Pemukiman penduduk hanya berjejer di pinggir jalan, sawah dan ladang yang sangat luas memenuhi daerah ini.  Belok kanan sembari mendaki sedikit lalu agak lurus akhirnya sampai juga di rumah Tan Malaka. Kami yang pertama kali menelusuri jalan ini tak begitu sulit menemukan lokasi. Jika kebingungan, tinggal bertanya saja ke penduduk, dari awal hingga akhir perjalanan pun tak akan terasa susah. &lt;br /&gt;Lokasi rumah Tan terletak di sisi kiri jalan dari arah Payakumbuh. Bukan berarti tepat langsung berhadapan dengan jalan tapi untuk sampai ke sana harus melewati jalan tanah setapak yang bisa dilalui mobil, lumayan lebar dan tidak rusak. Di sana, di depan  sebuah rumah ditancapkan plang petunjuk berjudul Rumah Tan Malaka, Meseum dan Pustaka, bercat putih dengan dasar warna hijau. Bertonggak bambu, arah panah berwarna kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halamannya cukup luas, di depan rumah banyak tumbuh pohon kelapa dan ada kolam yang sudah tak berisi air. Entah ikan di dalamnya baru saja dipanen. Kami menaiki anak yang berjumlah tujuh buah, menghadapi pintu yang tertutup. Jendalapun tak ada yang buka, sepertinya tak ada penghuni di dalam. Berkali-kali diketok tak ada juga sahutan dari dalam. Dari arah surau yang tak jauh dari rumah baru tampak seorang perempuan berjalan mendekat ke arah rumah. Mudah-mudahan perempuan itu penghuni rumah, ternyata benar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pintu dibukakan sambil mengatakan dia akan segera memanggil ayahnya. Saya rasa dia masih sekolah. Kami masuk, dan dipersilahkan duduk di beranda. Sofa lusuh yang tak empuk lagi menjadi sandaran kami yang terbuat lelah karena perjalanannya. Rasa lelah menjadi tak berharga karena sekarang kami sudah berada di dalam rumah “Bapak bangsa yang terlupakan”. &lt;br /&gt;Lalu muncul seorang laki-laki, setengah baya. Saya dan rekan langsung menyalaminya. Kami lalu memperkenalkan diri dan mengutarakan keinginan. Ia memperkenalkan diri sebagai Indra Ibrur Aditama, generasi ke empat dari Dt. Ibrahim Tan Malaka. Ayahnya bernama Johanes, ibunya bisa dibilang cucu Tan Malaka, Ananurnia. Sayang saya tak menanyakan lebih lanjut tentang hubungan keluarga dan silsilah lebih lanjut tentang generasi Tan Malaka. Di tempat yang bisa disebut ruang tamu ini banyak foto-foto Tan, dan keluarga generasi selanjutnya, bapak Indra mengungkapkan kebanyakan foto adalah sumbangan dari para kolektor atau siapa saja ketika rumah Tan ini dijadikan meseum pada tahun 2008 ini, belum terlalu lama. Beliau menerawang ke waktu itu, keadaan rumah itu ramai dan meriah, pemerintah melalui instansi terkait juga hadir bersama keluarga dan penduduk sekitar. Kini hanya sunyi senyap yang hadir. Bahkan pemerintah terkesan melupakan, secara eksplisit dia mengungkapkan setidaknya ada perhatia pemerintah untuk perawatan, karena ini rumah telah menjadi milik publik, meseum!&lt;br /&gt;Kami dipersilahkan masuk ke ruang utama yang lapang, standarnya rumah gadang, tonggak tengah rumah terkesan kokoh. Di sini di isi dengan beberapa lemari berisi buku-buku karya Tan, ataupun buku tentang Tan Malaka karya penulis lain. Buku tamu disediakan di sebuah meja tepat di depan saat hendak masuk. Saya menelusuri nama-nama dan alamat orang-orang yang pernah berkunjung ke sini. Dari daerah Jawa tidaklah sedikit, LSM, kampus dan sebagainya. Di bagian awal tanggal 4-1-2005 ada nama Harry Poeze. Luar biasa peneliti yang satu ini pikir saya, itu bukan pertama kalinya dia ke sini. Bahkan ketika bapak Indra masih kecil dia telah juga pernah ke sini.&lt;br /&gt;Lemari bukunya rendah-rendah, jadi buku disusun mendatar pada bagian bawah lemari, bagian atas dan depan di beri kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Selebihnya di dinding rumah, hampir di semua penjuru di pajang foto-foto Tan dan tepat di bagian tengah kita juga dapat mengetahui daftar ranji Datuk Tan Malaka dari Ninik Mamak yang bertalian darah. Jendela di buka lebar-lebar mengatasi kepengapan. Di sela kami melihat sekililing sebuah buku dikeluarkan oleh bapak Indra, Verguisd en Vergeten, Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. Buku ini dalam satu paket yang berisi tiga buah, deel 1 berwarna coklat muda, deel 2 ungu dan deel 3 biru, ketiga nya tebal-tebal. Karangan Harry Poeze tentunya. Bapak Indra mengungkapkan andai dia mengerti bahasa Belanda tentu banyak hal yang dia ketahui tentang sejarah leluhurnya tersebut. Harry Poeze memang dengan sangat serius meneliti tentang Tan, ini buku terbaru yang dia klaim sangat lengkap. Selama ini bapak Indra hanya mendengar cerita dari kakek dan orang-orang tua yang sedikit banyaknya tahu tentang kisah Tan, seperti cerita turun menurun. Di matanya masih banyak tersimpan keraguan-keraguan, hasrat ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dia juga mengetahui tentang penemuan makam Tan di Kediri, penelusuran yang dilakukan Harry Poeze. Walaupun kelanjutannya dia juga belum tahu. Dia berharap sambil membolak-balik buku itu akan ada terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-8168610925241932769?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/8168610925241932769/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=8168610925241932769' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/8168610925241932769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/8168610925241932769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/10/ramadhan-akan-berakhir.html' title='Ramadhan Akan Berakhir'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-7504371710588270084</id><published>2008-09-09T07:09:00.000-07:00</published><updated>2008-09-09T07:17:58.918-07:00</updated><title type='text'>Rak dan Gerobak (Hidup)</title><content type='html'>Kamis siang di awal Juli, saya menginjakkan kaki di Toga Mas Galeria, tak seperti bayangan awal saya tentang toko buku. Toga Mas ternyata hadir di mall, pertama kali saya ketahui ini. Tempat ini berbeda. &lt;br /&gt;Dari parkir di basement 2, lift membawa ke lantai 2. Ini benar-benar baru dalam database penglihatan saya. Pintu lift terbuka, saya mengambil langkah ke kiri luar, berjalan beberapa langkah. Pagar-pagar panjang dan etalase toko mengapit. Tak jauh mata saya tertumbuk pada dekorasi toko yang penuh dengan warna merah. Kaca-kaca besar, kira-kira mengisi empat sudut. Hampir keseluruhan bagian luar toko dilapisi kaca. Buku di rak telanjang tampak dari luar. &lt;br /&gt;Kaki saya terhenti di tempat minum, dalam pandangan di depan sebuah gerobak bervernis coklat. Dari yang saya baca di depan, tempat ini bernama Djendelo Cafe. Pelengkap toko buku yang menghadirkan unsur artistik. Djendelo Cafe, dengan nama minuman yang disajikan membuat kita mengumbar senyum setidaknya mampu menggelitik saraf pendengaran, menjadi akses keluar masuk hampir setiap orang di Toga Mas. Aktivas migrasi ini membuat kesan sibuk tergambar disitu. Kadang sangat sering keriuhannya ditambah tumpukan buku dan kardus-kardus. Kemeriahan yang semakin terpancar dengan kesibukan yang sempat jinak oleh kumpulan meja dan kursi, coklat kehitaman.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di kursi yang berhadapan dengan meja bundar itu, awal dari perkenalan saya terhadap tempat ini. Sedikit menoleh ke belakang beberapa waktu yang lalu. Saat itu saya duduk mengobrol dalam konteks wawancara, konsekuensi lamaran pekerjaan yang saya masukkan ke Toga Mas Gejayan (sekarang Affandi) akhir Juni. Berhadapan dengan seorang wanita yang bernama Shenny, saya kemudian memanggilnya mbak. Cecaran kata-kata, pengalaman waktu lalu, orientasi dan tanggung jawab ke depan menghiasi ‘obrolan’ kami. Lalu mencapai kata sepakat, melalui mbak Shenny saya diterima kerja di toko buku, Toga Mas D’Gale.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kamis di hari ketiga bulan Juli, permulaan saya terlibat dalam. Sehari sebelumnya, saat saya terkantuk-kantuk lalu disadarkan dengan dering ponsel, secepatnya mengalir informasi saya bisa memulai bekerja besok. Dapat saya tangkap, saya disuruh datang jam 2 dan mencari seseorang, yang untuk selanjutnya saya panggil mas Singgih. Akhirnya dengan keinginan untuk berdedikasi tinggi saya lewati pemandangan yang ada di atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Singgih ini ternyata supervisor saya, jadi apa yang harus saya lakukan dan yang lainnya lakukan berada dalam koordinasinya. Dalam perkembangannya setiap akan memulai pekerjaan yang dibagi dalam 2 shift, pukul 9-4 sore dan pukul 2-pukul 9 malam bagi yang full time, serta pukul 9-pukul 2 siang dan pukul 4-pukul 9 malam bagi yang freelance, saya termasuk yang kedua. Selalu dilaksanakan briefing, persiapan, pembagian tugas kerja dan doa bersama. Jika tak ada mas Singgih, seorang wanita berjilbab bernama mbak Ii akan memberikan pengarahan awal. Sepertinya selalu berganti-ganti. Lalu jika tak ada dua-duanya, ataupun ada dua-duanya, terkadang mbak Shenny yang akan mengisi briefing. Tak selalu memang, saya rasa ada proporsinya. Jadi setelah beberapa hari saya sudah mengenal hirearki, posisi, dan tugas masing-masing awak Toga Mas.&lt;br /&gt;Saya dikenalkan dan menghafalkan rak-rak. Dari rak komik, buku anak-anak, sosial politik, novel, religi, majalah tabloid sampai rak tersendiri dari beberapa penerbit yang hadir. “Tak lama nanti juga akan hapal sendiri”, kata mbak Tawuk yang membawa saya ke dunia baru yang membuat saya agak berdebar-debar di hari pertama. Saya sudah mencoba men-display buku yang datang. Lalu meng-input-kan datanya di komputer. Selain mbak Tawuk, saya berkenalan dengan teman yang lain, Aswan yang menjabat erat tangan saya. Andhi yang sedikit mengurangi kebekuan di telapak tangan. Hoho..tak ketinggalan juga wanita cantik di depan komputer kasir, mbak Rindha. Beberapa hari berikutnya saya sudah kenal dan bertatap muka dengan Vika, Hanes waktu itu, Agung, Mas Jaja. Saya merasa agak takut ketika salah seorang yang sebenarnya telah sempat saya berkenalan tapi saya lupa namanya, memanggil saya. Beliau berdiri di dekat tumpukan buku tulis yang menjulang tinggi. Menanyakan asal saya dari mana, lalu mentitahkan kata-kata yang bakal saya ingat seumur hidup, “bekerja itu yang penting jujur!”. Mas Boy, panggilan dari nama Buyung, awalnya saya kira beliau dengan saya sama-sama dari Padang. Tapi tidak, dari Palembang ternyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan terbitnya matahari yang itu-itu juga di ufuk timur, sejarah manusia di atas bumi mendapat kegiatan baru. Setelah memasuki hari-hari yang beribu-ribu jumlahnya, Idul fitri tak tahu lagi di mana pentingnya embun yang bergantungan di dedaunan atau rerumputan pagi hari. Juga tak tahu lagi ia di mana manisnya awan merah yang melembayang di atas kepala. Dan ia pun tidak mengerti lagi apa kehebatan yang tersimpul dalam taluan beduk-beduk langgar masjid dan kelening gereja-geraja. Itu pun bukan salahnya sendiri. Mungin ia tahu juga keindahan itu, tetapi di masa ini pikiran dan perasaanya sangat giat dengan hal-hal lain sehingga tak sempat ia mempergunakannya untuk hal-hal yang tak mendatangkan keuntungan. (Pramoedya Ananta Toer, dalam Cerita Dari Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalan analogi waktu oleh Pram di atas tak bermakna jika tak mampu memberi warna. Begitu juga telah dua bulan lebih saya bergaul, berinteraksi, terlibat intim dengan mbak Shenny, mas Boy, mas Singgih, mbak Ii, mas Jaja, mbak Rinda, mbak Vika, Agung, Tawuk, Aswan, Andhi, lalu Dhani, bahkan juga dengan Vivi, mas Ihsan, Tria, Gala dan Imel para punggawa Djendelo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan kakak sepupu saya beberapa hari yang lewat membuat saya, dalam minggu depan harus telah berada di Jakarta Selasa, 9 September. Dalam rekomendasi dan informasinya saya akan.... Untuk itu saya harus menyiapkan data-data awal dan menghadirkannya dalam tulisan yang runtut. Membuat saya kelimpungan dalam minggu ini, membarengi waktu kuliah, tanggung jawab saya di Toga Mas, dan deadline yang harus saya kejar sebelum hari Minggu besok. Saya sangat berjuang keras dalam menghadirkan tulisan pengantar yang cukup bagus. &lt;br /&gt;Saya sempat berfikir dan ada keinginan untuk meminta izin non-job, intensitas waktu yang saya butuhkan adalah satu minggu. Tapi keinginan itu tersingkap lalu luntur karena dasar apa yang saya inginkan ini dan jika diberi izin akan menggangu ritme kerja secara keseluruhan. Tambah tak sanggup saya mengutarakan karena melihat kuantitas waktu kerja saya yang tak seberapa (baru 2 bulan lebih sedikit) dan kontribusi yang tak terlalu banyak saya hadirkan bagi eksistensi Toga Mas, betapa belum sebandingnya dengan apa yang saya kehendaki.&lt;br /&gt;Membayangkan kemungkinan ke depan, dimana akan ada kesempatan yang sangat besar atau malah sangat kecil sekali, yang mana juga tak dapat saya prediksikan. Tapi sebagai gambaran awal, jika saya mendapatkan beasiswa… (non beasiswa, kontribusi sebesar 3 juta rupiah), saya akan stay di Jakarta atau bolak-balik Yogyakarta-Jakarta selama 2 bulan. &lt;br /&gt;Alasan di atas membuat saya tak mempunyai pilihan lain dan dengan hati berat saya mengajukan permohonan pengunduran diri kerja di Toga Mas Galeria. Seperti saat saya mulai bekerja dulu, semua berlangsung dengan sangat baik-baik, saat ini pun saya ingin mengakhirinya dengan baik-baik juga. Dulu saya mulai dengan berkas kertas dan interaksi verbal, sekarangpun akan demikian sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang tersisa selain permohonan maaf karena terjadi begitu cepat dan tiba-tiba. Dengan kerendahan hati, kepongahan pengetahuan dan kekerdilan pemikiran, hanya permohonan maaf yang tersisa dari saya. Terlebih untuk mas Singgih, yang telah dengan susah payah mengatur jadwal kerja, dan tiba-tiba sekarang saya mengacaukannya.&lt;br /&gt;Melalui media ini secara langsung kepada mbak Shenny, mas Boy, mas Singgih, mbak Ii, mas Jaja, mbak Rinda, Agung, Vika, Tawuk, Aswan, Andhi, Dhani, Vivi, mas Ihsan, Tria, Gala dan Imel saya minta maaf jika kata-kata saya pernah tidak berkenan di hati, ataupun tingkah polah saya yang kadang sedikit aneh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan bukan waktu yang bisa lewat begitu saja tanpa pelajaran dan makna yang berhasil kita lewati. Banyak atau sedikit hinggap di kepala, menstimulasi otak dan pikiran kita. &lt;br /&gt;Kebersamaan melalui kenangan yang secara personal pernah saya dan kita semua alami, lembur untuk pameran, olahraga bareng, serta terakhir outbond bersama. Terasa hangat dan masih akan tetap melekat. Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih kepada:&lt;br /&gt;Mbak Shenny, atas kepercayaan yang diberikan. Tanggung jawab yang pernah dilimpahkan menambah satu mozaik kehidupan hidup dalam pengalaman, membuat saya merasakan pembelajaran yang berbeda. &lt;br /&gt;Mas Boy, dengan kedewasaannya, lalu menyimak cerita-cerita saya. Membuat saya berefleksi lagi. Dan menyadarkan bahwa kedewasaan tak didapat jika tak ada kontemplasi sempurna dalam kesalahan. Mungkin saya termasuk orang yang bebal. &lt;br /&gt;Mas Singgih, awalnya saya sangat bersemangat ingin belajar dari mas. Sebegitu kuat saya ingin meniru bagaimana caranya sopan dan ramah tamah terhadap orang lain (costumer). Proses dua bulan ini belum membawa saya sampai ke tatanan itu, masih sangat jauh. Saya ternyata menyadari saya orang yang sombong. &lt;br /&gt;Mbak Ii, mbak Rinda, Vika, Agung, Tawuk, Aswan, Andhi untuk canda tawa setiap hari, di sela-sela beban pekerjaan kita. &lt;br /&gt;Untuk mas Jaja, hidup ternyata memang berat mas! Tapi kita mesti harus tetap menghadapinya kan? Kau menambah rekonstruksi pemikiran ku mas. Thanks ya! &lt;br /&gt;Untuk Dhany, hari yang indah walaupun hanya sesaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan mulia karena ikut andil mencerdaskan kehidupan bangsa. Menghadirkan media tulisan dan informasi yang berguna melalui buku. Demikianlah dan saya berharap masih ada terjalin kelanjutan hubungan di antara kita semua. Walaupun tidak akan sedemikian intensif, setidaknya dalam konsep kebudayaan kita telah saling mengenal, nama hingga ke pendalaman karakter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 4 September 2008 &lt;br /&gt;Alfian Syafril&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-7504371710588270084?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/7504371710588270084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=7504371710588270084' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/7504371710588270084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/7504371710588270084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/09/rak-dan-gerobak-hidup.html' title='Rak dan Gerobak (Hidup)'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-4323654822200840574</id><published>2008-08-13T21:16:00.000-07:00</published><updated>2008-08-13T21:23:40.479-07:00</updated><title type='text'>Seandainya, Djenar Maesa Ayu, Garin Nugroho,  Jajang C Noer  di 3rd Jogja-NETPAC Asian Film Festival</title><content type='html'>Senin 11 Agustus supervisor tempat saya bekerja memberi informasi besok selasa saya kerja masuk pagi. Kekurangan personel penyebabnya, di jadwal saya masuk malam. Ternyata ini memberi berkah yang luar biasa. Setelah saya libur minggu tanggal 10, dan menghabiskan masa pakansi itu dengan menikmati ajang musik A Mild Soundrenaline bersama Eta, akan saya ceritakan belakangan. &lt;br /&gt;Pagi selasa dengan mata yang sangat mengantuk ditambah tak sempat mandi saya paksakan ke tempat kerja, saya masih sempat sms supervisor, pemberitahuan sepertinya saya akan telat, saya memberi alasan saya masih di kampus menyelesaikan beberapa urusan. Sebenarnya tak ada urusan apapun di kampus, hanya ingin menyempatkan diri ke Koperasi Mahasiswa untuk membeli majalah Tempo. Sejak kemarin saya menyambangi Kopma, tapi yang dicari belum kunjung datang, demikian juga pagi ini. Segera ke tempat kerja, untung saya belum telat. Syukurlah tak memperpanjang daftar kedisiplinan saya. Pekerjaan masih seperti itu-itu saja, ada return-an majalah dan tabloid dari penerbit Quint. Sebagian besar telah lengkap, cuma kurang 1 majalah Her World edisi Juli. Tak hanya saya yang mencari tapi telah dikerahkan juga bala bantuan dari yang lainnya. Beberapa orang yang berbeda berusaha mencari masih juga belum bertemu. Seluruh bagian toko sampai gudang, kasir dan kantor telah diperiksa tak juga tampak. Apa mungkin lepas dari pengawasan, sehingga ditilap pengunjung? Sepertinya itu juga tak mungkin. Beberapa hari sebelumnya, saya kebagian tugas me-return majalah, tabloid dan komik terbitan m&amp;c, masih ada yang kurang. Lagi-lagi itu masih kurang 1 kuantiti lagi, komik excel 02. Sepertinya tak beruntung, walaupun yang lain ikut membantu. Sedangkan return-an dari Diva Pres sudang lengkap semua. Tinggal dikirim atau orang dari penerbit bersangkutan yang akan datang mengambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 14 lewat 16 menit saya mengisi absen pulang. Dan besok saya dapat kesempatan libur lagi. Rencananya saya dan Eta akan ke Taman Pintar, memuaskan hasrat kita melihat anak-anak kecil. Pulang saya menyambangi Kopma lagi, beruntung majalah Tempo edisi khusus Tan Malaka telah ada. Harganya naik Rp.1500, biasanya edisi mahasiswa ini dilabel dengan harga Rp.15.000. Tak apalah dari pada membeli dengan harga biasa Rp. 25.000, hemat sepuluh ribu rupiah tentunya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Eta mengingatkan supaya dibelikan makan siang, sehingga ke situlah saya dulu sebelum ke rumahnya. Nasi padang dengan lauk ayam balado dari tempat "uni" siap dibawa pulang. Ketika sampai di rumah Eta, dia kutemui sedang sibuk mengutak-atik komputernya. Belum makan dari pagi. "Gimana ga gampang sakit, makan yang teratur dong On!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore ketika matahari telah berkunjung, malam akan menyingsing kita sudah punya rencana sebelumnya. Tempat-tempat yang akan kita kunjungi malam ini adalah Malioboro Mall dan mencari tempat penjualan akuarium beserta ikannya. Eta katanya akan mencoba memelihara ikan di rumahnya. Katanya juga urusan nguras menguras air diserahkan kepada saya. Loh?? Kita sudah sampai di tempat tujuan pertama, di Malioboro Mall kita akan ke ATM Lippo dan Matahari. Ke Anjungan Tunai Mandiri mengambil uang mingguan Eta dan ke Matahari melihat tas. Tas saya sudah sobek, besar dan tak bisa ditutupi lagi dengan pin. Kalau saya punya uang berlebih nanti, apakah itu uang tabungan atau uang gaji, saya berencana membeli sebuah tas. Riskan juga membawa laptop kemana-mana dengan tas yang sudah sudah sobek itu. Tas Navy Seal yang kata teman saya sedang diskon di Matahari. Ternyata sampai di sana diskonnya telah abis, harganya kembali normal di angka dua ratus tiga puluh sembilan rupiah. Ya suatu saat lah. Eta menyempakan melihat-lihat tas juga, bahkan singgah ke Planet Surf, gila tas Billabong atau Quik Silver dibanderol satu juta ke atas. Buat apa tas 1 juta?? Dengan 1 juta bisa membantu Eta mewujudkan cita-citanya ke Padang. Hmm travelling ke Padang adalah prioritas utama dalam to do list Eta. Ransel juga, demi menunjang perjalanan Eta dalam usahanya menjadi seorang backpaker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas dari Malioboro Mall kita rencananya akan ke Djendelo Cafe di Toga Mas Galeria. Aku menawarkan kita memutar haluan dulu ke Taman Budaya, sekalian dekat dari malioboro apa salahnya. Lagian sedang ada event juga di sana, 3rd Jogja-NETPAC Asian Film Festival 9-13 Agustus. Tak ada salahnya karena besok hari terakhir, mana tahu ada yang menarik. &lt;br /&gt;Sampai di sana kita masih celangak celinguk acaranya di gedung mana, di halaman TB ada pergelaran gamelan. Banner acara yang di sponsori LA Lights ini baru kelihatan saat kita melangkah menuju utara gedung. &lt;br /&gt;Ini yang luar biasa, tanpa di duga kita sempat melihat Djenar Maesa Ayu dan Jajang C Noer. Hahaha, saya dan Eta tertawa, tak meyangka dua orang hebat itu sedang nongkrong di taman mengobrol dengan beberapa orang. Kita lewatkan saja, cukuplah untuk memandang dua wajah mereka dari dekat, yang biasanya cuma bisa dilihat di televisi atau film. Tapi kami benar-benar terkesima, hahah katro' banget yah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam gedung dari informasi sedang diputar sebuah film Iran. Saya minta brosur acaranya saja. Kebetulan jam 8 malam ini, di LIP (Lembaga Indonesia Prancis) Sagan akan diputar film _9808. Saya baca dari koran Tempo dua hari yang lalu, film ini bercerita tentang peristiwa 98 dan diuntai juga sejarah 10 tahun setelah itu sampai 2008 sekarang. Eta dan saya memutuskan akan menonton film itu, waktu belum menunjukkan jam 8 masih cukuplah untuk perjalanan ke LIP di Sagan. Nah, sewaktu keluar dari gedung Taman Budaya 1 Djenar dan Jajang masih ada di tempat kami lihat tadi. Saya dan Eta tak menyia-nyiakan kesempatan itu, kami dekati Djenar dan bilang ingin bersalaman dengannya. Djenar menyambut baik, dan tangan Djenar dingin, saya bilang saya suka film Mereka Bilang Saya Monyet-nya, dengan tertawa dia jawab "kan belum diputar?". Eta bilang di bioskop waktu itu, Djenar balas lagi, "kan cuma diputar di Blitz?" (tahu dia di Jogja ga ada blitz, hehehe). Saya berusaha menyelamatkan "kita nonton di Bandung waktu itu mbak!". Cukup sekianlah percakapan hangat dan singkat antara kami dengan Djenar. Tiba-tiba seorang Jepang meminta saya tolong fotokan dia dan beberapa temannya dengan Djenar, Jajang, dan ada juga Garin Nugroho! Wahhh...beruntung sekali saya dan Eta melihat orang-orang hebat dari dekat. Jadilah saya menjepret Garin, Jajang, Djenar, si orang Jepang yang punya kamera, beberapa bule eropa, ketua festival film dan siapa lagi yang tak saya ketahui. Dengan latar belakang spanduk besar acara foto itu sempat diulang, saya kurang lama menekan tombolnya. Si orang jepang bilang "push it with long time" entah benar dia bilang itu atau tidak yang penting saya mengerti harus menekan lebih lama tombol kameranya. Huhuhu...oon banget saya, tak mengerti English dengan lancar. Mau les Inggris belum ada waktu, dulu SMP tak serius saya les bahasa Inggris, menyesal saya. Beruntung sekali anak SD sekarang sudah belajar bahasa Inggris dan Teknologi Informasi. Pergunakan dan manfaatkanlah sebaik-baiknya adek-adekku, huhuhu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi foto-foto telah selesai, si orang Jepang dan Djenar mendekat ke arah saya, melihat hasilnya. Sepertinya good job, hehehe..&lt;br /&gt;Garin Nugroho juga mendekat, saya dan Eta mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya, saya dan Eta bersalaman dengan Garin, dia cuma bertanya "dari manakah?" "Dari Jogja Mas", jawab saya. Eta dan Saya masih terperangah dan speechless sehingga tak mampu berkata-kata di hadapan Garin. Saya dan Eta hanya mohon pamit, tak lupa juga dengan Djenar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar malam yang luar biasa, bertemu artis musisi pemain band dan penyanyi di soundrenaline kemarin biasa saja sepertinya. Tapi ini beda sekali. Saya dan Eta mencerocos tak jelas, senang tak kepalang, tak berhenti-hentinya mengeluarkan kekaguman. Dalam diskusi kita dari Taman Budaya hingga LIP, dapatlah saya terangkan sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit terbersit keinginan berfoto dengan mereka, padahal entah kapan lagi kesempatan itu datang. "Aku sempat ingin berfoto dengan Djenar An, tapi kenapa ga sanggup bilang ya?", kata Eta. Biasanya Eta cuma bisa membaca tulisan Djenar di blognya, menonton karya filmnya, atau membaca buku Djenar (Kayla, MBS) di Gramedia, sampai-sampai buku itu lecek. Lucu juga kalau diingat. Kita datang ke Gramedia, membuka sampul plastik buku dengan trengginas, membaca, kalau belum selesai dilipat halaman bukunya untuk tanda, lalu di sembunyikan di bagian paling susah diambil orang lain. Beberapa hari lagi kita datang, membaca lagi. Hahaha..tambah biadab jika bagus dan mau beli bukannya beli di Gramedia, tapi di Toga Mas dengan diskonnya yang lumayan. Gramed mahal sih! Hehehe. Nah sekarang orangnya di depan malah tak sempat didokumentasikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya pikir, saya menemukan jawaban untuk menetralisir permasalahan foto memfoto ini. Menurut saya dan Eta esensinya bukan pada penting atau tidaknya tentang kesempatan berfoto itu, tapi makna dari pertemuan ini. Jabat salam hangat dari Djenar dan Garin terasa sangat akrab Di taman budaya bertemu, mereka tak menunjukkan keangkuhan, tak seperti artis lainnya. Saya coba membayangkan kalau di sana ada Laudya C Bella, Rafi Ahmad, Fedi Nuril atau siapa lagi. Mungkin jelas berbeda. Maaf kalau terasa subjektif. Menurut saya orang-orang yang berkecimpung di dunia film, seperti Garin, Djenar atau Jajang yang lebih mengedepankan idealisme sebuah film, dari pada aspek komersil lebih merakyat, tidak jaga image terhadap sekitar. Di taman budaya mereka berselonjor mengobrol dengan rekannya, ketika kami mendekati mereka pun menyambut sangat hangat, sangat dekat. Tak ada kesan sombong. Begitulah orang idealis menurut saya. Jadi berjabat tangan dalam konsep salam itu dalam islam dan hubungan sosial pun lebih mulia, saling mendoakan keselamatan masing-masing. Sejauh apa foto-foto? Paling untuk menimbulkan kebanggaan saja. Pembaca mungkin berfikir kami bersikap seperti ini karena melewatkan kesempatan itu, dan mencari alibi untuk tidak menyesali. Dari kami sedikitpun tidak ada mencari pembenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya sayangkan tentu tak memanfaatkan pertemuan ini dengan mengobrol lebih lama. Kami sudah takjub duluan, pertemuannya juga tak terencana, tak terduga akan terjadi. Pertanyaan saya masih tersimpan, untuk mas Garin: "film tentang Slanknya udah selesai atau masih dalam proses pengerjaan? Kapan rencananya diputar?" Ya itu saja, sebagai seorang slankers yang Slank akan difilmkan dan sutradaranya ada di depan saya, tapi tak terjadi karena sudah speechless duluan. Untuk Djenar, apa ya? saya tak terlalu mendalami soal dia, hmm mungkin Eta, dia lumayan dekat dengan tulisan dan karya Djenar. Mungkin akan dijelaskan Eta di blognya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;www.arletafenty.co.cc &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kisah yang sangat membanggakan dari saya dan Eta. Kampungan? bisa jadi. Tapi kami tak pernah merasa kampungan. Pemikiran dan kesempatan itu anugerah yang luar biasa. Ketemu artis segitunya, gue aja yang bergelut dengan artis-artis ga gitu-gitu banget. Mungkin ada yang berfkir seperti itu. Tapi bagi kami, Djenar, Garin, Jajang bukan artis, mereka manusia, mereka hidup, berfikir, berkarya tak ada bedanya dengan manusia lain. Tapi mereka lebih istimewa karena mereka berkarya. "Ingatlah bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi." (Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara Jilid II, 1948).&lt;br /&gt;Kalau ada yang masih terfikir lebih jauh tentang ini, akan saya ulas lebih dalam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami sampai di LIP (Lembaga Indonesia Prancis) di daerah Sagan. Langsung saja mengisi buku tamu dan menunggu beberapa menit. Panitia mempersilahkan masuk ke ruang audio karena film akan diputar. Tak begitu ramai di dalam. Kami memilih duduk agak di depan, karena Eta tak membawa kaca mata. Satu setengah jam kami menikmati kumpulan film-film pendek. Dengan beberapa tema dan latar belakang yang berbeda. Ada yang lucu, ada yang  menyedihkan. Orang tua korban yang tewas waktu peristiwa semanggi masih mencari keadilan dan kebenaran sampai sekarang. Permasalahan nama dan keturunan Cina juga dibahas dalam 2 atau 3 film. Trauma masa lalu saat kerusuhan 1998 sampai pengharapan selama 10 tahun berjalan setelah peristiwa atau yang orang bilang reformasi. Bekas-bekas aktivis dalam kehidupannya sekarang menjadi salah satu pembahasan yang menarik. Lalu diselipkan juga film tentang pemberantasan korupsi seorang kepala sekolah di SMA 3 Surakarta oleh murid-muridnya. Dengan misi satu Solo harus tahu mereka mengundang juga media dan elemen masyarakat dalam aksinya. Sangat menyentuh. Tapi menurut saya mereka belum merasakan jadi orang tua aja, saat idealisme masa muda terkikis realis masa tua. Saat orang punya anak bini, mereka lebih memikirkan anak bini mau dikasih makan apa? Tidak bisa dibilang pragmatis. Maaf kalau lagi-lagi saya subjektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika film selesai ternyata di belakang saya duduk mas Kiki, senior saya di Filsafat sekarang sudah lulus dan mencoba jadi pengajar di Filsafat sepertinya. Kami sempat beramah tamah dan saling bersalaman. Dia bersama seorang cewek senior saya di Filsafat juga. Tak lama saya dan Eta pamit duluan keluar. Mas Kiki orang pintar, salah satu dari orang yang saya kagumi, ada Sarfah Fahri Salam dan lainnya.&lt;br /&gt;Hari yang berwarna. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-4323654822200840574?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/4323654822200840574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=4323654822200840574' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/4323654822200840574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/4323654822200840574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/08/seandainya-djenar-maesa-ayu-garin.html' title='Seandainya, Djenar Maesa Ayu, Garin Nugroho,  Jajang C Noer  di 3rd Jogja-NETPAC Asian Film Festival'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-8783838845650375811</id><published>2008-08-08T00:47:00.000-07:00</published><updated>2008-08-13T21:27:21.128-07:00</updated><title type='text'>Refleksi Singkat</title><content type='html'>Satu pertanyaan dalam hidup yang terus menggoda. Terlebih sebagai orang muda. Besok kamu mau jadi apa?&lt;br /&gt;Dua jawaban yang satu sama lain masih saja dipermasalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban yang pertama adalah saya ingin punya banyak uang. Reaksi yang hadir adalah saya dianggap sebagai orang yang materialistis, semua yang saya lakukan demi uang, saya adalah budak uang. Bukanlah uang yang mengatur saya, tapi saya yang mengatur uang. Kebahagiaan tak dapat sepenuhnya dinilai dengan uang banyak, tanggapan dari yang mengajukan pertanyaan. Ini menjadi pemikiran tersendiri bagi saya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang berkeinginan untuk tercukupi kebutuhan materinya. Semua orang ingin kaya. Kaya dan miskin itu harus ada. Pernyataan moralisnya orang kaya, yang punya banyak uang tak boleh dengan sewenang-wenang memperlakukan orang yang tak punyai seperti orang kaya yang punya. Orang miskin itu harus ada, jika tak ada orang miskin dan semua kaya, maka akan kembali ke titik nol dalam pergerakan materi. Tak ada yang kaya, karena semuanya miskin.&lt;br /&gt;Kecukupan materi menjadi salah satu pencapaian kecukupan kebahagiaan. Orang dengan uang banyak, bisa memilih apa yang mereka senangi apa yang mereka kehendaki. Manusia punya rasa ke(moralis)an dan ke(humanis)an tersendiri, individu lebih tahu tentang dirinya sendiri, jadi dia dapat mempergunakan kebebasan yang mereka punya dengan kehendak sendiri. Individu menginsyafi adanya batasan-batasan dalam berkehendak. Kadar penggunaan logika setiap individu yang membedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Emosional dan nurani menjadi penyeimbang kaidah berfikir logika masing-masing individu.&lt;br /&gt;Uang mempermudah akses pribadi, termasuk di dalamnya proses pengembangan diri. Tanpa uang manusia bukan apa-apa. Uang dan dalam cakupan luas ternyata vital dalam kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban yang kedua adalah saya ingin menjadi intelektual. Teman saya mengingatkan, intelektual tak banyak duit. Dan awas hati-hati terjebak menjadi intelektual karbitan. Di sekeliling kita banyak dapat kita lihat. Menjadi intelektual yang moralis atau intelektual humanis? Susah untuk memilih satu di antara dua hal tersebut. Pilihannya harus jatuh pada salah satunya. Sering diingatkan kita jangan menjadi manusia yang sok suci, sok merasa benar, sok beragama. Tak secuilpun tak mungkin melakukan tindakan yang melanggar hukum dan norma. Lebih baik menggunakan daya pikir itu seoptimal mungkin, agar terhindar dari sifat hipokrit. Kesalahan diri sendiri yang pernah dilakukan sebaiknya dibagi ke orang lain, tapi pada kenyataannya kita takut malu, takut merasa tak suci. Kita dipaksa menjadi manusia tanpa dosa. Dan pada akhirnya menjatuhkan orang lain dalam hukuman sendiri. Memperkosa hak orang lain, merenggut kemerdekaan berpikir orang lain. Dan kita sempurna menjadi manusia bebal. &lt;br /&gt;Banyak kekurangan kita sebagai manusia. Kita kurang mendengar, kurang cakap menganalisa, kuarang mampu berpikir. Karena munafik dan merasa selalu benar, selalu berada di jalan yang lurus, yang tanpa kita sadari tak ada jalan yang lurus tanpa lubang, tanpa belokan tanpa turunan. Seringkali di situ kita terantuk dalam kemaluan mengakui, hingga semakin banyak kemunafikan yang terkumpul. Tak mampu mendengar membuat kita lemah, menjadikan kita buta. &lt;br /&gt;Individu yang tak pernah menyesal melakukan pilihan yang dia yakini tak mengurangi kepunyaan orang lain adalah mereka yang bertanggung jawab. Kebalikan dari itu adalah individu yang menganggap cerita individu lain telah salah bertindak.&lt;br /&gt;Menjadi manusia yang idealis lalu berubah menjadi realistis adalah perubahan yang tak mudah. Banyak cemooh tentunya dari apa yang kita punya dalam keidealisan sebelumnya. Tapi realistis membuat kita tahu jalan hidup itu seperti apa.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban paln realistis dari gabungan dua jawaban di atas adalah saya akhirnya memilih menjadi penulis. Langsung saja saya diingatkan. Kamu jangan bercita-cita jadi penulis, nulis banyak tak tentu arah, nulis sedikit salah, tidak menulis kena marah. Begitulah nasib penulis. Lalu?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-8783838845650375811?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/8783838845650375811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=8783838845650375811' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/8783838845650375811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/8783838845650375811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/08/refleksi-singkat.html' title='Refleksi Singkat'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-199673394181462988</id><published>2008-08-02T08:46:00.000-07:00</published><updated>2008-08-13T21:32:39.296-07:00</updated><title type='text'>Pemberitahuan</title><content type='html'>Malam itu hp ku bergetar, tak ayal nama Fahri tertera di layar ponsel, rupanya dia mengirim pesan. &lt;br /&gt;"An dirimu kerjakah? aku ada temen dr jakarta, dia ada keperluan S2 di UGM, bingung mau kuinapkan dimana ya, di tempat Eta bisa ga ya? Nuwun"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang, hanya tiga menit saat aku akan konfirmasikan hal ini ke Eta, dia sudah duluan mengirim pesan.&lt;br /&gt;"Sayang aku takut di rumah sendiri"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan sekali, Eta punya teman di rumahnya malam ini. Itu pun kalau dia bersedia menerima teman Fahri menumpang di rumahnya untuk malam itu. Aku informasikan hal ini ke Eta langsung. Ternyat Eta menyambut dengan tangan terbuka, jadilah pekerjaan ku malam itu ku sambil-sambilkan dengan mengirim pesan ke Fahri dan Eta. Kesepakatannya selesai aku kerja aku langsung menyusul Fahri dan temannya ke kost.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah absen dan briefing singkat seperti biasa ku pacu sepeda motor tua, sesampai di kost tak kutemukan Fahri dan temannya itu. Saat aku hubungi mereka sedang makan di Klebengan. Ku susul dan tak dapati mereka juga, akhirnya melalui pesan singkat aku disuruh tunggu di sana dulu. Memang tak lama tapi berteman dingin malam yang menyesak sungguh tak sedap.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan lampu motor Fahri menyorot arahku lalu berhenti tepat di sampingku. Dalam keremangan cahaya, aku dikenalkan pada temannya yang bernama, Atun. Dari sana kita bertiga menuju rumah Eta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di sana Eta menyambut dengan sumringah. Tamu-tamu itu dipersilahkan masuk, sementara aku menyingkirkan binatang yang disebut aneh oleh Eta di kamar mandinya. Binatang yang kutenggarai kepiting atau bisa juga laba-laba ini berhasil ku enyahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mereka duduk dengan menyesuaikan diri sebaik-baiknya. Berteman vannila late panas kita berempat membuka obrolan. Mbak Atun ini bekerja di LSM yang bergerak di bidang politik bernama Demos. Kesempatan ke Jogja dalam rangka mengikuti seleksi S2 di UGM keesokan hari. Melanjutkan sekolah berkat beasiswa dari kantornya. Menurut berita yang ku dapatkan dari Fahri mbak Atun dulu S1 nya di IAIN Jakarta (sekarang UIN Syarif Hidayatullah) lalu S2 di Universitas Indonesia. Dan sekarang mengambil S2 lagi di UGM. Menurut Fahri lagi kesempatan ini adalah hasil kerja sama UGM dengan kantor mbak Atun. Tujuannya nanti S3 di Oslo, Norwegia. Hebat banget! &lt;br /&gt;Dari perbincangan yang terjadi, mbak Atun ini telah menjelajah nusantara, ke Papua, Kalimantan, Sulawesi, Aceh, Nusa Tenggara, pelosok jawa, bahkan ke Padang! Aku teringat kata-kata "Bangku kuliah tak mengajarkan tentang nasionalisme, jelajahi lah negerimu, untuk menimbulkan kebanggaan pada negerimu". Senada dengan Pram "menulislah untuk peradaban!".&lt;br /&gt;belum selesai.......&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-199673394181462988?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/199673394181462988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=199673394181462988' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/199673394181462988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/199673394181462988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/08/pemberitahuan.html' title='Pemberitahuan'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-7930421495124545666</id><published>2008-07-27T08:13:00.000-07:00</published><updated>2008-08-13T21:33:13.069-07:00</updated><title type='text'>Pengantar</title><content type='html'>Sekarang aku menyinggahi toko hampir setiap hari, dalam sebulan kadang 5 atau 4 hari aku tinggal di rumah. Bukan apa-apa, aku sekarang bekerja di toko buku, Toga Mas di Galeria Mall. Di Jogja toko buku diskon Toga Mas ada 2, di jalan Gejayan (sekarang jalan Afandi) dan di tempat aku bekerja sekarang. Di dalam mall, ada AC. Nyaman, dingin tapi sering membuat kepalaku sakit dan seperti melayang-layang karena keseringan naik turun menggunakan lift. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum menargetkan berapa lama akan tetap tinggal di tempat ini. Aku juga belum dapat memperkirakan bagaiman mengatur jadwal jika perkuliahan telah dimulai nanti. Yang penting sekarang akan ku ambil sebanyak-banyak pelajaran dari sini. Sampai saat ini, ada beberapa hal yang patut aku simpulkan. Pekerjaan ini membuat aku belajar tentang bertanggung jawab, kedisiplinan, dan ketelitian. Mungkin ada beberapa hal yang lain. Untuk sementara ini saja cukup, yang lain akan hadir. Untuk permulaan setelah lama tidak menyapa di blog ini barang tentu sudah bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengatur waktu itu ternyata gampang-gampang susah. Shift kerja dibagi dua, malam dan pagi. Pagi jam 9-2 siang, untuk malam jam 4 sore sampai jam 9 malam. Kalau hari ini bekerja malam dan besoknya pagi, ini kadang agak susah. Sampai di rumah jam 10 itu sudah cepat, besok sudah menanti jam 9. Keseringan tak bisa langsung tidur, sering ku isi dengan membaca atau meredakan kepenatan dengan bermain game. Ujung-ujungnya lewat tengah malam baru bisa tidur. Sementara jam 7.30 aku harus bangun, mandi dan bersiap-siap. Sebelum jam 9 aku sudah harus sampai di galeria. kadang serasa tergesa-gesa. Tapi semakin lama semakin terbiasa dengan ritme kerja. Keuntungannya kerja pagi adalah setelah keluar aku punya banyak waktu mengisi kehidupan, spesial dengan si Eta kecil. Seandainya kebagian jadwal malam biasanya akan aku manfaatkan dengan tidur sampai siang. Setidaknya sampai perkuliahan dimulai. Entah bagaimana nanti jika kuliah dimulai, aku benar-benar pusing mengatur jadwal. Selama ini Eta masih setia menemaniku. Pagi atau malam Eta saban hari menemani, dia kebanyakan duduk dengan laptop di depan, syukurlah di samping Toga Mas ada Djendelo Cafe. Eta bisa menunggu sambil hot spot-an di situ.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab itu sangat berat. Ditugaskan untuk mengerjakan sesuatu tak bisa diselesaikan dengan setengah hati, berat atau ringan suka atau tak sukaharus dikerjakan. Ini tanggung jawab, ini konsekuensi pekerjaan. Sebaiknya kita harus menyediakan hati yang lapang, dengan begitu kita bisa melaksanakan tanggung jawab dengan baik. Melayani costumer juga bagian dari tanggung jawab. Aku mungkin termasuk tipe orang yang tak bisa berlemah lembut melayani orang lain. Tak sabaran dan tak mau diganggu. Ini jadi satu masalah, setiap hari aku mencoba untuk menghilangkan sifat itu. Mudah-mudahan bisa menjadi manis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa akan semakin teliti, aku rasa aku cenderung orang yang suka berbenah, suka kerapian. Semakin terasah dengan pekerjaan ini. Cukup ini saja lah dulu. Tak jelas juga yang aku tulis ini, tapi sedang belajar bagaimana bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Kapan waktu bekerja, kapan menulis, kapan kuliah, kapan mengerjakan tugas dan kapan membaca.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-7930421495124545666?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/7930421495124545666/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=7930421495124545666' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/7930421495124545666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/7930421495124545666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/07/sekarang-aku-menyinggahi-toko-hampir.html' title='Pengantar'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-4803891682890148331</id><published>2008-07-24T09:32:00.000-07:00</published><updated>2008-07-24T09:40:12.896-07:00</updated><title type='text'>Rindu Menulis</title><content type='html'>Sudah lama Sekali tidak menulis, mencurahkan pikiran ke dalam bentuk informasi entah berita, entah kejadian harian. Rindu juga tangan ini berkalaborasi dengan otak dan hati untuk coba terus belajar menulis yang baik. Sekarang waktu tak ada cukup untuk itu, kalau tidak pagi, malam jua bekerja. Jika semua telah teratur jadwal dan apa yang mesti diatur serta pandai memanfaatkan waktu akan datang juga kesempatan itu.&lt;br /&gt;Sekolah sebentar lagi juga akan mulai. Sampai terbiasa semua akan lancar-lancar saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-4803891682890148331?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/4803891682890148331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=4803891682890148331' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/4803891682890148331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/4803891682890148331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/07/rindu-menulis.html' title='Rindu Menulis'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-8064617716474496247</id><published>2008-07-01T22:12:00.000-07:00</published><updated>2008-08-13T21:35:10.149-07:00</updated><title type='text'>Siti Nurbaya is Gangster</title><content type='html'>Berikut ini adalah sebuah artikel di majalah Tempo edisi khusus Kebangkitan Nasional 1908-2008. Salah satu cara media jurnalistik memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional. Entah kenapa aku begitu tertarik dengan yang satu ini. Padahal banyak yang lain, seratus karya. Semuanya tentang buku, Tempo memberi tema besar "Berbagai Tinta Menulis Indonesia". Ya untuk yang tak sempat membeli majalah Tempo, tak sempat membaca, tak sempat tahu. Ini menjadi sedikit tambahan ilmu pengetahuan. Mudah-mudahan bemanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlawanan Abadi Siti Nurbaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sekedar menyorot kawin paksa, roman itu juga mendobrak kekakuan adat. Sebuah referensi klasik sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Siti Nurbaya belum mati. Entah sejak kapan nama itu menjadi lambang perempuan modern yang tertindas kekolotan adat. Boleh dibilang, tak ada tokh fiktif sastra Indonesia modern yang bisa menandingi nilai personafikasi sosok perempuan ini.&lt;br /&gt;Tokoh sentral dalam Roman Siti Nurbaya (garis miring) karya Marah Rusli itu telah hadir di ruang-ruang kelas sekolah sejak diterbitkan Balai Pustaka pada 1922. Siti Nurbaya (garis miring) bahkan mengilhami beberapa sutradara untuk mengangkat kisahnya ke layar kaca. Di Padang, Siti Nurbaya hadir seperti sosok riil. Ada jembatan atas namanya, ada pula makam lengkap dengan cungkup dan kelambunya.&lt;br /&gt;Siti Nurbaya memang telah mempengaruhi kehidupan nyata. Yang menarik, beberapa lama setelah roman itu lahir, tejadi perubahan dalam keudayaan masyarakat Minangkabau, terutama berkaitan dengan kawin paksa. Roman itu kemudan menjadi counter-culture(garis miring), yang mengejek setiap orang tua ketika hendak memaksa anak perempuannya kawin dengan perjodohan paksa: ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya.&lt;br /&gt;Siti Nurbaya (garis miring) adalah Roman marah Rusli yang paling masyhur di angkatan Balai Pustaka. Marah Rusli dinilai sebagai salah satu pelopor yang mengakhiri zaman kesusteraan lama. Persoalan yang dikemukakan di dalam karya-karyanya bukan lagi istana-sentris dan hal-hal bersifat fantasi belaka, melainkan gambaran realitas masyarakat pada masa itu.&lt;br /&gt;Roman Siti Nurbaya (garis miring)berkisah tentang percintaan melodramatis Siti Nurbaya dengan Syamsul Bahri. Namun orang tua Siti tak menyetujui. Siti pun menikah dengan Datuk Maringgih, orang tua kaya berhati licik. Siti akhirnya meninggal diracun anak buah Datuk Maringgih. Syamsul pun mati.&lt;br /&gt;Siti Nurbaya menarik karena roman ini mampu membangun pemahaman baru akan kegelisahan perempuan terhadap adat dan kebudayaan yang mencengkram mereka. Cerita ini sekaligus mengambarkan pengorbanan perempuan-Siti Nurbaya-untuk kedua orang tuanya dengan menikahi Datuk kaya demi melunasi utang orang tua.&lt;br /&gt;Ini yang membuat roman tersebut kuat. Rusli-kelahiran Padang, 7 Agustus 1889-mengalirkan gagasannya hingga terasa mendahului zamannya. Lewat dialog tokoh-tokohnya, Rusli menyampaikan gagasan tentang kekolotan di kalangan bangsawan yang merugikan, kearifan hidup pada zaman perubahan, corak perkawinan ideal, keburukan poligami, serta masalah hubungan laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;Lewat romannya itu, seperti pernah ditulis sejarawan Taufk Abdullah di majalah Tempo (garis miring), Rusli seakan menginginkan reformasi ideal. Ia mencita-citakan perkawinan tanpa paksaan. Ia juga menentang keras poligami. Secara karikaturis ia mengecam...selanjutnya di majalah Tempo, sedikit lagi kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-8064617716474496247?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/8064617716474496247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=8064617716474496247' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/8064617716474496247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/8064617716474496247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/07/siti-nurbaya-is-gangster.html' title='Siti Nurbaya is Gangster'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-3163957752608000481</id><published>2008-07-01T22:07:00.001-07:00</published><updated>2008-07-01T22:11:39.197-07:00</updated><title type='text'>For the owner of my Heart also my sweet little Princes</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_qKLXyBqBpLw/SGsNaErh-ZI/AAAAAAAAAAg/3yr9TM4rfI8/s1600-h/Cheers+bandung%284%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_qKLXyBqBpLw/SGsNaErh-ZI/AAAAAAAAAAg/3yr9TM4rfI8/s400/Cheers+bandung%284%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5218279334822934930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Stanny, berwawancara di toga mas Galeria. Great chance! Bekerja untuk berpenghasilan bergelut dengan buku. Hahaha&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-3163957752608000481?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/3163957752608000481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=3163957752608000481' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/3163957752608000481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/3163957752608000481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/07/for-owner-of-my-heart-also-my-sweet.html' title='For the owner of my Heart also my sweet little Princes'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_qKLXyBqBpLw/SGsNaErh-ZI/AAAAAAAAAAg/3yr9TM4rfI8/s72-c/Cheers+bandung%284%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-2320369537987621714</id><published>2008-06-06T10:53:00.000-07:00</published><updated>2008-07-01T22:31:11.941-07:00</updated><title type='text'>Pulang</title><content type='html'>Masa ujian telah berakhir, itupun hanya seminggu. Tak perlu penderitaan yang lebih lama. Efektif memang kalau jadwal ujian hanya seminggu, dua buah mata kuliah yang diujiankan dalam sehari. Bahkan ada juga yang dalam sehari dapat menjalani tiga kali ujian. Keefektifannya terlihat ketika ujian selesai, mereka yang ingin segera mudik ke kampung halaman dapat segera pulang. Waktunya pun juga semakin panjang saat harus kembali lagi dari masa liburan. Seperti salah seorang teman dari Jakarta yang bakal pulang hari Sabtu. Kita selesai ujian hari Jumat tanggal 6 Juni, sebenarnya dia berencana dan bisa langsung pulang sorenya. Tapi diundur satu hari saja karena rapat terakhir persiapan Ospek. Lalu teman sesama dari Padang memutuskan pulang hari Selasa dengan menebus sekitar 900 ribuan. Sore jumat ini setelah mengikuti rapat persiapan Ospek yang terakhir, aku menemani teman dari Padang satu lagi untuk booking tiket kepulangannya. Harganya berkisar 900 ribu sampai 1 jutaan. Cukup besar untuk itu. Aku jadi puyeng memikirkan, sementara aku masih terombang-ambing belum bisa memutuskan apakah aku akan ikut-ikutan pulang atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah rapat, dan aku akan berada di posisi pendamping pada Ospek nanti. Ada beberapa persiapan yang harus disiapkan, sebenarnya tak banyak. Aku harus menguasai tentang materi tentang State of War, di dalamnya terdapat unsur-unsur kebersamaan, berani berpikir, tanggung jawab dan kebebasan bersekspresi. Diharuskan juga untuk menyertakan tulisan sebanyak 2 atau 3 halaman. Tanggal 28 Juli, kita akan rapat persiapan lagi, jadi sebelum tanggal bagi mereka yang pulang diharuskan sudah berada di Jogja lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat malam ini tiba-tiba hp ku berdering orang tua ku menelfon. Menanyakan tentang ujian dan tetek bengeknya. Percakapan kali ini aku sarat dengan kesan emosional yang terjalin antara anak dan orang tuanya. Pokok pembahasan yang pasti disinggung adalah apakah aku akan pulang atau tidak. Aku tak sanggup menjawab pertanyaan itu, walaupun mereka tak menanyakan secara langsung. Tapi aku menangkap mereka menelfon ku malam ini, secara tersirat menanyakan kapan waktunya untukku akan pulang.&lt;br /&gt;Aku mengemukakan beberapa pernyataan. Aku memang punya keinginan pulang, siapa yang tak ingin pulang setelah tak bertemu dengan orang tua, tak merasakan suasana rumah kampung halaman, tak menikmati kebersamaan dan canda tawa dengan teman-teman yang sudah lama ditinggalkan, tak melihat perkembangan-perkembangan yang terjadi di kampung tempat aku beranjak meningalkannya merantau demi ilmu pengetahuan dan pengalaman. Tapi aku tak pulang ke Banjarnegara, Cilacap, Semarang, Tegal, Ngawi, Blora atau daerah-daerah di kawasan Jawa. Aku pulang ke Sumatera, melintas pulau, negeri pesisir barat sumatera yang tandus dan subur. Tak terhitung banyak pengeluaran yang harus dikeluarkan orang tuaku untuk kepulangan yang tak mungkin akan lama ini. Bagaimana aku pulang kalau hanya 1-2 minggu, atau paling lama 3 minggu. Hanya akan sia-sia karena aku tak banyak juga di rumah kalau pulang, aku sibuk ke luar menjumpai teman-teman, melihat-lihat perubahan pemandangan alam. Ya mungkin saja jangan-jangan danau Singkarak airnya surut sekitar 5 kilometer, atau menyaksikan gunung Talang meletus.&lt;br /&gt;Kenapa bakal tak lama padahal ada waktu sekitar 1 atau 2 bulan dialokasikan untuk masa liburan kuliah. Yang pertama selain akan harus kembali lagi ke Jogja sebelum tanggal 28 Juli, selanjutnya ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Yang paling dekat adalah mencoba membikin tulisan untuk Jurnal Filsafat yang baru. Sekalian pengumuman siapa tahu teman-teman di Padang, Aceh, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Papua seluruh pelosok Nusantara yang membaca blog ini berminat untuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;UNDANGAN MENULIS DI JURNAL MAHASISWA FAKULTAS FILSAFAT UGM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diskursus filsafat kematian mengandung jamak pemaknaan. Karenannya ia tak bisa ditempatkan pada kapling kategoris interpretasi. Pada kesempatan ini, Jurnal Mahasiswa KACAMATA Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada mengundang Anda untuk menguntai gagasan dari sengkarut kematian melalui karya tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TEMA: KEMATIAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tema Pilihan*:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  1. Harakiri: antara Mempertahankan dan Mengakhiri Eksistensi&lt;br /&gt;  2. Ambivalensi Kematian: Akhir atau Perpindahan Konteks Kehidupan&lt;br /&gt;  3. Menuju Kematian Ideal&lt;br /&gt;  4. Meraih Solusi dengan Bunuh Diri: Sebuah Telaah Filosofis  &lt;br /&gt;  5. Akhir Kehadiran Subjek&lt;br /&gt;  6. Upaya Mengakhiri Kedigdyaan Teks&lt;br /&gt;  7. Kematian Tuhan&lt;br /&gt;  8. Hak Menghadirkan Kematian: Silang Kuasa antara Tuhan dan Manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Dibebaskan memakai perspektif filosof tertentu yang terkait&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syarat dan Prosedur Penulisan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Penulis adalah Mahasiswa D3 atau S1 segala disiplin ilmu&lt;br /&gt;2. Gagasan tulisan hasil telaah pribadi dan belum pernah dipublikasikan&lt;br /&gt;3. Memakai gaya bahasa renyah, tanpa lepas dari EYD&lt;br /&gt;4. Menggunakan penulisan ilmiah, acuan dan keterangan tambahan memakai endnote (lengkap)&lt;br /&gt;5. Panjang tulisan 14-17 halaman kertas A4 spasi 1.5, semua marin 3 cm. dan front Times New Roman (12)&lt;br /&gt;6. Menyertakan identitas lengkap meliputi: nama, jurusan asal PT, alamat, nomor telp/hp dan email, foto close up, dan data diri yang ditulis secara naratif&lt;br /&gt;7. Dikrim melalui email ke: kacamata@filsafat.ugm.ac.id&lt;br /&gt;8. Batas waktu pengiriman naskah tanggal 13 Juli 2008&lt;br /&gt;9. Tim Editor Jurnal Kacamata berhak menyunting tanpa mengubah gagasan&lt;br /&gt;10. Segala plagiarisme menyebabkan diskualifikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alamat Redaksi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Fakultas Filsafat Jalan Olah Raga Bulaksumur Yogyakarta 55281&lt;br /&gt;Contacs: 08562924786-08564007416 Iklan/distribusi: 081326647850 (Haqi)&lt;br /&gt;Home: www.jurnalmahasiswa.filsaat.ugm.ac.id&lt;br /&gt;Email: kacamata@filsafat.ugm.ac.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INFO SELENGKAPNYA Klik: www.mcnadjib.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh waktu yang panjang untuk menyelesaikannya, referensi yang benar-benar relevan, atau mungkin sedikit penelitian kualitatif. Bagiku ini ujian besar dalam proses belajar menulis. Mudah-mudahan saja berjalan lancar dan hasilnya jadi dan memuaskan. Cukup sudah beretorika, saatnya berkata melalui karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu alasan berpikir tentang rencana kepulangan ini adalah seperti pengalaman yang sudah-sudah saat berkesempatan pulang pada masa liburan, aku juga pulang saat lebaran, Jarak waktunya kadang-kadang dekat sekali. Saatnya untuk berani memilih pulang dengan waktu yang tepat, jangan terjebak terlalu dalam pada kemelankonisan. Ya begitulah akhirnya tak pulang pada liburan semester ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada yang bertanya-tanya, terheran-heran kenapa buat pulang saja susah. Pulang ya tinggal pulang tak usah banyak pertimbangan. Bagiku tidak tentang itu, aku hanya sedikit menampilkan sisi yang berbeda dengan dimensi yang jauh dari sudut pandang biasa ku.&lt;br /&gt;Pulang tak hanya membawa badan dan barang, pulang juga membawa jiwa. Jiwa yang siap untuk pulang, siap dan tidak kaget melihat perubahan. Tidak canggung, bahkan tidak terkejut seperti yang pernah dibayangkan sebelumnya.&lt;br /&gt;Pulang membawa beban, meninggalkan banyak cerita.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-2320369537987621714?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/2320369537987621714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=2320369537987621714' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/2320369537987621714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/2320369537987621714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/06/pulang.html' title='Pulang'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-6695819160160236369</id><published>2008-06-06T10:51:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T06:35:24.620-07:00</updated><title type='text'>Surat</title><content type='html'>Assalamualaikum Ayahnda dan Ibunda...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana ananda akan memulai mengatakan sesuatau yang sebenarnya tak dapat ananda ungkapkan. Tapi ananda tak akan menjadi berani jika tak mengatakannya kepada ayahnda dan ibunda. Ananda belajar menjadi orang yang berani hingga jauh diri ini dari ayahnda dan ibunda. Tak lagi bisa ayahnda dan ibunda amati setiap saat, tak dalam pengawasan mata, tak juga dalam nasihat ayahnda dan ibunda langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh waktu ananda berjauhan dari ayahnda dan ibunda, tak sedikit yang ananda temui dalam hidup ini. Berbagai macam ilmu pngetahuan menyerang ananda bertubi-tubi. Hingga tak terelakkan olehnya, bukannya ananda mengelak bukannya anda kenyang dengan semua yang ananda dapat rasai itu, malah ananda semakin lapar dan haus dengan ilmu pengetahuan itu sendiri. Ananda sekarang tentu sama seperti ayahnda dan ibunda dulu, banyak bertemu macam manusia. Bertanya dan tak henti-hentinya ananda berbincang dengan sekian ragam manusia itu ayah bunda. Banyak yang ananda ketahui jika sebelumnya tak ananda ketahui, banyak hal yang ananda terima dan ananda anggap semua itu ilmu pengetahuan ayah bunda. Sekolah formal ananda masih seperti yang ananda niatkan dulu sebelum ananda menjejakkan kaki di tanah jawa ini. Tak ada yang kurang tak ada yang tak berkembang dalam diri ananda ini, jiwa dan raga. Tak perlu ayahnda  dan ibunda cemaskan. Dalam hal ini ananda masih berada di jalan yang sama ketika ayahnda dan ibunda melepaskan ananda dulu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terbersit sedikitpun dalam hati ini untuk memperlama dan mempersulit masa selesai sekolah ananda. Malah begitu keras keinginan untuk segera menyandang gelar sarjana, dan lepas dari kesusahan ayahnda dan ibunda dalam membiayai sekolah ananda. Sesegera mungkin ada pikiran untuk secepat mungkin berjalanlah waktu sekencang mungkin. Hingga ananda sudah berpenghasilan sendiri. Berniat ananda untuk menyekolahkan adinda, bungsu ayahnda dan ibunda. Setidaknya meringankan beban ayah dan bunda. Ananda kadang merasa malu juga pada diri ini, di usia yang tak bisa dibilang kanak-kanak ini, ananda masih begantung pada ayahnda dan ibunda seutuhnya. Tak mengurangi beban, malah ananda merasakan beban ayah bunda semakin berat. Tapi ayahnda dan ibunda selalu menjawab 'itu sudah kewajiban kami, tak perlu dipikirkan'. Begitu mulianya ayahnda dan ibunda. Ananda langsung nelangsa mendengarnya dan yang tersisa hanya keinginan untuk membalas dan tak menyiakan kasih sayang ayah bunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ayah bunda. Belum sempat ananda mengurangi beban ayah bunda, belum sedikitpun menghadirkan kebanggaan dalam diri ayah bunda. Ananda yang hina ini, malah melawan kepercayaan ayah bunda. Ananda menghadirkan sesuatu yang tak pantas ayah dan bunda terima. Ananda hina ayah bunda.&lt;br /&gt;Ananda menyakiti hati, harga diri ayah bunda.&lt;br /&gt;Kabar yang telah datang pada ayah bunda ini tentu sangat tak dapat ananda bayangkan bagaimana perasaan ayah dan bunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan ini, ananda mohon izin secara tulisan ini pada ayah bunda untuk menikah. Ananda tak dapat lagi bertahan untuk selalu terus begini. Sudah saat yang tepat ananda rasa jika ananda punya keinginan ini. Mungkin bagi ayah bunda serasa tergesa-gesa, tapi tidak bagi ananda, ayah bunda. Mungkin yang ayah bunda bayangkan bagaimana kehidupan ananda ke depan. Ayah bunda tak perlu khawatir, karena ananda siap menjalaninya apapun hambatan dan halangannya. Ananda siap karena yakin dengan apa yang ananda pilih, apa yang ananda kehendaki.&lt;br /&gt;Apakah ananda anak yang tak berbakti pada orang tua, ayah bunda? Ananda menghancurkan harapan ayah bunda? Tapi apa yang ananda hancurkan harapan ayah bunda, ananda tetap menjalani sekolah, dan terus akan menyelesaikannya, walaupun seandainya ini terwujud, sekolah bukan satu-satunya yang ananda pikirkan. Ananda juga harus punya penghasilan untuk menghidupi keluarga ananda. Ananda siap untuk itu ayah bunda.&lt;br /&gt;Sekiranya sekarang ananda mohon kerelaan dan pikiran yang matang dari ayah bunda, dan mudah-mudahan memberikan keputusan yang sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini hanya menjadi penghantar kepada ayah bunda, secepatnya ananda akan pulang. Agar ananda, ayah dan bunda dapat membicarakan ini secara lisan. Karena dengan tatap muka, ada kejelasan yang bisa diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit ananda perkenalkan gadis yang akan menjadi teman hidup ananda. Namanya A, seorang gadis jawa ayah bunda. Orang tuanya tinggal di S. Bersekolah juga di Y. Umurnya dua tahun di bawah ananda. Mudah-mudahan dengan ridho dari ayah bunda bisa menjadi menantu yang baik. Dari kita berdua tak ada lagi yang tertinggal, semuanya telah kami pertibangkan baik buruknya. Ke orangtuanya pun ananda telah mengungkapkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembah hormat ananda&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-6695819160160236369?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/6695819160160236369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=6695819160160236369' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/6695819160160236369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/6695819160160236369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/06/surat.html' title='Surat'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-5067568858965284301</id><published>2008-05-29T00:55:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T06:19:00.822-07:00</updated><title type='text'>Harga Sebuah Eksistensi</title><content type='html'>Proses perjalanan dalam hari-hari terakhir kepengurusan Forkommi (Forum komunikasi mahasiswa minang) UGMtahun 2007/2008. Aku melihat ada 3 fase, yang pertama konsolidasi anggota, suksesi kepemimpinan dan musyawarah besar. Aku menyebutnya seperti itu, nama acara jelasnya aku tak tahu. Kira-kira aku rasakan begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Konsolidasi yang coba digalang beberapa senior, pengurus 2007/2008, dan individu yang peduli pada institusi ini. Aku rasa semua orang peduli terhadap Forkommi, tingkat kepeduliannya saja yang membedakan. Aku tak habis pikir ketika Pak Wo memaksa dan sangat mengharapkan kehadiran ku dalam pertemuan yang direncanakan tersebut. Untuk kali ini akan diadakan di kosanku. Kebetulan aku dan Pak Wo satu kos. Pak Wo menunjukkan tingkat kepedulian yang sangat akhir-akhir ini dari tindakan-tindakannya. Sejauh apa yang dia lakukan aku tak tahu. Hanya aku merasa Pak Wo bekerja keras agar semuanya lancar. Yang lain pun aku rasa begitu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dihadiri beberapa orang, pokok pertemuan diarahkan pada angkatan 2006 yang akan melanjutkan tongkat kepemimpinan Forkommi selanjutnya. Ada aku, Heru, Rian, Hendro dan satu perempuan yang aku lupa namanya. Lalu Arief, ketua yang masih menjabat sampai pembubaran saat Mubes. Da Ipam dan Da Tommi, dua ketua sebelum Arief. Ilham, Nia, Yogi dan Pak Wo. Dari penjelasan mereka, ini pertemuan yang terakhir setelah hari-hari sebelumnya diadakan di beberapa tempat dengan orang-orang yang berbeda. Pendahuluan sesaat yang mengingatkan semua akan fitrah Forkommi. Lalu permintaan mengemukakan pendapat, berupa apa yang dirasakan selama menjadi anggota forkommi lalu rekomendasi langkah selanjutnya; inti dari pertemuan ini. Semua di sini bicara sebatas sharing, bukan mencari benar salah, menilai suka atau tidaksuka. Hal penting lainnya adalah pernyataan kesediaan angkatan 2006 untuk memegang, melanjutkan dan mengembangkan perjalanan Forkommi selanjutnya. Lama kita bicara, ngobrol dan bertukar pikiran. Walaupun begitu dari pertemuan yang sangat kekeuargaan ini, aspek-aspek yang ingin dicapai telah terangkum semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Suksesi kepemimpinan. Aku tak tahu kalau hanya ada aku sendiri dalam pertemuan kali ini. Aku berhadapan dengan Da Roni, Arief, Nia, Lola dan Pak Wo. Lagi-lagi pak Wo sangat mengharapkan kesediaan waktuku untuk menghadiri pertemuan ini. Kerja keras dan keinginan Pak Wo sangat jelas tergambar dari mukanya. Dedikasi yang patut diancungi jempol, yang lain juga. Terjawab keheranana-keherananku tentang tingkah Pak Wo. Setelah menikmati waktu kekosongan dari aktivitas organisasi di kampus, benar-benar hanya fokus kuliah. Pak Wo mulai menapaki jalan demi membawa Forkommi bangkit dari 'keterpurukan' ini. Pak Wo tak ingin menyesal untuk kedua kali, setelah penyesalan pertama kali dulu. Setahun yang lewat ketika Mubes Forkommi Pak Wo tak mengambil peran dalam kepengurusan. Pak Wo punya kapasitas yang lebih dari cukup untuk memimpin Forkommi, tapi karena kekhawatiran fokusnya terbagi dengan organisasi lain. Pak Wo menampik jalan itu. Mungkin aku agak salah menggunakan kata menyesal, tapi mau pakai kata apa lagi? Sekarang Pak Wo tak mau membuang kesempatan ini, dan aku lihat keseriusan Pak Wo dan yang lainnya untuk mengayomi dan bersama-sama melangkah dengan yang merasa Forkommi sesuatu yang harus diperjuangkan demi pencapaian yang lebih baik. Membuat eksistensi yang lebih vulgar, yang lebih menderapkan langkah.&lt;br /&gt;Setelah pendahuluan, lalu masuk ke pokok persoalan. Terjadilah lemparan-lemparan pernyataan, saran dan dialektika pembicaraan antara aku dan steering committe. Semuanya masih dalam batasan Sharing. Tak ada unsur-unsur otoritas, perdebatan yang tajam. Pada khirnya di waktu lebih dari sejam aku menolak untuk masuk dalam bursa calon ketua Forkommi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Musyawarah Besar XII Forkommi UGM, Minggu 18 Mei 2008, di Asrama Putri Bundo Kanduang JL. Bintaran Tengah No. 7 Yogyakarta.&lt;br /&gt;Pagi itu acara yang rencana akan di selenggarakan jam 8, malah molor hingga jam 10. Peserta Mubes pun tak bisa dibilang banyak. Hingga saat Maghrib aku di sana peserta sudah lumayan banyak. Sidang Pendahuluan oleh badan pekerja Mubes, membahas berupa rancangan Tata Tertib Mubes XII. Dilanjutkan dengan pemilihan pimpinan sidang tetap.&lt;br /&gt;Pimpinan sidang tetap terpilih melaksanakan sidang pleno. Di dalamnya bertujuan untuk memberikan penilaian terhadap laporan pertanggung jawaban pengurus.Selesai dan sore waktu itu meninjau penyempurnaan AD/ART/GBHK. Sama seperti tahun lalu aku masuk komisi A yang membahas AD/ART. Komposisi tahun sekarang beda. Tahun lalu aku masih banyak mengikuti, sekarang sudah banyak berkata. Dari kontribusiku yang sedikit ini aku setidaknya bisa mengungkapkan sesuatu dalam forum kecil ini. Hanya sampai Maghrib aku di sana, itupun pembahasan AD/ART kepada forum sidang belum selesai.&lt;br /&gt;Menurut cerita Pak Wo, pembahasan AD/ART berjalan lebih lama dar yang lainnya. Andi terpilih menjadi ketua Forkommi tahun 2008/2009. Lalu pembahasan yang sama dengan tahun lalu juga kembali diungkapkan tahun ini lagi. Tentang perlu tidaknya diadakan posisi Sekjen dalam struktur kepengurusan Forkommi. Perdebatan yang panjang, akhirnya memutuskan untuk melegalkan posisi Sekjen. Begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak atau tidak yang dapat dilaksanakan oleh kepengurusan Forkommi tahun lalu dan tahun ini, semua tergantung pada kontribusi bersama. Tak dapat diindahkan juga kalau organisasi ini menempatkan dua macam dalam perjalanannya. Menjadikannya sebagai organisasi sebagai konseptor dan eksekutor atau menjadikannya sebagai keluarga yang berdasar pada aspek kekeluargaan.&lt;br /&gt;Entah seperti apa ke depan, aku belum dapat memutuskan aku akan bagaimana di dalamnya. Aku akan berbuat sebisa apa yang akan aku lakukan. Mulai dari bagaimana memahami posisi dan tindakan aplikasi nyata.&lt;br /&gt;Semua tentu berpengharapan akan melakukan yang terbaik. Ini akan menjadi baik, ini akan menjadi kebanggaan, ini akan menjadi keluarga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-5067568858965284301?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/5067568858965284301/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=5067568858965284301' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/5067568858965284301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/5067568858965284301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/05/harga-sebuah-eksistensi_29.html' title='Harga Sebuah Eksistensi'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-6085833245939879863</id><published>2008-05-24T02:52:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T06:30:23.496-07:00</updated><title type='text'>TINJAUAN HERMENEUTIKA MARTIN HEIDEGGER TERHADAP TEKS ANTI-KRIST FRIEDRICH NIETZSCHE</title><content type='html'>&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Hal pertama yang awal-awal dipahami adalah mengerti dengan baik tentang fenomenologi Heidegger. Hal ini penting karena menjadi penuntun untuk memahami bagaimana ‘Ada’ menyingkapkan diri. Heidegger sendiri memberikan kritik atas Rene Decartes yang menemukan &lt;i style=""&gt;cogito &lt;/i&gt;dan mempostulatkan &lt;i style=""&gt;cogito ergo sum&lt;/i&gt; tapi tak pernah mempertanyakan &lt;i style=""&gt;sum &lt;/i&gt;(ada) itu sendiri. Hal ini melatarbelakangi Heidegger menyatakan bahwa bukan kesadaran yang menentukan Ada melainkan Ada yang menetukan kesadaran.   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Fenomenologi Heidegger itu sendiri adalah; kesadaran bukan hanya sadar akan sesuatu, yaitu memiliki isi tematis tertentu, melainkan terlebih sadar sebagai sesuatu (fokus pada subjek bukan objek). Ada yang lebih utama daripada kesadaran. Fenomenologi Heidegger lebih bersifat ontologis karena menyangkut kenyataan itu sendiri. Lalu prinsip fenomenologi selanjutnya adalah fakta keberadaan merupakan persoalan yang lebih fundamental ketimbang kesadaran dan pengetahuan manusia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Dalam penjabaran tentang pembedaan ontologis (&lt;i style=""&gt;ontologishe differenz&lt;/i&gt;), ada 2 hal yaitu antara &lt;i style=""&gt;Sein &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;Seinde, &lt;/i&gt;Ada dan Mengada. Untuk memahami Ada kita harus memulai dari Mengada yang bisa mempertanyakan Ada. Coba kita lihat dalam teks Anti-Krist nya Nietzsche.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apakah baik itu?- Semua yang meninggikan kekuatan, kehendak berkuasa, kekuasaan itu sendiri dalam manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Apakah buruk itu?- Semua yang berasal dari kelemahan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Apakah kebahagiaan itu?-Perasaan bahwa kekuasaan&lt;i style=""&gt; meningkat&lt;/i&gt;- bahwa sebuah perlawanan telah diatasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Bukan &lt;/i&gt;kepuasan diri, melainkan lebih banyak kekuasaan; &lt;i style=""&gt;bukan &lt;/i&gt;perdamaian sama sekali, melainkan perang; &lt;i style=""&gt;bukan &lt;/i&gt;kebajikan, melainkan keterampilan (kebajikan dalam gaya Renaisans, &lt;i style=""&gt;virtu, &lt;/i&gt;kebajikan tanpa asam moralik).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Yang lemah dan penyakitan akan musnah: asas pertama filantropi &lt;i style=""&gt;kita. &lt;/i&gt;Dan orang harus membatu mereka menjadi musnah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Apakah yang lebih merugikan ketimbang suatu kejahatan?- Simpati aktif untuk yang lemah dan penyakitan-Kristen.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Pembedaan ontologis yang membawa kepada pemisahan antara Ada dan Mengada coba ditelusuri dengan kesadaran akan sesuatu yang membuat kefokusan sendiri pada subjek bukan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pada objek. Nietzsche telah memaparkan kenyataan berupa konteks-konteks Ada. Ini mengacu pada paparan berupa pertanyaan-pertanyaan seperti apakah baik itu, buruk, kebahagiaan. Nietzsche langsung mengkaitkan dengan jawaban yang berupa konteks Mengada. Konkritnya baik (sebagai ada)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lalu semua yang meninggikan kekuatan, kehendak berkuasa, kekuasaan itu sendiri dalam manusia (sebagai mengada). Untuk memahami Ada,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kita harus memulai dari Mengapa yang bisa mempertanyakan Ada langsung bisa terjawab dari contoh konkrit di atas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Hal ini juga menggambarkan dan menjelaskan tentang ‘tidak semua Mengada bisa bertanya tentang Ada, yang bisa melakukan itu hanyalah&lt;i style=""&gt; Dasein&lt;/i&gt; (Ada-di-sana)’. Ada-di-sana untuk menujukkan ciri khas kemewaktuan dan keterlemparan manusia atau faksilitas. &lt;b style=""&gt;Perasaan bahwa kekuatan &lt;i style=""&gt;meningkat&lt;/i&gt;-bahwa sebuah perlawanan telah diatasi. &lt;i style=""&gt;Bukan &lt;/i&gt;kepuasan diri, melainkan lebih banyak kekuasaan; &lt;i style=""&gt;bukan &lt;/i&gt;perdamaian sama sekali, melainkan perang; &lt;i style=""&gt;bukan &lt;/i&gt;kebajikan, melainkan keterampilan (kebajikan dalam gaya Renaisans, &lt;i style=""&gt;virtu, &lt;/i&gt;kebajikan tanpa asam moralik)&lt;/b&gt; merupakan &lt;i style=""&gt;Dasein &lt;/i&gt;yang bisa menanyakan tentang Ada yaitu suatu kebahagiaan, apa kebahagiaan itu?&lt;i style=""&gt; Dasein&lt;/i&gt; di atas mampu melakukannya karena memenuhi faktor memiliki hubungan dengan Adanya, yakni terbuka tehadap penyingkapan Ada. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Tak salah juga kalau manusia adalah satu-satunya wadah bagi penyingkapan Sang Ada. Yang menyebabkan manusia memiliki potensi untuk mempertanyakan (interpretasi) keberadaannya, sehingga membuka diri terhadap realitas. Manusia adalah seorang pembawa pesan, pengungkap keberadaan, yang menjadi media penghubung jurang antara Ada yang tersembunyi dan yang terungkap; antara ketidakberadaan dan keberadaan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Nietzsche yang dengan vitalismenya ini tempatnya jauh daripada agam kristen dan komunisme. Ia berkembang dalam suatu pergumulan yang berat dengan dirinya sendiri dan dunia ini. Baginya agama kristen adalah lambang pemutarbalikkan nilai-nilai. Sebab yang dipandang sebagai jiwa Kristiani ialah menolak segala yang alamiah sebagai hal yang tak layak, yang memusuhi segala yang nafsani. Pengertian “Allah” agama kristen adalah pengertian yang paling rusak dari segala pengertian tentang Allah, sebab Allah dipandang sebagai Allah anak-anak piatu dan janda-janda, Allah orang-orang sakit. Allah dipandang sebagai roh yang bertentangan sekali dengan hdup ini. Jiwa kristiani adalah jiwa yang tidak memberi penguasaan dan kebangsawanan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Suatu penelahaan kritis atas&lt;i style=""&gt; konsep Kristen mengenai Tuhan&lt;/i&gt; mengundang simpulan yang sama. –Suatu bangsa yang masih mempercayai dirinya jiga masih memiliki Tuhannya sendiri. Dalam diri Tuhan ini bangsa itu menghargai kondisi-kondisi yang telah membuat sejahtera, kebajikan-kebajikannya-bangsa itu memproyeksikan kegembiraan atas keadaan dirinya, perasaan berkuasanya kepada suatu pendirian yang bisa disebut terima kasih. Prastruktur verstehen yang pertama yaitu Vorhabe; sesuatu yang sudah dipunya sebelumnya tercakup di atas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Lalu Vorsicht; sesuatu yang sudah dilihat sebelumnya. Kristen berdiri bertentangan dengan semua kesehatan &lt;i style=""&gt;intelektual&lt;/i&gt;. Maksudnya apa? Ia (mengacu pada intelektual) hanya &lt;i style=""&gt;bisa&lt;/i&gt; menggunakan pikiran busuk sebagai pikiran Kristen, ia memihak kepada segala yang bodoh, ia menyatakan kutukan terhadap “roh”, terhadap &lt;i style=""&gt;keunggulan &lt;/i&gt;jiwa yang sehat. Karena sakit masuk dalam esensi Kristen, maka kondisi Kristen tipikal, yaitu “iman”, &lt;i style=""&gt;harus &lt;/i&gt;merupakan suatu bentuk kesakitan, setiap jalan yang langsung, jujur, saintifik menuju pengetahuan harus ditolak oleh gereja, sebagai jalan yang terlarang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Nietzsche melanjutkan lebih jauh pada perbandingan antara Kristen dan Buddha. Ia mulai menapaki dan dapat ditangkap ada unsur Vorgriff; sesuatu yang sudah ditangkap sebelumnya. Bagi Nietzsche Kristen dan Buddha sama-sama agama nihilistik, sama-sama agama &lt;i style=""&gt;dekadensi&lt;/i&gt; tetapi berbeda dengan sangat menarik. Nietzsche mampu menghadirkan dan mengkomparasikannya. Hingga membawa kepada pemahaman yang dapat dipahami sebagai berikut. Buddha seratus kali lebih realistik ketimbang Kristen. Buddha memiliki komposisi yang terdiri dari warisan suatu penelahaan yang dingin atas berbagai masalah. Agama ini datang &lt;i style=""&gt;setelah&lt;/i&gt; suatu gerakan filosofis. Yang berlangsung ratusan tahun.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Ini kemudian menjadi sangat menarik. Pendapat Nietzsche: Buddhisme adalah satu-satunya agama yang benar-benar &lt;i style=""&gt;positivistik &lt;/i&gt;dalam sejarah bahkan dalam epistemologinya (suatu fenomenalisme kaku). Agama ini tidak lagi bicara mengenai “perjuangan melawan &lt;i style=""&gt;dosa” &lt;/i&gt;melainkan, dan ini sesuai dengan aktualitas, “perjuangan melawan &lt;i style=""&gt;penderitaan”. &lt;/i&gt;Yang membedakannya dengan Kristen adalah meninggalkan konsep-konsep moral yang menipu diri itu. Agama ini berada, dalam &lt;b style=""&gt;bahasa&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;Nietzsche, di &lt;i style=""&gt;seberang &lt;/i&gt;baik dan jahat. Dua fakta psikologis yang mendasari dan yang menjadi tujuan adalah:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Pertama, suatu keterangsangan sensibilitas yang berlebihan yang mengekspresikan diri sebagai kemampuan tinggi untuk merasakan sakit, Kemudian suatu kelebihan intelektualitas, suatu kesibukan yang terlalu besar dengan konsep-konsep dan prosedur-prosedur logis di bawah mana instink personal telah dikalahkan oleh demi kemenangan yang “impersonal”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Prakondisi untuk Buddhisme adalah iklim yang lunak, adat sangat halus dan liberal, &lt;i style=""&gt;tanpa &lt;/i&gt;militerisme; dan dalam klas-klas tinggi dan terpelajarlah gerakan ini memiliki lahannya. Tujuan tertingginya adalah keceriaan, kesunyian, tidak adanya nafsu dan tujuan ini &lt;i style=""&gt;tercapai&lt;/i&gt;. Buddhisme bukanlah agama tempat orang mencita-citakan kesempuan semata. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Sedangkan dalam Kristen instink-instink dari mereka yang dikalahkan dan ditindas maju ke muka: adalah klas-klas terendah yang mencari penyelamatan mereka dalam agama ini. Di sini &lt;i style=""&gt;bisnis&lt;/i&gt; kasuistik dosa, kritik diri, pengadilan-nurani dipraktekkan sebagai suatu spesifik melawan kebosanan; disini suatu sikap emosional terhadap satu kekuasaan, disebut ‘Tuhan’, selalu dihidup-hidupkan (melalui sembahyangan); disini hal-hal tertinggi dianggap tidak bisa dicapai, pahala, “berkat”. Disini juga tidak terdapat keterbukaan; ceruk di sudut, kamar gelap itulah Kristen. Disini tubuh itu dihina kesehatan ditolak sebagai sensualitas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Artikulasi eksistensial pemahaman menjadikan bahasa sebagai alat pengungkapan Ada kepada pengertian Kristen yang lainnya. Kristen: kebencian terhadap mereka yang berifikir beda, kehendak untuk menindas. Kristen: permusuhan maut terhadap majikan-majikan di dunia, terhadap “ningrat” dan pada waktu yang sama kompetisi rahasia yang tertutup (orang membiarkan mereka memiliki “tubuh”, sedangkan dia hanya menginginkan “jiwa”. Kebencian terhadap &lt;i style=""&gt;pikiran, &lt;/i&gt;kebanggaan, keberanian, kebebasan, &lt;i style=""&gt;kemerdekaan&lt;/i&gt; pikiran, itu juga Kristen. Kebencian terhadap kesenangan indera-indera, terhadap kesenangan pada umumnya, itulah Kristen. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Proses Denken (berfikir) dan mencoba menelaah dialektika Nietzsche yang pada akhirnya &lt;i style=""&gt;mengutuk &lt;/i&gt;Kristianitas. Kristen adalah bentuk kerusakan yang paling ekstrim yang bisa dibayangkan, ia memiliki kehendak untuk melakukan kerusakan yang paling tinggi yang bisa dibayangkan. Gereja Kristen tidak meninggalkan sedikit pun yang tidak disentuh oleh kekejiannya. Ia telah membuat setiap nilai menjadi non nilai, setiap kebenaran dusta, setiap jenis integritas kejahatan jiwa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;Pemahaman-pemahaman Nietzsche membuat proses interpretasi tidak lepas dari relasi Denken dan sein-nya Heidegger. Nietzsche dengan kekayaan wawasan psikologisnya memberikan suatu paduan dengan menunjukkan makna dari konsep-konsep kuncinya “kehendak berkuasa” dan “sublimasi”. Pemusnahan sensualitas yang oleh Nietzsche dikatakan merupakan praktek gereja Kristen itu bertentangan dengan “&lt;i style=""&gt;Vergeistigung”&lt;/i&gt;nya, menjadikannya “spiritual”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42.55pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-6085833245939879863?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/6085833245939879863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=6085833245939879863' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/6085833245939879863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/6085833245939879863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/05/tinjauan-hermeneutika-martin-heidegger.html' title='TINJAUAN HERMENEUTIKA MARTIN HEIDEGGER TERHADAP TEKS ANTI-KRIST FRIEDRICH NIETZSCHE'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-8711454665529313200</id><published>2008-05-21T06:13:00.001-07:00</published><updated>2008-07-03T06:37:58.485-07:00</updated><title type='text'>Wanna be</title><content type='html'>Udara kota semakin panas. Siang ini pun begitu, panasnya minta ampun. Kemaren sudah panas, sekarang masih. Sampai kapan akan panas terus?&lt;br /&gt;Kemaren Jumat, sore ke pantai. Panas tapi masih dinaungi mendung. Siklus paling panas sepertinya saat tengah hari. Jam 11 lewat sudah mulai. Jam 12 puncak sekali kepanasan itu. Jam 1 masih belum-belum hilang, panas sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita masih baik-baik saja, setidaknya menurutku. Kita semakin kuat merasakan semuanya. Semakin maju, naik tingkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang akan aku lakukan adalah:&lt;br /&gt;- Benar-benar kuliah, selama ini sudah kuliah yang benar. Tak ada masalah. Aku    hanya ingin lebih memahami lagi. Di kampus tepatnya di perpustakaan.&lt;br /&gt;  Cara-cara yang harus di coba, mencari referensi sebanyak-banyaknya. Banyak   tapi ngambang percuma saja. Setidaknya lebih fokus pada pokok   pembahasan. Sedikit radikal tidak masalah. Referensi biasanya mengacu pada   buku. Satu tantangan jika berhadapan dengan teks Inggris. Itu agak susah, tapi   bakal terus mencoba.&lt;br /&gt;  Lalu banyak-banyak bertanya, muaranya terjadi diskusi. Ini tidak lebih dari   upaya pencapaian distraksi.&lt;br /&gt;  Pengertiannya di dalam keinginan ini adalah benar-benar memahami apa itu   liberalisme, kapitalisme, atau mungkin komunisme. Selama ini mungkin hanya   pembicaraan, pemikiran-pemikiran, pernyataan yang dangkal. Hanya   berputar-putar di permukaan. Untuk selanjutnya niat suci ini benar-benar bisa   dilaksanakan. Mulai memahami hingga hakikat, bicara tentang esensi dan   substansi. Buku banyak di perpustakaan, koneksi internet sebegitu lancarnya.   Tinggal kemauan yang lebih keras. Struktualisme, Posmodernisme.   Pemahaman tentang ideologi dan pancasila juga sangat penting untuk   dimasukkan. Malu saja kalau kuliah di filsafat tak mengerti, tak tahu apa-apa.     Ya...filsafat itu ya tahu apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;- Benar-benar ada aplikasi menulis. Sudah saatnya tulisan dimuat di koran, di jurnal atau di manapun yang bisa dijadikan sumber informasi orang-orang. Selama ini yang mungkin kurang adalah keberanian. Untuk apa takut? Kalau salah, kalau belum bermakna ya ini yang namanya belajar. Belajar tak mengenal takut untuk mencoba. Mulai dengan tanggapan peristiwa aktual, lalu persepi mendalam terhadap peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Lahan politik praktis juga patut untuk di coba. Dasar-dasar politik dan hukum normatif sudah pernah belajar. Filsafat Politik dan Filsafat Hukum banyak dibahas pemikiran-pemukiran yang bisa dipakai. Kenapa tak coba diaplikasikan apa yang didapat? Pemilu 2009 banyak yang bisa disoroti. Cobalah! Koran penting untuk dibaca. Selalulah baca koran. Hindari nonton sinetron dan tayangan yang tak berguna di TV. Pokoknya harus menulis! Masalah eksis itu nanti, yang penting berkarya dulu. Sudah cukup menulis untuk diri sendiri. Saatnya menulis untuk orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hal yang di atas merupakan bagian penting dalam perjalanan hidup. Untuk melakukan perubahan. Bergerak dari yang ada sekarang. Ya tunggu saja aplikasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 Manifesto Slankisme:&lt;br /&gt;kita harus&lt;br /&gt;1. Berjiwa kritis&lt;br /&gt;2. Berjiwa sosial&lt;br /&gt;3. Penuh solidaritas&lt;br /&gt;4. Saling setia&lt;br /&gt;5. Selalu merdeka&lt;br /&gt;6. Hidup sederhana&lt;br /&gt;7. Mencintai alam&lt;br /&gt;8. Manusiawi&lt;br /&gt;9. Berani untuk beda&lt;br /&gt;10. Menjunjung persahabatan&lt;br /&gt;11. Punya angan yang tinggi&lt;br /&gt;12. Menjadi diri sendiri&lt;br /&gt;13. Membuka otak dan hati kita karena kesempurnaan hanya punyanya tuhan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-8711454665529313200?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/8711454665529313200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=8711454665529313200' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/8711454665529313200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/8711454665529313200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/05/wanna-be.html' title='Wanna be'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-5070137752427467406</id><published>2008-05-17T00:31:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T06:39:24.489-07:00</updated><title type='text'>Semarang Jauh</title><content type='html'>Selang 4 hari setelah "bermain-main" di lokasi penambangan pasir di kali Gendol, Merapi. Tiba-tiba aku harus ke Semarang. Perjalanan waktu yang membawa ke sana. Kesempatan pertama ini aku tak sendirian, bersama Eta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 8 Mei. Mandi berkali-kali memberi inspirasi. Kadang terpikir hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Ada-ada saja ide-ide baru yang muncul, terkadang menemukan realitas. Bukan karena hal-hal di atas, aku mengajak Eta ke Semarang menjelang sore itu. Aku harus mengikuti kuliah tambahan dulu jam 3, kenapa harus ada kuliah tambahan? Kurang kerjaan!&lt;br /&gt;Aku sudah gelisah duluan memikirkan jalan ke Semarang. Rencananya setelah Eta menyetujui kepergian ini, kita akan pakai motornya (jelas motorku tak dapat diandalkan). Belum semudah itu, kesulitannya kita harus ke Solo dulu ngambil STNK motor Eta. Kesepakatan terakhir sebelum aku meninggalkannya sejenak demi kuliah yang membosankan dan tak kuperhatikan sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan:&lt;br /&gt;- Dari Solo bisa langsung ke Semarang, tak harus balik lagi ke Jogja?&lt;br /&gt;- Kalau bisa, lebih jauh mana langsung dari Solo atau balik lagi ke Jogja?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tanyakan ke salah seorang teman, jawabannya: dari Solo bisa langsung ke Semarang tanpa harus balik lagi ke Jogja. Mengenai jauhnya jarak, atau lamanya waktu tak ada jawaban pasti. Jelasnya dia tak tahu. Dia malah bilang belum lama dia ke Malang, ada sekitar 10 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengakhiri sendiri perkuliahan sore itu, waktu menunjukkan pukul setengah lima ketika aku mohon diri untuk diperbolehkan keluar duluan. Eta sudah siap ketika aku berada di rumahnya lagi. Memulai perjalanan Jogja-Solo (Sukaharjo) jam 6. Setelah beres-beres di kostku, mengambil pakaian secukupnya dan perlengkapan. Setelah beli obat Flu Eta.Setelah beli jajanan pasar karena aku sangat lapar, setelah mengisi bensin. Jam 7 lewat sedikit sampai di rumah Eta. Perbincangan dirinya dengan orang tuanya yang menemani penungguanku. Satu jam lewat untuk interaksi antara orang tua dan anaknya yang kuliah di kota berbeda cukup sudah. Meninggalkan rumah Eta, kita sudah mengantongi STNK, dan sobekan peta dari atlas. Peta Jawa Tengah. Petunujuk peta, untuk mencapai Semarang dari Solo, harus melewati Boyolali, Salatiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan di kawasan Solo baru sekalian mencari informasi-informasi. Penting: ke Semarang kira-kira 2 jam dari Solo. Tak begitu lama. Dalam bayanganku, sekitar 3 jam lebih, melihat jarak di peta yang begitu jauh. Tak hanya sekali bertanya, tapi berkali-kali dan jawabannya sama. Informasi teman Eta, smsnya ke Eta ketika sedang jalan dari Jogja ke Solo. Mas-mas penjual rokok, bapak-bapak jualan apa gitu, mas-mas tempat kita makan. Dan tak lupa untuk mbak dan mas yang tak dikenal yang selalu kutanya ketika berhenti di persimpangan berhias lampu merah, kuning hijau.Sedikit jalan terang menuju Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dingin makin lama makin menyergap kita berdua hingga menggigil. Merokok sebentar untuk menghilangkan kedinginan. Memasuki kota Salatiga kita berhenti sejenak. Perjalanan masih jauh, hingga akhirnya petunjuk jalan ke Semarang semakin dekat. Di depan hotel Plaza kita menginjakkkan kaki pertama kali di Semarang. Ink yang telah sedari tadi ku hubungi datang menjemput. Jadilah kita nginap di kos Ink malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di Semarang tak banyak tempat-tempat wiasata yang kita kunjungi. Mutarin jalanan Semarang. Tahu universitas Dipenogoro. Kesimpulan sejauh yang aku rasakan, aku tak melihat atmosfer perkuliahan yang bagus. Mungkin karena hanya melihat di permukaan. Udaranya yang panas, khusus di tembalang makanannya kurang sangat memuaskan. Dan aku benar-benar merasa beda dengan Jogja, memang pantas Jogja dibilang kota pendidikan. Aku merasakannya saat itu. Akhirnya aku berkesempatan juga bertemu Katik, teman dari kecil hingga sekarang. Dia sedikit bercerita tentang problem-problemnya, ketidaknyamanannya kuliah di sini. Terus rencana mengulang SPMB lagi tahun ini. Targetnya UI. Butuh adaptasi panjang aku rasa untuk benar-benar cocok dan menikmati kehidupan di tempat yang berbeda. Masalah teman menjadi penting di sini, wajarlah dia baru setahun di Semarang. Awal-awal aku di Jogja aku juga merasa agak stres menjalani adaptasi itu. Terbayang kampung halaman yang jauh sekali. Tapi perjalanan waktu membuat diriku bisa menyatu dengan kehidupanku lagi. Aku kembali menjadi pemilik jiwa dan ragaku. Katik hanya butuh waktu sedikit lagi dan selalu belajar. Cari kegiatan yang positif dan jangan terlalu sok-sokan. Kalau niat hidup untuk terus belajar semuanya akan terasa ringan. &lt;br /&gt;Lalu Suhan Jagara. Aku dan dia satu SMP, satu SMA. Kenal tapi tak begitu dekat. Banyak perkembangan dari dirinya. Bukan sekali ini saja aku dengar tentang dirinya. Dulu Ink dan Katik telah pernah cerita. Tapi sekarang aku melihatnya langsung. Dia kuliah di Fakultas Hukum Universitas Dipenogoro. Aktif di KAMMI atau HMI ya, vokal dan terkenal di kalangan kampus sebagai aktivis muda. Proyek, seminar dan pertemuan dengan orang-orang penting. Selain itu masih banyak yang bisa dibanggakan darinya. Berbeda saja jika mengingat masa SMA dulu, berkembang jauh. Ink dan Katik waktu awal cerita tentang Suhan dulu ya sama tidak menyangkanya.&lt;br /&gt;Begitulah kehidupan kawan, seperti yang Eta bilang, perjalanan waktu bisa mengubah seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam minggu itu, aku dan Eta dibawa Ink menemui Suhan. Bertemu ketika dia sedang mengkoordinir rapat. Dia menyambutku, aku jadi terharu. Seperti biasa jika ada teman bertamu ke tempat kita, apalagi itu untuk pertama kalinya, ada hasrat untuk mengajak kota-kota. Dengan otoritasnya Suhan mengakhiri rapat, demi aku. Aku dan Eta diajak putar-putar, dan ditraktir karaoke-an. Suhan baru dapat proyek survey dari CSIS, lembaga kepunyaan Indra J. Piliang. Duitnya tak tanggung-tanggung. Ink yang diajak Suhan pun ketiban pulung. Ink berubah juga sekarang, dia ingin aktif di lembaga kemasyarakatan. Seharusnya Katik bisa meniru, kalau tidak akan stres selamanya.&lt;br /&gt;Kita baru punya kesempatan banyak bicara saat makan di burjo. I love Jogja...kau masih menghadirkan tempat yang eksotis yang tak kutemui di kota lain, Semarang ini salah satunya. Burjo yang berbeda dengan burjo di Jogja, Suhan bilang burjo yang kita singgahi ini tempatnya kawula muda mangkal. Setelah dugem di lantai enam (Hugos maksudnya), para clubber menghabiskan malam panjangnya di sini. Apa? di tempat ini! Eta bilang saat dia burjo tiba-tiba dia kangen suasana kali Code. Walaupun tak sedikitpun suka tempat itu, tapi ke-eksotisannya yang membuat Jogja begitu indah. Yah begitulah..bisa dibayangkan.&lt;br /&gt;Aku banyak bertanya pada Suhan. Mengenai pertemuannya dengan orang dan tokoh-tokoh yang dapat disebut punya nama di Indonesia, setidaknya para pengamat politik, ekonomi dan sebagainya atau aktivis yang sering masuk koran. Titik balik saat dia bisa memaknai dunianya sekarang, beranjak dari perbandingan jika dia masih di kampung, dia tak dapat membayangkan. Masih seperti dulu, tempat dan zaman serta rekonstruksi pemikiran yang masih feodal. Dia bicara menggebu-gebu, dia menguasai apa yang dia bicaraka. Dia tahu kapasitas dirinya. Menyadari dia akan lebih banyak berkembang ke depan. Jika tak hari sudah terlarut malam, percakapan ini tak akan habis. Aku melihat rona-rona kelelahan dari mata yang mengantuk itu. Aku tak akan memaksanya menemani ku dan Eta jalan-jalan melihat Semarang di malam minggu ini lagi. Dia masih beraktivitas besok. Salaman hangat untuk perpisahan sesaat ini. Aku mengundang dia ke Jogja membalas kunjunganku suatu waktu. Mudah-mudahan saja dia 'orang minang' berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DP mall, Ciputra Mall, Lawang Sewu, kampus Undip. Beberapa tempat yang aku dan Eta kunjungi di Semarang. Banyak tempat yang belum sempat kita elaborasi lebih jauh. Karena ini bukan terakhir kali kita ke Semarang, suatu saat akan kembali lagi menyusuri jalanan berbukit-bukit ini. Jalan pulang lebih panjang dan memakan banyak waktu dibanding jalan pergi. Semarang-Ambarawa- Temangung (hanya lewat) -Magelang. Kita sempat menikmati srabi di daerah apalah, opak juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magelang, menjadi tempat pemberhentian berikut. Tak tanggung-tanggung kita sembahyang di klenteng yang berposisi di kilometer 0. Akulturasi budaya, aku rasa. Pulang ke Jogja, sampai pas maghrib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melakukan perjalanan yang jauh harus dilakukan persiapan yang jelas, pakaian atau perlengkapan lainnya. Uang jelas menjadi sesuatu yang harus ada. Jangan pas-pasan. Pelajari jalan dan tempat-tempat wisata.&lt;br /&gt;Secara keseluruhan walaupun agak kacau, tapi perjalanan ke Semarang aku dan Eta ini cukup bagus. Setidaknya kita bisa belajar dari Semarang. Bandung, Jakarta, Malang, Surabaya, dan Bali masih menunggu kita Ta!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-5070137752427467406?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/5070137752427467406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=5070137752427467406' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/5070137752427467406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/5070137752427467406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/05/semarang-jauh.html' title='Semarang Jauh'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-7155798292905914741</id><published>2008-05-15T23:35:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T06:39:53.813-07:00</updated><title type='text'>Kali Gendol</title><content type='html'>Beberapa perjalanan yang tak terangkum sekarang coba dingat dan disusun kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas tengah malam setelah menunggu jam pemberangkatan itu sendiri, di kantor Himmah, sebuah media jurnalistik mahasiswa UII. Bersama Rie Salam mulai bergerak dari kos sebelum jam 11 tanggal 3Maret itu. Rencanannya kita akan bergerak mencari fokus bahasan pada penambang pasir. Lebih jelasnya, Rie diberi mandat untuk melakukan tugasnya sebagai jurnalis, dengan mencari berita tentang kaum perempuan (khusus kalangan orang tua/mbok-mbok). Kapasitasku disini hanya menemani, dan sekaligus mencoba belajar serta mencuri ilmu. Masuk ke perkancahan dunia jurnalistik riil. Format pencarian berita dan aktualisasinya tak begitu jelas. Dengan dasar aku tak mau mencampuri terlalu banyak. Disebabkan ketakutan aku akan merepotkan.&lt;br /&gt;Daerah Muntilan menjadi tujuan perjalanan ini, pada perkembangan situasi tujuan berubah ke lereng gunung Merapi, kawasan Kaliadem. Pagi-pagi sekali, saat waktu belum menunjukkan pukul 3 kita sudah membelah jalan. Mereka-reka jarak hingga menyentuh tujuan. Kita terdampar di jalanan Kali Kuning yang dinginnya begitu menusuk, dengan rimbunnya pohon di kiri kanan. Di depan kabut menghadang dengan jelas, saat aku menoleh ke belakang, hanya kepekatan malam yang begitu gelap memancar dari mataku. Proses penyelamatan diri kita lakukan dengan mencari tempat persinggahan, hingga arah penunjuk jalan memberi tahu sesaat kita akan sampai di kawasan juru kunci gunung Merapi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketika di sana kopi panas menjadi suatu kebutuhan yang sangat demi mengatasi kedinginan hati dan kebekuan pikiran ini. Sesekali Rie mencoba mengorek informasi sesuai kebutuhannya. Sebagai gambaran lokasi jelas yang akan dituju belum ada. Jadilah pagi itu kegiatan bertanya-tanya.&lt;br /&gt;Sekonyong-konyongnya lewat di depan mataku, Mbah Maridjan. Bersebelahan dengan warung tempat kita duduk ternyata rumahnya Mbah Maridjan. Tak terpikirkan sebelumnya olehku kalau aku akan bertemu dengannya. Sebagai seorang pemuda nun jauh di sumatera yang bersekolah di Jogja, hal ini adalah suatu ketakjuban luar biasa. Faktor pertama aku tak pernah tertarik akan semua ini, maksudnya Maridjan. Kapasitas ataupun kepopulerannya. Lalu, aku merasakan ini adalah mozaik kehidupan yang akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup ini. Kedua faktor itu yang akhirnya menghadirkan unsur kejutan.&lt;br /&gt;Di kaki gunung, aku tiba-tiba merasa kecil dan hina. Dekat sekali suara adzan menggema di telinga. Menyerukan waktu sesaat untuk hadir kehadirat kuasaNya. Spirit beribadah langsung menyergap sanubariku. Mengesampingkan, kekotoran dan kesucianku selama ini. Aku sudah cukup suci untuk menyembahNya? Itu menjadi pertanyaan yang akan selalu mengikuti jejak langkah ini. Tersadar akan rasa hina, jika aku tak shalat Subuh. Aku melangkahkan kaki ke masjid yang tak jauh dari rumah Maridjan dan warung itu. Kubiarkan Rie menunggu. Selesai prosesi ibadah ini, aku menyalami mbah Maridjan. Sesaat aku keluar masjid, memakai alas kaki lagi, mbah Maridjan mengeluarkan kata-kata padaku. Itu sudah cukup sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas petunjuk seorang bapak ketika giliran Rie shalat, kita sampai di lokasi penambangan pasir. Banyak orang di sana, banyak truk. Lembah bebatuan, curam, jalan yang terjal. Tak lama aku memposisikan diri sebagai asisten Rie. Membawakan tas kamera, buku catatannya, mengikuti wawancara. Hingga akhirnya ku biarkan dia sendiri. Kehadiranku mungkin agak mengganggu. Aku tiduran di susunan batu-batu. Aku tertidur sesaat. Sehari semalam tanpa tidur. Bergelimang di lokasi ini, cukup lama, kantuk tak tertahankan lagi.&lt;br /&gt;Setelah data-data dan foto-foto yang dikira Rie cukup, kita keluar dari kancah dunia pertambangan ini. Kondisi di sana memprihatinkan jika tak bisa dibilang menyedihkan. Roda perekonomian yang menjurus pada kebutuhan hidup terus berputar. Hidup harus terus berjalan. Pendidikan anak-anak tentu menjadi hal paling prioritas. Boleh mengenyampingkan perasaan sesaat. Orang tua pada dasarnya akan melakukan apapun demi anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali kita harus menempatkan diri sebagai orang tua. Punya keluarga, anak-anak sebagai tanggungan hidup. Perjalanan pulang ke kota, dipenuhi pikiran ini.&lt;br /&gt;Pagi-pagi jam 9 itu aku dan Rie beristirahat sejenak di rumah Eta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-7155798292905914741?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/7155798292905914741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=7155798292905914741' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/7155798292905914741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/7155798292905914741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/05/kali-gendol.html' title='Kali Gendol'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-2609754712850655593</id><published>2008-05-14T23:18:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T06:41:19.576-07:00</updated><title type='text'>Terus Berjalan</title><content type='html'>Sayang...aku baru sadar ternyata kita melangkah jauh&lt;br /&gt;meninggalkan detak detik kekasaran hati&lt;br /&gt;sementara aku dan kamu masih merasakan sendiri&lt;br /&gt;kekerdilan pikiran, kesombangan hati&lt;br /&gt;terhanyutkan hembusan angin dari pohon&lt;br /&gt;setiap jalan jauh kita lewati&lt;br /&gt;menyongsong matahari menyambut bulan&lt;br /&gt;menemani bintang, itu yang kita kerjakan&lt;br /&gt;sayang...&lt;br /&gt;aku berpuisi atau aku menyanyi&lt;br /&gt;mengudarakan kepingan-kepingan masa lalu&lt;br /&gt;sementara masih jauh permukaan masa depan&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susunan kata-kata Eta masih bisa kulihat setiap saat. Selalu kuamati dan masih berdesir perasaan ini padanya. Kegagalan selama ini bagi setiap orang selalu menjadi penyakitan. Kesalutan pertama dari sekian banyak yang aku banggakan dari seorang Eta, adalah caranya menyikapi kegagalan. Kegagalan tak membuatnya takut akan kegagalan berikut, tapi membuat dirinya menjadi seorang yang futuristik. Eta tak mencoba-coba bermain dengan perasaannya sendiri. Penentuan perasaan berangkat dari setiap kesempatan yang selalu datang. Suatu pertanda keinginan, tak mesti selalu menjadi beban.&lt;br /&gt;Sekarang Eta bilang, aku menjadi orang baik. Kehadiran unsur-unsur baik melepaskan setiap prasangka dan tindakan keragua-raguan. Aku merasakan sendiri ketakutan akan kehilangan sosok seseorang pada diri Eta. Padaku Eta mengajarkan bagaimana seharusnya bersikap realistis. Sekarang malah terjadi kebalikan, aku berpikir dengan hati dan Eta dengan logika. Terakhir Eta bicara tentang sikap orang tuanya. Cita-cita yang mulia, masih bisa diwujudkan. Untuk tempat yang lebih jauh, cita-cita merubah peradaban, mempengaruhi persepsi orang lain.&lt;br /&gt;Dalam waktu yang tak panjang dalam kebersamaan kita, aku dan Eta mengalami banyak hal. Pergolakan-pergolakan emosi, pertikaian-pertikaian hati, permainan-permainan kata, hingga rasa. Membuat kita banyak belajar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-2609754712850655593?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/2609754712850655593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=2609754712850655593' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/2609754712850655593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/2609754712850655593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/05/terus-berjalan.html' title='Terus Berjalan'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-201339497141129374</id><published>2008-05-14T23:16:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T06:41:35.710-07:00</updated><title type='text'>Sedikit dan Belum Selesai</title><content type='html'>Pantai Baron dan Dona&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosesi pengenangan untuk Dona selesai. Malam menjemput, aku dan Eta hadir di tengah gelapnya lautan. Di bibir pantai ku tautkan bibirku dengan bibirnya. Romansa yang dipenuhi hembusan angin membelai lembut kita berdua. Tapak kaki kita mencengkram keras pasir-pasir, pantai menghadirkan sensasi yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita meraba-raba di tengah kegelapan mencari motor. Mungkinkah hilang? Tadi parkir dimana? Aku sudah cemas duluan, menghilangkan nafsu makan. Akhirnya ketemu juga, hehehe...Kita bergegas meninggalkan pantai Baron, tempat dimana dulu Dona pergi dan tak akan pernah kembali. Perjalanan pulang kali ini lebih tidak mengenakkan. Gelap, hanya sesekali berpapasan dengan orang lain, hanya lampu kendaraan yang memberi kami petunjuk harus kemana. Sepanjang jalan tak habis-habis pohon-pohon pinus menyapa kehadiran kita. Memberikan kesan mistis yang sangat. Lama sekali hingga kita baru menyentuh daerah perkotaan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dunia begitu sempit, saat menanyakan jalan ke Jogja. Jalan di Wonosari bercabang dan membingungkan, ini karena pertama kalinya aku ke sini. Meminimalisir kemungkinan melenceng jauh dari jalan yang sebenarnya, aku bertanya ke bapak-bapak di pinggir jalan. Hoho... logat bahasa Indonesia sangat aku kenal dan tak asing di telinga. Belum beberapa patah kata dia berujar, aku langsung menebak dia orang Padang. Hmm... tak salah, tanpa komando kita langsung terhanyut berbahasa minang di tempat yang begitu jauh dari daerah asal kita. Aku merasakan unsur-unsur persaudaraan yang begitu kental, rasa senasib sepenanggungan. Rasa rindu kampung halaman bahkan sekaligus rasa muak. Petunjuk yang begitu jelas hingga kepuasan ini terasa lebih dari segalanya. Aku dan Eta tak akan membuang banyak waktu karena perjalanan pulang ini belum akan selesai. Kita pamit pada bapaknya, aku sempat berjanji kalau aku ke sini lagi, aku akan menyempatkan waktu mengunjunginya.&lt;br /&gt;Kita berhenti untuk makan, tidak enak sekali. Sangat tidak enak, aku menyesal memilih tempat itu. Dari luar sepertiya bagus dan nyaman. Mahal sekali dan aku berpikir apakah ini tak terlalu kapitalis sekedar untuk makan. Kalau mahal tapi enak tak apa, ini tak sama sekali. Eta agak gila, karena kesal dia mengambil remote tv rumah makannya. Kebetulan kita duduk dekat tv. Eta mengganti saluran tv, memperbesar volume hingga sekeras-kerasnya. Hanya kita berdua di sana, sebelumnya ada sebuah keluarga bapak, ibu dan tiga anaknya. Setelah mereka pergi, rumah makannya menjadi milik kita. Aku mengangkat kaki tinggi-tinggi, membuang abu rokok di lantai. Kotor sekali! Aku mau mencuri asbak, tapi dilarang Eta, asbaknya jelek dia bilang begitu. Tak habis kita pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argo Dumilah mengubah semua kekesalan kita. Sedikit membuat emosi dan kepenatan mereda. Baru pertama kalinya aku di sini. Bagus sekali, Jogja penuh dengan lampu-lampu malam. Berkedip-kedip seakan melawan terang satu-satu bintang di atas langit sana. Lesehan di sebuah warung, menikmati pemandangan jauh di bawah sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang sedang berada di...apa namanya?"&lt;br /&gt;"Argo Dumilah"&lt;br /&gt;"Salah satu tempat objek wisata di Jogja ya?"&lt;br /&gt;"Bukan sih kalau objek wisata itu kan ada tiket masuknya, apa ya?"&lt;br /&gt;"Tempat yang fashionable"&lt;br /&gt;"Tempat yang enak banget, tempat dimana kita bisa melihat Jogja dari bukit, dari apa namanya?"&lt;br /&gt;"Dari daerah ketinggian, disini itu kita bisa melihat lampu-lampu hmm...banyaklah pokoknya, jadi kelihatan eksotis"&lt;br /&gt;"Eksotis..."&lt;br /&gt;"Trus paling  ujung ke oranyean-oranyean gitu nah"&lt;br /&gt;"iya an ya?oranye mah karena lampu gitu an, kaya senja gitu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelumit rekaman perbincangan dengan Eta, tak lengkap memang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-201339497141129374?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/201339497141129374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=201339497141129374' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/201339497141129374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/201339497141129374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/05/sedikit-dan-belum-selesai.html' title='Sedikit dan Belum Selesai'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-6593580020125290121</id><published>2008-05-14T23:14:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T06:42:39.483-07:00</updated><title type='text'>Hanya Ketidakjelasan Makna</title><content type='html'>Hawa perkuliahan kembali terasa selasa, 29 April jam 1 siang. Filsafat Komunikasi, mata kuliah saat itu membuat euforia keinginan untuk menimba ilmu kembali meluap-luap. Pekan-pekan yang membosankan sebelumnya hilang pada hari itu. Biasanya hanya berangkat ke kampus, dosennnya datang telat. Lalu mengisi kuliah dengan beberapa penjelasan singkat. Tak pernah habis waktu untuk 2 sks yang telah ditetapkan. Selalu pulang lebih cepat. Kemungkinannya sibuk sekali seorang profesor seperti bapak Lasyo ini. Sehingga mengampu kuliah tak pernah maksimal.&lt;br /&gt;Presentasi kelompok, yang telah diberi tema para filsuf dan teori komunikasi kefilsafatannya inilah yang membuat semua kekecewaan tadi hilang. Kelompok angkatan atas yang membuat segalanya berbeda. Berawal dari  seorang bernama Zen, nama lengkapnya tak diketahui. Ia mengajukan pertanyaan ketika salah satu kelompok yang presentasi melemparkan kesempatan bertanya, menambahkan atau mengulas kepada forum.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan saat itu adalah Ferdinand de Sausere dan teori filsafat komunikasi menurutnya. Sejauh yang aku tahu Zen aktif di Bulaksumur, media jurnalisme kampus. Menurutku dia seharusnya jadi dosen saja. Cara dia bertanya lebih kepada menjelaskan dengan sangat komprehensif. Usia dan kecakapan setelah beberapa lama bergumul dengan filsafat dan kehidupan? mungkin. Orang pintar di Filsafat setelah Rifki menurutku. Angkatan atas juga, entah telah menyelesaikan kuliahnya atau belum. Aku sebatas mengenal dia saja, dia juga kenal diriku tentunya. Kita sering berpapasan, dan melemparkan senyum sambil menganggukkan kepala dengan hormat. Berlanjut dengan aku menyapanya, dan terlibat percakapan formal yang pendek. Sejujurnya aku ingin dekat dengannya, mencoba berinteraksi lebih jauh, tapi tak pernah terjadi sampai sekarang. Yang membuatku bertanya-tanya adalah kenapa dia begitu padaku, sedangkan pada yang lain tidak. Aku agak terasa istimewa, apakah dia melihat sisi kecerdasanku?hahaha.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-6593580020125290121?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/6593580020125290121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=6593580020125290121' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/6593580020125290121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/6593580020125290121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/05/hanya-ketidakjelasan-makna.html' title='Hanya Ketidakjelasan Makna'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-862695703150566995</id><published>2008-05-14T23:12:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T06:43:09.029-07:00</updated><title type='text'>Di Dua Puluh Tiga Maret</title><content type='html'>Dua anak manusia dalam perjalanannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya menemukan persamaan-persamaan yang membuat kita nyaman satu sama lain. Lalu berubah menjadi kegamangan-kegamangan yang membuat kita mengerti kalau semua ini harus dijalani sepenuh hati. Pertikaian-pertikaian hati, pergolakan-pergolakan emosi, penyadaran-penyadaran logika membuat kita pernah jauh dan saling mendekati. Kepribadian-kepribadian dalam perbedaan tak akan pernah terselesaikan . Semakin jauh kita melangkah semakin terlihat perbedaan-perbedaannya. Tapi semua sirna tanpa pernah kita kehendaki, pencarian-pencarian arti kehidupan? Perasaan kasih sayang kah?&lt;br /&gt;Jika aku melihat ke dalam matanya, aku menemukan sebuah jawaban dari oase selama ini. Jawaban atau pertanyaan? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan atau pertanyaan dari jawaban-jawaban? Aku ingin dia mengutarakan sesuatu...&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kepada ibu-ibu penjual pisang rebus beserta ubinya dan perlengkapan lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu, beli pisangnya, satunya berapa?&lt;br /&gt;"seribu!"&lt;br /&gt;"ha? satunya seribu?"&lt;br /&gt;"ndak, segininya seribu" sambil mengangkat dua buah pisang dalam satu tandan kecil&lt;br /&gt;"ya udah dua aja Bu,"&lt;br /&gt;"saya kasih ubinya satu "&lt;br /&gt;"makasih ya bu, hati-hati pulangnya!'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku melihat mata yang terkejut, ibu penjual pisang rebus merindukan suatu mas yang tak ada kepenatan. Ibu itu lelah dengan semua yang dia lakukan. Sayangnya tak bisa menikmati masa muda dengan layak. Aku melihat diriku, mengenakan kemeja cardinal seharga seratus tiga puluh ribu, dilapisi jaket murahan di barang second, menggunakan jeans bermerk lee, walaupun bekas tapi gaya sekali. Kakiku di tutupi sepatu quiksilver berwarna coklat. Terasa hangat, ibu itu hanya menggunakan sandal jepit tipis. Walaupun beralas kaki tapi bagiku tetap saja bertelanjang kaki. Diterpa dingin, dimainkan debu jalanan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-862695703150566995?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/862695703150566995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=862695703150566995' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/862695703150566995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/862695703150566995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/05/di-dua-puluh-tiga-maret.html' title='Di Dua Puluh Tiga Maret'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-5818682994038243936</id><published>2008-04-29T08:00:00.001-07:00</published><updated>2008-07-03T06:46:02.602-07:00</updated><title type='text'>Sehari setelahnya</title><content type='html'>Membaca koran Tempo yang sudah kadaluarsa sehari. Koran bertanggal 27 April 2008, Minggu. Baru aku baca hari ini, Senin. Pas hari minggunya aku sih sudah niat mau beli tapi sampai malam pun,hingga tak seorang penjual koranpun terlihat aku tak membelinya juga. Ternyata aku terkaget-kaget setelah baca di halaman C1 dalam halaman profil. Ada foto seorang penulis katanya, Judulnya Dari Buku, ke Blog, lalu ke Buku. Profil Raditya Dika, susah amat mengetik namanya. Berita di paragraf awal, dan aku rasa metode penulisan profil ini menggunakan metode paragraf deduktif. Raditya Dika mengeluarkan buku ke empat alias terbaru. Entah kebetulan aku sedang membaca buku pertamanya, hihihi baru baca sekarang dengan sepenuh hati. Dulu sih pernah tapi tak begitu menghayati. Buku yang sangat lupus sekali ini meminjam dari seorang teman. Aku agak lupa pernah baca secara lengkap, buku ke dua atau ketiganya? Soalnya agak mirip-mirip gitu judulnya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin bisa dicari kemiripan dan jangan cari perbedaannya. Jelas sekali berbeda sih, tapi aku kok menemukan kesamaan judul. Agak sulit membedakannya. Ah pusing! Buku ke dua: Cinta Brontosaurus. Buku ke tiga: Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa. Sepertinya yang ke tiga deh,tapi entahlah. Buku ke empat dengan judul yang sangat aneh: Babi Ngesot: Datang Tak Diundang, Pulang Tak Berkutang. Aneh sekali, dan aku akan meminjam kepada orang yang ku kenal, tanpa sedikit pun membelinya. Aku berencana untuk mengoleksi buku-bukunya Pramudya Ananta Toer. Itu prioritas utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O ya, jadi begini. Sangat menyejukkan sekali kata-kata Raditya Dika dalam profilnya di Tempo itu.&lt;br /&gt;- Radith rutin menulis satu jam sehari sebelum tidur. Meskipun kadang hasilnya buruk, itu   lebih baik daripada tidak sama sekali. "Menulis itu harus diasah dengan pembiasaan,"    katanya.&lt;br /&gt; Dalam menulis, Radith tak percaya pada mood. "Orang yang bilang menunggu mood     sebenarnya alasan untuk tidak menulis," katanya. Bahkan ketka tak ingin menulis,     Radith mengungkapkan perasaannya itu dengan menulis juga-&lt;br /&gt;Kata-kata terakhir itu sih sebenarnya yang menyejukkan. Menginspirasi setiap orang. tak terlalu berlebihan atau malah "lebay" sekali. Selamat saya ucapkan kepada Raditya Dika atas kemunculannya di koran Tempo minggu. Menurut saya sesuatu yang prestisius sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada berita lainnya, yaitu tentang Ahmadiyah. Kenapa harus Ahmadiyah? Karena saya akan membuat paper tentang Ahmadiyah. Sebagai salah satu tugas Filsafat Pancasila II yang diampu oleh dosen favorit saya Prof.Dr. Kaelan... Tak tahu gelar di belakangnya. Jadi saya akan membuat paper yang rancak, tidak tanggung-tanggung seperti biasanya, karena ini demi dosen favorit saya. Dulu saat kuliah Pendidikan Pancasila saya dianugerahkan nilai A. Dan paper yang saya bikin adalah satu dari tiga paper yang diminta olehnya langsung untuk dipresentasikan. Presentasi tunggal sangat menyenangkan. Banyak yang bertanya untuk penjelasan lebih lanjut atau sekedar mendebat pernyataan saya. Itu lebih baik, dan saya senang karena ada apresiasi dari forum. Biasanya banyak yang senang jika presentasi tak ada yang bertanya. Kemungkinannya ada dua, forum memperhatikan, mengerti dan paper kita sangat lengkap dan sempurna, jadi tak ada yang perlu diragukan apalagi dipertanyakan. Atau forum tak memperhatikan, tak peduli, bahkan cenderung mengabaikan dan menganggap remeh paper yang kita presentasikan. Kebanyakannya, ya forum tak mengurus remeh temeh apa yang kita bicarakan. Menyedihkan bukan? Karena alasan itu lah akhirnya saya mendaulat beliau sebagai dosen favorit saya. Eta pernah mengikuti kuliahnya. Dan saya berencana mendapatkan nilai A di akhir semester untuk kuliah Filsafat Pancasila II.&lt;br /&gt;Sebelumnya saya ingin membahas dan menganalisis tentang BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) tapi tak jadi. Karena saya tak punya buku refensi tentang kasus BLBI. Dulu ada seminar tentang BLBI bersama Marwan Batubara, setiap peserta diberi buku tentang BLBI karangan Marwan Batubara tersebut. Saya sengaja datang terlambat dan tak masuk ruangan seminar, karena saya mau mengurus dan menunggu di luar saja. Kebetulan yang mengkoordinasi BEM KM UGM. Setelah seminar selesai menteri Humas dan Media BEM kelihatan memiliki buku itu. Sekarang kalau mau pinjam rasanya tak enak, soalnya saya sudah nonaktif di BEM. Terakhir membaca bukunya Marwan Batubara adalah tentang kasus blok cepu. Sepertinya itu, tapi saya ragu lagi. Hmm...mungkin tentang Exxon Mobil (benar ga tulisannya, agak lupa gitu), kayaknya. Dia berhasil menggugah semangat nasionalisme saya. Kalau untuk mencari referensi berita di koran mungkin bisa dikumpulkan, lagian di situs berita tak sulit untuk mengumpulkannya. Masalahnya sekarang, aku butuh buku referensi.&lt;br /&gt;Berhubung dari tahun lalu aku punya satu buku tentang Ahmadiyah, judulnya Teologi Kenabian Ahmadiyah, ditulis oleh A. Fajar Kurniawan. Menurutku bukunya cukup komprehensif dan objektif dalam menelaah aliran Ahmadiyah. Akibatnya beberapa minggu ini, setiapa membaca koran mataku jarang luput dari tulisan Ahmadiyah. Salah satunya ya di koran Tempo ini. Sebenarnya hanya cukilan berita dalam Majalah berita Mingguan Tempo untuk edisi 28 April - 1 Mei. Wawancara dengan Amien Rais: Ahmadiyah punya hak hidup. Karut-marut persoalan Ahmadiyah memasuki babak baru setelah Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat menerbitkan rekomendasi bahwa organisasi itu menyimpang dari islam dan diminta menghentikan kegiatannya. Pemerinah sedang menggodok keputusan untuk menindaklanjuti rekomendasi itu. Di tengah pro dan kontra yang kembali bergulir, bekas Ketua Umum Muhammadiyah Amien Rais menawarkan jalan tengah karena Ahmadiyah punya hak hidup.&lt;br /&gt;Yah kira-kira begitulah, dan sepertinya aku akan membeli majalahnya. Aku jadi sedikit berfikir kalau manusia punya hak untuk hidup, berarti juga punya hak untuk mati! Untuk mati kapan saja sepertinya tak mungkin. Sama seperti kelahiran dan kehidupan manusia tak punya pilihan untuk dilahirkan dan dihidupkan. Tiba-tiba saja hadir di dunia. Manusia juga tak punya pilihan untuk mati sesuai keinginan, maksud saya menentukan hari kematian. Tak bisa menunda sedikit waktu barangkali. Tapi bagaimana dengan bunuh diri? Manusia bisa menentukan kapan dia akan mati. Ada pengaruh yang menghalangi jika akan bunuh diri, benarkah? Kalau tuhan belum mengizinkan (bagi yang percaya tuhan) maka belum akan mati. Beberapa saat yang lalu aku sempat menonton Long Road To Heaven. Cerita tentang kasus bom Bali. Cukup menarik, dan aku tertarik pada eksekutor pemboman di depan Sari Club tersebut. Guncangan, pertikaian dan permainan moralitas apa yang berkecamuk dalam diri mereka. Ada dua orang. Entah filmnya sama persis dengan kejadian sebenarnya aku juga masih ragu. Tapi untuk membuat film, apalagi seperti ini tentu membutuhkan riset yang sangat kuat dan mendalam. Terlepas dari kebenaran jalan cerita dan kejadian pastinya, tapi film ini menyajikan sisi lain. Seorang supir taksi yang penuh dengan penderitaan mendalam kehilangan saudara. Kebencian yang sangat pada pelaku pemboman, tapi menerima kenyataan dengan sebaik-baiknya cara. Wartawan luar negeri yang gigih meliput berita kasus sidang salah satu pelaku pemboman. Bule yang sangat benci pada pribumi. Pelaku kesehatan yang panik. Banyak hal yang menarik di film ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-5818682994038243936?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/5818682994038243936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=5818682994038243936' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/5818682994038243936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/5818682994038243936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/04/sehari-setelahnya.html' title='Sehari setelahnya'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-3158499551277043640</id><published>2008-04-29T07:56:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T06:45:40.824-07:00</updated><title type='text'>Dona dalam kenangan semua Orang</title><content type='html'>Minggu, 27 April 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita masih belum tahu mau apa di rumah siang-siang. Mungkin kita akan ke pantai, sejenak untuk refreshing. Kita tak langsung bergerak, masih menyempatkan diri untuk bermalas-malasan. Pukul tiga lewat barulah kita bersiap-siap itupun buru-buru, Eta menyempatkan diri untuk mandi, katanya cuma gebyar-gebyur sebentar saja karena gerah sekali. Ke rumah seorang teman pinjam duit. Eta mengeluh karena masih pilek, dan harus minum obat. Kita singgah di apotik K-24 beli obat. Di ujung jalan Gejayan sehabis dari pasar yang dipinggir jalan itu, beli makanan ringan dan air mineral, Eta tak bisa langsung telan obatnya, harus ada makanan yang menyertainya. Di toko makanan, sepertinya usaha orang Cina, aku masih sempat tanya-tanya jalan ke pantai Baron pada orang-orang di situ. Aku belum pernah ke Baron, Eta pernah tapi lupa jalanya. Sedikit petunjuk: lewat Janti, Ring Road, nanti ada Kids Fun, lurus saja. Perempatan ke dua setelah perempatan Blok O ada pos polisi. Aku tanya polisi, dikasih tahu bagaimana menuju pantai Baron. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perasaanku tak enak terhadap polisinya, pernyataannya tentang Baron itu jauh sekali dan bertanya apakah akan menginap membuat tak nyaman. Bertanya ke polisi tak harus menyertakan uang pertanyaan kan? Di perempatan itu belok kiri, dan lurus saja. Nanti sampai di Wonosari belok kanan. Petunjuk ke Baron sangat jelas tak akan sulit menemukannya. Jam 4 kita meninggalkan Jogja. Tolol sekali hampir 2 tahun di Jogja aku tak tahu jalan ke Baron. Perjalanannya jauh sekali, medannya berat dan berliku, naik turun, jalannya kecil, berbelok-belok. Jauh sekali, mungkin karena belum pernah kali ya? Akhirnya sampai di Wonosari setelah melewati perbukitan. Di pinggir jalan ada pasar, aku membeli kembang dua ribu rupiah. Banyak! sekantong plastik kecil. Perjalanan dilanjutkan, menurut petunjuk mbah-mbah penjual kembang, sebenarnya bukan mbahnya yang bilang  tapi wanita misterius di sampingnya. Katanya nanti ketemu toko Amigo, belok kanan, lurus saja. Sepanjang jalan tak hentinya aku melihat tugu kecil kuning di pinggir jalan. Kalau tugu itu direbahkan seperti tenda pramuka. Berisi petunjuk jarak yang harus ditempuh hingga ke tempat tujuan. Masih ada sekitar 20 km lagi. Alamak! masih jauh.&lt;br /&gt;Aku melayang, berpikir, tak habis pikir. Dona jauh sekali mainnya, sampai sejauh ini. Aku hanya memikirkan itu dari tadi. Akhirnya sampai di pantai Baron. Kesan pertama ku terhadap pantai yang jauh sekali ini, Eksotis dan Mengerikan. Ada aliran sungai di pantai itu. Aku sedikit coba mencicipi airnya, ternyata tidak asin, kok tawar ya? Mungkin air sungai, aku pengen coba air lautnya. Tapi untuk mencapai pinggir lautnya harus melintasi sungai. Kelihatannya tidak dalam tapi tetap aja takut. Keinginan itu tak pernah terwujud mungkin suatu saat nanti kalau ramai-ramai. Sore yang indah di tepi pantai, tubuh kita diterpa angin laut yang sejuk. Sayangnya mendung walaupun di ujung langit masih agak terang kemerahan. Mungkin kalau tak terhalang bukit karang matahari sorenya masih terlihat. Otomatis tak ada sunset. Aku ingin sekali melihat sunset, bersama Eta. Kita naik ke salah satu bukit karang, dari kejauhan terlihat mercusuar yang sudah berputar-putar memancarkan cahaya ke seluruh penjuru. Tak terlalu terang sih sebenarnya. Sangat tak terang, tapi bagus. Naik ke bukitnya kita menapaki tangga bambu. Seperti naik gunung, walaupun hanya beberapa ratus meter. Kita memilih duduk di atas batu. Merokok di pantai itu enak. Sampai malam dan kegelaoan menjelang kita masih di sana. Mataku tak terpuaskan karena tak bisa memandang laut lepas. Saat kita turun, ternyata melenceng agak jauh dari tempat kita naik tadi. Agak aneh, dan memang gelap sekali. Untung tak tersesat jauh, tak terbayangkan kalau sampai memutari bukit, tak turun-turun. Yang ada dalam kepala saat kondisi mencekam itu mencari jalan ke bawah. Semakin ke bawah semakin baik. Semakin gelap. Lega sekali akhirnya menyentuh permukaan tanah di laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu mengantarkan kepada prosesi mengenang 40 hari kepergian Dona. Aku berdiri di pinggir air laut, memandang jauh ke depan. Memasrahkan diri, mengingat wajah Dona, menggali setiap kejadian yang pernah kita lalui. Di tempat ini, Dona menghembuskan nafas terakhirnya, di pantai Baron. Digulung ombak yang tak dapat di tahan. Ombak-ombak menari di depan mata, mencoba melahap apa saja yang menghalanginya. Di tempat ini, setelah melewati jarak yang jauh dari Jogja, melewati bukit dan desa-desa. Dona bersiap-siap melepaskan semua kepenatannya, Dona pergi setelah melalui jalan panjang yang melelahkan, pencarian arti yang sebenarnya. Dia kembali padaNya, mohon ampun atas dosanya. Siang yang memasuki malam, malam yang memasuki siang. Tubuhnya telah dimasuki air dan bercampur dengan pasir pantai ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Fatihah...&lt;br /&gt;Allahummaghfirlahaa, Warhamhaa, Wa'afihi Wa'fuanha, Wa'akhrimm nuzullahaa, Wawasyi'madqallahaa, Waja'alil Jannata mashwahaa...&lt;br /&gt;Allahummalatahrimna Ajrahaa, Whalataftimna ba'dahaa, Wagfirlanna Walahaa...&lt;br /&gt;Ya Allah hari ini aku di sini mengenang Dona, Empat puluh hari waktunya telah berlalu, setelah kembali padaMu. Berikanlah kelapangan tempat baginya di sisiMu. Ampunilah semua dosanya, karuniakan baginya sorgaMu. Tunjukanlah bagi kami yang masih menunggu hariMu jalan yang benar, jalan yang Engkau ridhoi, termasuk dalam golongan orang-orang yang beriman.&lt;br /&gt;Bersama Eta, Ori, Adik, Gepeng, Heru, Rezi, Ginda, Dena, Esa kami di sini mengenang semua tentang Dona...Semoga damai di sana&lt;br /&gt;Amiin..&lt;br /&gt;Al-Fatihah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuserakkan kembang di tempat ku berdiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-3158499551277043640?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/3158499551277043640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=3158499551277043640' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/3158499551277043640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/3158499551277043640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/04/dona-dalam-kenangan-semua-orang.html' title='Dona dalam kenangan semua Orang'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-968821525495956456</id><published>2008-04-29T07:50:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T06:53:40.355-07:00</updated><title type='text'>Lomba Menulis sms Cepat</title><content type='html'>Tanggal 25-29 April di Mandala Bhakti Wanitatama ada pameran buku dan teknologi informasi. Aku dan Eta telah kesana pas hari pertama, bukan saat pembukaaan tentunya. Selepas maghrib kita sudah mengitari tempat tersebut, rencananya Eta akan membeli buku tentang matematika komputer. Ha? kira-kira begitulah. Pastinya aku juga tak tahu konkrit bukunya seperti apa. Tidak judulnya, tidak juga pengarangnya, tidak juga penerbitnya. Sampai semua stand dikunjungi buku yang diinginkan tak juga bertemu. Malah pusing, karena jalannya mutar-mutar. Lumayan bagus, buku-buku di pamerannya. Sayang aku sedang tidak "berpunya" saat itu. Sangat-sangat tidak berduit. Bahkan satu kos-an semuanya dilanda kemiskinan. Bokek berjemaah seperti diungkapkan seorang teman, yang dengan penuh keprihatinan mengutarakan kata-kata yang sangat menyakitkan itu tentunya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya kalau masih ada dua orang, bahkan mungkin satu orang saja yang punya duit berlebih sehingga dapat dipinjami. Orang itu tentu sangat bahagia mungkin, karena punya banyak piutang dimana-dimana. Salah satu cara menabung yang baik adalah meminjamkan uang kepada teman. Anggap saja kita menyimpankan uang kepunyaan kita kepada orang lain, dan suatu saat akan balik lagi. Walaupun dalam jangka waktu yang lama, syukur-syukur sebentar. Tak apa, sesuai prinsip awal anggap saja menabung. Tapi sepertinya jadi masalah jika kita juga mencari utangan ke teman yang berbeda. Utang ditagih, dan berharap-harap cemas, piutang kita akan dikembalikan. Malah jadi gali lobang tutup lubang.&lt;br /&gt;Karena itulah akhirnya tak bisa membawa pulang dua atau tiga buku dari pameran ini, sampai pameran ini selesai, sepertinya tak akan ada buku tambahan. Pameran buku adalah saat dimana kita mendapatkan buku-buku murah. Harganya sedikit lebih murah dibanding di Toga Mas, dan yang pasti lebih murah dibandingkan GRAMEDIA. Tapi malam ini sepertinya sama saja, tak berbeda jauh. Mungkin yang dapat dibanggakan dari suatu pameran adalah kita dapat mencari buku yang jadul sekali. Buku yang sangat lama. Buku yang sudah bertahun-tahun di lemari dan berbau ngengat. Bau buku seperti itu khas sekali, seperti pertama kali membuka roti kaleng dari plester yang membalurinya, lalu dicumbu dengan sepenuh hati. Di Padang namanya roti kaleng, di Jawa aku tak tahu. Soalnya belum pernah beli. Suatu saat aku akan membelinya bersama Eta.&lt;br /&gt;Sepertinya membeli buku komputer itu harus yang terbaru, semakin baru semakin baik dan lengkap. Beda agaknya dengan membeli buku sosial humaniora. Semakin dulu kala semakin dicari, jika didapatkan hati akan berbunga-bunga. Buku Madilog, Tan Malaka ku belum kembali, tertinggal bersama seorang seniorku waktu SMP dan SMA. Aku merasakan gelagat dia tak akan mengembalikan bukunya. Jikalau sempat aku pulang aku akan melacak keberadaannya dan meminta buku itu kembali. Bukunya kan susah dicari!!!!!!!! Aku mendapatkannya juga dari turunan seseorang yang tak pernah kukenal. Mungkin aku keturunan kesebelas dari pemiliknya pertama dulu. Aku mencoba membantu Eta mencari buku yang dibutuhkannya itu. Penerbitnya apa? Andi Offset jawab Eta. Mohon maaf kalau terdapat penulisan nama dan gelar. Andi Offset punya stand yang lumayan luas, dan dijejali banyak buku. Tak satupun buku daripada kebutuhan Eta. Kalau penerbit buku teks wajib zaman SD, apa hayo?? Benar jika ada yang menjawab Balai Pustaka. Di SMP pun masih ada sepertinya. Buku balai pustaka tidak dijual dan diperbelikan. Milik Pemerintah. Setiap tahun ajaran baru buku bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial dipinjamkan perpustakaan sekolah. Saat aku SD masih dipakai, SD zaman sekarang tak tahu. Banyak buku Erlangga atau Grasindo, atau apalah. Sepertinya agak bagusan. Sebelum penerimaan raport buku yang di tempatku disebut buku wajib itu harus dikembalikan lagi ke perpustakaan dan mendapat imbalan secercah kertas tanda bebas pustaka. Fungsinya untuk mengambil raport. Waktu aku SMP ditambah dengan menjilid soal-soal ujian saat Ujian Semester. Menyebalkan sekali kelihatanya dari sekarang. SMP dan SMA dendam ku terhadap buku teks pelajaran yang bagus semakin menjadi-jadi. Tak dapat ditahan-tahan akhirnya aku mencuri buku-buku di perpus, tak hanya buku Balai Pustaka tapi semua buku yang bagus menurutku. Kebanyakan sastra dan roman-roman lama. Chairil Anwar, Hamka, Mochtar Lubis, Nur.ST Iskandar, Marah Rusli, Sutan Takdir Alisjahbana dan kolega-kolega penyastra lainnya aku tawan di rumah. Putu Wijaya dan Taufiq Ismail lainnya tak luput dari target operasi Intelectual  crime ku. Aku berdalih kenapa bukunya tidak diperjualbelikan, kalau dijiual pasti aku beli. Karena tak dijual aku curi saja. Dan bukunya kan tak cuma satu, ada beberapa eksemplar, sekolah tak akan rugi. Itu hanya hipotesa dariku, sebenarnya aku sadar sekali tindakan ku salah. Karena aku belajar di filsafat aku ragu itu salah apa benar. Tapi esensi dan fungsi filsafat adalah mencari kebenaran. Aku belum betul-betul mendapatkan "berfilsafat". Dengan kekerasan hati aku belum bilang itu salah. Dan belum berhak juga mendapat hukuman. Elegan sekali gaya dan penampilanku saat melakukan aksi pendosa itu. Dengan tatapan khas ku, dengan tidak banyak omongku, dengan ke-Rangga-an ku, dengan ketakutan-ketakutanku, dengan semua ketidakpercayaanku pada semua orang di sekolah terlebih di SMA aku melangkah anggun dengan buku yang kuselipkan di dalam celanaku. Rasakanlah! hahaha! Aku melihat dalam bayanganku, cara menatapku dulu sama dengan tatapan Eta sekarang. Penuh ke-skeptis-an. Indah, indah sekali. Eta ditambah dengan cemberut di bibir mungilnya. Eta cantik sekali. Aku pernah bilang ke Eta "Ta aku panggil kamu SEA (laut) ya? nama panggilan untukmu dariku!" "kenapa?", jawab Eta. " Bagiku kamu itu seperti laut, lepas, luas dan tak bisa ditebak. Kamu penuh kedamaian selalu menyejukkan cocok lah kalau laut warnanya biru.Yang paling penting laut itu indah. Sama sepertimu di mataku" "Aku sebenarnya mau manggil kamu pantai, tapi sepertinya tak enak diucapkan. Beach kan bahasa Inggrisnya. Nanti pengucapannya malah jadi bicth. Masa' aku panggil kamu bicth ".&lt;br /&gt;Dari awal saat melihat baliho dan spanduk Pameran Buku dan TI ini, aku dan Eta sudah berniat akan mengikuti training jurnalistiknya. Pada kenyataannya, telah diputuskan kita tak akan mengikuti pelatihan jurnalistik tersebut karena kontribusinya sangat mahal, lima puluh ribu rupiah. Kecewa, tapi tak terlalu, karena ini bukan yang terakhir kalinya, Jogja masih diantri untuk training-training berikutnya. Tapi hal ini mengajarkan hal penting bagiku, yaitu berhemat. Menabung dan berhemat, ya itu! Menabung sepertinya tak mungkin, apa yang mau ditabungkan? Semuanya cukup sampai kedatangan uang berikutnya, tak banyak berlebih. Tapi sepertinya bisa kok, ada titik terang di setiap keinginan. Sangat misterius jika tak bisa dibilang bisa. Eta bahkan juga akan menabung. Aku lihat di blognya, tulisan tentang menabung. Untuk selanjutnya setiap uang di tangan akan ada perincian yang jelas, anggarannya harus jelas jangan sampai kecolongan dan terombang-ambing seperti sekarang. &lt;br /&gt;Ada acara menarik dan kreatif sekali. Lomba menulis sms cepat, bagi pemenangnya akan disediakan hadiah menarik. Mudah-mudahan bukan payung cantik. Setelah aku dan Eta bertanya ke information. Kata informasi itu keren sekali. Mungkin sama dengan kata Kangen. Jadi Informasi=Kangen. Sebuah handhone adalah hadiah yang menarik itu. Sebuah handphone moto... Saya tak bisa menyebukan secara lengkap karena saya terikat kontrak dengan Sony Ericsson sampai rusak. Mungin diperpanjang hingga masih bisa digunakan untuk sms atau menerima telfon, hmm kebetulan menelfon, sepertinya jarang sekali terjadi. Putus kontrak ketika keypadnya benar-benar tidak berfungsi lagi, speaker pecah sehingga suara tukang telfonnya bercabang tiga, atau layarnya sudah tak penuh. Temanku ada hpnya yang layarnya tak penuh. Setiap mengirim sms pasti bagian atasnya kosong, perkiraanku 3 kali memencet tombol ke bawah, informasi darinya baru kita dapatkan. Nah kadang informasi itu ada unsur-unsur ke-kangen-an. Akhirnya aku menemukan korelasi antara kata informasi dan kata kangen. Eta semangat sekali ingin ikut, sampai mau latihan dulu. Sekarang tanggal 28 April, besok hari terakhir pamerannya. Entah besok lombanya masih diadakan atau tidak aku tak tahu. Kesempatan terakhir adalah besok, selasa 29 April 2008. Eta sepertinya tidak terobsesi pada pencapaian tercatat dalam rekor MURI sebagai pembuat sms tercepat. Eta itu orangnya penasaran, dan suka hal-hal yang lucu. Yah salah satunya ini, lomba sms tercepat. Tak terbayangkan betapa menggemaskannya jika Eta jadi mengikuti lombanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-968821525495956456?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/968821525495956456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=968821525495956456' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/968821525495956456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/968821525495956456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/04/lomba-menulis-sms-cepat.html' title='Lomba Menulis sms Cepat'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-2877025121644595339</id><published>2008-04-29T07:45:00.001-07:00</published><updated>2008-07-03T06:48:50.917-07:00</updated><title type='text'>Solo ke 2</title><content type='html'>Ke Solo lagi bersama Eta. Tiba-tiba aja, walaupun hampir tak jadi.Menurutku tak akan jadi masalah kalau di antara kita mengerti satu sama lain. Penyatuan persepsi itu terkadang memang sulit, perbedaan mendasar berputar-putar dalam ke-bias-an.&lt;br /&gt;Aku hanya berusaha mendorong Eta untuk lakukan apa yang diinginkan. Tak akan seperti pungguk merindukan bulan, karena apa yang diinginkan itu dekat sekali, tak terlalu jauh. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hanya kaki yang perlu di langkahkan lebih jauh. Sementara aku meninggalkan sesuatu diantara apa yang semestinya aku tinggalkan dan apa yang seharusnya tidak aku tinggalkan. Eta meninggalkan apa yang seharusnya dia tinggalkan. Faktor prioritas tentunya. Permainan-permainan perasaan terus saja belum tentu akan berakhir. Selalu mudah untuk memulai sesuatu yang baru. Kekuatan yang paling besar ketika bisa menghabiskan ketetapan waktu saat mengatasi ketakutan. Perasaan tak diterima dalam lingkungan, selalu ditolak untuk melakukan serangkaian kreasi-kreasi baru. Semuanya tertumpuk di pendaran idea-idea, mengkompromikan rasa dan kesempatan. Sangat sulit saat mentransformasikannya ke materi dan immateri.&lt;br /&gt;Konkritnya dulu aku punya keinginan untuk mengadakan sebuah musikalisasi puisi. Tak ada orientasi apapun, tak juga demi mencari sensasi, tak untuk penggalangan dan sosial. Sesekali kita juga harus berpikir pragmatis. Untuk mengadakan kegiatan kecil ini, dana yang dibutuhkan tak kecil. Kalaupun ada hasilnya, untuk menutupi ongkos pengadaan dan perlengkapan mungkin tak cukup. Keuntungan materi tak akan didapat. Lebih dari itu kepuasan ekspresi jauh lebih penting. Hal-hal yang memberi keuntungan kemudian dapat dianggap bonus saja.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-2877025121644595339?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/2877025121644595339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=2877025121644595339' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/2877025121644595339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/2877025121644595339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/04/solo-ke-2.html' title='Solo ke 2'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-6812982156922367870</id><published>2008-04-29T07:41:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T06:51:59.668-07:00</updated><title type='text'>Aku</title><content type='html'>aku tak punya sikap sekarang, bukannya tak berani mengambil sikap tapi tak tahu harus bersikap. Yah terkadang dan seringkali hidup memang sangat aneh. Sudah dekat tapi selalu terasa jauh, sudah di sisi tapi seakan mati. Dia yang mengubah sedikit ritme kehidupanku. Aku bukan orang yang berada di jalan yang benar sebelumnya, dan bukan juga orang yang berada di jalan yang salah. Aku melaju di koridor yang ku tentukan sendiri, merasa tak pernah terombang-ambing, tapi mungkin saja sedang di oper kesana kemari. Selalu merasa jemu, selalu merasa ada yang kurang, selalu merasa belum tepat posisinya. Itu saat aku belum bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku menghadirkan diri dalam dirinya, dia menerobos jauh ke dalam hati. Apakah benar? Hanya dia yang tahu. Dia membawa kesejukan, membawa angin segar dalam hidupku. Dia menumpahkan sumpah serapahku, semuanya tanpa ada yang harus tersisa, untuk hari esok mungkin. Tapi tidak baginya, hari ini semuanya harus habis. Kegamangan-kegamanganku, dia mempelajari sesuatu untuk media pelajari itu.  Aku tak pernah menyelesaikan perkataanku, karena dia tahu apa yang akan aku katakan, walaupun aku agak mengecewakan seperti menghindari, tanpa perlu suatu pembahasan yang tak tergantung dalam bingung.&lt;br /&gt;Dia selalu benar, tak ada keegoisan, makanya aku semakin segan dan bertambah-tambah pemujaanku terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat suatu yang konkrit, saat dia memberiku makan. Dia memasakkan apa yang ku makan. Energi setelah aku makan aku transformasikan ke dalam formula-formula pikiran. Bagaikan sebuah jeruk jatuh dari pohon kelapa beberapa meter dari rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-6812982156922367870?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/6812982156922367870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=6812982156922367870' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/6812982156922367870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/6812982156922367870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/04/aku.html' title='Aku'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-1691477247479435237</id><published>2008-04-29T07:38:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T06:53:25.384-07:00</updated><title type='text'>Andrea Hirata</title><content type='html'>MP Book Point, Jalan Kaliurang, Yogyakarta&lt;br /&gt;19 April 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas shalat Isya, Andrea Hirata hadir di hadapan orang-orang yang mengeluarkan duitnya lebih dari dua puluh ribu rupiah untuk mendapatkan sebuah tiket demi pertemuan ini. Prosedurnya satu buku terbitan Bentang untuk satu tiket. Tanpa paksaan pun aku merelakan empat puluh ribu rupiah demi sebuah tiket, Eta lebih dari enam puluh ribu, padahal kondisi keuangan kita sekarang sedang sulit, kemungkinan sampai akhir bulan tak akan ada perubahan. Malam ini orang tua Eta datang, mudah-mudahan ada tambahan duit buatnya. Aku akan coba minta ke orang tua ku, dengan berbohong tentunya. Tapi sepertinya tidak, aku akan bilang untuk memperbaiki motor. Dan bukan kebetulan lampunya mati setelah acaranya selesai, sesaat meninggalkan MP Book Point. Hujan mungkin jadi penyebabnya. Sepertinya tak penting untuk dibahas.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak ada getaran yang istimewa. Tampang Andrea terawat, rapi, putih, tak ada bekas jerawat di wajahnya. Orang di depanku inilah yang pernah berpacaran dengan orang Jerman, Katya namanya. Oleh Katya dipanggil baby. Menurut Andrea sendiri Katya membuat dirinya merasa ganteng. Ceritanya ada di Edensor. Ketika ada yang menanyakan mana yang lebih cantik Katya atau A Ling, Andrea memilih A Ling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleeping Giant, menurutnya pembaca buku di Indonesia karakternya seperti itu. Kadang kala aktualisasi karya bisa menjadi snow ball effect. Kira-kira seperti itu. Dia berbicara melompat-lompat, tidak jelas arah tujuannya. Dia mengaku lelah dengan semua aktivitas dan jadwal yang diatur manajemennya. Kebosanan yang teramat sangat harus menghadiri semua undangan bedah buku Laskar Pelangi. Telah lebih setahun, ketika Laskar Pelangi mulai dihadirkan di sekolah, kampus, toko buku atau instansi pemerintah. Pertanyaan lucu ketika Andrea dicibir karena tak merasa di kapitaliskan oleh penerbit. Andrea menjawab dengan pembahasan tentang idealisme, idealis menulis tentunya. Kalau tidak ingin dianggap kapitalis, karena merasa menjadi penulis yang idealis, jangan pernah memberikan tulisan kepada penerbit. Tulis sendiri, terbitkan sendiri, baca sendiri. Terbitkan 10 eksemplar dan berikan pada teman. Eksklusive sekali karena diterbitkan untuk kalangan terbatas. Aku menangkap kesan emosional dari Andrea, dan sedikit basa basi tentunya dengan memberikan pujian kepada penerbit bentang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah teori pribadi Andrea akan benar. Dia mengungkapkan masa depan sasra berada di tangan ilmuwan, bukan sastrawan. Kalaupun Laskar Pelangi bisa disebut karya yang tendensius, Andrea mengharapkan setelah proses flmnya selesai. Satu-satunya harapan adalah saat penonton pulang ke rumah, lalu bercermin dan menyadari ternyata dia (perempuan) cantik. Pertanyaan-pertanyaan seputar film sama sekali tak banyak. Andrea hanya bercerita tentang peran buaya yang sampai sekarang belum ada yang mengisi. Bukan berarti buayanya diperankan manusia, tapi caranya bercerita tentang casting untuk mendapatkan buaya yang cocok untuk filmnya itu demikian lucu. Sama dengan caranya bercerita dalam novelnya. Udik, lugu, lucu, penuh kepolosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrea mencoba membawa kepada per-prasangkaan yang baik, ini hubungannya dengan pertanyaan apa Andrea tak  merasa dikapitaliskan penerbit. Dia memaparkan 40% penjualan sebuah buku diambil oleh outlet atau toko buku, hanya 10% untuk penulis dan 30%untuk percetakan. Sisanya yang 20% untuk penerbit. Andrea mungkin tak kapitalis dalam hubungannya dengan penerbit. Tapi kapitalis karena popularitas. Ini pengertiannya lain, konsekuensi sebuah ketenaran tentu kesibukan, tak bisa dihindari. Bahkan Andrea sempat hadir dalam acara Indonesian Movie Award belum lama ini. Bergandengan dengan Mira Lesmana mengumumkan nominasi dan pemenang sebuah kategori penghargaan. Andrea telah memasuki ranah selebritas. Jangan mengartikan arti kata kapitalis tadi dengan sempit. Hanya kekhawatiran Andrea berubah karena terkontaminasi dunia keartisan, hilang keluguan dan kesederhanaan. Kepedulian Andrea pada dunia pendidikan dan kemajuan bangsa mengatsi semua kemungkinan buruk. Betapa tidak, mungkin penting sekali saat Andrea bilang dunia buku jangan sampai seperti dunia televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang tak sempat diungkapkan, walaupun sudah ber-kongkalingkong dengan MC acara nya:&lt;br /&gt;- Bagaimana kondisi ibu sekarang? Saya dan tentu semua yang di sini ikut mendoakan ibu anda berangsur pulih dan baik-baik saja.        &lt;br /&gt;- Saya terkejut melihat kehadiran anda di Indonesian Movie Award kemarin. Selamat anda memasuki dunia selebritis. Hati-hati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada sesi book signing, selesai dan menutup kata-katanya Andrea berlalu kabur begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-1691477247479435237?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/1691477247479435237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=1691477247479435237' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/1691477247479435237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/1691477247479435237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/04/andrea-hirata.html' title='Andrea Hirata'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-1916218089579548350</id><published>2008-04-13T07:33:00.001-07:00</published><updated>2008-07-03T06:59:55.485-07:00</updated><title type='text'>Slank</title><content type='html'>Jiwa Slanker's ku terbakar saat melihat berita di TV siang ini, Rabu 9 April 2008. Anggota DPR memprotes lagu Slank yang dinilai mencederai kredibilitas lembaga rakyat tersebut. Lagu yang di permasalahkan adalah "Gosip Jalanan" didalam album PLUR. Bukan di kali ini saja Slank mengarang lagu yang mencoba melihat realitas dalam kehidupan dinegara, masalah sosial, politik dan fenomena dalam kelangsungan kehidupan bangsa ini. Sebelum Gosip Jalanan di album PLUR yang dirilis sekitar tiga tahun lalu itu, sudah ada juga lagu sejenis yang coba mengungkapkan kepedulian terhadap kondisi bangsa terkait dengan pemerintah atau "orang-orang di atas sana". "Hey Bung", "Feodalisme", "Birokrasi Complex" di album Generasi Biru(1994). Walaupun tak langsung mengenai titik "kesadaran" seperti lagu "Gosip Jalanan", setidaknya interpretasi dari tiga lagu di atas cukup untuk menjadi alat kritik.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan lirik lagu Gosip Jalanan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pernah kah lo denger mafia judi&lt;br /&gt;Katanya banyak uang suap polisi                   &lt;br /&gt;tentara jadi pengawal pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lo tau mafia narkoba&lt;br /&gt;keluar masuk jadi bandar di penjara           &lt;br /&gt;terhukum mati tapi bisa ditunda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tau mafia selangkangan&lt;br /&gt;Tempatnya lendir2 berceceran&lt;br /&gt;Uang jutaan bisa dapat perawan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kacau balau ... 2x negaraku ini ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang tau mafia peradilan&lt;br /&gt;tangan kanan hukum di kiri pidana&lt;br /&gt;dikasih uang habis perkara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa bener ada mafia pemilu&lt;br /&gt;entah gaptek apa manipulasi data&lt;br /&gt;ujungnya beli suara rakyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tau gak mafia di senayan&lt;br /&gt;kerjanya tukang buat peraturan&lt;br /&gt;bikin UUD ujung2nya duit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah gak denger triakan Allahu Akbar&lt;br /&gt;pake peci tapi kelakuan bar bar&lt;br /&gt;ngerusakin bar orang ditampar2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konser mini Slank di halaman gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tanggal 26 Maret 2008 pukul 13.30 tersebut membuat DPR sebagai lembaga legislatf meradang. Aksi konser grup Slank ini sengaja diadakan karena undangan dari pihak KPK untuk mengampanyekan anti korupsi. Salah satu bait lagu yang dianggap langsung menuding kehormatan DPR, ditanggapi oleh anggota DPR dengan akan mengajukan tuntutan terhadap Slank. Entah kenapa tuntutan itu urung dilaksanakan. Takut dengan massa Slank yang jutaan, takut dengan opini masyarakat yang sebagian besar mendukung Slank atau memang takut karena salah?&lt;br /&gt;Slank hanya mencoba memaparkan realita yang ada dalam kehidupan "bangsa" ini, kita tak usah munafik, tidak hanya Slank satu-satunya. Ada yang lebih vokal dan Vulgar mengejek kehormatan orang lain, yang coba menghancurkan integrasi bangsa ini. Bahkan yang berani menjual kehormatan bangsa! Slank hanya berkreasi dengan caranya sendiri. Salah dan tidak beradab menurut DPR, ajari Slank dan kami slankers untuk bisa beretika. Ajari diri untuk coba beretika, untuk lebih peduli kepada rakyat, untuk tidak jadi bebal, untuk tidak tidur waktu sidang rakyat, untuk tidak sibuk smsan menjalankan bisnis waktu sidang rakyat.&lt;br /&gt;Lalu melebar ke permasalahan kata-kata "selangkangan", "lendir". Salah satu anggota DPR heran dengan Slank yang dimanageri oleh seorang wanita berjilbab. Mempertanyakan apa tidak diajari untuk membuat lirik yang santun. Bertanya pada anggota keluarga, semua famili, menjalankan bisnis dengan halal, berusaha dengan jujur, tak korupsi, tak menginjak-injak kepentingan orang lain, tak mengorbankan orang lain, tak mencemari lingkungan, bertanya anak laki-laki apa tak menghamili perempuan, bertanya apa anak perempuan tak hamil di luar nikah. &lt;br /&gt;Ah pusing!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momen yang tepat saat hangatnya kasus ini, tiba-tiba ada anggota DPR yang ditangkap karena dugaan penyuapan. Seperti yang dibilang anggota DPR, biar masyarakat yang menilai lirik-lirik lagu Slank. Persepsi masyarakat langsung terbentuk saat hal ini terjadi. Percaya atau semakin tak percaya? Masyarakat disuruh menilai sendiri, hihihi... Topik minggu ini SCTV dalam fotingnya "apakah anda percaya Slank atau DPR?" 99,0.. memilih SLank, 0,.. DPR dan 0,.. memilih tidak tahu. Hmmmm... bagaimana ya? Album Plur tahun 2004, lirik lagu "Gossip Jalanan" ternyata terlalu eksplisit dan menyinggung etika, terang-terangan menohok kubu legislator.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-1916218089579548350?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/1916218089579548350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=1916218089579548350' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/1916218089579548350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/1916218089579548350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/04/slank.html' title='Slank'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-6429344724811660355</id><published>2008-04-13T07:29:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T07:00:09.974-07:00</updated><title type='text'>Selalu</title><content type='html'>aku tak punya sikap sekarang, bukannya tak berani mengambil sikap tapi tak tahu harus bersikap. Yah terkadang dan seringkali hidup memang sangat aneh. Sudah dekat tapi selalu terasa jauh, sudah di sisi tapi seakan mati. Dia yang mengubah sedikit ritme kehidupanku. Aku bukan orang yang berada di jalan yang benar sebelumnya, dan bukan juga orang yang berada di jalan yang salah. Aku melaju di koridor yang ku tentukan sendiri, merasa tak pernah terombang-ambing, tapi mungkin saja sedang di oper kesana kemari. Selalu merasa jemu, selalu merasa ada yang kurang, selalu merasa belum tepat posisinya. Itu saat aku belum bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku menghadirkan diri dalam dirinya, dia menerobos jauh ke dalam hati. Apakah benar? Hanya dia yang tahu. Dia membawa kesejukan, membawa angin segar dalam hidupku. Dia menumpahkan sumpah serapahku, semuanya tanpa ada yang harus tersisa, untuk hari esok mungkin. Tapi tidak baginya, hari ini semuanya harus habis. Kegamangan-kegamanganku, dia mempelajari sesuatu untuk media pelajari itu.  Aku tak pernah menyelesaikan perkataanku, karena dia tahu apa yang akan aku katakan, walaupun aku agak mengecewakan seperti menghindari, tanpa perlu suatu pembahasan yang tak tergantung dalam bingung.&lt;br /&gt;Dia selalu benar, tak ada keegoisan, makanya aku semakin segan dan bertambah-tambah pemujaanku terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat suatu yang konkrit, saat dia memberiku makan. Dia memasakkan apa yang ku makan. Energi setelah aku makan aku transformasikan ke dalam formula-formula pikiran. Bagaikan sebuah jeruk jatuh dari pohon kelapa beberapa meter dari rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-6429344724811660355?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/6429344724811660355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=6429344724811660355' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/6429344724811660355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/6429344724811660355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/04/selalu.html' title='Selalu'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-4877922231107094007</id><published>2008-04-05T01:23:00.001-07:00</published><updated>2008-07-03T07:00:48.122-07:00</updated><title type='text'>Being</title><content type='html'>Perjalanan hidup yang paling menggetarkan sampai saat ini sedang beputar-putar mengelilingiku. Tak pernah aku sangka akan mengalami banyak hal seperti yang aku hadapi sekarang. Semuanya berjalan tanpa pernah bisa aku bayangkan, jangankan untuk membayangkannya, memikirkannya pun tak pernah. Sungguh aku merasakan rasa sayang yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ada perasaan pasrah dan begitu tenang tentang semua ini. Aku merasa jiwaku telah menyatu sehingga tak sedikit pun berfikir tentang materi, substansi dan realitas semu. Yang ada aku sedang berada dalam realita-realita yang tak terjangkau, melebihi batas daya kemampuanku. Hingga suatu saat apakah aku akan menemui potongan mozaik-mozaik kehidupan atau tidak di suatu masa pada masa depan. Aku masih menatap ke depan jauh mengejar apa yang seharusnya aku cari.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di usia ku yang ke dua puluh sekarang, aku mencari-cari jawaban apakah sudah pantas waktunya padaku untuk menikah? Apalagi yang harus kucari dalam hidup ini. Itu dasar pertimbangan yang belum tentu benar jika aku tanyakan ke orang tua, atau sahabat-sahabat ku. Menikah tidak semudah yang pernah aku pikirkan tidak seperti yang pernah alami, walaupun sekian banyak pengalaman yang telah kulalui.&lt;br /&gt;Aku coba memikirkan aspek-aspek "kesulitan" itu. Tanggapan orang-orang di kampungku, apa yang mereka pikirkan kalau seandainya itu terjadi. Bisa-bisa mereka berfikiran kalau telah terjadi sesuatu denganku, untuk menutupi kekeliruan yang ku perbuat maka dilangsungkanlah pernikahan di usia yang masih sangat muda. Di belakang tentu ada pergunjingan tentang itu semua, bersusah payahlah orang tuaku menutup telinga dari panasnya bisik dan gosipan yang bakal tersebar luas. Kredibilitas keluarga baik-baik akan tercoreng dan betapa malunya orang tuaku atas apa yang aku perbuat.&lt;br /&gt;Masih bisakah aku untuk melanjutkan proses kreatif. Maksudku dalam hal ini adalah interaksi dalam organisasi. Sampai saat ini aku terlalu menikmatinya. Ternyata jiwa dan karakterku ada di organisasi. Katakanlah seperti BEM sekarang. Kalau aku menikah apakah semua ini akan menjadi penghalang dalam tujuan yang belum tercapai dan sampai pada akhirnya.&lt;br /&gt;Lalu kehidupan setelah menikah itu seperti apa, aku juga tak tahu. Tak pernah aku baca buku segala petunjuk ataupun kumpulan bunga rampai segala hal tentang pernikahan. Yang ku tahu, aku hanya melihat beberapa orang di sekelilingku. Sepertinya dari penglihatanku itu, begitu teraturnya hidup. Satu hal yang mengintari adalah tangung jawab. Pantaskah aku memikirkan ini semua? Aku semakin bingung, sangat bingung. Aku melankonis, aku patah, aku bodoh, aku akan ditertawakan orang di sekitarku. Tapi apakah ada kesalahan tentang semua ini? Dalam kepala ku sekarang terbayang untaian kata yang akan aku terima. Seseorang berkata padaku “aku saja yang dua, empat, lima bahkan tujuh tahun usianya di atas Mu, tak pernah punya pikiran untuk menikah. Ha? Sedangkan kau? Ada-ada saja kau, pantaslah kau bercermin! Selesaikan saja lah kuliah mu dulu! Sekolah yang benar! Orang tua Mu jauh-jauh menyekolahkan kau bukan untuk menikah, bukan untuk memikirkan hal yang demikian. Saranku, kau cuci saja otakmu! Kau coba pergi ke pantai, atau naik gunung. Siapa tahu kamu insyaf dengan pikiran bodohmu! Ingat orang tua Mu!" Atau&lt;br /&gt;“An, An, hahaha…pikiran Mu itu lo! Hahaha….mbok  yang benar-benar saja. Tapi diam-diam aku salut juga padamu. Kecil-kecil dah mau nikah. Hahaha…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat ketika aku dan Boeli ngobrol di bus pulang dari Cisalak. Aku tanya, “Boel, kenapa engkau nggak punya pacar?” “dilarang dokter,” katanya sambil senyum. Kami sama-sama tahu siapa dokter itu. Dia adalah perjuangan kami. Dengan Jopie juga aku pernah berdialog yang sama di Kebayoran. “Aku kira pada akhirnya kita harus memilih, apakah kita mau menjadi pastor atau domine. “Aku katakan pada dia bahwa aku tidak ingin punya pacar dalam keadaan sekarang, karena aku tidak ingin membawa pacarku dalam kehidupan keras dan kejam. Dan aku tak mau terikat, agar aku bisa terus dinamis. Aku hanya mau pacaran kalau dia mengerti dengan keadaanku. Bahwa bagiku perjuangan lebih penting daripada materi. Dan jika tidak kebetulan kita tak akan menemui wanita semacam ini. “Mungkin kita tak pernah cross path dengan wanita seperti itu”. Aku kemudian menceritakan tentang Ripto dan isterinya. “Mereka adalah mahasiswa Unpad. Rito adalah manusia tipe saya juga. Dan suatu ketika dia jatuh cinta dengan rekannya, seorang mahasiswi. Ripto berhasil mengubah sifat-sifat pacarnya sehingga pacarnya menjadi pendampingnya yang setia. Mereka sekarang sudah kawin. Pernah aku ketuk kamar tidur mereka jam dua belas malam karena ada suatu soal. Dan isterinya tidak marah. Ketika suaminya ditangkap karena soal-soal rusuh di kalangan mahasiswa, isterinya tidak mengeluh dan tetap tenang. Secara kelakar pernah aku katakan padanya bahwa aku iri padanya dan senag sekali kalau aku bisa dapat isteri seperti isterinya. Dan ia hanya senyum saja. Jopie terdiam, mungkin dia lagi in the mood (Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu aku pernah berdebat dengan Supardjo, seorang fanatik Katolik tapi bagiku baik. Aku mempertahankan bahwa tujuan perkawinan sebenarnya ialah nafsu. Mereka bukan hendak melanjutkan keturunan atau tugas dari Tuhan. Tapi hal itu dibantah dengan keras olehnya. Dia tidak mau mengakui bahwa wujud manusia tidak lebih tinggi dari anjing. Aku kira tak usah dijelaskan pendirian Supardjo kawanku yang baik itu. Karena pendiriannya umum dan sesuai dengan pendapat gereja Katolik.&lt;br /&gt;Aku kemukakan alasan-alasan sebagai berikut: Kalau kita bersetubuh apakah yang dipikir, puas atau keturunan. Aku yakin 99% memikir yang pertama. Bagiku mustahil pendirian yang kedua, walaupun aku tak sangkal. Perkawinan bagiku identik dengan perhubungan kelamin. Jadi identik pula dengan nafsu. Manusia itu sadar akan hal ini. Tetapi mereka malu dan segan mengakui fenomen ini. Mereka malu disamakan dengan kemenakannya. Jadi bagiku tak ada tujuan perkawinan buat apa yang disebut cinta dengan variasi-variasinya yang nonsens. Jadi perkawinan didorong oleh naluri biologis. Dia tak dapat membantah tetapi dia yakin kebenaran pendiriannya. Bagiku cinta bukan perkawinan. Kurang lebih 1-2 tahun yang lalu aku yakin bahwa cinta = nafsu. Tapi aku sangsi akan kebenaran itu. Aku kira ada yang disebut cinta yang suci. Tapi itu akan cemar bila kawin. Aku pun telah pernah merasa jatuh simpati dengan orang-orang tertentu, adan aku yakin itu bukan nafsu. Aku jadi ingat omongan si Bun Som. Dia pernah bilang bahwa dia punya kawan. Kawan itu jatuh cinta dengan gadis yang merupakan ideal type-nya. Lalu dia bilang pada Bun Som: “Aku tak mungin mengawininya, sebab kalau kau kawin aku tak tega menyetubuhinya. Paling banyak aku cium”. Dia tak mungkin mengadakan hubungan kelamin sebab baginya Ubermensh-nya (istilah yang dipopulerkan oleh filsuf Jerman Freidich Wilhem Nietzche (1844-1990) yang artinya seseorang superior yang diidealisir, manusia yang dominan yang diangap sebagai tujuan terakhir perjuangan untuk tetap hidup; seseorang yang memeliki kekuatan”superhuman”) suci dan mau dikotori. Aku yakin inilah cinta sejati (Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran).      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak aku telan mentah-mentah, sungguh aku merasa sangat tertarik. Kata-katanya begitu masuk menusuk. Interpretasi seperti apa, aku juga tak mengerti harus bagaimana menempatkannya. Yang jelas aku begitu menikmatinya. Aku masih ingat waktu bang Fahri Salam berkata padaku. Saat itu kita sedang duduk di kamarku, sayup-sayup mengalun lagu Belum Ada Judulnya Iwan Fals. Bang Fahri sempat berbicara seperti sedikit menerangkan tentang cerita di lagu itu. Lagu yang menumpahkan semua kegelisahan, kekecewaan, atau jangan-jangan mungkin ada sedikit pengkhianatan. “Bagaimana kalau kau bikin skripsi tentang lagu ini? Ya kau mesti mengkaitkan dengan unsur-unsur filosofis, jangan sampai melenceng jauh ke estetika sastra dan musik. Tapi jadikan sastra dan musikalitas itu sebagai koridornya” katanya padaku. Menarik aku pikir. “Kegelisahan dalam lagu Belum Ada Judul-nya Iwan Fals korelasinya dengan  aliran vitalisme Nietzche” hahaha judul yang menarik, menggugah semangat. Aku balik bertanya pada bang Fahri, “kenapa tidak kau saja yang menelitinya, bang?” “Ah! Aku tak seperti kau, tak punya dana untuk melakukan perjalanan jauh, lalu hidup di seputaran Jakarta sampai aku mendapatkan datanya. Tak mungkin sebentar, butuh hari yang panjang”. Sempat dia menghela nafas dan berfikir akan mengeluarkan kata-kata berikutnya. “Aku bukan mahasiswa, kau mahasiswa, kau masih dikirim duit oleh orang tuamu. Cukuplah untuk ke Jakarta mencari-cari Iwan Fals. Hahaha…” “Ya nanti aku coba bang!” Penutupnya “Ah, jangan terlalu kau pikirkan itu, santai saja”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kita ingin terlibat dalam percaturan global. Maka akarnya&lt;br /&gt;adalah tanah kelahiran kita. Ketika orang Itali di New York, mereka&lt;br /&gt;akan bangga sebagai orang Sisilia. Kita harus punya dedikatif hidup&lt;br /&gt;pada tanah kelahiran kita. Dan ini bukan etnosentris. Akar terdalam&lt;br /&gt;seseorang adalah, pertama ibunya, kedua tanah kelahirannya. Itulah&lt;br /&gt;kenapa saya memasukan daerah-daerah di Sumbar. Untuk menjadi besar,&lt;br /&gt;orang tak boleh durhaka pada ibunya, pertama ibu kandung kedua tanah&lt;br /&gt;kelahirannya.&lt;br /&gt;Kita juga tidak bisa lepas dari konteks historis, Orang Minang&lt;br /&gt;terlibat dalam pembentukan republik ini. Itu kutukan sejarah yang&lt;br /&gt;tidak bisa kita hindari. Yang terus membebani kita sangat besar,&lt;br /&gt;sehingga kita menjadi kerdil saat ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya juga mau menulis tentang PRRI. Masih banyak yang belum terungkap.&lt;br /&gt;Ini tantangan buat anak-anak Padang. Karena PRRI adalah model otonomi&lt;br /&gt;daerah yang diingkari Jakarta. Sumbar tidak pernah melepaskan diri&lt;br /&gt;dari NKRI, yang ingin diganti adalah pemerintahnya. Penumpasan PRRI&lt;br /&gt;dikenal sebagai operasi Agustus. Sebagai orang minang, kita tidak&lt;br /&gt;boleh bangga dengan operasi itu. Karena membuat orang Minang mati&lt;br /&gt;secara kultur. Saya ingin tanyakan, apa yang diajarkan buku-buku&lt;br /&gt;sejarah pada kita soal ini. Pada 1958 itu, PRRI jauh lebih benar dari&lt;br /&gt;pada RI ( wawancara Harfianto Afgani dengan Es Ito, penulis buku Negara Kelima dan Rahasia Meede)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke bahasan menikah tadi. Jelaslah sekarang aku kurang sekali akan pengalaman, kurang tanya jawab. Aku rasa semua orang pada dasarnya punya sifat iri melihat kemapanan orang lain. Dalam hal ini kesuksesan, mungkin. Seorang penulis mungkin saja iri melihat tulisan atau buku rekannya “berhasil”. Terkadang ada rasa ketidaksenangan melihat ada perkembangan dalam pribadi dan kecakapan dan keahlian orang lain. Positifnya jangan dijadikan ketidaksenangan, tapi coba melihat apa yang kurang dalam diri sendiri. Mencari kelemahan dan kekurangan diri, melihat celah-celah untuk mengembangkan diri lebih banyak lagi. Orang lain bisa, kenapa aku tidak. Mungkin seperti itu, kira-kiralah, pastinya juga tidak tahu. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-4877922231107094007?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/4877922231107094007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=4877922231107094007' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/4877922231107094007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/4877922231107094007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/04/being.html' title='Being'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-7888888403437999933</id><published>2008-04-05T01:11:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T07:01:07.094-07:00</updated><title type='text'>Yang Telah Lama Hilang ( Ade)</title><content type='html'>Tertata begitu teratur bagai benang terjalin&lt;br /&gt;Tenang menyejukkan jiwa&lt;br /&gt;Suaranya mengobati kegelisahan yang selama ini menyelimuti&lt;br /&gt;Membuat senyuman menjadi begitu berarti&lt;br /&gt;Tak dari dulu seandainya aku tahu&lt;br /&gt;Tak kan mampu menatap walau hanya sekejap&lt;br /&gt;Terlalu indah lebihi temaram senja&lt;br /&gt;Sangat suci bertahta cakrawala&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melengkapi penemuan jadi diri&lt;br /&gt;Hilang kejenuhan memberi gundah gulana&lt;br /&gt;Sementara aku masih takut membayangkan&lt;br /&gt;Keesokan hari masihkah menghadirkan waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolonglah aku dewiku&lt;br /&gt;Penyejuk iman pendorong raga&lt;br /&gt;Melindungi dari sengatan berdebu&lt;br /&gt;Resapi kehadiran yang sebentar pergi&lt;br /&gt;Dan berlalu&lt;br /&gt;Berjanjilah takkan pernah&lt;br /&gt;Saat kau dan aku tak sanggup menghadapi&lt;br /&gt;Tiba saatnya kita mengadu ke yang punya kuasa&lt;br /&gt;Hingga setua-tuanya kita sebagai pendosa kita masih berdoa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah waktu kan berhenti untuk menunggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Hari ke Lima&lt;br /&gt;       di Februari 08&lt;br /&gt;      Toan Soe Diro&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-7888888403437999933?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/7888888403437999933/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=7888888403437999933' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/7888888403437999933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/7888888403437999933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/04/yang-telah-lama-hilang-ade.html' title='Yang Telah Lama Hilang ( Ade)'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-5491402064908222842</id><published>2008-04-05T01:09:00.001-07:00</published><updated>2008-07-03T07:02:45.842-07:00</updated><title type='text'>Lupa Akan Rasa Tulus</title><content type='html'>Kalau ku ingat waktu yang telah lalu&lt;br /&gt;sakit...sayang&lt;br /&gt;menghujam perih menikam kejam&lt;br /&gt;kubiarkan angin malam lebih menusuk hingga hilang semua duka&lt;br /&gt;sambil ku dendangkan lagu kesakitan&lt;br /&gt;terlanjur sudah kau rasuki diriku hingga ku tak mampu berlari menjauh&lt;br /&gt;darimu&lt;br /&gt;menghujam luka meninggalkan dendam&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kala semakin ku langkahkan kaki kecil ini&lt;br /&gt;melupakan semua entah itu&lt;br /&gt;sepanjang malioboro&lt;br /&gt;seputaran stasiun tugu&lt;br /&gt;dan rumah kecil sebelum memasuki godean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin tak jua kunjung berhenti menerpa&lt;br /&gt;Menampar kebodohan yang hinggap di pipiku&lt;br /&gt;Bibir ini masih basah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapu tangan yang kuberi tanda cinta&lt;br /&gt;Masihkah ada sebab kau pernah beretorika&lt;br /&gt;Kain kecil persegi panjang berwarna biru muda&lt;br /&gt;Meluapkan semua asa dan tidak bisa kau lupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat kita memadu kasih&lt;br /&gt;Hanya masih tersesat jauh ke langit&lt;br /&gt;Suatu saat aku akan tagih semuanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke sebelas Februari&lt;br /&gt; Toan Soe Diro&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-5491402064908222842?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/5491402064908222842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=5491402064908222842' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/5491402064908222842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/5491402064908222842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/04/lupa-akan-rasa-tulus-kalau-ku-ingat.html' title='Lupa Akan Rasa Tulus'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7949742265200972829.post-7505647218059333082</id><published>2008-04-04T00:29:00.001-07:00</published><updated>2008-07-03T07:02:59.305-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hujan Sore-sore'/><title type='text'>pernah sekaLi</title><content type='html'>aku melangkah lebih jauh meninggalkan dirimu&lt;br /&gt;melepaskan setiap detik kebersamaan dulu&lt;br /&gt;yang sempat kita nikmati bagai sebuah candu&lt;br /&gt;tanpa tahu aku sebenarnya telah tertipu&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau pernah bilang kata sayang itu bisa di definisikan dengan&lt;br /&gt;takut meninggalkan dan takut ditinggalkan&lt;br /&gt;Bang Fahri juga sempat bilang menulis lah dengan kalimat aktif&lt;br /&gt;hmmm...apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau ingat saat menunggu pagi di stasiun karena aku takut membawamu ke kosanku&lt;br /&gt;dan kau pun takut membawaku ke rumahmu&lt;br /&gt;waktu itu benar-benar menunggu hingga matahari menjelang&lt;br /&gt;lalu kita susuri jalanan dengan dingin yang sangat membekap&lt;br /&gt;esoknya kita menunggu seseorang yang dijemput kematian&lt;br /&gt;melewatkan malam di masjid tempat disemayamkan mayatnya&lt;br /&gt;sampai melepasnya ke bandara untuk tiba lagi di rumah orang tuanya&lt;br /&gt;dengan mati tak bernyawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dua malam ku peluk tubuhmu  ku dekap erat&lt;br /&gt;tak ku daratkan ciuman saat itu, belum datang keberanian atas hasrat&lt;br /&gt;Aku sayang kamu karena tak ingin meninggalkan apalagi sangat takut untuk di tinggalkan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7949742265200972829-7505647218059333082?l=toansoediro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toansoediro.blogspot.com/feeds/7505647218059333082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7949742265200972829&amp;postID=7505647218059333082' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/7505647218059333082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7949742265200972829/posts/default/7505647218059333082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toansoediro.blogspot.com/2008/04/pernah-sekali.html' title='pernah sekaLi'/><author><name>Toan Soe Diro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07341154715036621888</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qKLXyBqBpLw/SKU192DBgHI/AAAAAAAAAAo/aILUCJbO9Lw/S220/Aan..Ganteng+amat+seh..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
